Bunda Untuk Daddy (Tamat)

Bunda Untuk Daddy (Tamat)
eps 15


__ADS_3

STELLA AYU GHANI


a.k.a BUNDA



Jangan lupa vote dan koment 😍


Happy reading!


[]


Sore hari, Stella berkutat dengan bumbu dapur guna memasak untuk makan malam, di temani Aiden yang duduk di meja pantry.


Mereka memutuskan untuk kembali ke Jakarta besok pagi, karena kondisi Sandy yang baru saja membaik. Stella sudah menawarkan agar dirinya saja yang menyetir, tapi ditolak dengan keras oleh Sandy. Sandy mana tega membiarkan wanita menyetir malam-malam.


Sandy yang sudah merasa lebih baik, berjalan menuju dapur, menghampiri Aiden dan melihat Stella yang sedang berkutat dengan kompor serta penggorengan.


"Daddy, ini apa?" Aiden menunjukkan kaleng di depannya.


Sandy membukanya, mengambil dengan ujung jarinya dan menjilatkan pada Aiden.


"Manis, Dad. Seperti gula," komentar Aiden polos.


Stella yang mendengar suara Aiden menoleh ke belakang. "Itu namanya gula halus, sayang," sahutnya.


Dengan sengaja Sandy mengambil serbuk gula dan mengoleskan di pipi Aiden, tak mau kalah Aiden pun membalas perlakuan sang Ayah.


Keduanya tertawa melihat wajah masing-masing yang penuh dengan serbuk putih itu.


Stella berbalik dan melotot. "Astaga.. apa yang kalian lakukan?" pekiknya menghampiri dan menghapus wajah Aiden dengan celemek yang dia gunakan.


Sandy menyeringai, mengambil serbuk itu dan mengoleskan ke pipi Stella. Dia terbahak di ikuti Aiden.


Stella menganga melihat ulah Sandy, tak mau kalah, dirinyapun membalas dengan mengoles wajah Sandy dan Aiden dengan gula halus.


Ketiganya berlari kejar-kejaran, saling melempar dengan bubuk putih itu.


Aiden berlari keluar dari dapur, bermaksud mengambil ponsel Sandy yang tergeletak di nakas kamar.


Kemudian kembali dan mengambil gambar Sandy yang tertawa sambil perang serbuk.


"Daddy, Bunda," teriaknya nyaring.


Keduanya menoleh.


Cekrek..!


Kemudian Aiden langsung berlari setelah mendapatkan apa yang dia inginkan.


"Aiden, tunggu," teriak Sandy hendak mengejar Aiden.


Namun naas, kakinya terpeleset serbuk yang berserakan di lantai, alhasil dirinya terjerembab ke depan, menubruk tubuh Stella yang berada di sana.


Brukk!


Cup!


Tak sengaja bibir Sandy mengecup kening Stella yang terjatuh di bawahnya. Dengan posisi tangan kiri Sandy menahan punggung Stella serta tangan kanannya menahan kepala bagian belakang Stella agar tidak terbentur lantai.


Tubuh keduanya menempel, kedua siku Sandy terasa ngilu saat membentur lantai.


Sandy mengangkat wajahnya menatap Stella yang mematung di bawahnya. Dirinya tersadar telah tidak sengaja mencium kening Stella.


Stella membeku di posisinya, jangan lagi, bathinnya.


Jangan bicarakan jantung, keduanya merasa harus memeriksakan kesehatan jantung setelah ini.


Sandy meneliti wajah Stella mulai dari mata, hidung, pipi yang muncul semburat merah seperti blush-on, kemudian beralih pada bibir Stella yang berwarna pink, seperti menggoda agar Sandy mencicipinya.


Sandy meneguk salivanya alot, seperti ada kerikil kecil mengganjal di sana, perlahan memiringkan kepalanya dan bergerak mendekat.

__ADS_1


Entah mengapa melihat wajah Sandy semakin mendekat membuat Stella reflek memejamkan matanya.


Merasa mendapatkan izin, Sandy pun perlahan menempelkan bibirnya di atas bibir Stella, awalnya hanya menempel biasa, namun perlahan ********** dengan lembut.


Stella merasa tubuhnya lemas di atas kuasa Sandy, kupu-kupu di perutnya serasa beterbangan. Merasakan cumbuan halus dari Sandy membuatnya terlena, tak terasa dirinya membalas ciuman Sandy.


Sandy tersenyum saat merasakan Stella membalas ciumannya. Tidak pernah dia seperti ini sebelumnya, bahkan ketika dirinya mencium Fara pun tidak ada gelenyar aneh pada tubuhnya.


Terakhir kali dirinya merasa seperti ini, saat berciuman dengan mendiang istrinya, Mommy dari Aiden.


Saat masih meresapi dan mencecap bibir masing-masing, tiba-tiba suara milik Aiden mengentikan kegiatan keduanya.


"Daddyyyy."


"Bundaaaa."


Reflek Stella mendorong dada Sandy agar menyingkir dari atasnya, dan segera berdiri sambil membersihkan serbuk gula yang menempel pada bajunya.


"Bunda di sini, sayang."


Aiden berlari memeluk perutnya, kepalanya mendongak menatap Stella.


"Ada apa?" tanya Stella menunduk menatap Aiden yang hanya sebatas perutnya.


Aiden mengendus-endus, Stella mengikuti tingkah Aiden mengendus.


'Seperti bau gosong,' pikirnya.


"Stella, sayurnya," ucap Sandy menunjuk panci di atas kompor yang menyala.


Stella berlari mengecek panci di atas kompor yang sudah menghitam, segera dia mematikan kompor.


Menoleh ke arah Sandy dan Aiden bergantian. Kemudian ketiganya tertawa melihat sayur yang sudah menghitam.


"Kita makan malam di luar saja," usul Sandy di angguki Stella dan juga Aiden.


Ketiganya beranjak menuju kamar masing-masing guna membersihkan diri dan berganti pakaian.


***


Pipinya terasa panas mengingat ciuman tadi. Dia memukul kepalanya pelan, kenapa juga tadi dia membalas ciuman Sandy. Bagaimana harus bersikap nantinya?


Setelah selesai berganti pakaian, ketiganya memutuskan menuju restoran. Setelah sampai di restoran ketiganya segera memesan makanan.


Setelah selesai makan malam, Sandy mengajak Stella dan Aiden jalan-jalan di sekitar taman, banyak pemuda pemudi serta keluarga yang hanya sekedar jalan-jalan menghabiskan malam seperti mereka.


Tidak begitu ramai karena besok bukan hari minggu. Selama berjalan Stella terus saja diam, dia merasa malu dengan Sandy.


Tak beda jauh, Sandy juga merasa canggung dengan Stella. Tapi tak dipungkiri, ada bagian dari dalam dirinya yang merasa senang.


Sedangkan Aiden sudah tertidur di gendongan Sandy.


Keduanya berjalan beriringan tanpa suara, memutuskan menuju stand penjual jagung bakar.


"Dua, Pak," ucap Sandy kepada sang penjual dan menuntun Stella duduk lesehan di tikar yang sudah di sediakan penjual.


"Anaknya ya, Pak?" ucap salah satu pembeli yang duduk di tikar yang sama.


"Iya, Bu," jawab Sandy mengangguk.


"Ganteng ya? Seperti Ayahnya, Ibunya juga cantik," puji sang ibu.


Sandy dan Stella menatap satu sama lain.


"Semoga pernikahan kalian senantiasa bahagia ya, nak. Saling menjaga, saling jujur. Hati-hati sekarang itu jamannya pelakor dan pebinor," nasehat sang ibu yang sepertinya mengira mereka adalah satu keluarga.


Stella tersenyum kikuk, mengusap lehernya.


"Iya, Bu, pasti. Doakan kami langgeng ya, Bu," Sandy menyahut tanpa beban.


Stella mendelik menatap Sandy, sedangkan Sandy mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda Stella.

__ADS_1


"Iya, ibu doakan semoga kalian langgeng sampai kakek nenek."


"Aminnnn," jawab Sandy mengulum senyum, melirik wajah Stella yang menunduk.


"Sudah umur berapa anaknya, Mas?" tanya ibu-ibu itu lagi.


Stella mendongak. "Lima tahun lebih, Bu," jawabnya, dia mengetahui tanggal lahir Aiden waktu Aiden dirawat dirumah sakit.


"Sudah waktunya buatin adik tuh?" goda sang ibu menepuk pundak Stella.


Stella tersedak liurnya sendiri, bagaimana mungkin membuat adik untuk Aiden, menikah saja belum bathinnya.


Sedangkan Sandy sudah menahan tawanya sedari tadi.


"Ayahnya ganteng, ibunya cantik, pasti anak-anaknya juga cantik dan ganteng seperti orangtuanya."


"Hehe, iya, Bu," balas Stella kikuk, pura-pura tersenyum senang.


"Doakan dapat cewek ya, Bu," Sandy semakin gencar menggoda Stella.


Jangan tanya bagaimana wajah Stella, dia benar-benar malu, ingin rasanya mengubur diri saat ini juga.


"Iya, ibu doakan semoga anak kalian yang kedua cewek."


"Aminnn," ucap Sandy dan ibu itu bersamaan.


Stella memicing tajam, melihat Sandy menahan tawa, wajahnya memerah menahan malu dan marah.


Setelah ibu-ibu itu pergi, tawa yang sedari tadi ditahan Sandy akhirnya meledak. Dia terbahak-bahak melihat wajah Stella yang terlihat sangat kesal.


Stella melipat tangan, menatap makhluk yang sayangnya tercipta dengan sempurna itu tengah menertawakannya.


"Berhenti, Sandy!" peringatnya, namun dihiraukan Sandy.


"Sandy, nanti Aiden bangun!" hentak Stella kesal.


Sandy berdehem menetralkan tawanya, sesekali masih terkikik melihat wajah Stella yang menggemaskan ketika kesal.


Sementara Stella memutar bola matanya malas.


Bapak-bapak penjual jagung bakar menghampiri dan memberikan pesanan mereka.


"Ibu beruntung punya suami seperti beliau," ujar sang penjual menoleh ke arah Sandy.


Stella menyernyit bingung.


"Bisa membuat ibu tersenyum, rumah tangga akan langgeng jika banyak kebahagiaan di dalamnya."


Stella terdiam, mendengarkan ucapan sang penjual jagung dengan kerutan dalam.


"Semoga keluarga ibu dan bapak selalu dilimpahi kebahagiaan," doa tulus sang penjual kemudian undur diri.


Stella melongo, akhirnya dia paham apa yang dimaksud Bapak penjual jagung.


"Brff," Sandy menahan tawanya dengan menutup mulutnya dengan kepalan tangan.


Hingga akhirnya tawa itu pecah, Sandy tergelak terpingkal-pingkal, menatap raut wajah Stella yang mendung. Sedangkan Stella sudah cemberut sambil memakan jagung bakarnya dengan asal.


~••~


.


**Yuhuuuu bagaimana nih, seru nggak???😝😝


Baper nggak??? 😜


Siang and malem. Marathon nih ngetiknya. 💪


Biar author semangat ngetik. Jangan lupa vote dan coment yaaaa..🙏🏻😊


AKU KASIH VISUALNYA STELLA JUGA LOH 😍

__ADS_1


Terimakasih.


Ig: elshaolivia**_


__ADS_2