
✍️✍️✍️
Dua laki-laki itu berdiri bersisian menatapku.Tak ada sedikitpun yang berbeda dari mereka. Tinggi atletis dan sama tampannya. Hanya baju yang mereka pakai akhirnya terlihat beda diantara keduanya.
Bintang dengan seragam krops nya. sedangkan Nanggala santai dengan kemeja biru bawahan jeans abu muda. Dari banyolan dan cerita kemaren Bintang masih berpangkat letnan satu. Bapaknya peranakan Jepang Indonesia sudah meninggal sejak Bintang berumur satu tahun. Sebagai anak tunggal, Bintang di asuh pamannya sejak kecil, ketika duduk di bangku SMP ibunya pun meninggal.
Lengkap sudah yatim piatu itu di adopsi pamannya, yaitu adik tunggal sang ibu, yang amat menyayangi dan memanjakan Bintang. Hingga sang bintang benar-benar bersinar bagai bintang. Asuhan paman dan bibi yang sangat telaten, penuh disiplin dan tanggung jawab utuh.
Sang paman seorang pengusaha terkenal dikotanya, memiliki cabang perusahaan cukup banyak. Salah satunya yang sekarang dikunjungi Bintang di daerah kyoto Jepang, Bintang sebagai penanggung jawab disamping tugasnya sebagai seorang tentara kadang hampir tak punya waktu mengurus anak perusahaan yang menjadi tanggung jawabnya. Begitulah sang Bintang yang tumbuh cemerlang menjadi seorang bintang sejati.
Aku dan Harumi pagi-pagi sekali di ultimatum kedua orangtuanya untuk mengantarkan ransum sarapan pagi ala Jepang. Sebenarnya sisa capek dan lelah sore kemarin masih bergelayutan di kaki dan seluruh tubuh. Namun mami Harumi memaksa aku dan Harumi bangun. Begitu mereka tahu kalau Nanggala ada di apartemen Bintang. Kontan inilah yang terjadi, menjadi kurir pengantar sarapan pagi untuk dua orang laki-laki hebat ini.
" Bening !" kamu memikirkan sesuatu ? dari tadi kamu murung banget !".
Harumi berbisik pelan di telingaku. Begitu keluar dari apartemen Bintang.
" Ya, Harumi ! ternyata aku belum bisa terima Nanggala sepenuhnya sebagai saudara ku. Masih saja perasaan asing ini muncul ".
mataku mulai berkaca-kaca. Harumi meraih pundakku.
" Sabar Bening ! kamu harus bisa keluar dari rasa sakit mu itu !".
" Bagaimana dengan Bintang !"
tiba-tiba Harumi menatap mataku lekat. Aku menggeleng. Sealur Isak yang dari tadi berusaha ku tahan, akhirnya pecah juga.
" Bintang hanya sahabat. Aku tidak memikirkan dia ! ga bisa !".
Harumi makin erat memeluk pundakku. dimatanya mengambang air mengkilat bagai kristal.
__ADS_1
" Terimakasih sudah menemani dan mendengar cerita hatiku, Harumi. Maafkan , aku hanya bisa seperti ini. Ga bisa secepat itu menghilangkan rasa yang pernah singgah dihatiku. Perlu waktu lama membuang semua yang pernah hadir disini !".
" Sehebat itukah ?".
Kata-kata Harumi mengambang di udara. Matanya di penuhi air. Aku hanya mampu memandang tak berdaya, ketika Harumi kembali memeluk ku erat.
" Aku akan menemani kamu Ning ! aku ingin kamu keluar dari rasa sakit itu !".
" Berjanjilah untuk tidak memilih sunyi menjadi jalan hidup mu ".
Banyak yang menyayangi kamu Ning ! hanya saja kamu menutup semua itu dengan kesedihan dan luka yang terlanjur ada !".
Yang mampu aku lakukan saat ini hanyalah menangis. Menangisi takdir ku yang begini pahit. Aku ga tahu dimana salahnya. Aku hanya objek penerima dari yang mengirim takdir.
Pantaskah aku marah dan berontak . Itu tak mungkin. Menerima segala ketetapan dengan sabar itu yang kulakukan. namun jika menjauh dari hal yang menambah cedera hati apakah sebuah dosa. Aku tahu hatiku belum mampu menerima titipan rasa apapun saat ini. Biarlah waktu menghapus segala kesakitan, suatu masa nanti aku pasti bahagia.
Mobil memasuki pekarangan rumah Harumi. Rumah mungil dengan arsitektur unik. Halaman yang luas menyambut kaki ku menuju pintu utama, pintu geser yang mewah seperti biasanya pintu rumah di Jepang. Seorang wanita berwajah putih dengan mata sipit menyambutku ramah. Dari kemarin aku tak melihat wanita ini. Harumi lupa mengabari kalau dia kedatangan tamu, adik dari ibunya.
"Itu pasti bi, seluruh Kyoto dan negri sakura ini akan dijelajahi Bening !".
Begitulah candaan Harumi ketika obrolan dengan bibi usai dan kita kembali masuk kamar, melanjutkan istirahat yang tertunda. Karena subuh-subuh sekali mamah Harumi sudah memberikan perintah tentang sarapan pagi yang barusan selesai aku dan Harumi antar kan ke apartemen Bintang.
" Malam nanti kamu nginap disini aja lagi Ning ! aku khawatir kondisi mu. Jika terus sendirian kamu semakin terpuruk !".
Begitu Harumi memutuskan, begitu kami berada dikamar . Berselonjor melepas penat. Harumi memberiku segelas cake panas.
" Minumlah, bagus untuk menghangatkan tubuh. Juga bisa jadi therapy penenang. Kamu musti banyak rilex. Jangan tegang terus !".
"Itu minuman tradisi keluargaku. Campuran cengkih,.kayu manis dan banyak lagi, aku ga tahu persis bahannya ! mamah sering buat ini. Rutin di minum ! biar ga masuk angin juga anti lelah !".
__ADS_1
Rasa hangat dan seger menjalari tenggorokan. nikmat sekali .Harumi tersenyum manis. mengacungkan jempol tinggi-tinggi. menyemangati ku. Pagi ini belum ada yang perlu dikejar. Nanggala dan Bintang masih banyak urusan. Kita sepakat nanti jika sudah longgar waktu sibuknya. Mungkin karena dingin, aku dan Harumi juga terlelap.
pukul 10.00 waktu Jepang. mamah Harumi membangunkan dengan aroma makanan yang diantar ke dalam kamar.
" Kebiasaan Harumi, Ning. jika ga begini ga bakal bangun . Di depan ada dua orang menunggu. Mamah langsung kesini.
Mamah memberitahu santai. Aku dan Harumi sontak bangun. Berlarian ke kamar mandi. Bukankah hari ini sudah janji mau pesiar ke pelosok Kyoto.
Lima belas menit Harumi sudah rapi dengan celana gunung dan sweater biru langitnya yang cantik. Aku juga sudah siap . Berdiri manis dihadapan mamah Harumi, pamitan pergi.
Mamah mengangguk dan wanti-wanti jangan pulang kemalaman. Harus pakai penghangat, Jangan telat minum dan makan yang sehat. Hati-hati dan sebagainya. Biasalah nasehat orangtua, yang sarat dengan boleh tak bolehnya. Aku dan Harumi hanya mengangguk, mengiyakan.
" Siap mamah !".
Harumi mencium kedua belah pipi mamah sambil pamit pergi. Aku juga melakukan hal yang sama. Mamah Harumi sangat baik dan perhatian. Aku sudah dianggap sama seperti Harumi. Hatiku bahagia.
Nanggala dan Bintang bertanya macam - macam. kenapa telat, kemana aja di panggil ga nyahut. Aku dan Harumi hanya bisa tersenyum meminta maaf. Perjalanan menyusuri Kyoto. Mudah-mudahan menjadi kenangan indah, diantara kita berempat. semoga..
next...
****
hi... sahabat Readers se nusantara 🙋
makasih yang sudah mampir..🙏😘😘
jangan lupa tinggalkan jejaknya like coment and vote nya ya temen-temen 😘😘
semoga novel ini bisa memanjakan imajinasi men temen semuanya...
__ADS_1
salam cinta : asmirani 😘😘