
Intan merasa hari ini adalah hari terindah dan juga terburuk untuknya. Bagaimana tidak, pagi-pagi bos tampannya menyapanya terlebih dahulu, bahkan menanyakan kabarnya, itu suatu keajaiban dunia baginya.
"Pagi, Intan."
Intan yang sedang menunggu lift terkejut mendengar sapaan dari sampingnya.
"Pa-pagi, Pak," jawabnya tergagap, antara sadar dan tidak mendengar Rega menyapanya lebih dulu.
"Bagaimana kabarmu?"
"Ha? Ba-baik, Pak," jawab Intan terbata, merasa ada yang tidak beres dengan bosnya itu.
"Oh, iya, apa kue kemarin itu buatanmu?" tanya Rega menatap Intan dengan wajah kebingungan yang nampam.
Intan gelagapan. "Kue?" ulangnya. "Oh, i-iya, Pak, itu buatan saya."
Rega mengangguk. "Bisa buatkan saya lagi?"
Intan melotot, mulutnya terbuka, apa dia mimpi?
Rega melambaikan tangan di depan wajah Intan.
"Eh, iya, Pak, siap," jawab Intan menaikkan tangannya pada posisi hormat.
"Anak pintar," tanggap Rega mengacak poni Intan dan berlalu menuju lift yang sudah terbuka.
Intan mematung di tempatnya, bahkan saat pintu lift tertutup dirinya masih pada posisi hormat. Sekilas dia melihat Rega tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya sebelum pintu benar-benar tertutup. Selamatkan Intan pada kondisi ini.
Saat tersadar, Intan melompat-lompat kegirangan, dia merasa senang sekali, sesekali mencubit tangannya apakah dia bermimpi. Namun tangannya terasa sakit, berarti ini bukan mimpi, dia terus melompat. Namun tak berapa lama dia berhenti dan berfikir.
"Kue kemarin 'kan buatan Mbak Stella, berarti aku harus minta tolong Mbak Stella buatin lagi," gumamnya.
Intan meniup poninya. "Apapun demi Pak Rega, akan Intan lakukan." Dia menangkup kedua pipinya, memasuki lift, berkaca pada dinding lift seraya bernyanyi kecil, dirinya sungguh bahagia hari ini.
***
"Mbak Stella, Mbak harus buatin kue buat aku." Intan merengek pada Stella.
"Kenapa, Tan?"
Intan menarik lengan Stella agar duduk di sofa. "Kemarin, kue yang Mbak buatin, aku kasih ke bos tampanku, Mbak, nah, sekarang, dia minta dibuatin lagi."
Stella menaikkan sebelah alisnya. "Ya sudah kamu buatkan lagi."
"Ih, Mbak Stella, aku terlanjur bilang kalau kue itu buatanku, Mbak. Aku 'kan enggak bisa bikin kue," keluhnya menunduk lesu.
"Kenapa kamu bohong?" selidik Stella.
Intan mendongak. "Enggak sengaja, Mbak," jawabnya menekuk wajahnya.
Stella menatap Intan yang nampak lesu. "Iya deh, Mbak buatin," tukasnya membuat Intan berbinar.
"Mbak Stella memang baik. Makasih, Mbak," balas Intan memeluk tubuh Stella.
"Eits, tunggu dulu." Stella mendorong pelan tubuh Intan. "Kamu harus bantuin juga," perintahnya.
"Siap, bos!" jawab Intan menyengir.
***
__ADS_1
Beberapa hari ini, Stella terus memikirkan jawaban yang akan dia berikan untuk Sandy, dan sekaranglah waktu yang tepat, setelah dia yakin dengan apa yang ada di dalam hatinya, setelah dia benar-benar yakin dengan perasaannya sendiri.
Mengambil kertas berwarna biru di lacinya, kemudian mulai menyapukan tinta di atas kertas kosong yang kini terdapat coretan tangannya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman saat membaca ulang kalimatnya, dirasa tidak ada yang salah dengan kalimatnya itu, dia memasukkan ke dalam amplop berwarna senada dengan kertasnya.
Sore harinya, Stella meminta Pak Udin untuk datang ke butik dan menyerahkan amplop biru itu padanya, dia berpesan agar menyerahkan amplop itu pada Sandy yang sedang berada di kantor.
Sandy menerima amplop pemberian dari Alvin, yang menurut penuturan Alvin, bahwa amplop itu dia dapat dari Pak Udin yang mendapatkan perintah dari Stella. Dia membolak balik amplop di tangannya, belum berniat untuk membukanya, Sandy tahu, di dalam amplop itu ada jawaban atas pernyataannya waktu itu. Karena tadi Pak Udin sempat berpesan agar dia segera membukanya.
Sandy menyenderkan kepala pada kursi kebesarannya, menghela nafas, dia tidak ingin membuka amplop itu. Sekelebat bayangan Stella yang berpelukan dengan Rega membuatnya yakin isi dari amplop ini adalah sebuah penolakan.
Namun Sandy harus memastikan apa isi dari amplop itu. Perlahan dia membukanya, mengintip sedikit, kalimat pertama yang muncul membuatnya mendesah.
Maaf
Menarik sedikit kertasnya, untuk melihat kalimat di bawahnya.
Seperti yang kamu bilang, bahwa aku yang pantas menjadi ibu sambung untuk Aiden.
Tapi, sepertinya aku tidak bisa menjadi ibu sambung untuk Aiden.
Cukup, dirinya tidak sanggup membacanya sampai akhir, Sandy kembali menutupnya dan meletakkan di dalam laci. Dia meraup wajahnya, menggebrak meja untuk meluapkan emosinya.
***
Di sisi lain, Stella sudah siap dengan pakaiannya, melihat sekali lagi penampilannya pada cermin, dia berdebar.
"Ciee yang mau kencan," goda Intan menyembulkan kepalanya di celah pintu.
"Apa sih, Intan, Mbak bukan mau kencan," bantah Stella malu-malu.
Intan bersendekap. "Udah cantik kok, buruan berangkat, Mbak."
Intan mendekat, meneliti wajah Stella, kemudian menggeleng. "Perfect," komentar Intan menekuk jarinya membentuk huruf O.
Stella menghela nafas. "Doain Mbak ya?" ucapnya terkekeh, menghilangkan kegugupannya.
"Pasti, Mbak."
Keduanya masuk ke dalam mobil, Intan yang akan mengantarkan Stella menuju danau, tempatnya janjian dengan Sandy.
***
Stella duduk di kursi dekat danau untuk menunggu Sandy, dia meremas tangannya karena gugup.
Tiga puluh menit.
Satu jam.
Dua jam.
Tiga jam.
Stella melirik jam di tangannya, sudah pukul sebelas malam, tapi Sandy tak kunjung datang. Dia berjalan di atas jembatan buatan, berjalan mondar mandir, sesekali menggigit bibirnya.
'Mungkin dia masih sibuk,' gumamnya meyakinkan diri sendiri.
Namun sampai tengah malam Sandy tak kunjung datang, tubuh Stella luruh di pembatas jembatan, menutup wajah dengan kedua tangannya, dia menangis untuk suatu hal yang tidak jelas, hingga tiba-tiba.
"Hai, cantik."
__ADS_1
Stella mendongak, matanya melotot terkejut melihat dua pria berbadan besar menghampirinya.
"Kenapa sendirian tengah malam begini? Sama Abang, yuk," ucap pria bertindik itu tertawa keras.
Stella bangkit, semakin menempel pada jembatan. "Jangan mendekat!" cegahnya ketakutan.
Kedua pria itu tertawa keras. "Jangan takut, Abang enggak gigit kok, eh, ralat, Abang gigitnya enggak sakit." Lagi, kedua pria itu tertawa terbahak-bahak.
Stella yakin kedua pria ini mabuk, dia menggigit bibirnya, menoleh kanan kiri, tidak ada orang di sana, dia benar-benar takut.
"Tidaaakkkkkk!!" teriak Stella ketika kedua pria itu mendekat.
***
Rega baru saja pulang dari club pukul 12.30 dini hari, perasaannya kacau, dia frustasi, dan hanya club yang mampu menghiburnya. Dengan sedikit pening di kepalanya, dia mengendarai mobilnya pelan, tidak ingin mencelakai orang lain atau dirinya sendiri.
Matanya memicing melihat seorang wanita berlari dan di kejar dua pria, matanya semakin menajam memastikan apa yang dia lihat, seketika darahnya mendidih melihat siapa wanita itu. Dia menancap gas kuat, mengikuti arah sang wanita, menepikan mobilnya dan segera turun.
"Lepasin dia, breng***!" teriak Rega melihat dua pria itu mencekal lengan Stella.
Wanita itu adalah Stella, dia berhasil melarikan diri dari dua pria itu, namun kedua pria itu justru mengejarnya.
"Apa urusan lo? Ha?" tantang sang pria.
"Lepasin, atau gue habisin kalian berdua!" ancam Rega.
Tanpa ba bi bu, Rega memberikan bogeman mentah pada pria itu. Karena kondisi kedua pria yang sedang mabuk, memudahkan Rega untuk menumbangkan keduanya. Setelah kedua pria itu kabur, Rega berlari menghampiri Stella yang berjongkok menekuk lututnya.
"Hei, tenanglah," ucapnya pelan, menyentuh pundak Stella.
Stella mendongak, berdiri dan memeluk Rega, menangis meraung di dalam pelukan Rega. Rega hanya bisa menenangkan dengan mengelus punggung Stella.
"Hstt, tenanglah, mereka sudah pergi."
Stella menggeleng dalam pelukannya. "Dia tidak datang, Ga, dia tidak datang, hiks."
Rega bingung siapa yang dimaksud Stella.
"Sandy tidak datang, Ga, aku kecewa sama dia. Kenapa aku mencintainya, Ga," racau Stella membuat Rega tertegun.
Kini Rega tahu, bahwa bukan hanya pria mabuk itu yang membuat Stella menangis, tapi, Sandy. Tangannya mengepal, dia ingin memberikan pelajaran untuk Sandy, teganya dia membuat Stella menangis.
"Sudah, Ste, tenang, ada aku di sini," ucapnya menenangkan Stella yang masih terisak.
Cukup lama Stella memeluk Rega, menumpahkan tangis serta kekecewaannya.
Rega terus berusaha menenangkan Stella, membiarkan kemejanya yang terasa basah terkena air mata Stella.
***
Sandy memutuskan pulang ke rumah, setelah tadi sempat ketiduran di kantor. Setelah membaca surat dari Stella, kepalanya tiba-tiba pusing, akhirnya dia memilih tiduran sebentar di kamar tidur yang berada di dalam ruangannya. Tapi, bukannya sebentar, justru saat terbangun, ternyata sudah tengah malam.
Dalam perjalanan tak sengaja dia melihat dua orang berbeda kelamin sedang berpelukan di pinggir trotoar. Menajamkan penglihatan, tiba-tiba tangannya mengepal kuat.
"Breng***!" umpatnya.
Sandy menancap pedal gasnya kuat, beruntung jalanan mulai sepi, tidak akan ada yang menghalanginya.
...***...
__ADS_1
...Jangan lupa vote and coment 😊...