
✍️✍️✍️
Aku sudah terbiasa. Menikmati sepi.
Sendiri menikmati airmata.
Dan airmata itu.Bukan seperti airmata mu.
Juga bukan seperti airmata biasa yang wajar kamu lihat. Yang jatuh dari mata lalu mengaliri pipi.
Ini airmataku. Yang mengucur dari mata.
Lalu jatuh mengguyur hati.
Airmata ku terbiasa meluncur deras
menenggelamkan hati...
bukan menjamah pipi..
🥀🥀🥀
Bunga rumput itu sederhana. Tidak menjangkau yang tinggi diatasnya. Tidak melihat yang gemerlap.
Dia hanya setangkai bunga rumput. Melata dalam berbagai cuaca. Terbiasa diperlakukan tak baik. Bahkan sangat terbiasa dibiarkan bingung tanpa tahu dimana khilaf telah dilakukan.
Bunga rumput itu apa adanya. Mengalir bagai air. Walau sering disalah arti dan dijadikan buli. Semua dijadikan pengalaman. Jikapun dia sakit, maka diam adalah caranya mengabarkan keadaan.
Jikapun dia kamu bohongi, maka senyum lugu yang kamu dapati.
Bunga rumput itu memang selalu memberi. Memberikan apa saja yang dia miliki, tanpa memikirkan bahagia diri sendiri. Terbiasa diajarkan dalam rambu-rambu santun. Meski ada diantara onderdil dunia berlaku tak santun, bunga rumput terus saja berbuat sebaliknya.
Yang dikejar hanyalah manfaat dan berbagi. Namun yang sering di terima adalah sebaliknya bahkan diatas fakta yang tidak logika. Kadang terhina, kadang diinjak, kadang di pangkas bahkan dibunuh. Namun dia akan kembali tumbuh berkecambah, meski tangkainya amat lemah, ia tak akan menyerah.
Bunga rumput itu diriku. Masih juga kah kamu bertanya ? Hidupku terbiasa sederhana dan memang diajarkan untuk sederhana, meski mungkin punya segala-gala nya. Tapi jangan kamu kira aku bangga.
Tidak terbiasa menerima dan tidak pernah diajarkan untuk mencari kesempatan, walau kadang kesempatan itu ada di depan mata.
Mamah menanamkan semacam rasa untuk bisa membaca keadaan dalam kesabaran. Mamah bertanggung jawab dengan semua perbuatan yang dilakukannya. Aku dididik baik, walau aku anak dari wanita yang mungkin saja sangat dibenci dan dicemburui ketika itu.
Mamah mendidik, mewarnai, mengasah, membentuk ku seperti sekarang. Layaknya anak kandung sendiri.
Kepribadian mamah yang kuat. Peduli mamah yang tulus, mengajariku hakikat hidup, makna hidup, tujuan hidup bahwa sesungguhnya kehidupan itu sangat mudah jika dijalani dengan kesabaran dan keikhlasan.
Dari sebuah luka mamah membangun pondasi makna. Dari sebuah luka mamah menyusun satu demi satu tongkat kekuatan. Menyuplai energi baik itu pada mental ku, pada hati dan jiwaku, pada bentang jalan yang akan ku tempuh, pada semua lini hidupku.
__ADS_1
" Ning !"
"Ya mamah..."
" Mengapa masih malas-malasan ? Kamu ga kerja hari ini ?".
" Kerja mah, nanti siang jadwalnya !".
Mamah mendekat ke arahku. Tatapan mata mamah tak bisa ku hindari untuk tak jujur. Mamah seolah membaca apa yang ada dalam hatiku. Mamah seolah melihat segalanya tentang diriku luar dan dalam.
" Ning !".
Mamah duduk ditepi ranjang, tempatku berbaring meng utak-atik jadwal masuk minggu ini.Tanpa menoleh aku menyahut.
" Ya Mah !".
" Ning !".
Suara mamah di tekan agak dalam.Jika sudah begini aku harus berhenti dari segala kesibukan, menghadap dan duduk dihadapan mamah, menyimak apa yang akan dikatakan mamah. Ini kode alamiah dan aku sudah sangat paham dengan sikap seperti ini, sudah sangat mengerti makna suara mamah. Ini pendidikan yang diberikan mulai dari aku masih balita.
Aku bangun. duduk bersila diatas kasur menghadap kearah mamah. Mataku berputar-putar meneliti wajah mamah seksama. Mamah pasti punya pertanyaan penting yang wajib aku jelaskan.
" Gimana kabar Jiwa !".
Akhirnya aku cerita pada mamah. Semua yang terjadi, apa adanya. Mamah tercenung. Wajahnya berubah- rubah. Mamah sangat memahami aku dan sebaliknya. Jika mamah sedih aku juga merasa sedih. Jika mamah sakit aku akan ikut sakit juga. hal ini ku alami sejak kecil.
" Kemana Jiwa,.ada apa dengan dia !".
Mamah bergumam di hadapanku. Matanya memandangi aku. Ku lihat sudut mata mamah berair. Mamah menangis. Namun sekuatnya dia bersikap biasa. Sambil mengucek rambutku, mamah berlalu keluar kamar. Tanpa bicara lagi. Aku tahu mamah sangat sedih dan bingung.
***🔴
Tak mungkin Jiwa hilang begitu saja. Dari Nanggala ku dengar Jiwa ada di markas. Sebagai seorang perwira, yang penuh disiplin dan aturan. Jiwa tidak bisa berbuat semau-maunya saja.
Untuk bisa keluar perlu ijin ini dan itu. Jika sekarang Jiwa di markas. Karena dia tak mungkin bisa seenaknya kesana kemari. Aku memahami hal ini.
Tapi bukankah Jiwa bisa memberitahu lewat handphone ?. Ada apa dengan Jiwa. Mengapa tiba-tiba berubah tidak biasanya. Rahasia apa sebenarnya yang tengah di simpan rapat. Andai saja dia jujur, pasti tak akan menjadi seperti ini. Mengapa begitu sulit untuk jujur. Bukankah dia seorang Prajurit. Lalu dimana letak nilai kejujuran bagi seorang Jiwa.
Aku geleng-geleng kepala. Seumur hidup aku menghadapi hal yang aneh dan ganjil. Namun Jiwa jauh lebih aneh.
Aku sangat memahami dan mengerti tugas seorang tentara. Aku tahu seorang tentara punya ikatan dan aturan kerja yang sangat solid. Sehingga mereka tidak semudah itu bepergian atau jalan-jalan kemana suka.
Tapi sekali lagi hatiku protes ! Bukankah Jiwa memiliki handphone ? Bukankah Jiwa bisa dengan mudah menghubungi aku, atau mamah, atau anggota keluargaku yang lain. Memberi seulas kabar ?
Tapi mengapa Jiwa tidak melakukan itu. Mengapa tiba-tiba menghilang, lalu tiba-tiba datang bagai hantu. Hatiku kesal juga bingung.
__ADS_1
Bunga rumput tidak menuntut yang aneh-aneh dari siklus hidup yang diberikan semesta. Bunga rumput mampu menyesuaikan. Mampu bertahan sekalipun kemarau dan sengatan matahari diluar batas pertahanan makhluk. Namun bunga rumput akan tetap hidup. Akan terus bertahan. Dia lah bunga, yang sederhana. Kuat luar biasa !
Begitu kata mamah sewaktu aku masih balita. Kamu itu bagai bunga rumput. Cantik, unik namun bersahaja dan kuat luar biasa. Kamu jangan pernah mau ditawari jadi anggrek, Asoka atau pun Mawar.
Tetaplah menjadi bunga rumput. Cantik, unik, anggun namun tetap sederhana. dengan kekuatan jiwa yang istimewa.
Kata-kata dan pesan mamah kubawa hingga hari ini. Tak sedikitpun aku lupa. Bagaimana mamah mengajari aku untuk berani, kuat, bertahan dalam ko disi sulit sekalipun.
" Ning !".
Suara mamah memanggilku dari ruang belakang. Setengah berlari aku mencari mamah. Kulihat mamah duduk sendirian di pendopo kakek.
" Mari sini, temani mamah duduk disini !".
" Aku mendekat. Duduk dihadapan mamah. Mata mamah kelihatan berair. Mamah habis menangis. Ya Tuhan, aku kembali membuat sedih hati mamah. Sampai kapan ini bisa ku hentikan. Hingga mamah selalu tersenyum.
" Mamah !'.
" Iya, ada apa ?".
"Maafkan aku mah !".
" Kamu ? maafin ? emang kamu bikin kesalahan apa lagi heh !".
" Aku membuat mamah kembali berfikir. Mamah selalu saja sedih karena aku.
Siapa bilang mamah sedih ? jika kamu tahu maka kamu tak yakin mamah baik-baik saja.
Mamah hanya ingin saat ini di dekatmu.
" Sini ! peluk mamah !".
Aku spontan meluncur kedalam pelukan mamah. Walau mamah mengatakan baik-baik saja, tapi hati kecilku mengatakan, saat ini mamah sangat sedih. mamah tak akan pernah rela diriku disakiti seperti ini. Ah mamah. Maafkan aku.
Next
***🔴
Santun salam selamat datang para Readers semuanya. Terimakasih kunjungan sahabat disini.
Sudi tinggalkan untukku jejak kenangan berupa : like, coment dan vote.
Terimakasih
Salam Cinta : Asmirani 🌷
__ADS_1