
Perkenalan aku dan Jiwa mengalir seperti air. Jiwa putra dari kawan almarhum bapak. Berpangkat Letda dalam satuan tugas TNI AD. Orangnya cuex sama seperti Bintang. Sedikit lucu dan yang paling ku minati adalah senyumannya persis Nanggala.
" Bening !".
" Ya, Mah !".
Sahutku sambil mendekat ke arah mamah yang tengah mengaduk kue kesukaanku.
" Gimana kuliahmu. Kapan selesai !".
Mamah memang telaten. Ada aja ide baru yang muncul untuk menyenangkan hatiku.
Dari pendopo belakang ku dengar tawa kocak Nanggala bersama bunda. Sekilas ku intip mereka tengah asyik bermain congklak. Ada kakek juga disamping Nanggala. Sepertinya mereka berdua tengah melawan permainan bunda. Ah biarkan saja. Hati ku sangat bahagia sekarang. Inilah keluarga ku.
" Ning !".
Suara mamah kembali menyadarkan aku.
" Ya Mah..."
" Kamu ga dengar mamah nanya apa tadi ?".
" Iya mah..denger..."
Jawabku sambil kembali fokus ke arah mamah.
" Apa coba..."
Mamah memandang ku dengan tatapan lembut. sambil tangannya terus sibuk dengan kue buatannya.
" Tahun depan bisa rampung, mah..."
Mamah mengangguk. Dengan lincah mamah menyusun kueh yang masak. Menggiurkan sekali.
" Nih anterin buat mereka, tuh lagi asyik di pendopo Nanggala dari tadi merengek. Kelamaan mamah.."
Aku mengambil piring berisi kueh harum menggiurkan. Menuju pendopo.
" kueh nya datang..."
Ku taruh piring kueh dihadapan mereka yang sibuk bermain conglak. Aku kembali ke tempat mamah yang masih fokus dengan kerjaannya.
" Ning...."
"Ya mamah.."
" Kamu suka Jiwa ..?"
Lama aku termenung dengan pertanyaan mamah. Sebelum akhirnya aku menjawab.
" Dia baik, kocak dan lucu.. aku senang mamah !".
" mamah ikut apa yang menurut kamu baik. Jika kamu bahagia, mamah ikut senang.."
__ADS_1
Begitulah hubungan ku dengan mamah. Walau dia bukan ibu kandungku, tapi kedekatanku dengan mamah sukar di lukiskan dengan kata-kata. Gimana lukisan terindah untuk menggambarkan semua itu.
Mamah yang ku kenal pertama sejak aku bisa melihat dunia. Mamah selalu ada saat bahagia dan sedihku. Mamah selalu jadi yang terdepan, ketika aku butuh sesuatu.
***
Aku hampir sampai di beranda pendopo. Ketika bunyi ketukan di pintu depan tiga kali. Mamah sudah selesai dengan pekerjaannya bergabung duduk disana.
" Selamat sore, non..."
Jiwa muncul dari balik pintu yang ku buka lebar. Senyum lembut bermain-main diatas bibirnya.
" Sore...Ada yang bisa ku bantu ?"
Jawabanku sekenanya. Aku sibuk menentramkan hati. Senyuman Jiwa semakin mekar.
" Boleh masuk non..?"
Jiwa kembali menggodaku. Karuan aja aku kok jadi gugub begini.
" Aduh Ning sadar ! fokus ! jangan kalah..!
hati kecilku berseru keras.Seketika pertahanan ku kembali stabil. Spontan kembali dalam sikap biasa.
" Silakan.."
Ku lebarkan daun pintu. Jiwa masuk dengan santun, langsung bergabung ke pendopo. Sejenak ku dengar hiruk pikuk dia dan Nanggala berceloteh. Aku memilih menghindar. Biarlah mereka bercengkrama disana. Aku ingin duduk dikamar aja.
***
Aku nyampe kamu hilang. Maaf Ning.Terlanjur suka dengan bola matamu. Jika ga boleh, aku segera pergi. Aku ga mau jadi perusak bahagia mu !"
By : Jiwa
Secarik kertas, meluncur dari celah pintu. Ku dengar suara batuk halus melintas. Jiwa. Laki-laki unik ini membuat hatiku tak berkutik. Ada aja akalnya biar tersambung denganku.
" Oh Tuhan bantu aku. Mengapa dada ini begitu hebohnya. Bahagiakah aku diperlakukan seperti ini ?.
" Iya aku suka caranya. Suka kejujurannya. Tapi mengapa hatiku jadi malu ? Ada apa ini ?. Apakah aku kembali bisa membuka hati ! Tapi mengapa harus dengan dia, laki-laki misterius yang tiba-tiba datang bagai hantu !".
" Apa yang harus aku lakukan. Kenapa bening yang cuex dan kuat selama ini jadi lembek dan gugup !".
Aku mencoba menentramkan hati.Sebelum keluar kamar. Aku tak mau Jiwa tahu gemuruh di dadaku. Biarlah mengalir dan berhenti sesuai kehendak semesta.
Di luar kamar. di depan beranda. Ku lihat Jiwa siap-siap untuk pergi. Wajahnya sedikit murung. Aku melihat jelas laki-laki itu menahan sedih di matanya.
"Jiwa !".
Spontan dia berbalik. Senyuman itu kembali menghias bibirnya.Menghantam hatiku lagi dan lagi. Dua binar bahagia berloncatan tak terbendung dari sorot matanya yang jenaka. Berdiri menatap ke arahku dengan pandangan pasti.
" Bening...?".
Jiwa mendekat. Lebih dekat ke arahku. Hampir tanpa batas. Aku mundur perlahan , menghindari sorot mata yang menancap bagai magnet.
__ADS_1
" Kamu ga marah...?
Matanya di balut cemas. Aku tersenyum lalu menggeleng meyakinkan. Dari balik tiang penyangga teras Nanggala muncul.
" Jika kau bermain-main dengan hati bening, kamu terima ini !"
Nanggala mengacungkan tinju tinggi-tinggi.Jiwa tersenyum.
" Siap ! Aku. Jiwa Nayaka. Letda TNI AD mencintai Bening ! Aku ga main-main ".
Nanggala tersenyum. Jiwa memandangku pasti.
" Aku mencintai kamu, Ning..!".
Mata itu seolah membuka seluruh catatan dihatinya. Tidak ragu dan sangat jujur. Aku mencoba menanggapi sikapnya dengan senyuman. Jiwa meloncat girang. Benar-benar apa adanya dalam penglihatan ku. Polos tanpa pura-pura.
Dan aku siap membuka hati yang selama ini sendiri. Aku jatuh cinta pada sikap dan caranya yang lugas tanpa ragu. Aku jatuh cinta pada senyum tulus yang tersimpan dimatanya. Yah aku jatuh cinta kembali. Merasakan nyanyian hati ini lagi. Aku jadi bingung secepat inikah cinta menancap kehati. Apakah ini benar-benar sejati.
Hanya Jiwa yang tahu. Jika dia berniat baik dan jelek dialah yang paling tahu. Hatiku ikhlas menerima kehadirannya. Tidak meminta dan tidak juga kucari. Hadir dengan sendirinya kehadapan ku. Lalu aku jatuh hati dan menyukai. Apakah ini sebuah kesalahan lagi. Atau ini merupakan ujian berikutnya untuk hatiku yang tak mengerti apa-apa.
" Ning !".
" Ya !".
" Kamu baik-baik saja kan ?".
" Iya, baik dan sehat, lalu kenapa ?".
" Bagaimana tentang Jiwa ? kamu suka ?".
Aku menatap mata Nanggala lekat. Aku melihat ke kawatiran disana. Kasian Nanggala, dia selalu mencemaskan aku. Nanggala begitu takut aku dilukai. Jelas sekali dia uring-uringan melihat wajahku yang sering diam melamun.
" Jiwa itu baik, dari penglihatan mataku !".
" Kamu suka Jiwa, Ning?".
Nanggala terus mengejar jawabanku. Aku bingung. Apakah ini rasa suka atau sekedar simpati karena hatiku sepi, aku tak tahu dengan semua ini.
" Aku suka dengan sikap dan santunnya, aku suka dengan senyumnya, aku tak tahu apa arti semua dari rasa suka ku ini !".
Nanggala menarik nafas panjang dengan jawabanku. Dia duduk di sampingku dengan tatapan kosong.Kasian Nanggala, hari-hari dan hidupnya tersita karena memikirkan aku. Jawaban apa yang sepantasnya aku berikan, agar Nanggala bisa tenang menjalani hidupnya. Membingungkan.
Diruang dapur, bunda dan mamah melakukan hal yang sama. Meminta jawaban jujur ku tentang Jiwa. Aku kembali bingung. Mengapa mereka sangat mencemaskan aku. pertanda apakah yang mereka lihat dari wajah dan kehadiranku ini. Apakah ada tanda-tanda aku putus asa atau prustasi ? entahlah.
Akhirnya penuturan dan pengakuanku pada bunda dan mamah mendapat respon positif.
Bunda dan mamah tersenyum manis mendengar cerita hatiku bertemu Jiwa dalam beberapa hari ini. Pada bunda dan mamah aku akui, aku suka Jiwa. Tapi aku tak tahu apakah aku kembali jatuh cinta. Aku tak mengerti warna hatiku saat ini. Biarlah waktu yang memberi jawaban pasti nantinya.
Next
***
Welcome sahabat Readers SE Nusantara. salam sayang santunku untuk semua. Terimakasih sudi berkunjung di novelku.
__ADS_1
Jangan lupa untuk meninggalkan jejak kenangan : like, coment dan vote nya.
Salam cinta : Asmirani 🌷