Bunga Rumput

Bunga Rumput
episode 3 Bunda


__ADS_3

✍️✍️✍️


Sontak berdecak kagum.Indahnya ! pemandangan jelang malam tepi laut Tagarraja. Elok molek itu pesan yang sampai ke otak dan hatiku. Air laut berkilau bagai emas diatas riuh rendahnya riak yang datang mengejar tepian pantai. Beberapa kapal menarik tali sauh dan melaju menuju pasang dan gelombang. Beberapa bocah kecil.berlarian riang kesana kemari mengejar ombak, mencari sipit dan kerang kecil. Aku hanya bisa tersenyum.


Tak mubazir aku memilih tempat sunyi ini. Tak sia sia aku kebut lari mobilku hingga argo meternya melebihi yang biasa ku pacu. Nyaman dan tenang jauh dari kebisingan. Mengambil posisi disalah satu bangku kayu yang sengaja dibuat untuk pengunjung, ku lepas tas ransel dan sepatu duduk berselonjor memandang langit menyaksikan matahari sore pelan pelan tenggelam dibatas ombak.


Kembali. Sudah dua hari ini. Setiap pulang kerja.aku berbelok ke pantai ini. Suasana alamnya yang indah, tenang, dan cantik menghibur ke gundahan ku sejenak. Dua hari ini aku selalu pulang telat. Bunda juga selalu bertanya, mengapa.


Aku hanya menjawab sibuk. Namun aku tahu hati bunda tidak bisa di bohongi.


Ini terjadi sejak aku mengenal bening. Ini amat sulit ku kendalikan. Dan aku tidak bisa berkompromi. Hati ku mulai seperti yang sekarang ku rasakan. resah, gundah, sedih, penasaran berbagai rasa mendatangi hati.


Aku tak pernah menghendaki suasana yang begini, Tapi sang Maha Pencipta memberikannya pada ku. Berat rasa ini harus ku jalani, sebagian hati dengan bahagian yang lain nya sudah tak lagi akur Sebagaimana biasanya.


Bening mengapa harus gadis itu. Mengapa mesti dia yang datang mengambil seluruh asa ku. Se ajaib itukah cinta. Datang dan masuk tanpa tawaran dan persetujuan. Gadis sederhana yang amat bersahaja. berhati putih dengan prilaku ya g amat sa


Aku tak menyesali, namun mengapa ketika ini, saat hatiku belum siap dan belum tahu jalan apa yang harus ku lakukan. Bening, gadis itu tak tahu dan tak akan pernah tahu. Bukan salah dia juga bukan kesalahan ku.


Waktu dan kondisi memposisikan aku dan bening berjumpa. Dan rasa itu tak ku halangi hingga terjun bebas menyerang hati.


Senja kian jatuh, temaram bibir laut mulai dijilat malam, Dua hari sudah senja ku nikmati disini. Dan kali ini senja terlama aku duduk merenung disini.


Aku harus pulang, kasian bunda sendirian dirumah, Pasti bunda menungguku terlalu lama. Bunda tak boleh kawatir apalagi cemas, itu prinsip yang selama ini ku terapkan dalam setiap tindakan dan sikap.

__ADS_1


Bagiku bunda adalah cahaya dan kekuatan dalam menempuh jalan hidup. Selama ini aku hanya memiliki bunda. Sejak bapak meninggal lima tahun lalu.


Ku tapaki pasir yang terasa hangat menuju areal parkir.Ketika ini alam sudah mulai gelap, bayangan siluet senja yang sebentar tadi masih mengambang di atas ombak telah berganti gulita. Kerlip lampu nelayan kelihatan terombang-ambing dipermainkan ombak.


Pelan ku pacu mobil menuju pulang. Hati ku menyerah pasrah pada gelombang rasa yang kini menelan seluruh logika berfikir ku. Tidak biasanya seorang Nanggala mengasingkan diri hingga Berjam jam di pinggiran sunyi bibir pantai, seperti saat ini. tidak biasanya seorang Nanggala menjadi lembek dan murung walau kondisi jauh lebih sakit dibanding kondisi hari ini.


Aku ingin ini tidak menjadi sebuah cerita panjang yang membuat ku sakit. Karena persoalan rasa ini tersangkut pada hati seorang Bening. Guru muda yang mengabdi di kampung ku. Sesuatu yang sulit dan diluar nalar jika hal ini akhirnya di ketahui Bening. ini yang membuat ku jadi ga nyaman dan nyaris hilang ke seimbangan dalam berlogika.


Mencari jalan keluar dari persoalan rasa ini, namun mata kasat ku tak menemukan pintu. Haruskah aku berterus terang pada bunda ? Bukankah bunda juga pernah mengalami hal begini disuatu masa dulu ?


Terjebak dalam dimensi rasa dan dihadapkan pada logika yang buntu. Bunda pasti pernah mengalaminya. Barangkali dengan berterus terang pada bunda, mungkin aku bisa menemukan jalan baik untuk keluar dari segala jeratan. Yah, bunda pasti tahu caranya.


Mengapa aku tak mencari bunda lalu menceritakan semua yang terjadi pada hatiku saat ini. Mengapa aku malah melarikan diri dan menyembunyikan rasa ini dari pantauan bunda. Sebongkah penyesalan menabuh hatiku bertalu-talu. Hati ku yang hebat.


Dengan tak sabar ku pacu laju mobil. ku ingin segera bertemu bunda dan membagi beban yang membuatku jadi seperti ini. Bunda lah penenang segala resah sedih gundah dan cemas ku. bunda ga akan pernah salah dalam memberi arah.


Tiba tiba aku merindukan pelukan dan usapan bunda, begitu pekat dan tak sabar hatiku sampai di rumah. disana lah awal dan akhir jalan ku, di dalam arahan, nasehat, kasih sayang dan cinta sejati . bunda maafkan aku lupa padamu saat aku panik begini. malam mengiringi laju kendaraan yang ku pacu kencang. segera sampai dirumah, disana tempatku ketika ini.


Tanganku baru saja terangkat hendak mengetuk pintu. Jam menuju angka 23. Tepat hampir memasuki malam. Bunda muncul dengan wajah cemas. Matanya memandangi seluruh tubuhku dengan teliti. Aku tahu, bunda amat mencemaskan diriku.


"Dua hari ini kamu selalu telat !".


Bunda menegurku lembut. Sambil menaruh teh hangat seperti biasanya. Ku hirup teh buatan bunda, terasa hangat menjalari tubuh. Aku berdiri, menaruh peralatan di kamar dan segera menyiram tubuhku yang terasa lengket asin angin laut.

__ADS_1


Begitu selesai dan merasa lebih segar. Aku mencari bunda. Ku dapati bunda sudah tidur pulas. Biarlah esok aku akan kabarkan cerita hati dan perjalanan ku sejak dua hari ini. Dengan bunda beban di dada ini akan segera berkurang dan pasti ada jalan keluarnya.


Aku masih duduk di ruang depan. Ketika ayam berkokok bersahutan. sudah pagi, Sebisanya aku harus bisa tidur walau hanya 30 menit.


Akhirnya yang terjadi adalah,aku dibangunkan bunda. Saat waktu Zuhur sudah sampai.di batasnya. Begitu lama aku tergeletak tidur pulas di kursi depan. Bunda hanya menatapku. Seolah bunda amat memahami apa yang sedan aku alami.


".Kamu kenapa Nang !".


Bunda bertanya halus. Begitu aku selesai menikmati makan siang. Duduk di beranda depan, menemani bunda mengemasi jualan.


Ku senyumi bunda. Suatu hari nanti aku akan cerita dengan bunda semua yang aku rasakan hari ini. Sekarang waktunya kurang pas. Pembeli di warung bunda terlalu ramai. Suasana sama sekali tak berpihak kepadaku. Sambil membantu melayani pembeli aku terus berfikir. Apakah bunda bahagia jika aku seperti ini ?. Entahlah


Next


➖➖


Salam.santun para readers semuanya. terimakasih Sudi berkunjung, terimakasih juga Sudi berikan aku : like, coment dan vote


Semangat dan dukungan sahabat adalah jalanku menyelesaikan novel ini tuntas hingga finis.


Salam Cinta. : Asmirani


Terimakasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2