Bunda Untuk Daddy (Tamat)

Bunda Untuk Daddy (Tamat)
eps 39 (Lagi dan lagi)


__ADS_3

Terlihat Sandy yang menuruni tangga sambil menenteng tas kerjanya, menghampiri istrinya yang berkutat di dapur, beberapa maid undur diri ketika melihatnya memasuki dapur. Sandy memeluk tubuh Stella dari belakang.


Stella berjengit. "Kebiasaan, Sandy," protesnya mengusap dada. "Kalau aku jantungan bagaimana?"


Sandy memutar tubuh istrinya, ia terkekeh. "Im, sorry, Honey," balasnya seraya mencium kening istrinya.


Stella memutar bola matanya. "Dimana Aiden?" tanyanya kemudian.


"Masih di kamar."


"Sandy, bagaimana aku memasak kalau kamu terus mengurungku seperti ini?" protes Stella ketika Sandy tak kunjung melerai pelukan.


Sandy menatap wajah istrinya yang entah mengapa semakin cantik setiap harinya, ia mencuri satu kecuy di bibir Stella. "Aku merindukanmu."


Stella menghembuskan nafas pelan, bukankah setiap hari ia berada di samping pria itu.


Sandy menarik pinggang Stella agar lebih dekat, hendak mencium bibir yang menjadi candu untuknya.


"Daddy, jangan ganggu Bunda," Aiden menarik celana Sandy sehingga pelukannya terlerai.


"Kau mengganggu Daddy, Aiden," Sandy tak suka kesenangannya diganggu, meskipun itu anaknya sendiri.


Stella tersenyum, mensejajarkan tubuhnya dengan Aiden, mencium seluruh wajah anaknya. "Terimakasih, Ganteng, kamu telah menolong Bunda hari ini."


Aiden tersenyum. "Sama-sama, Bunda."


Sandy memutar bola matanya, kesal melihat dua makhluk itu, terutama anaknya yang terus saja mengganggu dirinya saat ingin bermesraan dengan Stella.


Setelah menikah Sandy memutuskan memboyong Stella dan juga Aiden ke mansion barunya. Ya, setelah menikah, Sandy membeli sebuah mansion besar untuk Stella dan dirinya serta Aiden. Stella hanya pasrah, karena kalau protespun tidak akan mengubah keadaan. Ketika Stella mengatakan kenapa besar sekali, Sandy menjawab enteng "Karena aku ingin memberikan Aiden adik yang banyak, biar rame." menyebalkan sekali bukan.


Sandy berjalan menuju meja makan, menoleh ke belakang. "Aiden, jangan ganggu Bunda," peringatnya membalas perbuatan sang anak. "Ayo, tunggu di luar," Sandy menggandeng tangan Aiden menuju meja makan.


...***...


Stella menemani Aiden yang sedang mengerjakan pekerjaan rumah di meja, sedangkan Sandy memegang Ipad meneruskan pekerjaannya.


"Bunda, Aiden malam ini mau tidur sama Bunda."


"Tidak boleh," Sandy yang menjawab.


Aiden menekuk wajahnya, menatap penuh harap pada Stella.


Stella mengusap kepala Aiden. "Kenapa Aiden pengen tidur sama Bunda, hem?" tanyanya lembut.


"Aiden kangen Bunda," jawab Aiden menunduk.


Sandy berdecak. "Kamu setiap hari bertemu sama Bunda, Aiden, jangan manja. Sudah, kamu tidur di kamar kamu sendiri."


"Daddyyyy," Stella memanjangkan nada suaranya dengan pelan namun mengancam, matanya menatap Sandy tajam. Ia tidak habis pikir Sandy bisa cemburu dengan anaknya sendiri. "Aiden nggak usah sedih, nanti tidur sama Bunda, ya?" ujarnya pada Aiden.


Aiden mengangguk senang.


"Sayang~'' Sandy hendak memprotes, namun Stella sudah mengangkat jari telunjuknya serta menggoyangkan ke kanan dan kiri pertanda tidak bisa diganggu gugat.


Aiden menjulurkan lidahnya pada Sandy. Mengejeknya.


...***...


Satu bulan setelah menikah. Intan bertandang ke kediamannya bersama kedua orangtuanya. Stella yang mendapati ayah, ibu serta adiknya datang sangat antusias dan senang sekali.


Stella memeluk sang ayah. "Bagaimana kabar Ayah?"


"Ayah baik-baik saja, Stella," Ghani menyahut.


Beralih memeluk ibu tirinya. "Ibu baik-baik saja?"


"Iya, Ibu juga baik."


"Ayo, silahkan duduk," ajak Stella mempersilahkan.


Intan duduk di samping Stella, raut wajah gadis itu terlihat sangat bahagia.


"Sudah untung belum, Ste?" tanya sang ibu.


Stella tersenyum. "Mohon doanya, Bu."


"Sandy dan Aiden kemana, Ste?"


"Sandy bekerja, Yah, Aiden sekolah," Stella beralih menatap Intan. "Kamu tidak bekerja?"


Intan menggeleng. "Libur, Mbak."


"Mentang-mentang pacarnya bos, jadi sering libur, nih," goda Stella menyenggol lengan Intan.


"Mbak apaan, sih," kilah Intan tersenyum malu.


"Eh, silahkan di minum, Yah, Bu," ucap Stella saat maid meletakkan beberapa minuman juga beberapa cemilan.


"Rumah Mbak besar, ya?" Intan menelisik seluruh isi mension.

__ADS_1


"Besar atau kecil sama saja, Intan. Kalau kamu menikah dengan Rega, kamu juga bakalan punya rumah lebih besar dari ini," goda Stella terkekeh.


"Mbak Stella, ih, godain Intan mulu," Intan cemberut seraya melipat tangan.


Kedua orangtuanya ikut tersenyum melihat keakraban kedua anaknya.


"Itu lah tujuan kita ke sini, Stella."


"Tujuan apa, Ibu?"


"Jadi gini, Nak, adikmu Intan, akan bertunangan dengan Rega," tutur Ghani.


Stella tersentak, matanya melotot. "Benarkah?"


Intan mengangguk yakin.


"Kapan?"


"Minggu depan, Mbak."


"Oh, ya, wahh selamat ya, Intan," Stella memeluk tubuh adiknya, ia turut senang. "Jadi apa yang harus Mbak lakukan untuk adik Mbak yang cantik ini, hem?" Stella menoel pipi Intan.


Intan menyengir. "Buatin baju dong, Mbak" pintanya menaik turunkan alis.


Stella terkekeh. "Baiklah, Mbak akan buatkan baju khusus untuk kamu, sekalian untuk Ayah dan Ibu juga."


"Nggak perlu, Stella, Ibu sama Ayah pakai baju biasa saja," tolak sang ibu.


"Tidak bisa, Ibu, Stella akan buatkan baju untuk keluarga kita."


"Ibu nggak enak sama kamu."


Stella bangkit dan duduk di samping sang ibu, memeluknya dari samping. "Jangan bicara seperti itu, Ibu, kita 'kan keluarga, Ibu sudah menjadi Ibu Stella juga.."


Sang ibu mengelus tangan Stella yang melingkar di lehernya.


"Baiklah, Stella akan mengukur ukuran tubuh kalian." Stella beranjak menuju kamarnya di lantai dua.


Setelah selesai mengukur badan orangtuanya dan juga Intan, Stella meletakan buku desain pada kursi di sebelahnya. "Ayah dan Ibu menginap di sini, ya, jangan pulang dulu."


"Tidak usah, Nak, Ayah sama Ibu akan kembali ke Bandung nanti sore."


"Kenapa, Yah? Besok saja biar diantar sopir."


"Acaranya tinggal satu minggu lagi, Ste, Ibu dan Ayah harus bersiap di rumah," jawab sang ibu.


"Tidak perlu, Mbak," cegah Intan. "Nanti sore Ayah dan Ibu pulang bareng Intan sama Rega, Rega sekarang pegang kantor di Bandung, Mbak," imbuhnya.


"Oh, begitu, ya, sudah, mari kita makan bersama," ajak Stella kemudian.


"Eh, kok makan segala."


"Ayah sudah menolak menginap di sini, jadi sekarang tidak boleh menolak lagi," tutur Stella tersenyum.


Ayah dan ibunya turut tersenyum.


"Baiklah-baiklah, ayo kita makan."


Stella tersenyum, ia merangkul lengan kedua orangtuanya dan menuntun ke ruang makan.


...***...


"Sayang~" Sandy memanggil Stella saat baru membuka pintu.


Stella yang sedang duduk di kursi kerja Sandy mendongak. "Kenapa aku tidak mendengar suara mobilmu?" ia beranjak serta mencium tangan Sandy.


Sandy mengecup kening Stella. "Itu karena kamu terlalu sibuk, kamu lagi ngerjain apa?" tanyanya melirik kertas di meja kerjanya.


Stella melepaskan jas Sandy. "Tadi Ayah sama Ibu ke sini, minggu depan Intan tunangan sama Rega, jadi aku mau buatin baju untuk keluarga kita," terangnya.


"Minggu depan?"


Stella mengangguk. "Iya, kamu kosongkan jadwal, ya, kita berangkat ke Bandung."


Sandy mengangguk. "Biar aku lihat jadwalku dulu."


"Harus bisa, Sayang, aku tidak menerima alasan," ancam Stella menatap tajam pada suaminya.


Sandy mencuri satu kecupan di bibir istrinya. "Iya, Sayangku."


"Ya, sudah mandi sana, aku siapkan makan malam di bawah."


"Cium dulu."


Stella menghela nafas, kemudian


Muach..!!


Satu kecupan mendarat di pipi Sandy.

__ADS_1


"Itu bukan ciuman, Sayang."


"Sudah, sana," Stella mendorong tubuh Sandy menjauh. Namun Sandy kembali berbalik dan menarik pinggang istrinya, kemudian ******* bibir istrinya rakus, Stella memukul-mukul dada Sandy saat pasokan udaranya menipis.


"Kebiasaan," protes Stella mengerucutkan bibir kesal.


"Gemes banget," Sandy mencubit pipi istrinya karena terlalu gemas.


*


Malam harinya, setelah pergulatan yang terjadi antar keduanya, Stella tak langsung tertidur, ia bangkit dan menggunakan bathrobe, memperhatikan Sandy yang sudah tertidur pulas. Kemudian beranjak menuju ruang kerja Sandy yang berada di dalam kamar. Stella kembali membuka buku desainnya, mulai melabuhkan tinta pada kertas putih yang perlahan mulai terbentuk lukisan baju.


Sandy meraba sisi kasurnya, matanya terbuka saat tak mendapati istrinya berada di sampingnya. "Sayang," panggilnya, namun tak ada sahutan. Menyingkap selimut, meraih bathrobe yang berserakan di lantai kemudian menggunakannya. Ia membuka pintu kamar mandi, namun nihil, Stella tidak ada di sana. "Stella," panggilnya lagi.


Melihat pintu ruang kerjanya terbuka Sandy melangkah menghampiri. Setelah masuk ia melihat Stella yang tengah sibuk menulis sesuatu. "Ternyata kamu di sini," ujarnya.


Suara Sandy sukses membuat Stella terlonjak kaget. "Kamu mengangetkanku, Sandy."


Sandy tak merasa bersalah, ia berjalan menghampiri. "Sedang apa, hem?" Ia menghembuskan nafas ketika melihat apa yang tengah dilakukan sang istri. "Kamu bisa kerjakan ini besok, Sayang, ini sudah malam," tuturnya.


"Aku tidak bisa tidur," Stella berkilah, sejujurnya ia ingin pekerjaannya segera selesai.


Sandy menatap lekat pada Stella. "Kalau kamu tidak mau istirahat, aku tidak mengijinkanmu bekerja," ancamnya.


"Sandy~" rengek Stella.


"Stella~" balas Sandy.


Stella mengerucut sebal.


"Ayo tidur, ini sudah malam," Sandy mengulurkan tangannya.


Stella memilih mengalah, ia menyambut uluran tangan Sandy.


"Ah, aku punya ide," ucap Sandy tiba-tiba.


Stella menyernyit. "Ide apa?"


"Sepertinya aku juga tidak bisa tidur sekarang."


"Maksud kamu?"


Sandy menaik turunkan alisnya, sementara Stella berusaha mencerna maksud dari ucapan suaminya itu. Hingga tiba-tiba Sandy menggendongnya ala bridal.


"Sandy," pekik Stella terkejut akan ulah sang suami.


"Sepertinya seru kalau kita bercinta di sini," bisik Sandy di telinga Stella.


"Apa?"


Sandy segera membungkam mulut istrinya yang terbuka, ********** pelan dan lembut, kakinya terarah menuju sofa di ruang kerjanya, merebahkan tubuh Stella dengan pelan tanpa melepas pagutannya. Ciumannya turun ke leher, menghirup aroma favoritnya, menggigit pelan area itu, membuat Stella mendesah.


"Ahh.."


Sandy kian menggila, tangannya mulai menarik tali bathrobe yang dikenakan Stella, saat tali terbuka, nampaklah bagian depan tubuh Stella yang mulus tanpa tertutup sehelai benang. Tangan Sandy mulai membelai perut Stella dan perlahan menuju gundukan kenyal yang menggoda, saat tangannya meremas, ******* kembali keluar dari bibir Stella.


"Ahh.. Sandy.."


Sandy kembali ******* bibir Stella, menggigit bibir bawahnya agar terbuka dan segera menerobos masuk, mengabsen setiap inci dengan lidahnya. Tangan yang lainnya tak tinggal diam, mulai meraba bagian inti istrinya yang telah basah.


Stella menggeliat hebat saat dirasakan jari Sandy memasuki inti tubuhnya. Bahkan kini tangannya sudah melingkar di leher Sandy, serta yang lainnya meraba pahatan sempurna milik suaminya.


Merasakan jemari Stella meraba perutnya membuat Sandy berdesis, semakin membuat libidonya meningkat.


Keduanya memulai penyatuan, lagi dan lagi, hingga keduanya terlelap saling memeluk di sofa yang sempit.


.


.


.


tbc


...Kwek kwek kwek 🙈🙉🙊...


...Hasil rombakan kali ini... semoga suka yaa ❤️...


...Berhubung cerita ini mulai aku rombak, jadi updatenya kemungkinan nggak bisa tiap hari 🙏...


...Harap maklum yaa 😉...


...Please dukung akuuhhh 😚...


...see u next chapter...


...8 February 2020...


...@saskavirby...

__ADS_1


__ADS_2