Bunda Untuk Daddy (Tamat)

Bunda Untuk Daddy (Tamat)
eps 37


__ADS_3

Semakin dekat menuju hari H semakin membuat Stella gugup luar biasa, meskipun itu bukan pernikahan pertamanya, tapi tetap saja perasaan gelisah itu menyusup di dadanya. Orangtuanya sudah berada di Jakarta sejak dua hari yang lalu, mereka tinggal di salah satu hotel tempat berlangsungnya acara pernikahan. Tentu hotel itu adalah milik Sandy sendiri. Adik tirinya, —Intan. belum bisa hadir, menurut penuturan lewat telepon, sehari sebelum hari H intan akan ke Jakarta bersama kekasihnya, yang entah siapa Stella pun tidak tahu.


Selama di butik Jery terus saja merecoki Stella karena tidak diberitahu kalau Stella akan menikah.


"Kau sangat keterlaluan, Ste."


Stella menghela nafas. "Sorry, Jer. Lagipula kau juga baru kembali dari Paris bukan? Aku belum sempat cerita," ia membela diri.


"Stella, jangan pura-pura amnesia kalau saat ini kita hidup di jaman modern, hampir semua yang kita inginkan bisa kita ciptakan sendiri," tangkis Jery kesal. "Apa gunanya ponsel, Stella?" tekannya berdesis.


"Oke, baiklah, aku minta maaf," Stella mengalah.


Jery melipat kedua tangannya. "Ck, kau keterlaluan, Ste, padahal aku ingin membuatkan gaun untukmu."


Stella menepuk pundak Jery. "Yang terpenting kau harus datang, ajak Maya dan Caramel juga."


"Hm," sahut Jery acuh.


Seakan teringat.


"Oh, iya, Ste, sudah tahu kabar Rega?"


Kening Stella mengerut. "Rega?" ia menggeleng.


"Aku dengar dia sudah punya kekasih, tapi aku lupa siapa namanya," Jery mengetuk-ngetuk keningnya.


"Dia di Bandung 'kan?"


Jery mengangguk. "Kemarin tidak sengaja bertemu di Surabaya."


"Kapan kau ke Surabaya, Jer? Bukannya kau dari Paris?"


"Sebelum berangkat ke Paris, aku mampir ke Surabaya, ada acara di sana. Nggak sengaja bertemu Rega sama gadis, dia memperkenalkan kalau itu kekasihnya," terang Jery.


"Syukur, de, kalau begitu," tanggap Stella sekenanya.


"Padahal dulu aku sangat setuju kau bersama Rega, Ste. Kau saja kenapa menolak cintanya," ledek Jery terkekeh.


Plak!


Stella memukul lengan Jery. "Aku hanya menganggap dia teman, Jer, nggak lebih."


"Iya, aku tahu," sahut Jery. "Yang sebentar lagi jadi Nyonya Sandyaga Van Houten," godanya kemudian. "Jangan-jangan setelah kau menjadi istri miliarder, kau melupakan aku serta kemiskinanku, Ste," imbuhnya melankolis, setelahnya ia memekik sakit kala pinggangnya mendapatkan cubitan maut dari Stella. "Awshh.."


"Sembarangan kalau bicara, jangan kebanyakan nonton sinetron, deh. Mana mungkin aku begitu, Jer," tangkis Stella tak suka.


"Bukan sinetron, Ste, realita." Jery tersenyum. "Aku sepenuhnya mengenal dirimu, Ste," ia tertawa.


Stella memutar bola matanya malas.


...***...


"Sandy, aku ingin lihat dekorasinya," rengek Stella, karena bahkan hampir mencapai hari H, Stella sama sekali tidak diizinkan melihat lokasi pernikahannya.


"Nanti kamu juga bakalan tahu, Sayang."


"Kapan?"


"Saat pernikahan kita," jawab Sandy tersenyum tanpa dosa.


Stella mendengus sebal, dia melipat kedua tangannya. "Kamu tidak menyembunyikan sesuatu dariku bukan?" selidiknya.


Sandy tersenyum, memegang tangan Stella lalu mengecupnya. "Memangnya apa yang aku sembunyikan darimu, hem?"


"Yaa mungkin saja kamu menyembunyikan sesuatu dariku."


Sandy tertawa, ia meraih sisi kepala Stella dan mencium pelipisnya.

__ADS_1


"SANDY!!" Sebuah suara menyeru membuat keduanya menoleh.


"Berapa kali Mama bilang, kamu tidak boleh bertemu dengan Stella, kamu harus dipingit, Sandy," Laras geram melihat kelakuan anaknya, ia melestarikan budaya jawa.


Sandy berdecak. "Ma, tidak ada adat seperti itu, mana bisa Sandy jauh dari Stella," protesnya.


"Kamu itu, sudah, sana pulang ke Mensionmu," usir Laras menarik tangan Sandy agar menjauh dari Stella.


"Ma ini, kan, rumah Sandy, kenapa Mama mengusir Sandy," protes Sandy tak terima.


Laras memutar bola matanya. "Lihat, Ste, calon suamimu itu, keras kepala."


Stella tersenyum saja melihat keduanya, kemudian menatap Sandy. "Pulanglah, benar kata Mama, kita sedang dipingit," Stella terkikik sendiri mendengar ucapannya. Sejujurnya ia heran, itu bukanlah pernikahan pertama untuknya dan juga Sandy, kenapa harus dipingit juga, pikirnya.


"Stella, kenapa kau setuju dengan Mama?" Sandy nampak tak terima.


"Omaaa!!"


Teriakan dari lantai dua menghentikan berdebatan ketiganya.


"Stella, kamu urus Sandy, suruh dia pulang, Mama ke atas dulu nemui Aiden," Laras memperingati.


Stella mengangguk. "Iya, Ma."


"Ste, kenapa Mama memisahkan aku denganmu dan juga Aiden," Sandy terus saja memprotes keputusan Laras untuk dipingit.


Stella mengelus lengan Sandy. "Sandy, please, hanya sebentar, kan, aku nggak enak sama Mama. Sebaiknya kita turuti kemauan Mama, ini untuk kebaikan kita, Sandy," Stella mencoba membujuk.


"Lalu, bagaimana kalau aku merindukanmu?"


Stella tertawa. "Kamu itu seperti remaja labil saja."


Sandy melipat tangannya. "Aku tidak akan pulang."


Stella menghela nafas lelah, Sandy memang benar-benar keras kepala. Kemudian tiba-tiba dia mendapat ide. Stella melihat ke atas apakah Laras dan Aiden akan turun, namun sepertinya belum, kemudian melihat sekeliling tidak ada maid di sekitarnya.


Stella mendaratkan bibirnya di pipi Sandy, hanya sedetik, dia menyembunyikan wajahnya yang memerah dengan menunduk.


Sandy terkejut merasakan benda kenyal milik Stella menyentuh pipinya, dia menoleh ke samping dan mendapati Stella yang menunduk.


Stella menghembuskan nafasnya, perlahan mendongak menatap Sandy. "P-pulanglah," ucapnya gugup menyadari Sandy terus menatapnya.


Sandy berdehem menetralkan keterkejutannya, dia paham bahwa Stella merayunya agar dirinya mau pulang ke mansionnya. Kemudian Sandy menunjuk-nunjuk bibirnya sendiri.


Stella menyernyit, mengangkat dagunya.


"Kiss me," pinta Sandy menunjuk bibirnya sendiri.


Stella melotot. "Tidak."


"Baiklah, aku tidak akan pulang," Sandy menyenderkan punggungnya di sofa juga melipat tangan.


Stella mengerucut sebal, dia tahu Sandy sedang mengerjainya. Sekali lagi Stella memperhatikan sekelilingnya, memastikan tidak ada seorangpun atau bahkan tidak ada semut dan cicak sekalipun yang akan menonton ulahnya. Kemudian secepat kilat dia meraih wajah Sandy dan menempelkan bibirnya pada bibir Sandy, tidak *******, hanya menekannya pelan.


Sandy melotot menyadari Stella yang benar-benar melakukan apa yang dia inginkan. Dapat dia rasakan benda kenyal itu menyentuh permukaan bibirnya, tak ingin hilang kesempatan, merasa wanitanya akan menarik diri, dia bergerak lebih cepat untuk menahan tengkuk wanita itu serta memulai cumbuan.


Stella yang pada akhirnya pasrah mulai kuwalahan mengimbangi ciuman Sandy, ia tersedak dan terbatuk saat lidah Sandy menerobos hingga rongganya.


Sandy melepas pagutannya saat Stella berhasil memukul dadanya, dan menyadari saat Stella terbatuk-batuk. Dia meraih gelas di meja dan memberikan pada Stella.


Stella meneguknya hingga tandas, selain meredakan batuk, dia juga kehausan akibat cumbuan Sandy yang menggila.


Sandy terkekeh melihat Stella yang meminum minumannya hingga tandas.


"Kamu membuatku tersedak," protes Stella meletakkan kembali gelasnya di meja.


Sandy terkekeh. "Mulai sekarang kamu harus terbiasa, Sayang," ia mencubit gemas hidung Stella.

__ADS_1


"Sudah sana pulang," usir Stella.


"Hei, kau lupa ini juga rumahku."


"Iya, tapi sekarang ini jadi rumahku, kamu pulang ke rumah kamu sendiri."


"Aiden tidur denganmu?"


"Tentu saja."


Sandy mendengus. "Kapan aku tidur denganmu?" gumamnya.


Stella hendak mencubit perut Sandy, namun nihil, dia tidak mendapatkan lemak di sana. Ia terdiam.


Sandy mengikuti arah Stella melihat perutnya yang tertutup kemeja, kemudian dia tersenyum. "Kamu akan terkejut saat melihatnya nanti," bisiknya tepat di telinga Stella.


Stella merinding mendengar bisikan Sandy, bahkan dia sampai memejamkan mata.


"Tidak ingin mengantarkanku sampai depan?"


Stella mendongak menatap Sandy yang sudah berdiri di sampingnya. "Ah, iya," sahutnya ikut bangkit dan berjalan mengantarkan Sandy sampai ke teras


"Hati-hati," ucap Stella saat keduanya sudah sampai di depan rumah mewah tersebut.


Sandy mengangguk, meraih kepala Stella dan mencium keningnya.


Stella masih memandangi mobil Sandy yang perlahan menjauh tertelan jarak.


"Bunda, Daddy mana?" tanya Aiden saat Stella kembali memasuki rumah


"Daddy sudah pulang, Sayang." Stella menggandeng tangan Aiden.


"Pulang kemana, Bunda? Inikan rumah Daddy juga."


"Karena Bunda ada di sini, jadi, Daddy tidak boleh tidur di sini dulu."


"Kenapa, Bunda?" Aiden mendongak menatap Stella.


Stella mengangkat tubuh Aiden berada di gendongannya. "Karena Bunda, kan, sebentar lagi akan menikah sama Daddy, jadi Daddy tidak boleh bertemu sama Bunda dulu," terangnya mencium pipi Aiden.


"Asikk, sebentar lagi Bunda jadi Bunda Aiden beneran, ya?"


Stella mengangguk. "Iya, Sayang."


"Yeee!!" sorak Aiden senang.


"Sudah selesai tugasnya?"


"Sudah, Bunda, tadi dibantuin sama Oma."


"Oma dimana?"


"Di atas, Bunda," tunjuk Aiden ke arah lantai dua.


Stella mengangguk, lalu berjalan menaikinya tangga sambil menggendong Aiden.


.


.


.


tbc


...Jangan lupa vote and koment 😚...


...Happy Sunday...

__ADS_1


...2 February 2020...


__ADS_2