Bunda Untuk Daddy (Tamat)

Bunda Untuk Daddy (Tamat)
eps 41 (sudah revisi)


__ADS_3

**✨ Bunda untuk Daddy 🎎


41**


***


Seperti mimpi yang akhirnya jadi kenyataan, begitulah yang dirasakan oleh Intan saat ini.


Melihat tampilan dirinya didepan cermin, beberapa perias sedang memoles wajahnya sehingga menjadi yang tercantik hari ini.


Gaun putih gading yang terpasang di manequin di belakangnya menyiratkan bahwa hari ini bukanlah mimpi, ini adalah kenyataan, kenyataan yang dia impikan beberapa tahun yang lalu.


Tak pernah disangka, sebentar lagi, beberapa jam lagi, dirinya akan resmi menjadi istri sah dari bos galaknya, ralat, bos tampan yang bernama Arrega Aditama Bramantyo.


Sudut bibirnya tertarik saat teringat seberapa sering dirinya menyatakan cinta pada Rega, namun selalu penolakan yang dia dapatkan.


Jika ada perlombaan tidak tahu malu, pasti Intan akan mendapatkan juara bertahan.


Ya memang begitulah kenyataannya.


Flashback on


Hampir dua bulan Intan kembali pada tempat bekerjanya yang ada di Bandung, selama itu pula dirinya tidak pernah bertemu dengan sang pujaan hati, siapa lagi kalau bukan Rega.


Merasa bersalah, tentu saja dirinya merasa tidak enak kepada Rega, apalagi kakaknya -Stella-, sungguh dirinya tidak tahu harus bersikap seperti apa kalau bertemu Stella nanti.


Hingga tiba-tiba Stella datang bersama keluarga  calon suaminya yang ternyata adalah Sandy, sang duda kaya raya yang mempunyai paras rupawan.


Dengan penyesalan dan kesungguhan hati Intan meminta maaf kepada Stella karena telah memfitnahnya didepan ibunda Rega.


Setelah kejadian itu, entah bagaimana, salah satu teman kerjanya memberitahu bahwa pemilik perusahaan akan mengunjungi kantor.


"Gue dapat informasi baru, pak Rega akan kunjungan kantor" seru seorang teman kerjanya


"Serius, kapan?"


"Besok, dan yang lebih mengejutkan, pak Rega akan stay di kantor ini" terlihat wanita itu histeris sampai menghentak-hentakkan kakinya


Deg.


'Rega akan stay di kantor ini' bathin Intan


Intan tersenyum miring, 'pasti dia gak bisa jauh-jauh dari gue' bathin Intan terkikik


"Lo kenapa Tan?"


"Hah, gak gapapa"


Teman samping cubic nya menggeser kursi mendekati nya, dia berbisik ditelinga Intan, "lo punya banyak kesempatan deketin dia"


Intan menjentikkan jarinya, sambil mengedipkan salah satu matanya.


Singkatnya Intan benar-benar berhasil mengambil hati Rega, beberapa bulan ini Rega memang merasa risih dengan ulah Intan yang tak berhenti mengganggu nya, namun tanpa dia sadari itu membuat dirinya terbiasa dengan adanya Intan.

__ADS_1


Hingga saat Intan memilih menerima tawaran kepala manager untuk beberapa bulan pindah ke kantor cabang yang ada di Surabaya, bermaksud menggantikan salah satu karyawan yang cuti karena melahirkan.


Disitulah Rega merasa kesepian dengan tidak adanya Intan, yang biasanya pagi-pagi gadis itu sudah merecokinya dengan pertanyaan anehnya, siang hari yang sengaja berdiri didepan pintu lift untuk menyapa nya saat akan makan siang.


Serta beberapa kali memberikannya brownies seperti dulu, tapi anehnya rasanya tidak sama seperti yang dulu dia rasakan.


"Maaf pak Rega yang ganteng, pasti kuenya rasanya berbeda ya, saya mau jujur sama bapak, kalau dulu yang buat kue itu kakak saya a.k.a mbak Stella, dan kali ini adalah kue hasil buatan saya sendiri, semoga bapak suka ya"


Begitulah kalimat yang tertulis dalam kertas diatas kotak brownies itu.


Rega tersenyum geli membacanya, namun tak urung dirinya menghabiskan kuenya.


Rega belum sepenuhnya memahami arti perasaan nya terhadap Intan, tapi seminggu ini dirinya benar-benar resah, hampir tiap malam dia memimpikan Intan di setiap tidurnya.


Dengan perasaan yang tak menentu, dia memutuskan untuk ke Surabaya.


Betapa terkejut dirinya saat mengetahui Intan tidak berada di kantornya, dan yang lebih mengejutkan bahwa Intan dirawat dirumah sakit akibat pingsan dikantor.


Perjalanan menuju ruang inap Intan terasa begitu lama, jantungnya berdegup dengan kencang, dia merasa takut, entah apa yang di takutkan, apakah dirinya takut Intan akan meninggalkan nya?


Saat itulah dirinya menyadari bahwa benih-benih cinta mulai merambat di dalam hatinya.


Melihat wajah pucat Intan yang tetap memaksakan senyum ketika melihat dirinya berdiri diambang pintu, membuat hati Rega terenyuh.


Hari kelima Intan dirawat, Rega semakin yakin dengan perasaannya, dengan keyakinan dan kemantapan hati, dia mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna hitam, menyodorkan kedepan Intan yang tengah duduk diatas ranjang rumah sakit.


"Would you be mine?" Ucapnya. Membuat Intan terkejut, mulutnya terbuka dengan mata yang melotot menatap Rega tidak percaya


"Entah sejak kapan perasaan ini muncul, tapi setelah kepergian kamu ke Surabaya membuat hari-hari ku terasa ada yang kurang, hingga aku menyadari satu hal, bahwa aku tidak bisa hidup tanpa ocehan darimu tiap pagi, siang, sore"


Rega memegang tangan Intan, "Intan would you be mine?" Ulangnya menatap manik mata Intan


Jujur Rega benar-benar berdebar kali ini, bahkan rasanya lebih menakutkan menanti jawaban Intan daripada mendengar penolakan Stella dulu.


Intan meneteskan air matanya haru, kemudian dia mengangguk, "yes i will"


Rega menghapus air mata di pipi Intan, mengeluarkan kalung berbandul bintang dengan hiasan berlian, memasang dileher Intan.


Intan tersenyum melihat kalung di lehernya, "aku tidak pernah menyangka mimpi aku jadi kenyataan"


"Mimpi apa?"


Intan tersenyum menunjuk kan giginya, "dapat kalung berlian" kekehnya


Wajah Rega berubah cemberut.


Intan tergelak sampai airmata nya keluar, "aku bercanda" ucapnya menepuk lengan Rega


"Mimpi bisa dapatin pria seganteng kamuu" Intan tersenyum sampai matanya menyipit


Rega ikut tergelak, melihat sikap Intan yang kelewat jujur dan apa adanya, dia merengkuh tubuh Intan kedalam pelukannya.


Intan membalas pelukan Rega mengelus punggung Rega dengan tangannya yang tidak terinfus, dia benar-benar bahagia, penantian selama ini membuahkan hasil, dia bisa menjadi bagian hidup Rega, inilah impiannya.

__ADS_1


Dia sungguh berterima kasih kepada Tuhan yang selama ini tidak lelah mendengar kan doanya, sehingga mau mengabulkan doanya.


Flashback off


Lamunan Intan buyar saat Stella datang menghampiri dan memeluknya dari belakang.


"Cantik banget calon pengantin ini?"


Intan tersenyum, "terimakasih banyak mbak Stella"


"Maafkan kesalahan Intan selama ini mbak, Intan sering nyusahin mbak" mata Intan berkaca-kaca


"Jangan merusak make up mu Intan" Stella mengusap air mata yang menetes diujung mata Intan


"Mbak tidak pernah merasa direpotkan, mbak senang akhirnya adik mbak bisa mendapatkan lelaki yang dicintainya, lelaki yang bisa melindungi mu, dan lelaki yang mencintaimu"


Stella mengelus tangan Intan, "jadilah istri yang baik, nurut sama suami, jangan bantah ucapan suami, dampingi dia dikala senang dan susah, hibur dia dikala sedih, jadilah ibu yang baik untuk anak-anak mu kelak" nasehat Stella


Intan mengangguk, berhamburan memeluk Stella, "Intan akan ingat nasehat mbak"


"Eh ada apa ini kok ibu gak di ajak?" Seru sang ibu yang melihat kedua anaknya berpelukan


"Gapapa bu, Stella hanya merindukan adik yang sebentar lagi akan jadi istri orang" jawab Stella


"Hilangkan kebiasaan burukmu bangun siang, ingat, kamu sudah menikah sekarang" titah sang ibu memegang pundak Intan


"Iya bu siap" Intan menyengir


Intan berdiri, memeluk tubuh kakak dan ibunya, "Intan bahagia mempunyai kalian sebagai bagian dalam hidup Intan"


"Mbak juga bahagia memiliki kalian berdua"


"Ibi jauh lebih bahagia memiliki dua anak perempuan seperti kalian, ibu benar-benar bangga, berbahagialah kalian berdua"


Sang ibu mencium kening Stella dan Intan bergantian.


"Ayo acara segera dimulai"


"Sepertinya sang mempelai pria tidak sabar menunggu pengantin wanitanya" goda Stella yang melihat layar ponselnya berdering menampilkan nama Rega yang tertera disana


Ketiganya tersenyum, kemudian menuntun Intan untuk turun menuju dipelaminan.


***


Harap bersabar menanti yaa


.


.


.


.

__ADS_1


See u


@saskavirby


__ADS_2