
**✨ Bunda untuk Daddy 🎎
43**
***
"mana adik bayi nya Bunda?"
Aiden yang duduk dipangkuan Stella mengamati selembar kertas foto berwarna hitam dengan bulatan kecil sebagai gambarnya.
"Ini adik kecilnya sayang" Stella menunjuk bulatan sebesar kacang polong pada Aiden
"Kenapa bentuknya seperti ini, tidak bisa di gendong" celetuk Aiden polos
"Karena adik bayi nya masih kecil, kalau sudah besar nanti dia bisa menendang didalam perut Bunda"
"Wah bisa menendang didalam sini Bunda" Aiden menyentuh perut rata Stella
Stella mengangguk tersenyum.
"Aiden mau adik cewek atau cowok?" Tanya Sandy yang sedang duduk sambil memegang stir mobil
Aiden nampak berfikir, "cowok Dad"
"Eh, cewek deh" ralatnya
"Oh tidak-tidak, kalau cewek pasti cengeng kaya temen Aiden" lanjutnya antusias
"Bagaimana kalau satu cewek, satu cowok?" Saran Sandy
Stella menepuk lengan suaminya.
"Hah, adik bayinya ada dua ya Bun?"
"Tidak sayang, adik bayinya cuma satu" jawab Stella mencium pipi Aiden
"Nanti Daddy buatin Aiden adik lagi, kalau yang ini sudah lahir, setuju?" Ucap Sandy mengelus perut Stella
Stella melotot, "satu saja belum jadi, sudah mikir buat adik lagi" Stella geleng-geleng kepala
"Aiden setuju Daddy, jadi Aiden tidak sendirian lagi dirumah, yee" sorak Aiden
"Anak pintar, tos dulu" Sandy mengangkat kelima jarinya dan disambut Aiden
Stella hanya memutar bola matanya malas.
***
Usia kandungan Stella memasuki tri semester kedua, dia mulai merasakan morning sick dan juga ngidam.
Pagi-pagi sekali stella merasakan perutnya terasa mual, segera dia beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi, memuntah isi perut yang hanya keluar cairan putih.
"Are you okay?" Sandy menyentuh pundak Stella memijit tengkuknya
Stella menghindar, "jangan di pijit" keluhnya saat Sandy memegang tengkuknya
Sandy memapah Stella menuju tempat tidur, membaringkan nya pelan, Sandy berjongkok mengelus perut Stella yang mulai membuncit.
"Morning baby, jangan buat Bunda kelelahan okey" dia mencium perut Stella
"Kamu ada meeting pagi kan, biar aku siapkan --"
Stella yang hendak bangkit dicegah Sandy.
"Sstt gak perlu sayang, aku akan menyiapkan keperluan ku sendiri, kamu istirahat saja okey"
__ADS_1
"Tapi --"
Sandy menggeleng, dia mengelus kepala Stella, "kesehatan kamu dan baby lebih penting sayang"
"Aku mengantuk" ujar Stella kemudian
"Tidurlah" ucap Sandy
Sandy mengelus perut Stella sambil sesekali bernyanyi, kebiasaan Stella kali ini adalah tiap mau tidur dia meminta Sandy mengelus perutnya sambil bernyanyi.
Pernah suatu hari Sandy harus keluar kota, dan semalam itu pula Stella sama sekali tidak bisa tidur, bahkan dirinya menangis karena tidak bertemu dengan Sandy.
Laras dan Aiden bahkan mencoba mengelus perut Stella, berharap berhasil membuat nya tertidur, namun itu tidak berhasil.
Alhasil Sandy memutuskan pulang, dan meminta Alvin untuk mewakilinya, dan sampai sekarang pun jika ada tugas keluar kota atau keluar negeri, dirinya akan meminta Alvin yang mewakili, sesekali juga Vero yang berangkat.
Sandy tersenyum ketika melihat Stella sudah terlelap, dia mencium perut istrinya, beralih mencium kening istrinya, menyelimuti tubuh Stella, dan segera menuju kamar mandi.
Beberapa hari ini Aiden di urus oleh Moly, sengaja Sandy meminta Moly untuk datang ke mension nya, karena dari kecil Aiden cukup dekat dan akrab dengan maid yang tinggal di mension orangtuanya.
"Bunda dimana Dad?" Aiden yang duduk dimeja makan melihat kebelakang Sandy yang tidak terlihat Stella
"Bunda sedang istirahat, adik bayi ngajak tidur"
Aiden mengangguk.
"Habiskan sarapan mu, Daddy yang akan mengantar mu"
"Iya Dad"
Setelah selesai sarapan, Sandy mengajak Aiden menuju kamarnya untuk pamitan dengan Stella.
Karena terakhir kali dirinya berangkat bekerja tidak pamit membuat Stella menangis, dan mengunjunginya di kantor dengan wajah sembabnya, hanya meminta dirinya untuk berpamitan pada sang jabang bayi sambil mengelus perutnya.
Sandy memaklumi karena itu bawaan sang bayi, dia jadi merasa sang bayi sangat bergantung padanya, dan yang pasti sang bayi teramat sayang padanya.
Stella yang merasakan sesuatu mengusik tidurnya pun membuka matanya dan mendapati Aiden serta Sandy sedang berdiri di samping nya.
"Pagi Bunda" sapa Aiden
"Pagi sayang" balas Stella yang masih pada posisi tidurnya
"Aiden berangkat dulu Bun, Bunda sama adik bayi baik-baik ya dirumah" ucap Aiden mencium tangan Stella
Stella tersenyum mengangguk, mengelus pipi Aiden, "iya sayang, kamu juga ya"
Stella membuka selimutnya mempersilahkan Aiden untuk berpamitan dengan adik bayinya.
"Hallo adik bayi, kakak berangkat sekolah dulu, jangan nakal ya di dalam" Aiden mengelus perut Stella kemudian menciumnya
Sandy beranjak mencium kening Stella, "aku berangkat ya sayang, kalau ada apa-apa telepon oke"
Stella mengangguk menjawab pertanyaan Sandy.
"Daddy berangkat kerja dulu ya sayang, love you" Sandy beralih didepan perut Stella, memberinya kecupan
Stella kembali menyelimuti tubuhnya, sungguh dirinya hanya ingin tidur kali ini, dan bahkan beberapa hari kebanyakan dirinya menghabiskan waktu di kasur empuknya.
"Bik, tolong ingatkan Stella untuk sarapan dan makan siang ya" pinta Sandy kepada Moly
Karena pada trisemester kali ini, Stella lebih banyak tidur bahkan sering kali melewati sarapan dan makan siangnya.
"Baik tuan" jawab Moly menunduk hormat
"Good morning uncle"
__ADS_1
Seruan seorang pria kecil seumuran Aiden membuat ketiganya menoleh ke arah pintu utama.
"Good morning too boy"
"Selamat pagi Tuan, selamat pagi Tuan muda" sapa Alvin
"Hai Daniel" sapa Aiden
"Hai juga Aiden" jawab Daniel
"Tumben lo kesini pagi-pagi Vin, ada apa?"
"Gapapa bos, ini Daniel minta berangkat bareng dengan tuan muda"
"Kalian sudah sarapan?"
"Sudah uncle" jawab Daniel
"Den, dimana adik kamu?" Tanya Daniel polos
"Adik bayi sedang tidur"
"Apa dia sudah keluar?"
"Belum, kata Bunda lima bulan lagi"
"Kenapa lama sekali" keluh Daniel
Aiden mengangkat bahunya.
Sandy dan Alvin saling lirik mendengar pembicaraan kedua pria kecil itu.
"Ayo kita berangkat boys" seru Alvin
"Oke pa"
"Oke uncle"
Mereka memutuskan menggunakan mobil Alvin untuk kesekolah dan ke kantor, sedangkan mobil Sandy dikendarai sopir dan meminta agar langsung ke kantor saja.
"Bos Minggu depan Blizz Group mengundang untuk acara meeting di Malaysia" ucap Alvin yang disela mengemudi nya menuju kantor, setelah tadi mengantarkan Aiden dan juga Daniel kesekolah
"Tidak bisa kah meminta acara diadakan di Jakarta?" Sandy menoleh kearah Alvin
"Tidak bisa tuan, kali ini meeting diadakan bersamaan dengan Mr. Scott yang berasal dari Malaysia, perwakilan dari Scott Corp"
"Berapa lama?"
"Kemungkinan tiga sampai lima hari, sekaligus kita bisa tinjau lokasi perusahaan 'KL' yang akan di jual, banyak yang menginginkan perusahaan itu tuan, beberapa petinggi mulai membicarakan masalah perusahaan yang bangkrut itu, kalau kita bisa membelinya, setidaknya menanam modal disana, keuntungan besar jadi milik kita" terang Alvin
"Bukankah para penanam modal menarik investasi mereka?"
Alvin mengangguk, "benar tuan, tapi Mr. Dimitri sudah memberikan separoh sahamnya untuk membeli perusahaan itu, kalau kita bisa bergabung dengannya pasti akan lebih mudah"
"Dia ada di Malaysia juga?"
"Menurut informasi yang saya dapatkan, kemungkinan besar Mr. Dimitri akan sementara tinggal di Malaysia selama beberapa bulan untuk mengurusi masalah itu tuan"
Sandy mengangguk, "pasti perusahaan itu memiliki nilai keuntungan yang tinggi, sampai-sampai Mr. Dimitri pun ikut turun tangan menangani nya"
"Benar tuan, jadi apa anda akan berangkat?
"Ya tentu saja, kita akan berangkat Minggu depan, kamu siapkan keperluan kita selama disana"
"Baik tuan"
__ADS_1
***