Bunda Untuk Daddy (Tamat)

Bunda Untuk Daddy (Tamat)
eps 9


__ADS_3

"Kamu nggak ke kantor, San?" tanya Laras menoleh ke arah Sandy yang duduk di sofa seraya menatap Ipadnya.


Sandy mendongak. "Tidak, Ma. Sandy kerjakan dari sini."


Laras mengangguk, mengalihkan tatapannya pada Stella yang sibuk menyuapi cucunya. "Stella, kamu tidak bekerja?"


Stella menoleh. "Tidak apa-apa, Tan. Butik sudah aku titipkan ke asistenku," jawabnya tersenyum.


"Maaf ya, gara-gara Aiden kamu jadi repot," sesal Laras merasa tak enak.


"Tidak, Tante. Aku nggak repot kok, lagi pula aku senang menemani pria tampan ini," gurau Stella mencubit pipi Aiden gemas.


"Aiden juga senang Bunda di sini," balas Aiden tersenyum memperlihatkan gigi-giginya.


Laras berdehem, "Stella, Aiden pernah bilang kalau anak kamu ..."


"Iya, Tan," sela Stella mengerti maksud ucapan Laras.


"Lalu, dimana suami kamu?" tanya Laras hati-hati.


Sandy yang mendengar kata suami mendongak dari Ipad-nya, menatap Stella dengan sebelah alis yang terangkat, dia tidak tahu kalau Stella sudah menikah, dia pikir Stella masih gadis.


"Suami dan anak saya meninggal dalam kecelakaan lima tahun yang lalu," jawab Stella mengelus kepala Aiden, bermaksud menidurkannya, karena kedua mata Aiden yang terkantuk-kantuk.


"Oh, maaf, Tante tidak tahu," sahut Laras merasa tidak enak, dia mendekat dan mengelus lengan Stella.


Stella menoleh. "Tidak apa-apa, Tante. Aku sudah mengikhlaskan mereka, mungkin sudah jalannya seperti itu," jawabnya tersenyum.


Sedangkan Sandy jauh lebih terkejut lagi.


'Stella janda?'


Tanpa di sadari ujung bibirnya terangkat mengetahui fakta itu.


"Mungkin kalau Rafa masih ada, umurnya kurang lebih sama seperti Aiden," ujar Stella menerawang, menatap wajah Aiden yang sudah terlelap.


"Waktu lihat Aiden, aku jadi teringat Rafa," gumam Stella tersenyum.


"Rafa?"


Stella menoleh. "Iya, Tante. Itu nama anakku."


Laras mengangguk dan membulatkan mulutnya.


Sorenya, Stella pamit pulang, karena ada janji bertemu dengan klien, setelah membujuk Aiden dan berjanji esok akan datang lagi, akhirnya Aiden mengizinkan Stella untuk pulang.


Beberapa teman serta guru sekolahnya sempat berkunjung, minus Erin dan putrinya. Karena kalau Erin tahu Stella berada di rumah sakit, pasti dia akan mengintrogasinya panjang lebar.


Malamnya, Aiden di temani Sandy dan Fara.


"Dad, Aiden mau makan puding buatan Bunda," ujar Aiden mengalihkan tatapannya dari layar televisi.


Sandy melangkah menuju kulkas kecil dan mengambil puding, menyerahkan pada Fara.


"Kamu suapi Aiden," titahnya.


*


"Aunty.. Aunty," Aiden terbangun memanggil-manggil Fara yang tertidur di sampingnya.


Malam ini, Fara ikut tidur di atas brangkar dengan Aiden, tentu saja itu perintah Sandy. Fara sempat memprotes, karena tubuhnya bisa pegal-pegal kalau tidur semalaman dengan posisi miring, namun Sandy seakan tuli akan ocehan Fara, dia hanya ingin Fara lebih peduli dan dekat dengan Aiden.


"Hem," jawab Fara acuh, bahkan kedua matanya masih tertutup.


"Aiden pengen pipis," ulang Aiden, karena Fara tak kunjung beranjak.


Dengan perasaan dongkol karena tidurnya terganggu, Fara beranjak dan menuntun Aiden ke toilet dengan dirinya memegang infus.


Aiden dibiarkan masuk ke dalam toilet sendirian, sedangkan Fara menunggu di luar sambil menyender pada dinding, dirinya sangat mengantuk.


Dalam posisi tidurnya, Sandy membuka matanya untuk mengintip, apa yang dilakukan Fara sangat berbeda dengan Stella. Bahkan Stella mau menggendong dan ikut masuk ke dalam toilet, sedangkan ini?


Sandy menggelengkan kepalanya, dan segera bangun, bermaksud menghampiri.


"Ehem!"


Fara terlonjak, hampir saja tubuhnya oleng. "Eh, kamu bangun, sayang. Aiden di dalam, sedang pipis. Untung aku tadi langsung bangun waktu Aiden bilang pengen pipis, jadi aku antar dia ke toilet," ujarnya bangga.


Sandy menaikkan sebelah alisnya, bahkan kalau Aiden tidak menguncang tubuhnya tadi, dia tidak akan bangun, bathinnya.


Paginya, beberapa menit setelah Sandy keluar ruangan guna membeli sarapan untuk dirinya dan juga Fara, seorang suster datang mengecek kondisi Aiden.

__ADS_1


"Alhamdulillah, sudah lebih baik dari kemarin," ucap suster tersenyum senang.


"Oh ya, Nyonya. Sebaiknya Aiden dibersihkan tubuhnya biar segar," saran suster menatap Fara. "Dari kemarin belum mandi 'kan?" goda suster beralih menatap Aiden.


Aiden menggeleng. "Belum suster," jawabnya menyengir.


"Jangan bosan minum obatnya ya?" ucap sang suster sebelum berlalu.


"Saya permisi, Nyonya," pamit suster kemudian.


"Dibersihkan?" gumam Fara mengetuk dagunya


Fara melangkah menuju kamar mandi dan menyiapkan air hangat. Dia kembali dan meminta Aiden melepas baju guna memandikannya di dalam kamar mandi.


"Aiden tidak mau mandi, Aunty," tolak Aiden mencengkeram bajunya.


"Aiden nggak dengar kata suster tadi, Aiden harus mandi biar segar," ujar Fara mengulang ucapan sang suster.


Aiden hendak protes, namun tangannya ditarik paksa menuju kamar mandi, Aiden berjingkat kaget ketika Fara mengguyur tubuhnya dari atas kepala.


"Dingin, Aunty," ujar Aiden dengan bibir bergetar.


"Ini air hangat, Aiden. Bukan dingin, sudah diam, jangan manja!" sentaknya.


"Masih untung gue mau mandiin," gerutunya pelan.


***


Ceklek!


"Assalamualaikum,"


Tak ada sahutan, Stella menyernyit melihat ruangan kosong. 'Dimana Aiden?' gumamnya dalam hati.


Terdengar bunyi gemericik di dalam kamar mandi, seperti orang mandi. Di susul suara Aiden yang juga berasal dari kamar mandi.


Stella melangkah membuka pintu kamar mandi.


"Astagaaa..." pekiknya terkejut.


"Apa yang kamu lakukan, Fara!" hentaknya meninggikan suaranya.


Fara terkejut melihat Stella memasuki kamar mandi. "Apa maksud lo?" bentaknya tak terima.


Fara yang melihat ulah Stella menyernyit bingung dan kesal, dia mengikuti Stella keluar sambil bersendekap dada.


"Dingin, Bunda," cicit Aiden dengan tubuh bergetar ketika Stella mendudukkannya di brangkar.


Stella panik, dia mengeringkan tubuh Aiden dengan handuk, sesekali memeluknya.


Fara berdecih melihat pemandangan di depannya.


Sandy datang dengan membawa satu kantong plastik berisi makanan.


"Ada apa?" ucapnya khawatir, sedikit berlari ke arah Aiden. Menatap tubuh anaknya yang bergetar di pelukan Stella.


"Kenapa dengan Aiden?" tuntutnya menatap dua wanita di hadapannya bergantian


"Tanya saja sama calon istrimu itu!" sungut Stella kesal, menunjuk Fara dengan dagunya.


Sandy beralih menatap Fara, menuntut penjelasan.


"A-apa? Aku hanya membersihkan tubuhnya, tadi suster bilang harus dibersihkan," bela Fara gugup.


"Tapi tidak harus mengguyurnya dengan air, Fara!" hentak Stella bersungut-sungut, dia sangat kesal dengan apa yang telah Fara lakukan pada Aiden.


Kedua mata Fara melebar. "Heh, kenapa lo marah-marah sama gue?" balasnya tak terima.


"Itu karena lo salah," hardik Stella, bahkan mengubah panggilannya.


"Gue cuma melakukan apa yang suster katakan," ucap Fara membela diri.


"Dan lo, salah dalam mengartikan maksud dari suster," balas Stella sambil terus menggosok rambut basah Aiden dengan handuk.


Rahang Fara mengeras. "Apa lo bilang? Asal lo tahu ya? Gue," tunjuknya pada diri sendiri. "CALON.IBU untuk Aiden, gue lebih paham soal Aiden," sambungnya menekan kalimatnya.


Stella menoleh. "Gue tahu, lo itu CALON.IBU untuk Aiden, tapi apa lo lupa Aiden sedang sakit, belum sepenuhnya sehat, kenapa memandikannya? Ha?" bentak Stella geram.


"Lo bisa bersihin tubuhnya dengan handuk basah, itu sudah lebih dari cukup, lo nggak lihat Aiden kedinginan?" sungutnya lagi, tak habis pikir dengan Fara.


Sandy mematung memperhatikan dua wanita di depannya yang sedang beradu argument.

__ADS_1


"Sudah, berhenti, jangan berantem," putus Sandy menengahi.


"Honey —"


"Stop Fara!" Sandy memotong ucapan Fara.


"Dimana minyak kayu putih?" ucap Stella mencari-cari benda itu di atas nakas.


Sandy ikut mencari botol berwarna hijau yang ternyata ada di dalam laci, Stella menerimanya dan mengoleskan pada seluruh tubuh Aiden.


"Dimana baju gantinya?" tanya Stella lagi.


"Apa tidak ada yang membawa baju ganti untuk Aiden?" ulang Stella yang tidak mendapatkan jawaban.


Stella menatap Sandy dan Fara bergantian, kemudian mengembuskan nafas lelah. "Apa yang kalian pikirkan? Membawa baju ganti untuk Aiden saja tidak," bentaknya kesal.


"Bukankah kemarin kamu yang siapin keperluan Aiden?" tuntut Sandy menatap Fara.


Fara menunduk. "Aku lupa," cicitnya.


Stella berdecak, kemudian berjalan cepat ke luar ruangan.


Sandy menghampiri Aiden, membungkus tubuh putranya dengan selimut. Dia menatap tajam ke arah Fara.


Tak berapa lama Stella kembali dengan membawa baju khusus pasien untuk Aiden.


***


Ponsel Stella berdering, tertera nama Sari di sana.


"Halo,"


"...."


"Berikan padanya."


"..."


"Kapan acaranya, Mbak?"


"..."


"Insyaallah, bisa, Mbak. Sebentar,"


"Sandy, bisa pinjam kertas dan bolpoin?" ucap Stella menghampiri Sandy yang berkutat dengan Ipad-nya, menjauhkan sedikit ponselnya.


Sandy memberikan kertas kosong dan juga bolpoin pada Stella.


Setelah mengucapkan terimakasih, Stella duduk berseberangan dengan Sandy, meletakkan kertas di meja, dan mulai melukis dengan sesekali berbicara dengan seseorang di seberang telepon.


"Saya akan foto dan kirim sketsanya."


"..."


"Halo, Mbak Ste?"


"Sari, tolong ambilkan semua peralatan desainku yang ada di meja kerja, minta tolong antarkan ke rumah sakit ya? Nanti aku kirim alamatnya."


"Siap, Mbak."


"Terimakasih, Sar."


Tut.


***


Stella mengerjakan pekerjaannya disela menunggu Aiden, beberapa jam yang lalu Sari datang membawakan berkas-berkas pekerjaannya.


Hingga malam menjelang, Stella masih melukis menyelesaikan pekerjaannya, sesekali menengok keadaan Aiden yang terkadang terbangun karena lapar dan ingin ke toilet.


Dia harus segera menyelesaikan desainnya, dia hanya punya waktu dua bulan.


Stella tertidur dalam posisi duduk di sofa dengan kepalanya bersandar di kepala sofa. Jangan tanya Fara dimana, dia tengah terlelap di single bed seperti biasanya.


Sandy menoleh ke arah Stella yang tengah terlelap. Dia beranjak mengambil selimut dan menyelimuti tubuh Stella. Dia duduk di samping Stella, melirik kertas yang sudah penuh dengan coretan tangan Stella, tangannya terulur untuk mengambilnya, melihat-lihat hasilnya, ada beberapa model gaun dalam tumpukan kertas yang kurang lebih ada sepuluh lembar itu.


Setelah puas melihat, Sandy meletakkan kembali di atas meja, dia menegakkan duduknya bersender sebentar pada kepala sofa seraya terpejam.


Sruutt..


Tiba-tiba kepala Stella menyandar di pundaknya, Sandy membuka matanya, melongok sedikit menatap wajah Stella yang masih terlelap, dia jadi tidak tega untuk membangunkan Stella.

__ADS_1


Sandy membiarkan posisi Stella yang menyandar di pundaknya, memilih untuk ikut mengistirahatkan tubuhnya dengan menyandar pada kepala sofa. Jujur dia juga sama lelahnya, seharian berkutat dengan Ipad guna memantau perusahaan yang saat ini sedang ditangani Alvin selama dirinya di rumah sakit.


~••~


__ADS_2