Bunga Rumput

Bunga Rumput
Episode 1 Dia Bunga rumput


__ADS_3

πŸŒΎπŸ€πŸŒ±πŸͺ΄β˜˜οΈβ˜˜οΈ


Aku hanyalah setangkai bunga


dari akar rumput.


Melata sederhana.


Jauh dari puja puji dunia


Mengenalku membawa cerita


Mencintaiku bertemakan sengsara


Karena aku bukan siapa-siapa


Hanya setangkai bunga


Dari akar rumput .


Jangan pernah bermimpi


Aku dari kalangan bidadari jelita.


Jangan pernah menghayal


Aku turunan bangsawan


Berdarah Ratu dan tuan Puteri


Jangan berfikir naif


Aku dari kalangan hebat


Bukan itu dan bukan ini


Aku hanya gadis biasa dari orang biasa


🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Selembar kertas dengan coretan tinta biasa. Tapi bukan kertas dan tintanya. Yang memicu keinginanku, menarik hatiku adalah gaya bahasanya yang indah bermakna. Tulisan yang tertata rapi, bahasa yang sarat makna.


Bagi mereka yang awam, yang tidak memahami ritme dan irama, majas kata dan ke dalaman bahasa. Puisi ini hanya hal biasa. Dipandang sepintas lalu sebagai kertas yang penuh coretan. Mungkin akan kembali ditaruh dalam bakul kresek pembungkus belanja.


Namun tidak bagiku. Hal begini sangat menarik sekali. Ada beberapa coretan kata di bagian bawah kertas buram ini. Sepertinya Identitas penulis puisi yang sengaja di samarkan . entahlah.


Hatiku tiba-tiba ingin menyimpan kertas ini. Sebuah keinginan lucu jika dipikirkan.

__ADS_1


Berawal dari menemukan puisi sederhana bunga rumput. Aku akhirnya terbiasa mengobrak- abrik kertas pembungkus belanja. Setiap hari tanpa jemu. Hingga pada suatu hari aku dikejutkan ibu dengan teguran khas yang halus


"Apa yang kamu cari Nang!".


Tiba-tiba ibu sudah berdiri di sampingku. Sambil menatap penuh selidik. Aku mengulurkan beberapa kertas pembungkus jualan yang ditumpuk di dus bekas dibawah meja. Bunda makin membulatkan mata memandangku tak mengerti.


"Kasian bunda, pastilah beliau tak paham".


"Apaan tuh ?".


Aku tersenyum, menyaksikan wajah bunda yang semakin bingung.


"Ada apa sih Nang ? apa tuh maksudmu !".


"Ini Lho bun, puisi antik dari penulis misterius!".


"Ah , kamu , ngagetin aja !. Itu kan kertas bekas non Bening !".


"Bening yang tinggal dirumah Bu Anita?".


Bunda mengangguk. Mata teduh itu melirik ku sekilas. Lalu kembali sibuk mengemasi barang belanjaan.


"Pinter juga tuh bening, diam-diam punya bakat!".


Bunda tersenyum mendengar celoteh ku. Aku tidak terlalu mengenal gadis itu karena selain dia sibuk aku juga pulang kerumah setiap akhir pekan, study ku diluar kota masih belum selesai. Program S3 yang tengah ku tekuni, disamping menjadi tenaga pengajar di almamater tempat ku melanjutkan study ku.


Kubaca kembali penggalan puisi bening. Dalam sekali makna dan penuh tanda tanya. Tiba-tiba hatiku tergerak untuk menemui Bening, akan bermanfaat jika saja puisi-puisi ini dipublikasikan. Pasti bakal banyak yang menyukai.


"Nasib baik puisi-puisi ini membawa manfaat untuk Bening, bun!".


Demikian aku memberi penjelasan. Bunda mengangguk. Aku melangkah keluar menuju kediaman bening. Dan akhirnya, aku sudah duduk di beranda depan kontrakan bening. Hampir lima belas menit menunggu, ketika Bening muncul.


Membawa dua cangkir kopi hitam dengan semangkuk ubi rebus, menggiurkan sekali. Sambil berbincang-bincang santai aku memulai percakapan dengan gadis itu. Aku sengaja belum masuk ke topik pembicaraan yang menyebabkan aku sampai di kontrakannya ini.


Perbincangan kami cukup akrab walau aku baru pertama kali bertemu gadis ini langsung seperti ini. Bening bercerita tentang dirinya. Kampung halaman dan orang tuanya. Juga tentang siswa siswinya di sekolah.


Singkat cerita Bening seorang guru muda yang ditugaskan negara mengabdi di kampung halamanku. Sejak dua belas tahun yang lalu. Cukup lama untuk masa tugas dan perpisahannya dengan keluarga besar serta orang tuanya di kota sana.


Aku menyimak setiap tutur katanya yang halus, kadang obrolan kita dicairkan oleh guyonan dan ketawa-ketawa kecil, awal perkenalan dan perbincangan ku dengan Bening.


"kamu kerasan tugas dikampung ku!".


Ku tatap gadis anggun di hadapanku. Seketika bening menjawab datar.


"Gimana lagi, aku sudah usul pindah tugas berkali-kali, tapi sampai hari ini aku masih disini !".


jawabnya disertai senyuman kecut, nyaris patah.

__ADS_1


"sabar," mungkin belum saatnya pindah ! jawabku.


Dia kembali tersenyum. Dua lekukan mungil di pipi terlihat menarik. Perlahan ku mengulurkan gulungan kertas kehadapan Bening. Diia terpana. Aku mengangguk meminta dia membuka gulungan itu.


Pelan tangan mungilnya melepas karet pengikat. Membuka lembaran itu satu persatu. Kontan wajahnya terkejut memandang mataku tak berkedip.


"Puisi ku ! kamu dapat dimana ?".


Aku menceritakan darimana aku mendapatkan kertas itu. Bening terpana. Lalu tiba-tiba menepuk jidat gusar.


"Dasar tulalit. Aku membuangnya di box sampah samping rumah. Tadinya aku mau bakar!".


"Lalu mengapa sampai di warung ibu mu ?".


Kembali dia bertanya dengan mata penasaran.


Aku menggeleng, aku juga tak tahu mengapa tiba-tiba kertas itu ada di tumpukan kertas pembungkus jualan bunda.


"Bunda bilang kamu yang antar ke sana. Kalau ga darimana bunda tahu itu kertas punya kamu !".


Aku balik bertanya. Bening menggeleng pelan, bahwa dia ga pernah antar kertas itu ke bunda, lalu siapa ?".


Ternyata berbincang dengan gadis ini asyik juga. Dia setuju puisi puisinya di publikasikan. .Nanti aku akan kirim semua karya Bening. Akan ku usahakan. Kebetulan aku banyak teman penerbit, percetakan dan lain-lain. Pasti mereka mau membantu.


Suatu hari nanti nama Bening akan disebut dan di kenal.


Aku baru sampai kembali ke rumah lewat mahgrib. Bunda bertanya macam macam. Aku pun bercerita tentang gadis itu. Darimana dan dimana rumahnya. Keluarga besarnya serta semua yang berkaitan dengan ibu guru muda itu.


Bunda Terlihat amat serius dan fokus mendengar cerita pertemuanku dengan Bening. Dari wajah bunda ku dapati sebuah senyuman. Tapi aku tak bisa terjemahkan arti senyuman bunda kali ini.


Bunda seperti menyimpan cerita dan masalah yang amat rahasia. Jelas ku dapati berkali-kali bunda tercenung, merenung dan menatap hampa, kosong tanpa cahaya dari pendar matanya.


Selalu hal begini ku temukan diwajah bunda.Jika aku memperkenalkan teman- teman wanitaku. Atau jika ada Mahasiswa yang ku asuh datang berkunjung ke rumah. Misalnya mereka mengurus nilai atau hasil ujian yang tidak lulus. Bunda sangat riang. Wajah bunda sumringah menyapa dan melayani mereka.


Tak jarang teman-teman wanitaku sangat dekat dengan Bunda. Karena sikap bunda yang tulus, ikhlas dan tanpa basa-basi. Bunda hadir dengan keceriaan dan ke gembiraan nya. Bunda sangat senang dengan suasana begitu. Apalagi dengan Bening. Yang selama ini tinggal di kampung halamanku. Tinggal tak berapa jauh dari kediamanku.


Selama ini bunda hanya bisa melihat dan menyapa dari kejauhan, karena Bening sibuk, tak jarang sering pulang ke kota, kerumah keluarganya. Dan ketika aku datang berkunjung bahkan mulai membuka silaturahmi dengan Bening, bunda.amat senang. entahlah. Ada apa dengan bunda.


Next


****


🌾🌱🌾🌱πŸͺ΄πŸͺ΄πŸŒΎπŸŒΎπŸŒΎ


Welcome Readers se Nusantara. selamat datang.


salam santun dariku. salam sahabat salam pertemanan. Sudi datang berkunjung, mohon tinggalkan jejak kenangan : Like, coment, dan Vote.

__ADS_1


TerimakasihπŸ™πŸ™


Salam Cinta : Asmirani 🌷😭


__ADS_2