
Begitu ringan dan lepas. Dahsyat nya. Ketika hati berhasil membuka tabir diri. Walau pahit namun mampu melegakan. Meringankan sesak yang sejak beberapa hari ini, mulai berhamburan di ruang hati.
Membuka logika buntu. Rumit dan sengit. Berlari kencang menuju final. Mata hati dan Cahayaku. Sosok istimewa, yang selama ini menemani hatiku.
Ia cahayaku, kekuatanku, penyangga semangatku, Pendengar rahasia hatiku paling aman.
Dengan ringan tanpa ragu dan malu, kejujuran hatiku membuka katupnya. Pengakuan paling tulus meluncur tanpa ragu dari bibirku.
"Aku jatuh cinta, bunda".
Kejujuran hati dan beban itu telah ku lepas, dalam pelukan hangat, elusan penuh cinta. Bunda menatap ku lekat. Mata teduh bijaksana itu memandangi wajah ku, sebuah senyuman yang teramat tulus tersunging jelas tanpa basa basi.
" Siapa gadis itu !"
" Bening bunda".
"Sejak kapan kamu jatuh hati,"
Bunda bertanya amat santai dan ringan. Menggiring hatiku dengan nyaman, membongkar segala rahasia. Bunda terus menatap lekat kedua bola mataku. Tatapan hangat seorang ibu.
"Sejak sore pertama datang kesana,"
"Kamu yakin Nang ?".
Aku mengangguk.bunda tersenyum Arif. Kedua bola mata itu kulihat bersinar bahagia.
"Cinta dan rasa suka itu hal yang lumrah, wajar dan anugrah, asal kamu bijak menyikapinya !".
Bunda mengelus kepala ku. Elusan tangan seorang ibu. Menenangkan sekali. Ikhlas tak tertandingi. Sikap dan cinta ini yang telah membentuk ku. Mengukir jiwaku sesuai inginnya. Hingga menjadi diriku yang sekarang. Tuntunannya yang tidak main-main. Agar aku sempurna jadi seorang laki laki.
Bertahun bunda membentuk jiwa ragaku. memperbaiki mental, hati dan pemikiran ku. Agar bersikap dan perilaku baik, bertanggung jawab sebagai seorang laki-laki sejati.
Bunda adalah kekuatan dan penyemangatku dalam melangkah. Tanpa lelah mengisi hatiku agar mampu berdiri tangguh.
Bagiku bunda adalah seorang wanita hebat. Teramat istimewa. Tiada satu pun makhluk yang bisa menandingi Bundaku.
" Apa rencana mu Nang !"
bunda kembali menanyai hatiku. Sambil mengaduk teh hangat dan menyuruhku bangun, duduk disamping bunda.
" Aku akan menyimpan semua cerita hati ini, bunda!".
Lagi lagi bunda tersenyum, Menepuk pundak ku halus, terdengar suara tawa bunda yang bijak, amat teduh menyejukkan hati.
"Aku ga mau bening tahu tentang aku dan hatiku Bun !".
" Kamu yakin ?".
__ADS_1
"Yakin bunda !".
Kesekian kalinya kulihat bunda tersenyum. Menatap lekat bola mataku.
"Benar yakin ?".
Aku mengangguk, mencoba memantapkan hati dengan keputusanku. Bunda kembali berkata halus.
" Selama ini bunda selalu mengajari kamu untuk berani dan bertanggung jawab. Bunda tak pernah memberikan pelajaran takut dan patah arah !. Jadi bunda berharap kamu tidak menyesal dengan keputusan hatimu itu !".
Aku termangu. Ku tatap wajah lembut bunda lama. Mencari makna dari kalimat yang barusan di ucapkan. Hanya senyuman dan anggukan lembut yang bermain-main disana.
"Jangan bingung ! ayo bangun. Hal ini wajar dan biasa !. Yang tidak wajar adalah ketika kamu terus dan terus menolak cinta. Ingat Nang ! cinta bukan sebuah kesalahan !".
Bunda berdiri dan berjalan ke ruang dapur. Sejenak kemudian semangkuk ubi rebus panas sudah terhidang di hadapanku.
"Kita sarapan, sambil melanjutkan ceritamu dan kemauan hatimu ke depan !".
Kutarik bangku kayu lebih merapat kehadapan bunda. Duduk disana sambil menghirup teh hangat. lagi dan lagi.
" Nang !".
Bunda menatapku sejenak.
"Pernah membaca sebuah kisah dan perjalanan hati ?".
Kembali bunda melanjutkan kalimatnya.
Aku sadar kesibukan kampus. Belajar dan juga mengajar telah melupakan aku pada urusan cinta dan asmara.
Dan aku sangat menyadari, banyak benar hati yang ku tolak. Lalu kemudian menjadikan mereka sahabat serta teman pada akhirnya.
" Perjalanan hati dalam mendapatkan sejati nya kisah hidup !'.
Bunda kembali berkata pelan. Sambil menghirup teh hangat. Amat tenang sekali.
"Kisah dimana bun ?".
"Maksudmu ?".
"Kisah di maya atau nyata !".
"Nyata dan ada!".
Bunda menjawab tenang sambil mengunyah ubi. Menikmati sarapannya dengan tenang. Bunda memang amat menakjubkan hatiku, jika sudah mengurus masalah yang beginian.
"Siapa dia bunda !".
__ADS_1
"Almarhum bapak mu !".
Aku terpana, baru hari ini bunda bercerita tentang kisah bapak. Baru kali ini ku dengar. Yang ku tahu selama ini bapak adalah seorang prajurit yang mengabdi sesuai sumpah dan janji nya. Dan yang paling ku kagumi bapak mengemban tugas di seluruh pelosok Nusantara, berpindah dari satu pulau ke pulau lainnya dengan sangat setia.
Prajurit yang gagah berani menaklukkan hutan belantara dalam rangka menjaga negeri. Prajurit yang sangat loyal dan disiplin pada atasan serta bawahannya.
Ini yang sering kudengar dari kolega bapak juga dari cerita bunda. Dan tak ku sangka ternyata bapak juga memiliki kisah unik. Aku jadi penasaran. Ku geser duduk ku lebih merapat disamping bunda.
" Gimana kisahnya Bun ?".
Bunda melirik kearah jam yang menggantung di dinding. diatas kami. Lalu memandang lembut ke arahku.
" Panjang sekali kisah itu Nang. Perlu waktu khusus. Jika kamu ingin tahu tentang kisah bapakmu.
"Sebentar lagi bunda mau belanja ke pasar dan kamu ? hari ini tentu sangat sibuk sekali !".
Aku mengangguk, bunda mengelus kepala ku dan beranjak ke ruang dalam.
Perjalanan hati dan kisah hidup bapak. Sebagai seorang laki laki. Betapa aku ingin mendengarkannya.
" Adakah dalam kisah hati itu adalah bunda ku ?". Ah !". Aku akan sabar menunggu waktu kosong yang panjang. Sesuai janji bunda. Kisah yang sangat panjang dan perlu waktu khusus.
Ku senyumi wajah bapak yang tergantung dalam bingkai pigura di dinding. Tanganku terangkat membentuk posisi hormat.
" Siap Ndan ! ijin mendengarkan kisah hatimu !".
Foto dalam bingkai pigura tersenyum khas. Seolah memberi ijin aku mengetahui jalan hidup bapak. Aku mengangguk. Sekali lagi dalam posisi hormat. Tangan ku angkat santun. Menatap kedua bola mata itu lekat. Mata yang tajam dan sangat berwibawa. Aku benar-benar bangga menjadi putranya.
" Nanggala anak mu telah jatuh cinta Ndan !".
Bisikanku pelan, dihadapan bingkai yang diam membisu. Hanya sebuah bisikan. Namun mampu membawa hati dan perasaanku saat ini seolah tengah berhadapan dengan bapak.
Amat terasa magisnya. Kental sekali suasana nyaman dan syahdu. Aku yakin bapak tengah melihatku, berada di hadapanku, seperti yang terasa dalam aura ruangan ini.
Bapak tidak membiarkan aku sendirian mengenal kehidupan cinta pertamaku. Bapak seolah ingin mengatakan padaku, agar tidak mudah mengukir janji dan bertanggung jawab dengan sebuah hati.
Bingkai pigura itu bergoyang-goyang di tiup angin. Hatiku amat plong. Seketika percaya diri dan kekuatan mengaliri dadaku. Wajah dalam bingkai itu seolah berkata. Aku tidak boleh takut dan menyerah.
" Bapak !".
Ku eja kata ini lamat-lamat. Semoga bapak bisa merasakan suasana hatiku saat ini. Disana. Di alam berbeda.
Next
****
πΊπΊ
__ADS_1
Santun salam selamat datang para readers se-nusantara. terimakasih atas kunjungannya. Sudi tinggalkan untukku jejak kenangan : like, coment, dan vote.
Salam Cinta : Asmirani π·