
Hari berikutnya, Aiden mengajak Oma Laras untuk menjenguk Stella, sebenarnya itu saran dari Sandy, hanya saja dirinya malu untuk berucap langsung dengan orangtuanya.
*Flashback on
"Aiden, ajak Oma jenguk Bunda yuk?" ucap Sandy menghampiri Aiden yang tengah bermain replika robot Ironman.
Aiden mendongak dan mengangguk antusias. "Oke, Dad."
Aiden segera berlari ke arah Laras yang sedang bersantai di gazebo tepi kolam renang.
"Omaa jenguk Bunda Stella yuk? Sama Daddy," ucap Aiden antusias menunjuk ke arah Sandy yang pura-pura membaca koran.
Laras menoleh. "Oma ganti baju dulu ya?" jawabnya mengelus kepala Aiden.
Flashback off*
"Assalamualaikum," sapa Aiden dan Laras membuka pintu rawat inap Stella. Sedangkan Sandy masih berada di luar untuk mengangkat telepon.
"Wa'alaikumsalam,"
Stella menoleh dan terkejut melihat kehadiran Aiden dan Laras.
"Tante? Aiden?"
Aiden berlari dan langsung naik ke brangkar, memeluk Stella. "Aiden kangen sama Bunda, Bunda cepet sembuh ya?"
Stella tersenyum. "Iya, Sayang. Bunda juga kangen sama Aiden," jawabnya mengelus punggung Aiden dengan sebelah tangannya yang tidak terdapat selang infus.
Sandy yang baru masuk mengambil duduk di sofa.
"Bagaimana kabarmu, Ste? Maafkan tante baru sempat ke sini," sesal Laras memperhatikan wajah Stella yang pucat.
Stella tersenyum. "Alhamdulillah sudah mendingan, Tante. Maaf sudah merepotkan."
Laras mengelus lengan Stella. "Tidak ada yang direpotkan, bahkan sewaktu Aiden sakit, kamu terus menunggunya sampai sembuh."
"Aku senang menemani pria tampan ini," jawab Stella menciumi wajah Aiden gemas.
Aiden tertawa. "Geli, Bunda," ucapnya berusaha menghindar dari ciuman Stella.
Sandy terdiam memperhatikan kebersamaan Stella dan Aiden, ikut tersenyum melihat keduanya tertawa.
"Kamu siapanya Stella?" Laras beralih menatap ke arah Sari.
Sari mengulurkan tangan ke arah Laras hendak mencium tangannya. "Saya Sari, Bu. Karyawan di butiknya Mbak Stella."
Laras mengangguk. "Panggil Tante saja."
Sari terkesiap. "Eh? I-iya, Tante," jawabnya sungkan.
"Orangtua kamu dimana, Ste?" tanya Laras kembali menatap ke arah Stella.
Stella menoleh. "Ayah di Bandung, Tan. Ibu sudah meninggal."
"Oh maaf —" sesal Laras tak enak.
"Tidak apa-apa, Tan," sela Stella tersenyum maklum.
"Ayah kamu tidak ke sini?" Sandy membuka suara, membuat tatapan mengarah padanya.
"Aku sengaja tidak memberitahunya, kalau aku di rawat," jawab Stella.
"Kenapa, Stella?" Laras menyahut lembut.
"Aku tidak mau merepotkan Ayah dan keluarga barunya, Tan," jawab Stella membuat Laras dan Sandy menyernyit bingung.
Sedangkan Sari yang sudah mengetahui perihal keluarga Stella hanya diam sambil mengajak Aiden bermain di sofa.
"Setelah Ibu meninggal, Ayah menikah lagi," terang Stella melihat raut kebingungan dari keduanya.
"Kamu bilang Ayah kamu di Bandung? Lalu, kamu di Jakarta dengan siapa?" tanya Laras penasaran.
Stella melipat bibirnya ke dalam. "Dulu, setelah menikah, mendiang suami dapat promosi jabatan di Jakarta, kami memutuskan pindah dan menetap di sini."
"Ada family di Jakarta?"
"Kalau family tidak ada, tapi kalau teman rasa family ada," gurau Stella tersenyum riang.
__ADS_1
Sandy tertegun, menatap wanita yang terduduk di atas brangkar tengah menyunggingkan senyuman indah. 'Sangat Manis.'
Stella yang merasa di perhatikan menoleh ke arah Sandy, keduanya terlibat kontak mata, namun Stella segera mengalihkan tatapannya.
"Ehem!"
Laras berdehem menyadarkan Sandy dari keterpesonaannya terhadap Stella.
Sandy yang mendengar sindiran Laras segera berdehem kecil, mengusap belakang lehernya untuk mengalihkan kegugupannya.
Sedangkan Laras dan Sari mengulum senyum melihat keduanya salah tingkah, khususnya Sandy yang ketahuan menatap Stella.
***
Beberapa hari terakhir, Laras rutin mengunjungi Stella di rumah sakit, dia merasa kasihan, sebab tak ada satupun keluarga Stella yang menemani, setidaknya ini bentuk balas budinya terhadap Stella dulu.
Tidak dengan Sandy, karena pria itu tengah berada di luar negeri untuk urusan bisnis selama satu minggu, dan berlanjut ke luar kota selama satu bulan.
Selama Sandy di luar kota, Laras mengizinkan Aiden sering berkunjung ke butik Stella sekedar bermain. Tentunya setelah Stella diperbolehkan pulang oleh dokter.
Bahkan hampir setiap hari, sepulang sekolah, Aiden mampir ke butik Stella, tak jarang Laras juga ikut berkunjung sekedar bertegur sapa.
Jery yang awalnya kaget dengan kehadiran Aiden di butik Stella lama kelamaan mulai terbiasa, bahkan Jery sempat terkejut akan panggilan Bunda yang diucapkan Aiden.
"Ste, dia anak siapa?" tanya Jery penasaran.
"Ini Aiden, anakku," jawab Stella asal, membuat Jery melotot.
"Sejak kapan kau menikah, Ste? Kenapa kau tidak mengundangku," ucap Jery menuntut.
Stella tergelak. "Aku bercanda, Jer." Stella menepuk pundak Jery "Dia anak temanku," sambungnya menoleh ke arah Aiden yang tengah mengerjakan tugas sekolahnya.
Jery memicing tajam. "Kau yakin?" tanyanya memastikan.
Stella mengangguk.
Jery menghembuskan nafas kasar. "Tapi kalaupun dia anakmu, itu tidak masalah, Ste. Dia pria kecil yang tampan," ujar Jery tersenyum menggoda.
Stella mendelik.
Aiden mendongak. "Aiden, Om."
"Bagaimana kalau besar nanti, kau jadi menantuku?"
"Menantu itu apa, Om?" tanya Aiden polos.
Plak!
Stella memukul lengan Jery. "Jangan mengajari hal buruk padanya, Jery," peringatnya menatap tajam.
Beralih menatap Aiden. "Aiden, jangan dengarkan Om ini ya? Aiden lanjut mewarnai saja oke," Stella mengedipkan sebelah matanya ke arah Stella.
Aiden mengangguk dan melanjutkan kegiatannya mewarnai.
"Hei, kenapa? Dia akan aku jodohkan dengan Caramel," jawab Jery acuh.
Plak!
Lagi, Stella memukul lengan Jery. "Kau lupa? Caramel baru berumur lima bulan, Jery," tekannya bersungut. "Kau Ayah yang gila," sambungnya mengucap dengan gerakan bibir. Karena dia tidak ingin Aiden mendengar kata-kata yang kurang baik.
Jery tergelak. "Kenapa kau yang marah, Ste? Mungkin kalau aku bicara dengan orangtuanya, mereka akan setuju," goda Jery menaik turunkan alisnya.
Stella memicing menatap Jery yang masih terbahak
"Dasar gila," cibir Stella pelan.
***
Tak beda jauh dengan Jery, Rega yang beberapa kali mengunjungi Stella ke butik selalu melihat Aiden di sana. Dia juga penasaran kenapa anak itu memanggil Stella dengan Bunda.
"Kenapa dia memanggilmu Bunda, Ste?" protesnya tak terima.
"Memangnya kenapa?"
"Dia bukan anakmu, Ste. Bagaimana kalau orang lain salah paham?"
Stella berbalik menatap Rega. "Aku tidak peduli tanggapan orang lain, Ga. Aku tidak merasa keberatan Aiden memanggilku Bunda, lagipula aku yang memintanya memanggilku seperti itu," bantahnya.
__ADS_1
"Tapi bagaimana dengan orangtuanya?"
"Ibunya meninggal, dan Ayahnya sama sekali tidak keberatan," balas Stella acuh. Merasa sikap Rega terlalu berlebihan hanya karena Aiden memanggilnya Bunda.
Rega melotot. "Jadi dia anak seorang duda?" tebak Rega meninggikan suaranya.
Stella mengangguk. "Iya."
"Lalu, dimana Ayahnya?" tanya Rega penasaran. Sebenarnya dia kesal karena Stella dekat dengan anak seorang duda, dia merasa mempunyai saingan.
"Keluar kota."
"Apa tidak ada keluarganya? Kenapa dia selalu berada di sini, Ste? Dia bukan siapa-siapa bagimu?" Rega masih terus mengungkapkan rasa protesnya.
Stella menyernyit, tak terima saat Rega mengatakan bahwa Aiden bukan siapa-siapa baginya. Meskipun pada kenyataannya memang benar.
"Ada apa denganmu, Ga? Kenapa kau bicara seperti itu?"
Rega mendekat, memegang kedua lengan Stella. "Aku tidak suka kau dekat-dekat dengannya, Ste," ucapnya melembut.
Stella mundur beberapa langkah, keningnya menyernyit. "Apa maksudmu, Ga?"
Rega meraup wajahnya, mengacak rambutnya frustasi. "Kau dekat dengan anak seorang duda, sangat mungkin kau juga dekat dengan Ayahnya, Ste. Aku tidak menyukai kau dekat dengan laki-laki lain," hentaknya kesal.
Stella terkesiap, sebenarnya sudah lama dia mengetahui bahwa Rega mempunyai perasaan padanya, namun Stella menampik pikiran itu, dia merasa tidak pantas untuk seorang Rega yang masih belum pernah menikah, tampan dan kaya, sedangkan dirinya seorang janda.
"Ke-kenapa?" tanyanya tergagap.
"Karena aku —"
"Bundaaa,"
Teriakan Aiden menghentikan ucapan Rega, membuat Rega mengerang frustasi.
"Aku pergi dulu, Ste," ucapnya segera berbalik meninggalkan Stella yang berdiri di tempatnya.
Stella menatap Rega yang berjalan keluar dari butiknya. "Maafkan aku, Rega," ucapnya lirih
***
Dua hari berikutnya, Stella menemani Aiden camping di puncak, mengikuti acara sekolah.
Itu permintaan dari Laras serta Aiden, Aiden terus saja merengek agar Stella mau menemaninya camping, dia berujar kalau semua temannya pergi dengan Mommynya, dirinya juga ingin di temani Mommy.
Aiden tidak mau pergi dengan Fara, dia tidak suka dengan Fara, lagipula Stella juga tidak begitu yakin dengan Fara, alhasil dirinya setuju untuk menemani Aiden camping selama dua hari.
Di sana, tentu saja dia bertemu dengan Erin. Dan Erin sangat terkejut melihat Stella yang datang bersama Aiden.
"Lo ada hubungan apa sama bokapnya Aiden?" cecar Erin setelah keduanya duduk di kursi panjang, melihat anak-anak bermain pasir.
"Enggak ada, Rin. Gue cuma dekat dengan Aiden tidak dengan Ayahnya."
Erin memicing. "Elo yakin?" tanyanya memastikan.
"Yakin. Lagipula Sandy sudah punya calon istri," jawabnya acuh.
Erin tampak mengingat. "Oh, iya, aku pernah melihat Aiden diantar seorang wanita, jadi itu benar calon ibu tiri Aiden?" tebaknya.
Stella mengangguk. "Sepertinya begitu," jawabnya mengangkat kedua bahunya.
Erin menggeser duduknya, mendekat ke arah Stella. "Tapi, Ste. Gue lebih setuju kalau lo yang jadi ibu tiri Aiden," bisiknya.
Stella menarik kepalanya. "Jangan ngaco."
"Ih, gue serius, Stella. Lagipula, Aiden kelihatan akrab banget sama lo," Erin menjeda ucapannya. "Dan lo tahu? Bokapnya Aiden itu ganteng banget, Ste. Duren, duda keren, tajir, siapa yang nggak mau sama doi?" sambung Erin tersenyum menerawang.
Stella menoel pipi Erin. "Jangan bayangin yang enggak-enggak. Elo udah punya suami, udah ada Vini juga."
"Cuma bayangin doang, Ste," balasnya menyengir.
~••~
**JANGAN LUPA FOLLOW 😘
Doakan saja author rajin ngetik, mood baik. Dan ide gak buntu, biar bisa update tiap waktu.
Xixixi 😁😁**
__ADS_1