
Mobil Rega berhenti di depan rumah Stella, menoleh kursi sebelahnya, nampak Stella yang tertidur. Rega menyentuh pipi Stella lembut, menyelipkan rambut yang menutup sebagian wajahnya.
Stella yang merasakan sentuhan di pipinya perlahan membuka matanya, membuat Rega memundurkan posisinya.
"Eh, sudah sampai ya?"
Rega mengangguk. Kemudian keduanya turun dari mobil dan bersender pada kap mobil depan.
"Terimakasih," lirih Stella.
Rega menoleh. "Ste, apapun yang terjadi, aku selalu ada di sini untukmu." tatapannya melembut, berharap Stella tidak merasa sendirian, karena selalu ada dia di sampingnya.
Stella menoleh, memaksakan senyum agar Rega tidak khawatir dengan keadaannya, tapi hal itu justru membuat Rega semakin khawatir.
Rega menepuk kepala Stella lembut. "Masuklah, istirahat."
Stella mengangguk. "Hati-hati."
Intan yang mendengar suara deru mobil terbangun dari tidurnya, mengintip pada jendela kamar.
"Pak Rega? Kenapa Pak Rega bisa sama Mbak Stella?" gumamnya tak percaya dengan apa yang dia lihat. Dia menggeleng. "Tidak mungkin."
Intan berlari membuka pintu kamarnya, niat awal ingin bertanya kebenaran pada sang kakak, tapi, justru dia yang terkejut melihat penampilan Stella yang kusut dengan mata membengkak.
"Astaga, Mbak Stella kenapa?" tanyanya khawatir.
Stella memaksa senyum. "Gapapa, Mbak masuk dulu ya?" pamitnya.
Intan memperhatikan raut wajah Stella yang sangat tidak bisa dibilang baik-baik saja. Apa ini ada hubungannya dengan pak Rega?
***
Keesokan harinya, Stella memutuskan untuk tidak ke butik, kepalanya sangat pusing, mungkin akibat terlalu banyak menangis semalaman.
Intan belum sempat bertanya pada Stella, karena sejak semalam Stella tidak kunjung keluar dari kamarnya, bahkan saat Intan berangkat ke kantor. Malamnya, Intan memberanikan diri bertanya pada Stella, saat keduanya tengah menonton tv.
"Mbak Stella kenal Pak Rega?" tanyanya hati-hati.
Stella menoleh. "Pak Rega?"
"Iya, Mbak, dia bosnya Intan."
Stella melotot. "Jadi, yang kamu maksud bos kamu itu si Rega?" tebaknya
Intan mengangguk.
"Astaga, kenapa kamu tidak bilang sama Mbak, Intan."
"Mbak ada hubungan apa sama Pak Rega?" selidik Intan, tidak peduli dengan keterkejutan Stella.
Stella mengelus lengan Intan, "Mbak nggak ada hubungan apa-apa sama Rega, cuma temen, nggak lebih."
__ADS_1
"Lalu semalam?"
Stella tersenyum. "Tadi malam nggak sengaja bertemu di jalan, jadi Rega mengantarku pulang. Kamu nggak usah cemburu gitu," godanya menepuk lengan Intan.
"Hehe, iya, Mbak," jawab Intan menggaruk kepalanya yang gatal. Tapi, entah kenapa melihat cara Rega menatap Stella semalam membuat Intan merasa ada sesuatu di antara keduanya.
***
Seminggu berlalu, namun sejak kejadian itu Sandy tidak pernah muncul di hadapan Stella, jujur saja, Stella bingung dengan Sandy, apa maksud dari semua ini? Bahkan Sandy tidak menjelaskan kenapa dirinya tidak datang malam itu.
Pernah suatu hari, Rega berniat akan menghajar Sandy sekedar memberinya pelajaran karena sudah membuat Stella menunggu lama. Namun hal itu segera dicegah Stella, Stella mengancam tidak mau bertemu dengan Rega jika sampai Rega melaksanakan niatnya itu, alhasil, Rega hanya pasrah dan menurut.
Hari ini, Stella berniat mengunjungi Sandy di kantornya, dia ingin sebuah kejelasan. Tapi, saat baru sampai di depan kantor, terlihat Sandy keluar dari kantor dengan mengendarai mobilnya, tanpa pikir panjang, Stella mengikuti mobil Sandy dari belakang. Mobil Sandy berhenti pada sebuah bangunan besar, tak lama kemudian, Fara keluar dari dalam gedung itu, begitu pula Sandy yang menyambut Fara di depan mobilnya. Terlihat Sandy yang melingkarkan tangan di pinggang Fara dan Fara yang mencium pipi Sandy.
Stella melotot tidak percaya, hatinya terasa tertusuk ribuan jarum melihat keromantisan keduanya, apa maksud dari semua ini? Sandy mempermainkannya?
Setelahnya, mobil Sandy kembali melaju, Stella masih setia mengikuti di belakangnya. Mobil Sandy berbelok ke arah sekolah Aiden, keduanya keluar dari mobil dengan Sandy yang memeluk pinggang Fara.
Setelah memarkirkan mobilnya, Stella keluar dari mobil bermaksud menghampiri Sandy dan juga Fara yang tengah duduk di kursi tunggu.
"Sandy," panggil Stella.
Sandy terkejut melihat Stella berdiri di depannya, tapi, segera dia mendatarkan wajahnya kembali.
Fara menatap tajam ke arah Stella. "Ada apa?" tanyanya ketus.
"Bisa kita bicara berdua?" pinta Stella, dia merasa tidak nyaman diperhatikan oleh keluarga murid lain yang sama-sama menunggu anaknya pulang sekolah.
'Ada apa dengan Sandy?' bathinnya.
"Hubungan lo sama kita itu sudah selesai, lo inget 'kan apa yang dulu gue bilang?" ujar Fara pongah. "Posisi lo itu cuma sebagai obat buat kesembuhan Aiden, selebihnya lo bukan siapa-siapa, jadi, sebaiknya lo jauh-jauh dari keluarga Van Houten, karena tugas lo udah selesai, lo udah nggak dibutuhkan," sambungnya penuh sindiran pedas.
Stella menatap Sandy yang hanya diam saja, bahkan tidak menatap ke arahnya sama sekali. "Apa maksud ini semua, San?" tanyanya menuntut.
Sandy mengepalkan tangannya, sekilas bayangan Stella dan Rega muncul. Dia menatap tajam ke arah Stella, membuat Stella kembali terkejut, entah apa yang terjadi, hingga Sandy begitu marah padanya. Dia tahu arti tatapan yang Sandy berikan, tapi, bukankah seharusnya dia yang marah?
"Seperti yang calon istriku bilang, tugas anda sudah selesai, jadi sudah tidak ada hubungan apapun di antara anda dengan keluarga saya. Sebaiknya anda tidak mengganggu kami lagi, khususnya Aiden."
Deg!
Jantung Stella seakan terhenti beberapa detik
mendengar ucapan menyakitkan dari Sandy, dia menatap manik mata dari pria di hadapannya, berharap ada kebohongan di sana. Tapi, sorot mata Sandy menyatakan keseriusan juga kemarahan dalam satu waktu.
Stella menarik nafas dalam, untuk meredakan sesak di dalam hatinya, juga untuk menahan lelehan bening yang akan membuatnya malu. Dia memperhatikan sekitar, sepertinya pusat perhatian terarah padanya.
"Baik, terimakasih atas kebaikan anda selama ini, selamat tinggal, permisi," ujar Stella dengan intonasi rendah, dia tidak mau terbawa emosi di saat seperti ini, meskipun sebenarnya dia begitu kecewa dengan Sandy.
Stella berbalik menuju mobilnya, menghapus air mata yang akhirnya luruh juga di pipinya, meninggalkan area sekolah Aiden dengan perasaan kecewa dan hancur. Tangannya sibuk memegang kemudi sesekali menghapus air matanya yang turun deras tanpa diminta.
Tidak, dia tidak boleh lemah, dia harus bangkit, mungkin Sandy bukan orang yang tepat untuknya.
__ADS_1
Stella membelah jalanan ibukota menuju pemakaman suami dan anaknya. Mengadu pada suaminya. "Mas, apa aku boleh memiliki perasaan yang sama terhadapmu kepada orang lain? Apa kamu tidak mengijinkanku mencintai selain kalian berdua? Maafkan aku, Mas, maafkan, Bunda, Rafa," Stella terisak di pusara anak serta suaminya.
"Maafkan aku telah menduakan kalian, aku tidak bermaksud melupakan kalian berdua, maafkan aku," ucapnya tergugu.
"Izinkan aku mendapatkan kebahagiaan tanpa adanya kalian." Stella menangis pilu mengenang kebersamaan dirinya dengan mendiang anak dan suaminya. Berulang kali mengucap kata maaf, sambil mengelus nisan suami serta anaknya.
***
Di tempat lain.
"Aku suka sama, Pak Rega!" teriak Intan di lorong kantor.
Rega berhenti.
"Apa Bapak sudah menyukaiku?"
Intan melangkah mendekat ke arah Rega. "Apa tidak ada sedikit rasa untukku di hati Bapak?"
"Maafkan aku, Intan," jawab Rega tanpa menoleh.
"Apa ini karena wanita bernama Stella?" tebak Intan, membuat Rega berbalik dan menatapnya tajam.
"Jawab, Pak!" tagih Intan mendongak menatap Rega.
Kedua tangan Rega terkepal. "Iya, kenapa? Ha?"
Intan tertawa miris, menahan agar tidak menangis. Bagaimana bisa orang yang disukainya mencintai wanita lain, dan tak lain adalah kakak tirinya sendiri.
"Bagaimana kau tahu tentang Stella?" selidik Rega curiga.
Mata Intan menyorot tajam. "Bukan urusan Bapak," ketusnya, kemudian berlalu meninggalkan Rega dengan perasaan sakit di hatinya, walaupun dia tahu bahwa kakaknya tidak mencintai Rega, tapi, pernyataan Rega yang mencintai kakaknya membuatnya semakin dilanda sakit.
Dia teringat ucapan Stella.
Flashback on.
"Kamu tenang saja, Mbak tidak mencintai bosmu itu."
Intan menatap Stella. "Mbak mencintai orang lain?" tebaknya.
Stella tersenyum saja.
"Siapa, Mbak?" tanya Intan penasaran.
Stella menoel pipi Intan. "Kepo."
"Ish, Mbak Stella nggak asik."
Intan bersendap mengerucutkan bibirnya, membuat Stella tertawa.
Flashback off.
__ADS_1
...***...