Bunda Untuk Daddy (Tamat)

Bunda Untuk Daddy (Tamat)
eps 26


__ADS_3

...Hai, hai, i'm come back. 😘...


...Jangan lupa Follow me. 😹😝...


...Happy reading!!...


...[][][]...


Sandy berjalan santai menuju mobilnya, membuka pintu dan masuk ke kursi kemudi, menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, tujuannya satu, menjemput Fara di lokasi pemotretan. Sekitar dua puluh menit dirinya sampai, kemudian mengajak Fara untuk makan siang di salah satu restoran.


Setibanya di restoran, Sandy menuntun Fara menuju tempat yang sudah dia pesan melalui telepon. Selama makan, dia terus diam dan hanya sesekali menanggapi pertanyaan dari Fara.


"Sayang, bagaimana kalau kita menikah satu bulan lagi?" rayu Fara melingkarkan tangan di lengan Sandy.


Sandy menatap datar. "Sepertinya kita sudah pernah membicarakan tentang ini," tanggapnya dingin.


"Tapi 'kan —"


Fara mengurungkan niatnya untuk memprotes saat melihat tatapan tajam Sandy yang bisa berakibat buruk untuknya. Dia menghela nafas. "Baiklah," putusnya final, dia kesal dengan Sandy.


Setelah selesai dengan kegiatan makannya, Sandy dan Fara keluar dari restoran. Sandy terkejut melihat Stella ada direstoran yang sama dengannya, yang lebih mengejutkan lagi, Stella berjalan di samping seorang pria, Sandy terus menatap lurus ke arah Stella yang juga berjalan ke arahnya.


Di sisi lain, Stella juga sempat terkejut melihat Sandy dan juga Fara, namun dia memilih pura-pura tidak melihat dan terus berbicara dengan kliennya.


Ketika keduanya berpapasan, Sandy sedikit melirik Stella, namun tidak dengan Stella, wanita itu berjalan lurus seperti tidak melihatnya. Sandy merasakan sesak di dadanya, melihat Stella tidak memperdulikannya dan terlebih melihat Stella berjalan dengan pria lain.


Tanpa sadar sebelah tangannya mengepal.


'Siapa pria itu?' bathinnya.


Fara yang melihat tingkah Stella pun bersorak senang dalam hati, awalnya dia sempat terkejut melihat Stella, dia sudah menyiapkan energi untuk memanas-manasi Stella, dan sedikit pamer tentunya. Tapi, apa yang dia lihat jauh di luar perkiraannya, Sandy dan Stella tidak saling menyapa, bahkan Stella tidak melirik ke arahnya sama sekali, bahkan keduanya seperti tidak saling kenal. Hatinya bersorak riang.


***


"Sayang, lihat, ada tas pengeluaran terbaru," ujar Fara mengarahkan ponselnya ke arah Sandy yang sedang menyetir.


Sandy melirik sekilas, kemudian fokus pada jalanan di depannya. Pikirannya tertuju pada kejadian beberapa menit yang lalu, dimana Stella berjalan beriringan dengan seorang pria.


"Sayang, boleh aku beli ini?" Fara berkedip-kedip menggoda Sandy.


Sandy mengangguk. "Hm."


"Yes!" sorak Fara kegirangan mendapatkan apa yang dia inginkan.


Tak sampai di situ, Fara terus saja menyodorkan ponselnya ketika melihat barang-barang branded yang dijual online kepada Sandy, bermaksud agar Sandy membelikan untuknya.

__ADS_1


Sandy yang merasa jengah hanya mengiyakan saja permintaan Fara, jujur saja, pikirannya berkelana tentang kejadian beberapa menit yang lalu, ketika Stella mengabaikan dirinya. Dia berpikir, ada apa dengan Stella? Kenapa dia acuh? Kenapa dia seakan menghindar? Dan kenapa Stella seperti tidak kenal dengannya? Dan siapa pria itu?


Sehingga dia mengiyakan saja apa yang diucapkan Fara, telinganya terasa pengang mendengar ocehan Fara tentang barang-barang serta fashion. Tapi bukankah ini yang seharusnya terjadi, dia dan Stella dengan kehidupan masing-masing, tidak saling kenal?


Namun yang diyakini Sandy hingga kini adalah nama Stella masih berada di posisi terpenting dalam hidupnya, dan dia merasa tidak rela melihat Stella dengan lelaki lain. Lalu bagaimana dengan dirinya sendiri?


***


Sandy mengantar Fara ke rumahnya, kemudian berlalu menuju kantornya. Dalam perjalanan tiba-tiba mobilnya tersendat-sendat, dia menepikan mobilnya di tepi jalan hingga mobil itu berhenti secara tiba-tiba.


"Sial!" umpatnya memukul setir.


Sandy membuka kap mobil yang mengeluarkan asap, dia mengibas-ngibaskan tangannya. Mengeluarkan ponsel untuk menghubungi Alvin agar menjemputnya, dan juga menghubungi montir untuk memperbaiki mobilnya.


Sandy bersender pada body mobil, melipat salah satu kakinya, serta tangannya sibuk dengan Ipad, sembari menunggu Alvin datang.


Rega yang sedang melintas tak sengaja melihat Sandy di pinggir jalan, dia mengerem mobilnya dan memundurkannya di depan mobil Sandy.


Sandy yang merasa ada mobil berhenti, mendongak dari Ipad-nya, dan melihat Rega yang turun dari sisi kemudi.


Rega berjalan menghampiri, dia berdehem. "Lama nggak ketemu. Gimana kabar lo?" ujarnya basa-basi.


Sandy meletakkan Ipad ke dalam kursi mobil melalui kaca yang terbuka, kemudian menghadap ke arah Rega. "Seperti yang lo lihat."


"Gimana kabar tunangan lo?" tanya Rega tersenyum sinis.


Rega mengangkat sudut bibirnya. "Gue berharap lo nggak nyakitin dia seperti lo nyakitin Stella," sindirnya.


"Apa maksud lo?" hardik Sandy menatap tajam.


Rega tersenyum kecut. "Lo beg*, atau pura-pura beg*?" hentaknya keras, memberikan pukulan di wajah Sandy.


Bugh!


Tak terima, Sandy membalas bogeman di wajah Rega, membuat Rega terhuyung ke belakang.


"Bangs**, apa mau lo?" teriak Sandy murka.


Rega menyeka ujung bibirnya yang sedikit berdarah, kemudian kembali memukul wajah Sandy.


Bugh!


"Seharusnya gue yang nanya sama lo, apa mau lo sebenarnya? Hah!" hentak Rega menuding wajah Sandy yang tersungkur di tanah. "Lo udah bikin Stella menderita, lo bilang, lo cinta sama Stella, tapi lo justru tunangan sama wanita lain, bangs**!" lagi, Rega memberikan pukulan pada wajah Sandy.


Tak terima, Sandy bangkit dan memukul Rega. "Dia juga nyakitin perasaan gue, bangs**! Dia lebih milih lo ketimbang gue, lalu apa masalahnya kalau gue udah tunangan sama wanita lain? Hah!"

__ADS_1


Rega tertawa keras. "Stella milih gue? Lelucon macam apa ini?"


"Jangan pura-pura beg*, gue lihat lo berdua pelukan di depan butik!" hardik Sandy lagi.


Rega nampak tengah mengingat-ingat, kemudian tertawa. "Lo benar-benar bod*h!" Rega mendorong dada Sandy dengan telunjuknya, Sandy segera menepisnya.


"Lo benar-benar bod*h!" maki Rega memekik keras.


Sandy geram, tangannya siap melayangkan pukulan untuk Rega. Tapi sebelum itu, Rega segera mencengkeram tangannya.


"Lo tahu, waktu itu gue ngelamar Stella," ucap Rega membuat Sandy terkejut. "Tapi.. Stella nolak gue," sambungnya menunduk lesu.


Sandy semakin terkejut mendengar bahwa Stella menolak lamaran Rega, apa dia sudah salah sangka selama ini? bathinnya mulai was-was.


"Itu semua gara-gara lo!" Rega menuding Sandy, jangan lupakan tatapan tajamnya. "Stella milih elo, daripada gue yang jelas-jelas mencintainya dengan tulus. Dia lebih mencintai pria brengs*k seperti lo, yang tega ngebiarin seorang wanita menunggunya tengah malam, bahkan hampir di perkosa preman."


Sandy tersentak. "Apa maksud lo?" tuntutnya mencengkeram kerah kemeja Rega kuat.


Rega tersenyum sinis. "Lo pikir sendiri. Waktu itu gue pelukan sama Stella karena kita bersepakat untuk berteman. Semalaman gue di club, di tengah jalan gue lihat Stella dikejar-kejar preman, lo tahu kejadian itu berlangsung jam berapa?" tanyanya menatap kesal. "Jam setengah.satu.dini.hari!" tekannya.


Kedua mata Rega menatap tajam. "Dan lo tahu kenapa Stella tengah malam keluar?" desisnya lagi.


Sandy bergeming, mendengar dengan seksama penuturan dari Rega, jujur, dia amat sangat terkejut.


"Dia nungguin lo, bangs*t!" teriak Rega murka, memberikan pukulan di wajah Sandy dengan keras, membuat Sandy tersungkur dan jatuh ke tanah.


Rega mencengkeram kerah Sandy. "Setelah apa yang di lakuin Stella, lo justru nyakitin hatinya, brengs*k!"


Buagh!


"Ini balasan untuk lo, terhadap pengorbanan Stella."


Bugh! Bugh! Bugh!


Sandy pasrah menerima pukulan dari Rega, mungkin memang selama ini dirinya bersalah terhadap Stella, pikirannya sibuk mencerna kalimat Rega tentang apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin dirinya memang bersalah, melihat bagaimana buasnya Rega menghajar tubuhnya.


Setelah puas menghajar Sandy, Rega berdiri, menarik nafas untuk meredam emosinya. Menatap Sandy yang tersungkur di bawahnya.


"Udah lama gue pengen hajar lo, tapi Stella selalu menghalangi gue buat melakukannya. Sekarang gue udah puas," ujarnya tersenyum sinis. "Anggap saja ini pembalasan dari rasa sakit yang Stella rasakan akibat ulah lo."


Rega menghela nafasnya, menatap langit gelap. "Gue harap, setelah ini lo nggak bakal ngelakuin hal bod*h." Menoleh ke arah Sandy yang masih terduduk di tanah sambil menyentuh perutnya. "Jangan pernah lo sakiti Stella lagi, atau lo nggak akan bertemu Stella untuk selamanya," sambungnya penuh ancaman, kemudian melenggang pergi meninggalkan Sandy yang meringis menahan sakit pada sekujur tubuhnya.


...[][][]...


...16 JANUARI 2020...

__ADS_1


...Saskavirby...


__ADS_2