
Sandy sudah memutuskan akan melangsungkan pernikahannya dengan Stella satu bulan lagi. Sebenarnya dia mengusulkan agar menikah satu minggu lagi, tapi Stella menolak dengan tegas dengan ancaman 'Satu bulan, atau tidak sama sekali' . Akhirnya Sandy mengalah dan menyetujui pernikahannya dengan Stella dilaksanakan satu bulan lagi.
Sandy yang tengah berkutat dengan beberapa kertas di mejanya mendongak menatap Alvin yang berdiri didepannya.
"Saya sudah mendapatkan apa yang anda perintahkan, Tuan." Alvin membuka map di tangannya dan mulai membaca beberapa informasi yang dia dapat. "Rumah Nona Stella dijual, Tuan," kalimat pertama yang keluar dari mulut Alvin membuat Sandy terkejut menegakkan punggung.
"Beberapa hari setelah kepergian Tuan ke Jerman, Ibu dari mendiang suami Nona Stella datang ke rumah bermaksud meminjam uang, saat itu Nona Stella memberinya dua puluh lima juta," ucap Alvin. "Seminggu kemudian mantan mertuanya kembali datang dan meminta sertifikat rumah yang ditempati Nona Stella sebagai jaminan pinjaman di bank."
Sandy terkejut.
"Namun setelah berhasil membawa sertifikat rumah, dia kembali dengan kabar akan menjual rumah yang ditempati Nona Stella, karena rumah itu atas nama Hari, anaknya yang sudah meninggal. Dia berujar bahwa Nona Stella bukan lagi istri Hari, sehingga tidak berhak atas rumah itu."
"Dan Stella menyetujui menjual rumahnya," tebak Sandy kemudian.
Alvin mengangguk, "Awalnya Nona Stella menolak, tapi terakhir kali adik mendiang suami Nona Stella berkunjung ke sana, dan setelah itu Nona Stella menyetujui untuk menjual rumahnya."
"Adik?"
"Benar, Tuan, adik dari mendiang Hari, bernama Jihan."
Sandy merasa pernah mendengar nama itu, sekelebat bayangan muncul, dia teringat gadis yang bertemu di depan mall. 'Jadi dia adik kandung Hari. Itu berarti yang dia bicarakan waktu itu adalah rumah Stella,' bathinnya. Sandy menghela nafas. "Kau tahu apa yang harus kau lakukan Vin?" ujarnya kemudian.
Alvin mengangguk. "Mengerti, Tuan, saya permisi," pamitnya.
"Kamu akan menyukai kejutan dariku, Sayang," gumam Sandy tersenyum.
...***...
Selama menuju hari H, Sandy mewanti-wanti Stella agar tidak perlu mengurusi acara pernikahannya, biarkan orang-orang suruhan Sandy yang bekerja. Sandy hanya ingin Stella fokus dan menjaga kesehatannya. Namun kenyataannya hal itu membuat Stella semakin frustasi. Dia ingin turun tangan menyiapkan pernikahannya, Stella menginginkan pernikahan yang sederhana, bukan mewah seperti apa yang Sandy inginkan.
"Sandy, aku tidak mau acaranya terlalu mewah."
"Kenapa, Sayang?"
"Sandy, please, jangan berbuat yang berlebihan."
Sandy duduk disamping Stella, merengkuh pundaknya, mencuri kecupan di sebelah pipinya. "Iya, Sayang, iya, kamu percaya sama aku."
Stella menyelidik tak percaya. "Kamu janji?"
"Im promise."
Stella menghembuskan nafas lega.
...***...
Stella berjalan sambil menggandeng tangan Aiden memasuki gedung berlogo Houten Corp yang tercetak besar di dinding lobby, itu pertama kalinya Stella menginjakkan kaki di kantor Sandy. Seluruh karyawan menatap ke arahnya, berbisik-bisik membicarakannya, Stella benar-benar tidak nyaman menjadi pusat perhatian seluruh karyawan. Saat sedang menunggu lift, tiba-tiba lift terbuka dan muncullah Alvin dari dalam.
"Nona sudah sampai?" sapa Alvin.
"Iya, Vin."
"Mari Nona saya antar," ajak Alvin kemudian.
Tok! Tok! Tok!
Setelah mendapat sahutan dari dalam Alvin membukakan pintu dan mempersilahkan Stella juga Aiden masuk.
"Daddy," panggil Aiden.
Sandy yang berkutat dengan kertas di depannya mendongak, kemudian tersenyum dan berdiri menghampiri Aiden dan Stella. Sandy mengangkat tubuh Aiden kedalam gendongannya, mencium pipi Aiden. "Kamu sudah pulang jagoan?"
"Iya, Dad," jawab Aiden melingkarkan tangannya di leher Sandy.
__ADS_1
Stella tersenyum melihat keakraban keduanya.
Sandy beralih menatap Stella dan menghampirinya dangan masih menggendong Aiden, mendaratkan kecupan di kening wanita itu.
"Pekerjaanmu sudah selesai?" tanya Stella.
"Sebentar lagi."
Sandy menurunkan tubuh Aiden. "Tunggulah sebentar, aku akan segera menyelesaikannya."
Stella mengangguk dan mengajak Aiden duduk di sofa.
Aiden terus saja mengoceh di samping Stella, membicarakan tentang kegiatan di sekolah serta teman-temannya.
Disela berkutat dengan dokumennya Sandy sesekali melirik ke arah Stella dan Aiden, dia tersenyum melihat anaknya sangat bahagia bersama Stella. Dan juga Stella yang dengan senang hati mendengar serta menjawab pertanyaan dari Aiden. Dia tidak sabar menunggu sebulan lagi.
"Ayo," ajak Sandy saat pekerjaannya sudah diselesaikan.
Aiden melompat di gendongan Sandy.
Ketiganya menjadi pusat perhatian seluruh karyawan, sebenarnya Stella agak malu karena Sandy menggandeng tangannya. Beberapa bisikan mampir ditelinga Stella.
"Itu calon istrinya Pak Sandy, cantik banget ya?"
"Eh, katanya dia itu janda, loh."
"Ah, masak, tapi nggak kelihatan janda, ya?"
"Masih bening gitu."
"Mereka cocok, ya, ganteng plus cantik."
"Aiden makin ganteng, ya, sekarang."
Sandy berjalan tanpa mempedulikan ocehan para karyawannya, sedangkan Stella sudah menahan malunya sedari masuk ke dalam gedung.
...***...
Ketiganya berada di salah satu butik untuk melakukan fitting baju, sebenarnya Stella sudah memikirkan desain pakaian yang akan dipakai olehnya, dia ingin membuatnya sendiri. Tapi, ya, begitulah, Sandy keukeh agar Stella tidak usah capek-capek mengurus, lebih baik beli saja di desainer.
Hampir satu jam memilih pakaian untuk acara pernikahan, akhirnya mereka menemukan gaun yang cocok Stella. Kalau untuk pria, sih, gampang, kemeja dan jas. Lain dengan wanita, dan jangan lupakan Sandy yang selalu protes dan menolak gaun yang dipilih Stella karena memperlihatkan lekuk tubuhnya, —menurut pengamatannya. padahal menurut Stella itu biasa saja.
Sepertinya Aiden sangat kelelahan hingga terlelap setelah dari butik untuk fitting baju. Stella membawa serta merebahkan tubuh Aiden di kamar miliknya yang ada di butik miliknya.
Stella membawakan kopi untuk Sandy yang tengah duduk di sofa. "Sepertinya Aiden sangat lelah," ujarnya mengambil duduk di samping Sandy.
Sandy hanya mengangguk. Mengambil cangkir kopi dan menyeruputnya sedikit. "Stella aku ingin bicara."
"Ya?"
"Ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku?" ucap Sandy mengabaikan keterkejutan lawan bicaranya.
Stella tersentak. "Ti-tidak ada," ia mendadak gugup.
Sandy menarik jemari Stella, menggenggamnya erat. "Kamu tahukan sebentar lagi kita akan menikah."
Stella mengangguk ragu, jantungnya sudah berdebar hebat, dia merasa Sandy sedang menginterogasinya.
"Aku harap tidak ada satupun yang disembunyikan diantara kita, Ste. Aku mau kita saling terbuka, menceritakan hal sekecil apapun itu, aku tidak ingin diantara kita memendam sendiri masalah yang dihadapi, entah itu besar atau kecil. Aku ingin kita tetap bersama, menghadapi semuanya, tidak saling menutupi."
Tes.
Airmata Stella tiba-tiba menetes mendengar penuturan Sandy, segera dia menghapusnya.
__ADS_1
Sandy menatap lekat pada Stella. "Ada apa, hem?"
Stella menutup rapat mulutnya, kemudian menggeleng, namun airmatanya mengucur deras tak bisa dicegah.
Sandy mengusap pipi Stella. "Aku mencintaimu," ucapnya.
Airmata Stella kembali tumpah, ia melesakkan tubuh dalam pelukan hangat calon suaminya. Menumpahkan perih yang selama ini ia tahan seorang diri, ia perlu seseorang untuk menampung kepedihannya, dan ia rasa hanya Sandy yang mampu melakukan itu. "Maafkan aku," sesalnya pelan.
Sandy mengusap punggung Stella yang bergetar.
Berulang kali Stella mengucapkan kata maaf disela tangisnya. Setelah tangisnya mereda, Stella menarik diri menatap pria di hadapannya yang tersenyum teduh seakan menerima segala kepedihannya.
Sandy membingkai wajah Stella, mencium kedua kelopak matanya. "Aku sudah tahu semuanya," ucapnya.
Stella terkesiap.
"Apa yang bisa aku lakukan untukmu, Ste?" Suara Sandy sangat lembut membuat hati Stella kian berdesir. "Haruskah aku memberi pelajaran pada mereka yang membuatmu menangis tiap malam?" tawarnya. "Apa aku harus membawa masalah ini kejalur hukum?" imbuhnya syarat akan ancaman.
Stella menggeleng. "Tidak. Jangan lakukan apapun, aku sudah mengikhlaskannya."
"Kau yakin?"
Stella mengangguk. "Ya," jawabnya setengah hati. "Aku rasa sudah saatnya harus melupakan masa lalu bersama mendiang Rafa dan Mas Hari," imbuhnya tersenyum getir.
Sandy kembali membingkai wajah Stella. "Masa lalu bukan untuk dilupakan, Ste, tapi untuk dijadikan kenangan dan pelajaran di masa yang akan datang."
Stella menyentuh jemari Sandy di wajahnya. "Aku tahu," ucapnya tersenyum.
Sandy ikut tersenyum melihat kepedihan wanita di hadapannya berangsur memudar. Ia mengusap kedua pipi Stella kemudian mencium perlahan segitiga simetris itu dengan lembut. Bukan lagi sebuah ciuman yang saling menuntut, hanya sebuah sentuhan ringan nan lembut yang mampu melesakkan gairah cinta yang perlahan semakin terpupuk dan tumbuh bersemi dengan indah.
Meskipun hanya berupa sentuhan ringan yang saling mendamba, namun hal itu tetap membuat sesuatu dalam diri Sandy ingin meledak. Ia harus segera menghentikannya sebelum ledakan itu memunculkan bara api.
Sandy menarik diri, menghapus sisa cumbuan di bibir Stella. "Sudah malam sebaiknya aku bawa Aiden pulang," ucapnya.
"Biarkan Aiden di sini, kamu pulanglah," usul Stella.
Sandy berfikir sejenak kemudian mengangguk setuju.
Stella mengantarkan Sandy sampai di depan pintu butik.
"Jangan lupa kunci pintu, jendela. Jangan bukakan pintu kalau ada yang mengetuk, aku akan ke sini besok pagi," ujar Sandy menasehati. "Langsung telefon kalau ada apa-apa," imbuhnya.
Stella tersenyum. "Iya."
Sandy mengecup kening Stella. "Masuklah."
Stella mengangguk. "Hati-hati, kabari kalau sudah sampai rumah."
Sandy mengangguk. Ia gegas masuk ke dalam mobil setelah memastikan Stella sudah menutup dan mengunci pintu.
.
.
.
tbc
...Hai hai ketemu lagi hehe...
...Do you miss me? 😋...
...Micuu😚😚...
__ADS_1
...1 February 2020...