
**Kalau masih ada yg bingung kenapa ceritanya diulang?
Jadi mulai eps 39 aku rombak alias aku revisi, part yg udah terlanjur ke publish gak bisa kuhapus, atau yg tau cara hapusnya tolong beritahu akuu 😥😥
Aku usahain crazy up, biar cpt selesai oke! 😉
So happy reading!!
.
.
.
✨ Bunda untuk Daddy 🎎
42**
***
Setelah resepsi pernikahan Intan, Stella kembali dengan rutinitas nya, mengurus dua pria yang di cintainya, Sandy dan juga Aiden.
Setelah pernikahan itu pula Rega dan Intan memutuskan untuk pindah dan menetap di Surabaya.
"Sayang kita honeymoon yuk?"
Stella yang sedang menyisir rambutnya berbalik, "kenapa?"
"Kita kan belum honeymoon sayang"
"Bukannya dulu kamu yang selalu menolak waktu mama nawarin" Stella kembali berbalik dan menyisir rambutnya
"Lagipula sekolah Aiden belum libur"
Sandy merebahkan tubuhnya dikasur, menggunakan kedua tangannya sebagai bantal, "kita honeymoon gak usah bawa Aiden sayang"
"Hampir setengah tahun menikah tapi belum pernah honeymoon" ucap Sandy lesu
Sebenarnya dia ingin menjauh dari orang-orang yang mengganggu kebersamaan dirinya bersama Stella. Contohnya Aiden
Entah kenapa Sandy merasa Aiden sangat manja terhadap Stella, dia selalu memonopoli Stella, membuatnya kesal.
"Lagipula aku ingin menghabiskan waktu hanya berdua denganmu" Sandy tidur menyamping menyangga kepalanya dengan tangannya
"Aiden titipkan ke mama saja"
Stella menghela nafasnya, "terserah kamu"
Sandy tersenyum mendengar jawaban Stella, dia bangkit dan menghampiri istrinya, mencium pipi Stella.
"Pipi kamu agak tembem ya sekarang"
Stella memegang keduanya pipinya, berkaca pada cermin didepannya, "emang kelihatan banget ya?, Tadi beberapa maid juga bilang gitu"
"Aku jelek ya?" ucap Stella sedih
Sandy memegang kedua pipi Stella, "kau tetap cantik dimataku sayang"
Sandy mencium kening, mata, hidung, pipi dan terakhir bibir Stella, melumat nya perlahan, lama-kelamaan semakin penuh gairah.
Sandy menggendong Stella ala bridal kearah tempat tidur tanpa melepaskan pagutannya.
Perlahan namun pasti keduanya sudah benar-benar naked, dan apa yang terjadi selanjutnya hanya author yang tahu. 😂
Eh tapi para readers sekarang sudah paham kok, jauh lebih paham deh kayaknya ✌️😝, intinya sama seperti apa yang ada di otak kalian. 😅
***
Sehari sebelum keberangkatan honeymoon Stella merasakan pusing dikepalanya.
"Sayang are you oke?" tanya Sandy khawatir melihat Stella yang sedari pagi sedikit pucat
Stella mengangguk, dia menarik tubuh Sandy menyerukkan wajahnya didada Sandy, menghirup aroma tubuh Sandy yang menjadi kesukaannya akhir-akhir ini.
__ADS_1
Sandy semakin khawatir dengan keadaan Stella, pagi-pagi Stella mengeluhkan sakit kepala, namun menolak dibawa ke dokter.
Padahal nanti malam dirinya akan berangkat untuk honeymoon, kalau keadaan Stella seperti ini, dipastikan honeymoon nya batal.
Sandy merogoh sakunya guna menghubungi dokter pribadi keluarga Van Houten untuk datang ke mansionnya.
Tak berapa lama sang dokter datang.
"Apa anda merasa mual nyonya?"
Stella menggeleng, "tidak dokter"
"Kapan terakhir datang bulan?"
"Datang bulan" monolog Stella
Dia mengingat-ingat namun sepertinya sudah lama sekali dirinya tidak kedatangan tamu bulanan nya.
Stella terkejut menutup mulutnya, "sa-saya" ucapnya terbata
Sang dokter mengangguk dan tersenyum, "selamat tuan Sandy, anda akan menjadi ayah untuk yang kedua kalinya" dokter menoleh kearah Sandy yang berdiri dibelakangnya
Sandy melotot, "maksud nya, istri saya hamil?" tanyanya memastikan
"Iya tuan" ucap dokter tersenyum
Sandy menatap Stella yang menitikkan air mata, Sandy naik keranjang langsung memeluk tubuh istrinya, menciumi seluruh wajah Stella, "terimakasih sayang, terimakasih" ucapnya
Stella mengangguk disela tangis bahagia nya, memeluk Sandy erat, dia merasa sangat bahagia.
"Untuk lebih jelasnya bisa diperiksa kan ke rumah sakit tuan" saran dokter
"Terimakasih Ed" ucap Sandy
Akhirnya mereka memutuskan untuk menunda acara honeymoon mereka, karena kehamilan Stella yang lebih penting, Sandy dan juga Stella tidak ingin terjadi sesuatu dengan kandungan nya.
Selama hampir setengah tahun usaha keduanya akhirnya membuahkan hasil, tidak ada yang lebih bahagia dari ini.
Sandy dan Stella memilih menghabiskan waktunya dirumah saja, selagi Aiden masih dititipkan dirumah orangtuanya.
Ternyata usia kandungan Stella sudah memasuki empat minggu. Stella tidak mengetahui nya, karena dia tidak mengalami mual seperti saat hamil dulu.
Hanya saja akhir-akhir ini dia lebih suka menciumi aroma maskulin Sandy.
"Aku tidak tahu dia sudah disini hampir empat Minggu" ujar Stella tersenyum mengelus perutnya
"Aku bahkan tidak mengalami mual-mual atau morning sick seperti dulu mengandung Rafa"
"Anak Daddy memang pintar" ucap Sandy sambil mengelus dan mencium perut rata Stella
Sandy beralih mencium pipi istrinya, merebahkan diri disamping Stella. Stella tidur di atas dada telanjang suaminya, menghirup aroma maskulin yang menenangkan.
Sandy mengelus kepala Stella, "besok kita kerumah mama ya, kasih tahu berita bahagia ini sekalian jemput Aiden"
Stella mengangguk, "Aiden pasti senang mau punya adik" Sandy terkekeh
Stella mendongak melihat wajah Sandy, "semoga kali ini dapat perempuan ya"
Sandy menurunkan wajahnya, mencuri satu ciuman dibibir Stella, "laki-laki atau perempuan sama saja"
"kalau kita dapat cowok kan bisa coba lagi" Sandy menaik turunkan alisnya
Stella memukul dada Sandy pelan, dia menyembunyikan wajahnya di dada Sandy.
Sandy senang melihat Stella yang malu-malu serta pipinya yang memerah, membuat nya gemas.
Sandy mengangkat wajah Stella agar menghadap arahnya, menatap lekat wajah cantik istrinya, betapa beruntungnya dia mendapatkan istri seperti Stella.
Stella merasa wajahnya semakin memanas di tatap begitu lekat oleh Sandy.
Diapun menatap wajah tampan suaminya, tidak pernah dia bayangkan akan menjadi istri seorang Milioner dengan wajah bak dewa yunani seperti Sandy.
Dia hanya berharap semoga kali ini tuhan memberinya kesempatan untuk terus bersama sampai tua nanti bersama Sandy.
__ADS_1
Tak beda jauh, Sandy juga berharap akan menua bersama dengan Stella, membesarkan anak-anak bersama-sama.
Stella menutup matanya ketika wajah Sandy yang perlahan mendekat, dan kemudian mencium bibirnya lembut.
"Apa aku boleh mengunjunginya" tanya Sandy disela pagutannya
Stella mengedip-ngedipkan matanya, "sepertinya boleh" ucapnya tersenyum
Mendengar jawaban Stella, Sandy tersenyum langsung menyambar bibir istrinya yang sedikit membengkak akibat ulahnya tadi.
Malam ini menjadi saksi kisah keduanya yang bertambah bahagia dengan kehadiran buah cinta mereka.
***
Sandy meliburkan diri untuk hari ini, sengaja dirinya ingin menemani istrinya yang sedang mengandung buah hatinya, rencananya mereka akan ke mension orangtuanya nanti siang, sekalian jemput Aiden sekolah.
Pagi tadi Stella sudah menghubungi Laras bahwa dia menunda acara honeymoon nya, dan akan menjemput Aiden sekolah nanti siang.
Laras sempat bingung kenapa Stella menunda honeymoon nya, namun seperti yang di katakan Stella bahwa dia punya berita baik untuk disampaikan nanti.
Sandy menggandeng tangan istrinya menuju tempat duduk yang disediakan sekolah untuk para wali murid yang menunggu anaknya.
Erin yang melihat Stella langsung beranjak dari duduknya dan menghampiri mereka.
"Stella" pekiknya memeluk tubuh Stella
Erin dan Stella sengaja menempatkan anak-anaknya disekolah yang sama, dulu Stella sempat memberikan saran pada Sandy untuk menempatkan Aiden sekolah disini, yang tak tahunya Vini anak Erin juga disekolah kan disini.
"Selamat siang tuan Sandy" sapa Erin mengangguk hormat, meskipun Sandy adalah suami sahabatnya, tapi Erin masih sedikit canggung bila berbicara dengan Sandy yang notabene pengusaha kaya raya
Sandy mengangguk menjawab sapaan Erin. Kemudian ketiganya duduk dikursi tunggu.
"Ste bukannya lo honeymoon ya sekarang?"
Stella tersenyum, "gue tunda Rin, ada something"
"Eh tunggu deh, lo agak gendutan ya sekarang, iya bener deh" Erin menatap Stella dari atas sampai bawah
"Apaan sih, itu karena lo jarang ketemu gue, sibuk keliling dunia sih lo" sindir Stella
Erin menyengir, "biasalah Ste, mama sosialita" dia terkekeh
Tak berapa lama jam pulang sekolah berbunyi.
"Eh gue duluan ya Ste" ucap Erin ketika melihat Vini keluar dari gedung sekolah
Aiden berjalan sambil memegang kedua tali tas ranselnya, matanya meneliti keberadaan sang sopir.
Namun yang dilihat justru kedua orangtuanya yang berjalan menghampirinya.
"Bunda, Daddy" ucapnya berlari kearah orangtuanya
Sandy sigap menangkap Aiden dan membawanya kedalam gendongan.
"Hai jagoan" Sandy mengacak rambut Aiden
"Daddy tidak jadi pergi?" Aiden menatap Sandy kemudian beralih ke Stella
Kompak keduanya menggeleng, "Bunda sama Daddy punya hadiah buat Aiden"
"Oh ya, apa Dad?"
"Emm rahasia, kita pulang dulu okey, hadiahnya kita lihat nanti ya"
Aiden mengangguk semangat, "okey Daddy"
***
**Follow Instagram ku
@elshaolivia_
see u 😘
__ADS_1
saskavirby**