
Setelah acara lamaran itu Sandy menjadi sedikit posesif terhadap Stella. Stella dilarang menggunakan mobil tiap berangkat ke butik. Karena Sandy yang akan menjemputnya serta mengantarkan dirinya pulang.
Stella sudah pernah memprotes, namun sepertinya selain posesif Sandy juga tidak suka dibantah, akhirnya dia menurut saja.
Pernah suatu hari Sandy telat menjemput Stella, menyebabkan Stella batal bertemu dengan klien yang sudah menunggunya di butik. Seharian Stella mendiamkan Sandy, tidak ingin berbicara dengannya. Dia kesal dengan sikap pemaksa Sandy.
Selama dikantor Sandy terus saja uring-uringan karena teleponnya tidak diangkat oleh Stella. "Stella dimana kamu?" geramnya dengan ponsel yang ditempelkan di telinga. Dia berdecak kesal ketika sambungan tidak diangkat.
Sandy menyender pada kursi kebesarannya, mengetuk-ngetuk ponsel di dagunya. Sebuah ide muncul di kepalanya, "Pasti Stella mau maafin aku," monolognya tersenyum senang.
...***...
"Mbak, teleponnya tidak diangkat? Siapa tahu penting, Mbak?" ujar Sari yang sebenarnya merasa jengah dengan suara dering ponsel Stella yang terus berbunyi.
"Biarin saja, Sar, nggak penting kok," jawab Stella cuek.
"Ada masalah sama Pak Sandy, ya, Mbak?" tanya Sari hati-hati.
Stella menghembuskan nafas lelah, mengambil duduk di kursi. "Aku kesβ"
"Permisi?"
Suara orang membuka pintu mengalihkan tatapan Stella dan Sari. Stella berdiri dari kursinya dan menghampiri diikuti Sari di belakangnya.
"Mbak Stella Ayu Ghani?" ucap seorang yang ternyata pengantar bunga, sambil membaca tulisan di tangannya.
"Iya, saya Stella."
"Ada kiriman buket buat Mbak Stella."
Stella menerima buket bunga yang sangat besar itu, dia menoleh ke arah Sari, sedangkan Sari menggeleng pelan.
"Tanda terimanya, Mbak," ucap sang pengantar bunga.
Setelah kurir pergi, Stella meletakkan buket bunga itu di atas meja. Mundur ke belakang untuk mengamati bunga yang sangat cantik. 'Dari siapa?' pikirnya.
"Dari siapa, ya, Mbak, cantik sekali," komentar Sari. "Eh, ada notenya, Mbak," imbuhnya mengambil kertas yang terselip di antara bunga, menyerahkan pada Stella.
IM SORRY, SAYANG.
LOVE YOU β€οΈ
...Sandy...
Kedua sudut bibirnya tertarik membaca kertas itu, dia tidak menyangka Sandy akan memberikan buket bunga seindah ini padanya.
"So sweet," ucap Sari yang ikut mengintip tulisan di kertas itu.
"Pak Sandy romantis banget, Mbak, aku juga mau dapat buket bunga kaya gini," Sari senyum-senyum membayangkan seseorang memberinya bunga. "Kamu beruntung, Mbak," Sari menyenggol lengan Stella untuk menggodanya.
Stella tersenyum mendengar ucapan Sari, apa memang dia seberuntung itu bisa bertemu dan dicintai seorang Sandy.
...***...
Malam harinya, Sandy mengajak Stella dinner tanpa mengajak Aiden, bermaksud menebus kesalahannya kemarin.
Sebenarnya Stella sudah memaafkan Sandy sejak acara pemberian buket bunga itu, tanpa harus dinner, namun Sandy keukeh mengajak Stella dinner tanpa Aiden. Dia tidak membawa mobil sendiri, melainkan Alvin yang menyetir.
Keduanya manikmati makan malam romantis di restoran bintang lima dengan ruang VVIP yang sudah dipesan oleh Sandy.
Setelah selesai makan malam keduanya memilih pulang, Namun saat sudah keluar restoran tak sengaja keduanya bertemu rekan bisnis Sandy.
"Tuan Sandy?"
"Hai, Mr. Luqi," balas Sandy menjabat tangan lawan bicaranya.
"Apa kabar, Tuan?"
"Baik, Mister, anda sendiri?"
"Seperti yang anda lihat," kekehnya, Mr. Luqi mengalihkan tatapannya pada Stella.
__ADS_1
"Ini calon istri saya," ucap Sandy memperkenalkan Stella kepada Mr. Luqi.
"Stella," ucap Stella menjabat tangan Mr. Luqi.
Keduanya mengobrol tentang pekerjaan, namun Sandy melihat gelagat rekannya yang terus saja melihat ke arah Stella. Darahnya terasa mendidih, dia risih melihat orang lain menatap Stellanya, dia tahu arti tatapan Mr. Luqi terhadap calon istrinya.
Cup.
Tiba-tiba Sandy mencium pipi Stella. Membuat Stella melotot terkejut seakan memprotes tindakan gila yang Sandy lakukan di depan rekan bisnisnya.
Begitu pula Mr. Luqi terkejut melihat adegan di depannya.
"Maaf, Mister, sepertinya calon istri saya sudah lelah, kami permisi," ujar Sandy mengakhiri acara perbincangan yang lebih seperti tatapan lapar dari rekan bisnisnya terhadap calon istrinya.
"Oh, i-ya, Tuan Sandy, hati-hati."
Stella hendak pamit kepada Mr. Luqi, tidak sopan rasanya jika dirinya pergi begitu saja, biar bagaimanapun dia harus terlihat baik didepan kolega bisnis calon suaminya. Namun baru akan berucap, Sandy sudah merengkuh pinggangnya, dan membawanya pergi.
"Sandy, kamu tidak sopan," protesnya saat sudah duduk di dalam mobil.
"Aku tidak suka melihat dia terus memperhatikanmu, Ste."
"Tidak seharusnya kamu menciumku di depan orang lain, Sandy," geram Stella tidak terima, dia benar-benar malu.
"Kenapa? Kamu calon istriku, Ste," bantah Sandy.
"Baru calon, Sandy."
"Memangnya kenapa? Kamu malu punya calon sepertiku?" tanggapnya menyelidik.
"Sandy, stop, bukan begitu maksudku."
"Lalu?"
Stella menarik nafas dalam. "Sandy, please," ucapnya memohon.
Alvin yang menyetir di depan sesekali melirik ke jok belakang lewat spionnya, dirinya bingung harus tertawa atau prihatin, karena tingkah keduanya benar-benar lucu, seperti ABG yang sedang merajuk.
"Ya sudah, kurung saja aku di kamar, jangan kasih keluar, biar tidak dilihat orang lain," tanggap Stella ketus, terkadang dia merasa kesal dengan keposesifan Sandy.
Sandy menyeringai. "Ide yang bagus."
Stella melotot, sadar dengan ucapannya yang tidak benar, dia melihat gelagat Sandy yang terus mendekat ke arahnya, perlahan dia bergeser sampai menempel pada pintu.
Sandy menutup tirai pemisah antara kursi kemudi dan penumpang. Alvin hanya geleng-geleng kepala sesekali tersenyum.
Stella sudah gugup dipepet seperti itu, bahkan dirinya mengalihkan tatapannya ke luar jendela.
Wajah Sandy tepat berada di pipi kiri Stella, sedangkan Stella sudah menutup rapat kedua matanya, tangannya mulai dingin, dan jantungnya juga berdegup kencang.
Sandy menahan tawa mendengar suara irama degupan wanita di sampingnya. "Jantungmu berdebar, eh?" godanya, dia tertawa terbahak-bahak saat berhasil mengerjai wanitanya.
Seketika Stella membuka matanya, melotot tajam ke arah Sandy yang tergelak, dia mendengus kesal.
...***...
Sejak mobil keluar dari area sekolah, Stella terus mendiamkan Sandy, dia masih sedikit kesal dan malu karena kejadian tadi malam. Dia hanya menjawab pertanyaan dari Aiden yang sedang duduk di pangkuannya.
"Bunda, tadi Meo sama Mike berantem di sekolah," ucap Aiden menceritakan tentang teman-temannya.
"Berantem? Kenapa, Sayang?" tanya Stella.
"Meo cium Nata, sampai Nata nangis, Bun, terus, Mike memukul kepala Meo pakai buku."
Stella mengusap kepala Aiden. "Aiden tidak boleh berantem, ya?"
Aiden mengangguk, "Bunda, kenapa Nata nangis waktu Meo menciumnya?" tanya Aiden polos.
Stella nampak berpikir. "Emm, karena Nata masih kecil, Sayang, tidak boleh dicium orang lain yang bukan keluarganya."
"Aiden pernah cium cewek?" tebak Stella penasaran melihat Aiden yang diam saja.
Aiden melihat ke arah Stella takut-takut, kemudian menggeleng cepat.
__ADS_1
Stella tersenyum lembut, menangkup wajah Aiden. "Bunda pernah bilang 'kan? Kalau orang berbohong hukumannya apa?"
"Doanya nggak dikabulkan sama Allah, Bunda."
"Anak pintar," Stella mencium pipi Aiden gemas.
Ehem!
Sandy merasa iri melihat Aiden yang terus dihujani ciuman oleh Stella, bahkan Stella sama sekali tak mengajaknya berbicara selama perjalanan dari sekolah Aiden tadi.
Stella hanya memutar bola matanya malas, dia masih kesal dengan Sandy.
"Bunda, kenapa orang dewasa boleh ciuman?"
Stella melotot, bagaimana bisa Aiden masih terus membicarakan hal yang seharusnya tidak dia ketahui di usianya yang masih terlalu kecil.
"Aiden kenapa tanya begitu?"
Aiden mengetuk dagunya, lalu menatap Stella polos. "Kata Bunda kalau masih kecil nggak boleh dicium, tapi kalau sudah dewasa boleh?"
"Kalau sudah menikah boleh, Aiden," bukan Stella yang menjawab, tapi Sandy.
"Tapi, Daddy 'kan belum menikah dengan Bunda, kenapa Daddy mencium Bunda?"
Jleb.
Sandy terdiam mendengar ucapan anaknya, sedangkan Stella tercekat, kapan Aiden melihat Sandy menciumnya?
"Kapan Daddy mencium Bunda, Aiden?" protes Sandy.
"Kemarin, waktu Bunda tertidur di kamar Aiden," jawab Aiden kelewat polos.
Stella semakin melotot, menatap tajam ke arah Sandy. Astaga, Stella teringat saat itu sedang menemani Aiden tidur dan dia yang kelelahan justru ikut tertidur di ranjang Aiden.
Sandy mengurut pelipisnya, ngeri melihat tatapan tajam dari Stella. "Bunda 'kan sebentar lagi jadi istrinya Daddy, jadi Bunda Aiden juga," Sandy berusaha memberi alasan yang tepat untuk anaknya.
Mata Aiden berbinar. "Oh, iya, berarti Bunda tinggal di rumah sama Aiden, Bunda bisa nemenin Aiden tiap hari, horeee," sorak Aiden riang.
Sandy menghela nafasnya, untung anaknya mudah dikelabui, kalau tidak, pembicaraan absurd itu akan terus berlanjut.
"Bunda, Aiden mau punya adik yang banyak."
Ciiiittt!!
Sandy mengerem mobilnya tiba-tiba karena lampu berubah menjadi merah.
Stella membeku. Apa mungkin dirinya akan mempunyai anak lagi, dengan ... Sandy? Dia menoleh ke arah Sandy pelan.
Sandy menatap bahagia ke arah Stella, mengelus kepala anaknya. "Tenang saja, Aiden akan mendapatkan adik-adik yang lucu nanti."
"Horee."
Sandy mengedipkan sebelah matanya ke arah Stella.
Ucapan Sandy mampu membuat tubuh Stella terasa terbakar, kupu-kupu di perutnya serasa beterbangan, sepertinya wajahnya mulai memanas. Dia mengalihkan tatapannya ke luar jendela, jangan sampai Sandy melihat pipinya yang memerah.
.
.
.
...***...
...Selamat berhari Senin...
...Jangan lupa vote and komentarnya π...
...Beri semangat padakuhhhh πππ...
...20 Januari 2020...
...Saskavirby...
__ADS_1