
Sandy terbangun dari tidurnya, samar-samar mendengar suara gaduh dari lantai bawah. Masih dengan mata setengah merem, dia keluar dari kamar ingin menengok apa yang terjadi.
Mengambil kaos putih polosnya yang tipis, yang masih bisa menonjolkan otot tubuhnya, sebab dia yang terbiasa tidur bertelanjang dada.
Dengan enggan dirinya menuruni tangga, belum genap di tangga terakhir Sandy menghentikan langkahnya ketika terdengar Laras menyebut nama Stella.
Dia terkesiap.
Stella yang tengah duduk di sofa dengan Laras dan juga Aiden menoleh saat mendengar suara langkah kaki menuruni tangga. Dia terkesiap, terpaku menatap sosok pria yang berjalan menuruni tangga, membuat kerja jantungnya berubah cepat.
Bukan, bukan, bukan itu fokusnya, tapi keadaan Sandy yang memakai kaos tipis yang mampu menonjolkan otot perut, lengan serta dadanya. Dan jangan lupakan rambutnya yang masih acak-acakan khas bangun tidur yang membuat kesan semakin sexy.
Stella yang ketahuan mengagumi ciptaan Tuhan berbentuk Sandy itupun segera tersadar, menggelengkan kepalanya yang mulai melantur jauh, mengalihkan fokusnya pada Aiden.
Laras tersenyum senang menatap Stella yang salah tingkah di sampingnya, kemudian dia mendongak. "Sandy, kembalilah ke kamarmu," tegurnya.
Sebelah alis Sandy terangkat. "Kenapa, Ma?"
Laras mengembuskan nafas pelan. "Kamu tidak malu bertemu Stella dengan keadaan seperti itu?" jawabnya mengangkat dagunya.
Sandy melihat penampilannya sendiri, sepertinya tidak ada yang salah.
Laras berdecak. "Kamu baru bangun tidur dan belum mandi, San. Apa kamu tidak malu bertemu Stella dengan keadaan seperti itu?" sindirnya mengingatkan.
Sandy terkesiap. Sepertinya apa yang dikatakan Laras ada benarnya. Dia tersenyum tipis, mengusap belakang lehernya, dan kemudian berbalik menaiki tangga dengan melangkah dua anak tangga sekaligus.
Bagaimana bisa dirinya muncul dihadapan Stella dengan keadaan yang tidak bagus? Versinya. Padahal bagi Stella itu pemandangan yang luar biasa bagus.
Laras berdehem. "Kebiasaan Sandy, Ste. Harap maklum ya?" ucapnya mengelus lengan Stella.
Stella tersenyum canggung. "I-ya, Tan. Gapapa."
Sebenarnya dia tidak tahu kalau Sandy hari ini ada di rumah. Tadi malam Aiden menelepon menggunakan ponsel Laras memintanya datang. Saat dia tanya apa Sandy di rumah, Aiden menjawab Daddy tidak pulang. Jadi Stella menyanggupi untuk singgah di kediaman Van Houten, sekalian membawa kue yang tadi pagi dia buat untuk Aiden. Siapa sangka bahwa dia bertemu Sandy hari ini.
*
"Bunda, kita jalan-jalan yuk?" ajak Aiden.
"Kemana, Sayang?"
"Aiden pengen beli ice cream," jawab pria kecil menggemaskan itu riang.
Stella mengangguk. "Sepertinya itu ide yang bagus," tanggapnya, kemudian menoleh ke arah Laras. "Tante, boleh Stella ajak Aiden ke mall?" tanyanya meminta izin.
Laras mengangguk. "Boleh." Melihat Sandy yang menuruni tangga dia kembali berucap. "Sandy, antar Aiden sama Stella ke mall, gih."
"Eh?"
Stella terkejut melebarkan matanya, dia bermaksud hanya mengajak Aiden seorang, tapi justru Laras meminta Sandy mengantar.
Sandy menatap Laras, Stella dan Aiden bergantian, kemudian mengangguk. "Ayo kita berangkat!" serunya membuat Aiden melompat riang dan berlari ke arahnya, Sandy membawa Aiden ke dalam gendongannya.
Dan mau tidak mau, Stella harus mengikuti mereka. Dia beranjak. "Stella pamit, Tante," ucapnya.
Laras mengelus lengan Stella. "Hati-hati."
"Dah, Oma," teriak Aiden kelewat bahagia.
__ADS_1
Laras membalas lambaian Aiden, dia tersenyum melihat ke-tiganya berjalan seperti layaknya sebuah keluarga.
"Kenapa, Ma?" tanya Vero yang melihat istrinya sedang tersenyum.
Laras menoleh sekilas. "Mama berdoa semoga mereka jadi keluarga sungguhan, Pa," jawabnya memperhatikan ketiganya yang mulai menjauh.
Vero melihat apa yang menjadi fokus istrinya. "Ya, semoga saja Allah mengabulkan doamu," tanggapnya.
Laras menoleh. "Papa setuju?"
"Apa yang membuat cucu kita senang, pasti aku setuju," jawabnya tersenyum.
Laras tersenyum dan melesak masuk ke dalam pelukan suaminya.
***
Setelah sampai di mall, ketiganya masuk di kedai ice cream. Mereka antri di depan stand ice cream, karena Aiden menolak untuk duduk, dia ingin melihat langsung pembuatan ice creamnya.
Sedangkan Stella juga ikut mengantri, dia pikir Sandy akan kesulitan untuk membawa cup ice cream, karena tengah menggendong Aiden.
Tiba saatnya giliran mereka, setelah selesai memilih rasa yang diinginkan, Sandy bermaksud membayar, namun kedua tangannya sudah penuh cup ice cream serta tangan satunya menggendong Aiden.
"Stella, bisa tolong ambilkan dompet di saku celana belakangku?" pintanya.
Stella terkesiap. "A— pakai uangku saja."
"Tidak, Stella, aku tidak mau merepotkanmu, lagipula Aiden anakku." tolak Sandy.
Stella cukup bingung, antara malu dan tidak enak. Namun tak ada pilihan lain, dia merogoh saku celana belakang Sandy dan mengambil dompetnya, jantungnya sudah jumpalitan di dalam sana.
"Tolong kau bayarkan, Ste," pinta Sandy lagi.
Ada beberapa lembar uang pecahan seratus ribu dan lima puluh ribu, serta berbagai jenis kartu kredit dengan beberapa warna. Namun, fokusnya pada foto wanita yang terselip di dalamnya, Stella memperhatikan foto wajah wanita itu, sangat cantik.
"Itu Mommy Aiden," bisik Sandy seakan mengerti apa isi pikiran Stella.
Stella tersentak, dirinya merutuki diri sendiri karena sudah mengamati benda yang bukan miliknya dan bukan seharusnya.
Setelah membayar, Stella berniat mengembalikan dompet Sandy.
"Kau bawakan dulu, Ste, tanganku penuh," ucap Sandy membuat Stella mengangguk.
Kemudian ketiganya mencari tempat duduk kosong di sekitar mall, mungkin karena hari libur, mall sangat ramai pengunjung.
Setelah menghabiskan ice cream, Aiden mengajak Sandy dan juga Stella bermain di arena permainan. Ketiganya tertawa bersama, tawa lepas dan riang, tidak ada yang menyangka bahwa mereka bertiga bukanlah sebuah keluarga. Atau mungkin belum.
***
Rega yang sedang akan ke mall guna bertemu teman lamanya yang mengajak bertemu di salah satu restoran tak sengaja melihat mobil Stella terparkir di parkiran.
"Stella di sini?" gumamnya.
Saat akan berangkat ke mall, Sandy memutuskan memakai mobil Stella, karena wanita itu bersikeras untuk memakai mobilnya sendiri, sedangkan dia di biarkan memakai mobil sendiri. Tentu saja Sandy menolak menggunakan mobil sendiri padahal tujuannya sama, alhasil, dirinya mengalah dan memilih menggunakan mobil Stella.
Memasuki mall, Rega melihat Stella yang tengah berdiri sambil menggendong anak kecil, dia berjalan menghampiri. "Stella?" panggilnya.
Stella menoleh. "Oh, hai, Ga," balasnya nampak terkejut melihat Rega juga berada di mall yang sama dengannya.
__ADS_1
Rega menggerakkan dagunya ke arah anak kecil yang berada di gendongan Stella.
"Ini Aiden," jawab Stella.
"Kamu ke sini berdua?"
Stella menggeleng. "Tidak, ada Daddy Aiden juga, tapi dia sedang ke toilet."
Tatapan Rega meredup mendengar Stella bersama pria lain, yang tak lain adalah saingan beratnya, Sandy. Rega sudah tahu kalau Aiden adalah anak dari Sandy.
"Ehem!"
Stella dan Rega menoleh ke asal suara, mendapati Sandy yang sudah berdiri di belakangnya.
Kedua pria dewasa itu melempar tatapan satu sama lain. Entah apa yang terjadi sehingga kedua pria dewasa itu selalu memberikan tatapan membunuh satu sama lain, apa mereka rekan bisnis? Atau dulunya saling kenal? Stella tidak tahu.
Tapi yang pasti dia mereka aura dingin yang kini menyelimutinya, mungkin sebentar lagi berubah menjadi panas, dan dia tidak ingin itu terjadi.
"San, sebaiknya kita pulang, Aiden juga sudah tidur," ucap Stella memecah keheningan di antara mereka bertiga.
Dua pria itu menoleh kompak.
Sandy mengangguk. "Ayo."
Stella menoleh ke arah Rega. "Ga, kami pamit duluan," pamitnya tersenyum kecil.
Meskipun tidak rela akhirnya Rega mengangguk kecil.
"Biar aku yang gendong Aiden," Sandy mengambil Aiden dari gendongan Stella.
Ketiganya berjalan beriringan seperti sebuah keluarga, hal itu tak luput dari tatapan Rega, dia mengepalkan tangannya erat.
"Sial!" umpatnya memukul angin.
***
Sandy memutuskan untuk pulang ke rumah Stella, bukan apa-apa, dirinya tidak mau Stella yang mengantarkannya pulang. Sehingga dia memilih pulang ke rumah Stella dan meminta Alvin untuk menjemputnya di rumah Stella nanti.
"Masuk dulu, San," ajak Stella.
Sandy mengangguk dan masuk ke rumah Stella dengan menggendong Aiden yang tertidur.
"Duduk dulu," tawar Stella kemudian berlalu menuju dapur.
"Bi, tolong buatkan minuman untuk tamuku," pintanya pada ART.
"Iya, Nyonya."
Sandy menidurkan Aiden pada sofa panjang. Tak berapa lama Stella kembali dengan pakaian yang sama dan mengambil duduk di seberang.
"Terimakasih, Ste."
"Untuk?"
"Untuk hari ini," jawab Sandy tersenyum.
Stella tertular senyuman Sandy, kepalanya mengangguk. "Sama-sama."
__ADS_1
~°°~