Bunga Rumput

Bunga Rumput
episode 17 Matahari tenggelam di Yuhigaura


__ADS_3

✍️✍️


Lidah ombak menjilati kaki ku yang terjulur ke bibir pantai. Pilihan terakhir Bintang dan Nangala adalah laut, setelah puas mengelilingi hutan sakura dan museum unik di sepanjang Kyoto. Wajah yang sumringah ditengah kelelahan yang panjang, bukan lagi menjadi hal penting.


Tamasya hari ini menjadi kenangan untuk semua hati yang berjalan dalam fikiran sendiri-sendiri. Harumi dan Bintang juga Nanggala kelihatan begitu antusias menikmati setiap waktu terbaik yang diberikan semesta. Tak ada aroma jengkel apalagi capek. Semua larut dalam kegembiraan yang penuh. Apakah ini sebuah permulaan, atau hari ini sebuah akhir. Sulit dicerna akal. Yang terpenting disini ada tawa, canda, penuh kebahagiaan dalam pandangan mata biasa.


Capek berlarian kesana kemari mengejar ombak, akhirnya kakiku terhenti disini. Memilih duduk di pusaran pasir putih mengkilap diterpa cahaya matahari siang. Menyaksikan Nanggala, Harumi dan Bintang bermain ombak di kejauhan sana. Sesekali Nanggala melambai. Menyuruh aku mendekat. Tapi aku menggeleng. Lebih enak memandangi ombak sambil melihat mereka bermain. Pemandangan yang menurutku lebih menarik dan bikin senyum geli.


Bintang berlari keluar area permainan. Sekarang yang tinggal Harumi dan Nanggala . Yang timbul tenggelam dalam pusaran ombak.


Pantai yang memanjang sekitar enam kilometer. Yuhigaura, Taman miniatur dewa, begitu orang Jepang menyebutnya. Pantai Yuhigaura populer dengan pemandangan langit saat mataharinya tenggelam diwaktu sore. Seluruh langit Yuhigaura akan memancarkan warna merah muda cerah , seolah-olah alam yang keluar dari negeri dongeng.


" bening !".


Suara Bintang mendekatiku. Rambut dan pakaiannya basah kuyup bekas jilatan ombak. Duduk di sampingku dengan nafas terengah- engah. Kelihatan sekali dia lelah. Aku tersenyum memandangi wajah tampan itu.


" Kenapa sih kamu ga mau ikut ? Asyik lho Ning ! memacu adrenalin ! siapa tahu ini yang terakhir kita main disini !".


Bintang menyambar air putih lalu meminumnya hingga habis.


Aku cuma tersenyum menggeleng.


Suara angin berdesau diatas pasir. udara cukup hangat. Sebentar lagi matahari tenggelam. Panorama langit Yuhigaura akan berobah fantastis.


Ku pandangi punggung Nanggala dengan Harumi di kejauhan sana. Berlarian di kaki ombak memilih kerang- kerang laut.


" Bening !".


Kembali Bintang mengusik imajinasi ku. Aku menatap wajahnya yang kelihatan murung. Ada apa dengan Bintang. Adakah sesuatu yang mengganggu hatinya. Kenapa tiba-tiba berubah kelam begini.


" Aku mau ngomong sesuatu Ning, boleh ?".


Bintang menatapku sekilas lalu menghembuskan nafasnya.Terasa berat. Aku mengangguk. Merubah posisi dudukku menghadap Bintang. Dia menatap lurus kearah Nanggala dan Harumi yang masih saja asyik bermain ombak. Kulihat ada kabut Dimata Bintang yang tadinya bersinar jenaka. Apa yang terjadi dengan laki-laki ini. Mengapa bisa secepat ini berubah wajah. Dari ceria kemudian kembali kalem, bagai terkena demam malaria. Aneh sekali.


" Iya. Cerita lah. Ada apa dengan mu !".


Ku pandangi sorot mata itu lebih dalam. Dan aku terkesima, disana ada kabut kesedihan. Ada kecewa.Ada bermacam-macam makna. Aku bingung.


" Ning ! kamu lihat Harumi dan Nanggala , mereka bahagia sekali !".

__ADS_1


Sejenak ku alihkan pandangan jauh ke bibir ombak. Nanggala dan Harumi masih disana, riang bermain ombak. Saling melempar air dan terkadang hilang tenggelam dalam pusaran ombak yang cukup tinggi.


" Iya , mereka amat bahagia . Lalu ?".


" Harumi menyukai Nanggala Ning !".


Suara Bintang terdengar kering. Ada nada putus asa disana. Aku tergidik. ada apa dengan Bintang . Apakah ia diam-diam menyukai Harumi ?".


" Aku bisa melihat dari tatapan Harumi, dia mencintai Nanggala. juga sebaliknya, Nanggala sangat bahagia bersama Harumi.


"Apa kamu menyukai Harumi ?.


Aku bertanya pelan, mencari sesuatu dari sinar mata laki-laki itu. Orang- orang cerdas bilang, cahaya cinta kadang bisa dilihat dari tatapan mata. Juga bisa diamati dari bahasa tubuh. Dan aku tergidik, semua itu kutemukan pada Bintang. Sebuah kekecewaan yang dalam, saat menyebut nama Harumi dan Nanggala.


Bintang menatap ke arah langit yang mulai berwarna merah muda, sesaat lagi matahari akan tenggelam. langit Yuhigaura akan berubah menjadi Indah. Menakjubkan.


" Iya Ning . Aku jatuh cinta sejak pertama bermain hujan salju ketika itu ! aku tidak bisa bohongi hatiku, aku menyukai Harumi !".


Aku menarik nafas lega. Beban berat di dadaku seakan meloncat keluar. terasa ringan sekali. Ku pandangi Nanggala dan Harumi yang duduk bersisian diatas pasir. Menikmati pemandangan langit Yuhigaura Kyoto.


" Yang aku tahu selama ini mereka sahabat. Harumi tak pernah cerita tentang hatinya. Atau karena Harumi menjaga hatiku ?.


Aku balas bertanya pada Bintang. Menatap wajah tampan itu dengan pandangan ragu.


Bintang memandang mataku dalam. Senyum yang teramat miris bermain-main diatas bibirnya. Aku tercekat kaku.


" Benarkah ?".


Pertanyaan ku menggantung di udara. Hanya suara angin dan tempias ombak yang terdengar semakin lirih. Seolah mengantarkan musik sedih pengganti tangisan di dalam hati.


" Kamu masih mencintai Nanggala, Ning ?".


Aku menggeleng. Membalas tatapan Bintang yang mencari keyakinan dari jawabanku. Matanya mencoba mencari keyakinan dari gelengan kepalaku.


" Rasa cinta itu telah lama pergi. Yang tertinggal hanya kesedihan dan kecewa . Aku ingin masalalu itu hilang dari hatiku. Aku ingin terbebas dari semua rasa yang membuat jiwaku lelah begini. Aku tak mau tenggelam dan hancur disini. Aku juga ingin bahagia !".


Bintang tersenyum. Meraih telapak tanganku hangat dan berkata bijak.


" Kamu kuat Ning. Kamu pasti bisa ! Aku percaya suatu hari nanti cinta itu akan kembali datang di hatimu. Cinta yang akan membawa hatimu pada keceriaan. Cinta yang akan memberimu keyakinan, bahwa di dunia ini ada dua kembaran, ada dua hati, ada dua kebahagiaan sejati. Dan itu semua akan kamu temukan lagi. Kamu pasti bisa Ning !".

__ADS_1


" Terimakasih Bintang !".


Bintang menepuk punggung tanganku. Tepukan lembut seorang sahabat. Saat senja mulai jatuh. Ketika langit Yuhigaura memperlihatkan keelokan alamnya. Aku dan Bintang duduk bersisian dalam diam. Memandangi punggung Nanggala dan Harumi di kejauhan.


" Kamu juga berhak bahagia dengan cinta yang mencintaimu !" bisik ku pelan. .


" Makasih Ning ! selama nya kamu sahabatku !".


Bintang menarik lembut tanganku. Lalu jemarinya diikatkan kedalam jari-jari tanganku. Membentuk ikatan jari kelingking aku dan dia.


"Sahabat ?".


Matanya memandangku hangat. Pandangan yang tak mungkin aku lupakan. Juga ucapan yang tidak akan pernah aku khianati. Selamanya.


" Yah ! Sahabat !".


Itulah ikrar. Itu janji yang terpatri antara aku dan Bintang diatas pasir pantai Yuhigaura.


Dan dibawah langit berwarna merah muda cerah Yuhigaura. Akhirnya aku dan Bintang tertawa lepas. Dalam simpul dua jari kelingking yang masih terkait. Bintang menunjuk langit. Memperlihatkan ikatan kelingking itu pada alam dan semesta.


Kulihat kebahagian menari- nari Dimata Bintang.


Bersama jatuhnya malam . Bintang menarik tanganku. Mengejar ombak. Sambil berteriak kencang seolah ingin menandingi gemuruh suara ombak yang datang menjilati kaki.


Sahabat !


Teriakan Bintang membahana di udara. Aku mengangguk balas berteriak lebih kencang lagi


" Sahabat selamanya !".


Janji itu telah terpatri. Abadi disaksikan alam dan senja jatuh dilangit Yuhigaura. Hanya sahabat, aku dan Bintang !.


Next


****


Terimakasih buat para sahabat yang sudah mendukung novel ku. 🙏😘


Jangan lupa tinggalkan kenangan : like, koment, dan vote 😘👍

__ADS_1


Salam cinta : Asmirani


.


__ADS_2