Bunga Rumput

Bunga Rumput
episode 7 pupus


__ADS_3

Tiga bulan bening meninggalkan tugas dan kampung ku tanpa kabar. Tentu saja semua bertanya-tanya kemana bening. Semua merasa kehilangan. Informasi dari Bu Anita yang juga seadanya makin menambah bingung semua warga.


Terutama murid- murid asuhan bening. Minggu lalu aku mendatangi pihak sekolah. Mereka cuma mengatakan bening dipindah tugaskan. Aku bisa memahami. Mungkin bening hanya guru pengganti atau sekedar mengisi waktu jelang panggilan tugas datang.


Tapi aku perlu memastikan. Mengapa bening tak pernah memberitahu hal ini sebelumnya. Memang itu hak dia. Namun setidaknya bening memiliki sedikit basa-basi bahwa segala sesuatu perlu di hadapi dengan bijak. Apalagi disini dia sangat dihargai oleh lingkungan tempat tinggal. Paling tidak bening pamitan.


Walau hatiku kecewa. Namun alamat gadis itu tetap ku kantongi. Suatu saat aku akan datangi alamat itu.Bunda tak bisa menahan langkahku ketika aku pamitan mau mengunjungi kota bening.


" Hati- hati Nang !".


Kulihat mata bunda berkaca- kaca. Aku mengangguk. Mencium tangan bunda mohon restu.


Sebelum berangkat ke kota bening. Aku menemui seorang teman yang bekerja pada lembaga Pendidikan tempat bening bekerja. Dari sana akhirnya aku mendapat penjelasan kalau bening hanya sebagai guru yang diperbantukan.


Sebelum bening datang kesana. Kampung ku terkenal sebagai tempat markasnya anak- anak nakal dan pecandu obat terlarang. Dan yang lebih parahnya disana terdapat tempat perjudian yang melibatkan orang-orang penting dari kota karena jarak ke kota cukup dekat bila di banding daerah lain.


Pengaruh kota dan letaknya yang strategis serta penduduknya kebanyakan pekerja dikota. Sulit sekali memantau orang- orang yang datang dan pergi.


Tapi sejak bening masuk dan mengajar sebagai guru disalah satu sekolah di desa. Banyak sekali perubahan yang terjadi. Anak- anak yang tadinya bersikap kurang sopan, perlahan berubah.


Tempat biasanya mereka kumpul- kumpul mulai terlihat sepi. Ada apakah dengan bening. Mengapa perubahan itu bisa terjadi. Bahkan pusat perjudian di ujung perkampungan berhasil di grebek polisi dan dibubarkan.


Bening berhasil menanamkan pelajaran moral dikampung ini. Harusnya bening jangan pergi dulu. Masih banyak yang membutuhkan kehadirannya . Ah ! Mengapa ia harus pergi secepat itu. Tanpa pamit tanpa basa-basi.


Akhirnya kaki ku menginjak kota bening. Sebuah kota yang tenang. Perjalanan kereta yang melelahkan. Semalaman aku tak bisa tidur.


Memasuki perumahan yang di jelaskan dalam alamat yang kubawa. Mataku mencari rumah ber nomer 247. Kediaman bening.


Sebuah rumah bercat biru kontras, dengan halaman yang luas asri sekali. Aku mendekati pintu gerbang dan membuka perlahan. Dari dalam ruangan seorang kakek keluar, rambutnya putih mengkilat mendekat ke arahku.


" Anak muda, mau cari siapa ?".


Aku mengulurkan tangan ke arah kakek yang menyambut dengan ramah.


" Saya Nanggala, teman bening !".


Jawabku sopan. Sejenak sang kakek terpana. Matanya menatapku seksama. Lalu seulas senyum ramah kembali bermain di celah bibirnya. Panggil saja kakek Bima ucapnya mengenalkan diri.


" Silakan masuk, anak pasti lelah sekali".


Sang kakek mempersilakan aku masuk. Sebuah ruang tamu yang amat luas.Tapi mengapa rumah ini amat sepi sekali. Aku menyandar kan tubuh kedalam sandaran kursi tamu yang begitu empuk. Ingin rasanya tidur melepaskan lelah dan pegalnya tubuh sepanjang perjalanan.


Kakek Bima berlalu masuk ke ruang dalam. Tak berapa lama keluar membawa minuman dan makanan kecil. Aku makin bingung, dimana penghuni yang lain. Mengapa dari awal datang yang ku lihat cuman kakek Bima. ku pandangi sang kakek sedikit bingung.


"Minum dan cicipin makanannya dulu ! kamu pasti aus !".


Kakek seolah mengerti apa yang ada dalam benakku.


" Kamu istirahat dulu melepas lelah, kamu pasti capeksekali. Setelah itu kita bincang- bincang. Itu kamarnya, silakan !".


Kakek Bima menunjuk sebuah kamar di bagian depan. Sejajar kursi yang aku duduki. Aku mengangguk santun ke arah kakek.


Memasuki kamar aku tak sabar ingin segera merebahkan tubuh. Selanjutnya aku tertidur begitu lama. Terbangun jelang Zuhur. Mandi dan sholat.


Diruang makan kakek sudah menantiku dengan makanan segar yang memancing lapar. Kakek tersenyum, lagi- lagi hanya dia yang melayani aku.


Usai makan siang, kakek mengajakku ke taman belakang. Ada ayunan tempat bersantai. Kakek mempersilakan aku duduk.


Sambil berselonjor kaki. Kakek Bima duduk di depanku juga menjulurkan kakinya.


" Maaf anak muda, dari tadi mungkin kamu bingung, mengapa hanya kakek yang kamu lihat ada disini,"


Aku mengangguk tak sabaran. Aku ingin sekali mengetahui dimana bening.


" Benar ! dirumah ini hanya kakek dan kucing itu!".


Kakek mengarahkan telunjuknya pada seekor kucing yang terkurung dalam kurungan besi. Anggora berwarna putih. Aku menunggu kelanjutan cerita kakek Bima. Duduk termangu menatap wajah tua itu.


" Bening banyak bercerita tentang kamu dan ibumu !".


aku kaget mendengar penuturan kakek Bima.

__ADS_1


" Iya, makanya waktu kamu datang, kakek langsung buka gerbang tanpa ragu, karena jauh sebelum kamu kesini, wajahmu sudah datang duluan.


" ini, fotomu bukan ?".


Kakek mengeluarkan sebuah foto dari kantong jaket nya. Aku kembali mengangguk. Kakek Bima tersenyum dan mengeluarkan sebuah foto lain.


"ini ibumu ?".


Aku lagi- lagi hanya bisa mengangguk. Bening sudah mengirim wajah ku dan bunda pada keluarganya. Pantas saja kakek tanpa ragu menyuruh ku masuk, mandi, tidur seperti dirumah sendiri, tanpa ragu. Padahal baru pertamakali bertemu.


" Bening telah bercerita banyak tentang kamu dan ibumu. Tentang kampung dan sekolah tempat dia mengajar. Semuanya tanpa bersisa satupun !".


kakek kembali tersenyum, kali ini senyumnya kelihatan agak kecut.


" Bening yakin kamu bakal datang kesini !".


kakek kembali berkata pelan.


" Bening hanya ingin tahu apakah kamu benar-benar mencintai dia. Sebaik dan setulus cinta bapaknya mencintai ibunya !".


Aku tersentak kaget, mengapa bisa sama, cerita kakek Bima dengan cerita bunda. Cerita ini juga kudengar dari bunda. Perjalanan hati bapak dalam memperjuangkan cinta bunda.


" Bagaimana cerita bunda mu?".


Tiba- tiba kakek Bima bertanya.


" Sama kek, seperti cerita kakek !".


Kakek Bima memandang ku nanar. Wajahnya kebingungan. Tapi cuma sesaat. Detik selanjutnya beliau tertawa pelan.


" Mengapa bisa sama !".


" Karena bunda juga cerita begitu, perjalanan hati bapak dalam mendapatkan cinta bunda !".


Kakek Bima termenung, sambil mengelus dagunya yang licin.


" Ternyata dunia ini banyak menyimpan cerita rahasia yang sama !".


" Tapi sayang, ceritamu dan bening memang sama, namun jauh berbeda! kamu dibesarkan sempurna oleh kedua orangtuamu. Beda dengan bening hanya dibesarkan oleh seorang kakek dan bibinya.


Aku terpana, kakek Bima mengangguk membenarkan ceritanya.


" Apakah kamu anak tunggal ?".


Kakek bertanya spontan.


" Iya kek !".


Kakek Bima manggut- manggut. Menatap mataku dalam sekali.


" Kamu benar ! kamu anak muda yang jujur !".


Aku menarik nafas lega. Berucap syukur diam- diam.


" Bening gadis yang malang. Kamu masih mau mengejarnya ?".


" Dari kecil bahkan sejak bayi dia tak pernah merasakan di gendong bapak ibunya !".


Mata kakek berkaca- kaca.


" Kedua orang tuanya tak menghendaki Bening ada diantara mereka !".


Aku terhenyak kaget. Rasa penasaran memacu inginku untuk lebih tahu.


" Bening bayi, di titip pada seorang pembantu di rumah mereka, dan pembantu itu anak kandung kakek. Bibinya Bening yang sekarang. Saat itu kedua orang tuanya melahirkan anak kembar dirumah sakit yang sama. Ketika itu mereka hanya mengambil bayi laki laki karena mereka beranggapan anak laki laki jauh lebih kuat, dan anak perempuan hanya membawa beban !".


Bening tak sempurna memiliki kasih sayang. Namun dia justru tidak pernah membenci kedua orang tuanya. Dari belajar ngomong bertanya hingga saat ini. Masih terus bertanya, siapa, dimana orang tuanya. Dan ini merupakan tujuan hidupnya. Mencari dan menemukan keduanya kembali !".


Tak ku sangka akhirnya kakek Bima menangis sesungukan. Dan lebih tak ku sangka seorang Bening mengalami nasib yang teramat pahit begini.


Aku hanya diam dan terdiam. Kakek meraih tanganku.

__ADS_1


" Maafkan kakek ! sebenarnya kakek yang menyuruh bening segera pulang ! ".


"Tapi kek, tugas bening ?".


" Tugas dan kerjaan bisa di cari lagi, hanya saja karena bening mulai pakai hati !".


Aku terkesima. ucapan terakhir kakek Bima membuatku penasaran sekali.


" Ada yang salah jika bening mulai main hati kek !".


" Iya, dia masih muda, jalannya panjang, dia belum boleh jatuh cinta !".


" Itu hak bening kek !".


Aku mulai bisa meraba kearah mana kakek Bima tengah mengurai analisa. Dan aku mulai rasakan jika kakek Bima sebenarnya tak suka dengan hubungan cinta bening.


" Setiap kali memberi kabar, Bening selalu bercerita tentang nama seorang pemuda, Nanggala ! yaitu kamu. Penasaran dengan nama itu. Suatu hari kakek minta foto wajah mu ! bening mengirimkan foto itu !".


Kakek menunjuk foto ku yang di bingkai pigura merah hati di dinding.


" Dan itu foto ibu mu !".


Kakek menunjuk ke arah bingkai berwarna sama.


"Itu foto pertama yang di kirim bening !".


Suara kakek berubah jadi serak.


" Cinta tak pernah salah kek !"


Aku memandang laki-laki tua itu tajam.


" Benar ! cinta tak pernah salah ! tapi bukan kamu Nanggala !".


Aku terhenyak. Mataku bagai menatap beribu kunang- kunang. Pusing, mual, berputar-putar. bagai di hempaskan dari ke tinggian yang amat tinggi. Sakit sekali.


" Dimana salahnya kek ! Mengapa aku tak boleh bahagia ? Aku mencintai Bening pertama kali bertemu. Aku belum pernah merasakan hal begini sebelumnya !".


Aku berdiri duduk bersimpuh dikaki kursi dimana kakek Bima diam terpaku.


" Berilah ijin aku mencintai Bening kakek !".


Airmataku luruh. Sebagai laki-laki aku amat jarang menangis. Apalagi seperti ini. Tapi penyangkalan kakek Bima akan rasa cintaku menyakitkan sekali.


" Tidak !".


Tegas suara laki-laki itu bergema di ruangan tempat kami duduk.


"Memangnya kenapa kek. Dimana salahnya !".


"Bening juga meminta hal yang sama. Tapi akhirnya dia mengerti. Kakek tahu dia sangat kecewa dan terluka dalam. Tapi nanti juga bakal sembuh !".


" Bening masih muda jalannya masih panjang, kakek telah memberi ijin dia melanjutkan studi ke Jepang sana ! agar lebih matang dan bisa melupakan kisah ini !".


Dingin sekali ucapan terakhir kakek Bima. Hatiku tercekat ngilu. Ruangan berubah jadi kuburan. Diam sepi seketika.


Tertatih aku mengemasi tas ransel ku dikamar. Dengan masih tertatih ku ulurkan tangan santun. kakek menyambut dan memeluk tubuhku erat. kurasa tubuh tua ini berguncang menahan tangis. aku sudah tak peduli. Yang aku rasakan saat ini dunia serba aneh, menyakitkan sekali. Keanehan dunia itu telah memutar, menyeret dan membanting tubuhku tanpa ampun.


sakit sekali.


"Mohon pamit kek !".


Itu kata terakhir yang sanggup aku ucapkan. Tanpa menunggu apapun, aku berlalu keluar. Aku kecewa sekali.


Next


***


Santun salam sayang para Readers SE Nusantara.


terimakasih kunjungannya. Tolong titipkan jejak kenangan sahabat semua : like,coment dan vote

__ADS_1


Salam Cinta : Asmirani 🌷


__ADS_2