Bunga Rumput

Bunga Rumput
Episode 11 Ikhlas


__ADS_3

🪴🪴🪴❤️❤️


Meja makan. Pagi ini. Hanya Bening yang belum muncul. Sejak kemaren sore, Bening murung dan banyak diam, mengurung diri dikamar.


" Bening belum bangun ?".


Suara kakek dengan batuk-batuk kecil memandang bibi juga bunda bergantian. Dan hampir bersamaan ke duanya berdiri lalu berjalan beriringan menuju kamar Bening.


Tidak berapa lama, dari ruang dalam tiga wanita hebat itu datang beriringan. Kakek menarik kursi agak dekat ke sisinya, lalu melambai kearah Bening sambil menunjuk kursi agar duduk disana.


Masih dalam aura yang amat murung Bening mendekat lalu duduk disisi kakek, sekilas Bening memandang ke arahku, mata itu kuyu tak bersemangat.


" Ayo sarapan !".


kakek menaruh semangkok sup segar ke hadapan Bening.


"Sejak kemaren kamu tak makan ! ingat ujian dan perjuangan hidup ke depan lebih hebat dari hari ini, jika tubuhmu sakit ? jika kamu lalai menjaga kesehatan ? mampukah berjuang dalam kondisi lemah dan ga sehat ?".


Diam-diam aku salut dengan cara kakek yang tegas. Semua yang di ucapkan disertai analisa dan contoh jitu. Buktinya Bening mulai menyendok sup.


" Jika tubuh sehat, fikiran akan mampu bekerja lebih baik !".


Pungkas kakek sambil mengedip ke arahku. Aku mulai meraba karakter para penunggu rumah ini. Karakter yang tidak main- main dan tidak bertumpu pada khayalan semata. Mereka orang-orang yang kuat dan cerdas. Namun sangat rendah hati dan jujur


Selesai sarapan, kakek mengajak semuanya duduk di pendopo belakang. Bunda dan bibi Mayang mulai kelihatan adem, ketegangan yang menggayut sejak beberapa hari ini mulai kendor.


Hanya aku dan Bening yang masih kaku. Bening amat berhati-hati dan jarang kumpul bersama, lebih memilih tinggal dikamar seolah berusaha menghindari kebersamaan ini.


Aku tercekat lirih entah kapan kekakuan ini bisa mencair kembali.


" Cinta kadang bisa menyemangati pemiliknya, tapi tak jarang cinta juga bisa membunuh seluruh kehidupan pemiliknya!".


Hasil perbincangan kakek dan semua yang hadir benar- benar membekas dalam. Aku melihat ketulusan seorang kakek memulihkan kembali hubungan yang retak antara bunda dan bibi Mayang.


Hanya saja ketika beralih pada masalahku dan Bening, kakek angkat bahu dan menggeleng tegas. tak banyak berkomentar. Hanya dengan satu pesan.


" Seiring waktu semua pasti akan kembali membaik !".


" Dan satu lagi pesan yang dapat kakek sampaikan pada Nanggala dan bening !" jangan putus asa dan bangkitlah segera !" rasa kecewa dan putus asa musuh terbesar dari cita- cita baik !".


Itulah perbincangan terakhir kami di pendopo belakang rumah kakek Bima. Sekarang bulan ke lima setelah kejadian itu. Aku dan bunda mendapat kabar dari kakek kalau Bening sudah kembali ke Jepang meneruskan pendidikannya. Ku lihat mata bunda berkaca- kaca.

__ADS_1


" Bunda bahagia Nang ! bening mampu memaafkan bibi Mayang dan menerima kita yang sudah pasti masih asing dihatinya !".


Aku mengangguk walau hatiku pernah mencintai Bening begitu tiba-tiba namun perlahan rasa itu mulai berobah. Aku menyayangi Bening sebagai saudara kembar ku. Akan terus ada untuk Bening dimana dan kapan pun itu.


Ku pandangi wajah bapak dalam pigura di dinding. Wajah itu tersenyum cerah ke arahku.


" Laki laki yang amat beruntung gumamku dalam hati !".


" Bapak memiliki anak perempuan yang benar- benar Bening seperti namanya ! kebencian dan dendam mental tak bisa hinggap dihatinya. Dia bahkan bangga memiliki dua ibu, meski sekian tahun kasih sayang sejati dari bunda harus tertunda, Bening mampu menerima takdir itu. Yah Bening ! Dia akan selalu Bening dalam segala cuaca.


" Dia sederhana, persis bunda, dia cantik dan cerdas ! hanya laki- laki yang sabar dan tangguh yang bakal bisa merobohkan hati nya yang begitu kuat !"


" Ternyata takdir cinta dan pertemuan yang serba aneh merupakan hadiah yang di kirim Tuhan untuk mempersatukan kami kembali !".


Bahkan yang lebih hebatnya lagi bunda dengan lapang dada menerima kehadiran bibi Mayang dan kakek sebagai bahagian dari keluarga, walau faktanya bibi Mayang telah berbuat sangat fatal dalam kehidupan bunda dan bapak.


Adakah hati yang ikhlas nya melebihi ikhlasnya hati bunda. Adakah hati bersahaja melebihi hati Bening ?


dua perempuan yang sekarang berada pada posisi tertinggi di hatiku, hati seorang Nanggala.


Nang!".


" Besok bunda mau ke.rumah kakek, Kamu mau ikut ?".


" Siap bunda ! akan ikuti kemanapun bunda pergi !".


Bunda tersenyum. Senyuman seorang ibu yang begitu sejuk dan damai di relung hati.


" Nang !".


" Siap ! ada apa lagi Bun !".


"Kamu petikin buah yang ada di kebun belakang, bunda mau bawa untuk Bibi Dan kakek !".


" Siap laksanakan ! ".


Aku mengedip bunda sambil mengambil keranjang buah dan menentengnya ke belakang. Sekilas kulihat bunda amat bersemangat sekali. Akhir-akhir ini bunda selalu minta diantar ke rumah kakek, apakah karena kakek begitu peduli dan perhatian dengan bunda, hingga ikatan hati itu terjalin semakin erat. Aku tak tahu pasti.


Sekeranjang buah sudah terisi penuh. ada sawo, mangga, pepaya dan rambutan. Menggiurkan, semua ranum dan seger. Aku hampir-hampir kewalahan mengangkat ke depan, ke hadapan bunda.


" Ini tempatnya, diisi kesini !"

__ADS_1


Dengan sedikit sombong bunda kembali menugasi aku.


" Siap bos, tugas diambil alih !"


Kulihat bunda tersenyum, berusaha sembunyikan kegirangan hatinya. Aku bahagia. Dengan cara begini aku berhasil menghibur dan menyenangkan hati bunda. Wanita terhebat yang ku miliki di dunia ini.


Tuntas semua buah ku packing. Badanku pegal dan capek. Bunda kembali menugasi ku tanpa ampun.


" Kemasi semua isi warung, bunda mau bawa ke rumah kakek !".


" Siap ! laksanakan walau udah capek banget !".


Aku berdiri. mengambil beberapa dus di atas rak paling atas. Mengemasi semua isi warung bunda dan mengikat erat dalam dus yang sudah ku siapkan. Melihat hasil kerjaku yang rapi dan bagus bunda tersenyum diam-diam. Aku hanya geleng-geleng kepala. Apa sebenarnya niat bunda aku tak mengerti. Kenapa semua isi warung di kosongkan. Apakah bunda akan minggat juga dari kampung ini. Setengah menguap aku rebahan disamping bunda.


" Aduh bos ! aus. Minta kopi hitam boleh ?".


Bunda menatapku. Lalu berdiri menuju dapur. Tak lama keluar lagi dengan se cangkir kopi hitam, wangi dan harum. beginilah selalu kondisiku dengan bunda, jika berada dirumah.


" ini kopi khusus buat anak bunda!".


Aku tahu dari awal tadi bunda sengaja ngerjain aku. Dan itu pertanda hati bunda lagi gembira.


" Mana cemilannya Bun, aku lapar !".


Sengaja aku mau balas ngerjain bunda. Tapi aku selalu gagal, karena bunda amat tahu gerak-gerik ku.


" Udah sore, bunda mau ashar dulu. Kamu jangan sampai telat !".


Sambil tersenyum menang bunda berlalu. Aku tersenyum melihat tingkah bunda. Ada rasa bahagia mengalir dalam dadaku. Bunda sangat bijak, baik dan hebat dimataku.


Bersamaan jatuhnya malam, aku terkulai di depan tv. Bunda sengaja membiarkan ku. Hingga subuh dan pagi pun tiba, bunda sudah siap dengan semua perlengkapan yang diperlukan di perjalanan nanti.


Tepat pukul 10.00 pagi aku dan bunda berangkat menuju rumah kakek.


Next


***


Salam hangat untuk para Readers SE Nusantara. terimakasih kedatangannya di novelku. tetap ku minta setulus hati Like, coment dan vote nya 🙏


Salam cinta : Asmirani 🌷

__ADS_1


__ADS_2