Bunda Untuk Daddy (Tamat)

Bunda Untuk Daddy (Tamat)
eps 38 (Kenikmatan Paripurna)


__ADS_3

Sehari sebelum hari pernikahannya, Stella dikejutkan dengan kedatangan adik tirinya —Intan. namun bukan hanya itu yang mengejutkannya, melainkan lelaki di sisi Intan, yang diperkenalkan sebagai kekasihnya.


"Mbak Stella, ini pacar Intan," ucap Intan sumringah memperkenalkan sang kekasih.


Stella melongo menatap keduanya.


"Hai, Ste, apa kabar?" sapa pria itu.


"Kalian.. " Stella mengarahkan telunjuknya pada keduanya.


Intan tersenyum dan mengangguk, sedangkan sang pria menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Kenapa kamu tidak cerita sama Mbak, Intan."


Intan menyengir. "Maaf, Mbak, Intan belum sempat cerita."


"Jadi, yang dimaksud Jery saat bertemu denganmu bersama wanita itu, Intan?" tebak Stella menatap Rega. Iya, Rega, pria yang pernah menyukai Stella, dan juga pria yang disukai adiknya —Intan.


Rega tersenyum kikuk. "Benar, Ste."


"Berapa banyak cerita yang Mbak lewatkan," goda Stella menyenggol lengan adiknya.


Intan nampak malu-malu tapi mau. "Mbak Stella, ih, Intan malu, tahu," ia menutup wajahnya dengan telapak tangan.


"Sejak kapan kamu punya malu?" ledek Stella terkekeh.


Stella dan Rega tertawa melihat wajah Intan yang mengerucut sebal.


...***...


Bukan hanya Intan dan Rega yang mengejutkan Stella perihal hubungan mereka, dua hari sebelum pernikahannya, Stella juga dikejutkan dengan Sandy yang tiba-tiba datang ke butik.


Sebelum hari pernikahan Stella masih menyempatkan diri mengunjungi butiknya, karena ia merasa bosan hanya berdiam diri di rumah besar milik keluarga Van Houten, sesekali ia juga mengunjungi orangtuanya di hotel. Awalnya ia ingin sesekali mengintip bentuk ruangan tempatnya melaksanakan pernikahan, karena dilaksanakan di hotel yang sama dengan orangtuanya menginap. Namun sepertinya Sandy sudah menyewa bodyguard agar Stella tidak bisa melihat lokasinya itu, ia mendengus sebal.


"Sandy, ada apa? Kenapa ke sini?" tanya Stella menatap Sandy yang berdiri di belakangnya.


"Aku ingin memberikan ini," Sandy mengangkat sebuah map di tangannya.


Stella menyernyit bingung.


Sandy meraih pinggang Stella serta menuntunnya untuk duduk di sofa. "Bukanlah," ucapnya menyerahkan map pada Stella.


Stella membuka map serta membaca dan membolak balik isinya, ia terkejut mendapati namanya tertera dalam kertas warna hijau tersebut. "Ini.." kalimatnya mengambang.


Sandy mengangguk tersenyum.


Stella kehabisan kata-kata, kelopak matanya terasa panas hingga cairan bening mengalir tanpa bisa dicegah. Ia melesak masuk dalam pelukan Sandy, tubuhnya bergetar karena tangis. "Terimakasih," ucapnya lirih.


Sandy mengusap punggung Stella yang bergetar, mengusap surai panjang calon istrinya.


"Bagaimana bisa?" tanya Stella saat tangisnya mereda, ia menatap Sandy.


"Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan untuk calon istriku," Sandy mengelus pipi Stella.


"Tapi —"

__ADS_1


"Sttt.. jangan bicara apapun lagi, aku sudah mengurus semuanya," cegah Sandy menempelkan telunjuknya di bibir Stella. "Mereka sudah mendapatkan tempat tinggal, mantan adikmu juga sudah bisa melanjutkan kuliahnya sambil bekerja part time," imbuhnya.


Airmata Stella kembali luruh, ia tidak menyangka Sandy melakukan semua itu untuknya. Bahkan untuk keluarga mendiang suaminya dulu.


"Aku tidak ingin kamu melupakan kenangan bersama mendiang suami dan anakmu, kamu masih bisa mengunjungi rumah itu kapanpun kamu mau," ujar Sandy menghapus air mata yang mengalir di pipi Stella.


Stella tidak bisa berucap, hanya airmata yang senantiasa mengalir membentuk anak sungai.


"Sengaja aku mengubah akta rumah itu menjadi namamu, agar tidak ada yang merebutnya lagi darimu." Sandy menatap lekat pada Stella, membingkai wajahnya. "Berjanjilah, kamu akan membicarakan semuanya padaku, menceritakan hal sekecil apapun padaku, aku tidak ingin mendengar informasi dari orang lain."


Stella mengangguk-angguk. "Aku berjanji," ucapnya sungguh-sungguh.


Sandy tersenyum, ia mengecup bibir Stella pelan. Kemudian merengkuh tubuh Stella ke dalam pelukannya.


"Aku mencintaimu, Sandy," ungkap Stella lirih.


"Aku lebih mencintaimu, Stella."


...***...


"Saya terima nikah dan kawinnya, Stella Ayu Ghani binti Ghanindra Soetomo dengan mas kawin emas seberat 350 gram serta uang senilai tiga ratus lima puluh juta rupiah dibayar tunai."


"Bagaimana saksi? Sah?"


"SAHHHH!!!"


Perasaan lega dan bahagia dirasakan pasangan Sandy juga Stella. Akhirnya saat yang ditunggu dan dinantikan tiba, setelah melalui proses yang panjang akhirnya kini mereka benar-benar menikah. Sekarang Sandy dan Stella resmi menjadi sepasang suami istri, Sandy memasang cincin ke jari Stella dan sebaliknya. Tepuk tangan para tamu menggema seiring Sandy yang mencium kening Stella.


Malamnya acara resepsi pernikahan diadakan. Stella sudah mewanti-wanti tidak ingin acara pernikahan yang terlalu mewah, karena ia merasa sudah tua dan tidak perlu sebuah resepsi, lagi pula itu pernikahan kedua untuknya dan juga Sandy, buang-buang uang saja, pikirnya. Namun ketika menginjakkan kaki di lokasi gedung pernikahan membuat Stella mengerucut sebal, bagaimana tidak, padahal dirinya setuju diadakan resepsi —dengan acara yang sederhana, dan Sandy telah menyetujui itu. Tapi apa yang Stella lihat sangat jauh dari kata sederhana, itu terlalu mewah, bahkan gedungnya sangat luas dengan hiasan bunga pada langit-langit membuat kesan sangat mewah. Sebutan luar biasa mewah lebih dominan sepertinya.


Sandy tersenyum, menarik pinggang Stella. "Ini sederhana sesuai porsiku, Sayang," bisiknya.


Stella menyipit tajam, kemudian menghembuskan nafas jengah.


*


Jarum jam menunjukkan pukul satu dini hari, dan acara resepsi baru saja selesai. Stella terduduk di kursi pelaminan dengan lesu, ia sangat lelah, matanya sudah sangat mengantuk, bahkan Aiden sudah dibawa Laras untuk tidur sedari tadi.


"Kau lelah, Sayang," Sandy mengambil duduk di samping istrinya.


Stella mengangguk pelan, bahkan matanya sangat sulit untuk di buka.


Sandy menuntun Stella menuju kamar yang sudah disiapkan pihak hotel.


Sesampainya di kamar, Stella masuk ke kamar mandi guna membersihkan diri dan berganti pakaian. Kemudian merebahkan diri di kasur empuk, matanya sudah sangat berat.


Sandy yang baru saja keluar dari kamar mandi memperhatikan Stella yang sudah tertidur pulas di atas tempat tidur. Ia menghela nafas. "Sepertinya kau masih harus puasa," ucapnya menenangkan diri, tatapannya tertuju pada pusarnya. Em, oke, bawah pusar.


Sandy turut merebahkan diri di samping Stella, memeluk tubuh istrinya dari belakang, sesekali menciumi surai serta leher istrinya, tak lama dirinya menyusul Stella ke dalam mimpi.


...***...


Paginya, Stella terbangun dan merasakan perutnya ditindih sesuatu, ia membuka matanya perlahan dan terkejut melihat sebuah tangan melingkar di perutnya. "Aaaaa!!" ia menyentak menyingkirkan lengan tersebut serta turun dari ranjang.


Sandy yang tengah terlelap terkejut mendengar suara teriakan, ia terduduk dan memperhatikan Stella yang berdiri layaknya orang ketakutan. "Ada apa, Ste?" tanyanya khawatir.

__ADS_1


Stella menyentuh dadanya dan menatap Sandy. Astaga, kenapa ia lupa kalau sudah menikah. Ia menggeleng sebagai tanggapan. Meraih gelas di atas nakas memberikan pada Sandy. Sandy minum setengah, dan setengahnya lagi ia teguk hingga tandas.


Sandy tersenyum melihat Stella meminum satu gelas yang sama dengannya.


Stella kembali duduk di dipan. "Aku lupa kalau sudah menikah," ucapnya polos.


Sandy menyernyit.


"Aku terkejut melihat lenganmu berada di perutku tadi."


Sandy terkekeh, mencubit pipi Stella gemas, ia menarik sisi kepala Stella serta mencium pelipisnya. "Bagaimana bisa kamu lupa mempunyai suami setampan ini," ucapnya sombong. Wajar kalau Sandy sombong, ia memang tampan, bonusnya lagi kaya raya.


"Haishh," Stella berdesis. "Kau terlalu percaya diri, Tuan," cibirnya.


Sandy tertawa melihat wajah kesal istrinya. "I love you, Stella," bisiknya tepat di telinga Stella.


Stella membeku, ia gugup bahkan menggigit bibir bawahnya, sapuan hangat di daun telinganya menimbulkan efek luar biasa pada jantungnya.


"Kenapa tidak dijawab, hem?" Sandy menumpu dagunya di pundak Stella.


Stella menelan saliva. "L-ove you too, San-dy, ahh," tanpa sadar Stella mendesah ketika lehernya dikecup.


Pusat inti Sandy seketika menegang mendengar suara ******* Stella, ia membawa tubuh Stella menghadap ke arahnya. Menatap lekat manik mata indah di hadapannya, ia tidak bisa menunda lagi. "Stella, i want you," ucapnya serak.


Stella mengerti arti tatapan itu, suara maskulin yang terkesan mendamba membuat sekujur tubuhnya merinding. Stella sudah paham akan hal tersebut, sudah seharusnya sebagai istri ia memberikan hak kepada suaminya.


"Now," lanjut Sandy menatap penuh harap kepada Stella.


Stella hanya mengangguk sebagai jawaban.


Senyum Sandy merekah mendengar persetujuan dari istrinya. Ia memiringkan kepala untuk mulai mendekat, Stella telah menutup mata seakan bersiap untuk semuanya. Sandy menempelkan bibirnya di atas bibir ranum istrinya, memulai perlahan dengan kelembutan yang seakan membius, perlahan namun pasti, ciuman itu berubah panas dan ganas. Merebahkan tubuh Stella pelan, jemarinya melesak masuk ke dalam baju tidur Stella, mengusap pelan perut Stella yang kian membuat Stella membara. Bibirnya turun ke leher, mencecap keras warna putih mulus tersebut untuk meninggalkan jejak kepemilikan di sana. Stella melenguh setiap kali Sandy meninggalkan jejak di lehernya.


Jemari Sandy tak tinggal diam, mengusap perut dan perlahan menyusup ke atas, setelah menemukan apa yang dicari, ia meremasnya pelan, Stella semakin menggeliat di bawahnya, ******* keluar dari bibir ranum tersebut. Bibir Sandy beralih membungkam bibir Stella. Entah sejak kapan keduanya sudah tidak memakai sehelai benang.


Sandy mengabsen setiap inci kulit Stella, membuat tubuh Stella semakin memanas, ia menginginkan lebih.


Keduanya saling mengeja perasaan, mempelajari sentuhan di setiap inci tubuh masing-masing, ucapan mesra Sandy disela sentuhannya membuat Stella kian bahagia. ******* Stella yang menyebut namanya seperti syair yang indah dalam pendengaran Sandy. Senyum dan tatapan mesra menghangatkan buaian keduanya. Meneguk kenikmatan paripurna. Meskipun itu bukan yang pertama bagi keduanya, namun tak menyurutkan sensasi yang ditimbulkan sangat luar biasa.


Setelah mendapatkan pelepasan yang entah ke berapa kali, Sandy ambruk di samping Stella, mencium setiap inci wajah istrinya, menyelimuti tubuh polos mereka, tak perlu waktu lama keduanya terlelap karena kelelahan dengan saling memeluk.


.


.


.


tbc


...Deg deg an aku nulisnya. 😄...


...Oh, my God, aku bisa nulis kek gini ya. 🙈 😂...


...Maaf kalo kurang greget. 😁✌️...


...Vote and coment donggggg....

__ADS_1


...Saskavirby...


__ADS_2