
✍️✍️
Bandara. Liburan telah ku lewati. Satu bulan penuh bersama keluarga. Saatnya sekarang aku kembali ke Jepang.
Bunda sibuk mengemasi oleh-oleh bersama kakek dan Nanggala. Mamah duduk di sampingku. Ada Jiwa bersama kami.
" Untuk mu !".
Jiwa memberikan padaku sebentuk kalung berwarna hati.
" Ini kalung turun temurun keluarga. Aku sebagai anak tunggal, aku pemilik kalung ini. Kakek bilang kalung ini hanya boleh diberikan pada orang yang membuat hati nyaman, suka dan dicintai !".
" Aku mencintai bening, mamah ". Ijinkan aku titip kalung ini dilehernya.."
Mamah memandang ke arahku. Mamah mencari sesuatu di mataku. Aku yakin, mamah terserah apa yang aku putuskan. Mamah itu ibarat hatiku. Mamah itu ibarat jiwa ragaku. Apa yang aku pikirkan mamah sudah lebih dulu mengetahui. Sebaliknya apa yang mamah rasakan aku bisa memahami. Jika mamah sembunyikan sesuatu maka aku akan segera tahu. Jika mamah sakit seluruh badanku ikut sakit. begitu antara aku dan mamah.
" Terserah bening, mamah ga bisa memutuskan ! Jika Bening senang mamah ikut senang. Jika Bening sakit seluruh jiwa raga mamah akan sakit juga !".
Tuntas mamah menjawab apa yang diminta Jiwa barusan. Aku memandang wajah mamah yang masih memandangku bimbang. Dimatanya kutemukan ke khawatiran. khawatirnya hati seorang ibu.
" Apakah kamu yakin dengan yang kamu ucapkan pada Bening, juga kalung itu. Apakah kamu sudah pikirkan benar-benar mau menitipkan di leher dia !".
" Aku seorang TNI. dan keputusan bukan hal yang. bisa di permainkan. Aku yakin sekali, mamah !".
Jiwa mendekat. Berdiri di belakangku. memasang kalung itu ke leherku.
Mamah tersenyum haru bercampur sedih. Ada apa dengan kesedihan mamah. Aku makin bingung dan tak tahu harus bersikap apa. Akhirnya aku menyerah pada takdir. Biarlah terjadi apa yang menurut semesta itu baik. Biarlah aku ikuti apa yang sudah digariskan oleh semesta untukku.
Nanggala yang muncul diam-diam memperhatikan wajahku dalam. Ada bahagia dan juga kekhawatiran di matanya.Aku percaya Nanggala ingin aku bahagia dan dia juga satu pemikiran dengan mamah.
" Kamu yakin dengan pilihanmu ?"
Nanggala memandang tajam kearah Jiwa. Jelas dimatanya tak rela jika aku kembali terluka. Jiwa mengangguk.
" Aku yakin ! ijinkan aku menjalani bersama bening.."
" Apakah mamah mu setuju..?"
Kembali Nanggala mengingatkan Jiwa.
" Mamah menyerahkan masalah hati padaku. Siapapun yang jadi pilihanku, mamah akan terima.."
Aku hanya diam. Walau hatiku menyukai dan merasa nyaman. Tapi aku rasa,.aku harus menyelesaikan dulu cita-cita ku yang masih terbengkalai di Jepang sana.
***
Kejadian di bandara masih terbawa hingga aku menapaki negeri sakura. esok harinya.
" Tadaima Harumi !".
pesan singkat ku pagi ini, mengabari Harumi.
__ADS_1
" Okaerinasai Bening. Ima, doko ni imasuka ?"
" Biasa di apartemen !".
jawabku ketika Harumi menanyakan aku dimana.
" Anata no ie ni asobiniikitai, Bening !".
" Iya Harumi. Datanglah aku ada di rumah..!"
Satu jam berikutnya Harumi sudah sampai dan bertanya macam-macam. Sambil menikmati dodol pulut buatan mamah.
" Apa kabar Nanggala !".
Harumi bertanya pelan. Aku memahami, Harumi pastilah ingat segala kenangan manis bersama Nanggala selama tinggal di Indonesia. Tidak mudah melupakan segala yang pernah dekat bahkan pernah tersimpan dihati. Walau status pada akhirnya adalah sebagai sahabat.
" Nanggala baik.." masih sibuk dengan aktifitas kampusnya..!"
Harumi tersenyum. kali ini kulihat senyumnya lebih ringan. Semoga Harumi bisa cepat keluar dari masalah hati dan bisa kembali menemukan cinta yang baru.
" Kamu memikirkan seseorang ? Siapa pemilik kalung hati itu.."
Harumi menatap ke arahku, yang tak sengaja memandangi kalung hati dari Jiwa. Aku menggeser badan menghadap kearah Harumi juga sama beralih dari tiduran telentang menatap langit-langit kamar, kini berhadapan denganku.
" Kalung ini, titipan seseorang, aku jagain.."
Harumi menyipitkan mata, bingung. Tangan mungilnya ikut meraba kalung yang sedari tadi ku genggam.
" Indah sekali.." dia bergumam kagum.
Letda Jiwa Hanaya..!"
" Iya. Bulan depan Lettu." Jika jabatannya naik, artinya dia akan pindah tugas ke Medan yang lebih tinggi..!"
" Maksud nya ?".
Harumi memandangi wajahku bingung.
" Bulan depan Jiwa berpangkat lettu. Dia mungkin mendapat tugas yang lebih berat..!"
Jawabanku sekenanya.Harumi mengangguk paham. Aku mengamati kalung hati pemberian Jiwa. Dalam aturan adat kakek. Pemberian kenangan yang sifatnya khusus itu dilarang. Aku tercenung.
***
Pagi di kampus. Kegiatan awal sudah ku lewati. masih ada dua mata kuliah yang harus diikuti. Tapi jadwalnya siang. Mengisi waktu, ku putar mobil menuju perpustakaan. Aku ingin mendalami tentang puisi, selama ini cukup aku abaikan.
Memasuki pintu perpustakaan. Seorang penjaga menatapku ramah.
" Sumi masen.." ucapku balas memberi senyuman.
" Irrashai Mase.." Onegaishimasu...!"
__ADS_1
Pelayan penjaga perpustakaan dengan ramah mempersilahkan aku masuk.
" Arigatoo.." ucapku sambil membungkuk kan badan. yang dibalas sama oleh pelayan.
Memasuki pintu geser berwarna coklat. Di dalam ku lihat banyak sekali pengunjung, yang masing-masing duduk tekun di mejanya.
Aku mencari kursi yang masih kosong. Tepat di bagian samping aku mendapat meja masih kosong.
" Yap, disini... tiga jam ke depan, cukup lama menggeluti bahasa puisi di meja ini..!"
" Ning..."
pesan Jiwa masuk.
" Udah makan belum..."
" Ya , udah dirumah tadi pagi ".
Jawabku singkat.
" Ijin menelpon..!". ucapnya kemudian dengan emoticon senyum.
Dari kejauhan suara Jiwa putus- putus. Mungkin dia sudah kembali ke Markas. Setelah berjibaku menyelesaikan pangkat nya. Artinya Jiwa akan lebih sibuk dari sebelumnya.
Hanya sebentar ku dengar suara tawanya. Cukup membuat hatiku gembira pagi ini. Setelahnya jaringan sibuk dan hingga siang aku kembali masuk mata kuliah lanjutan dan sore nya Jiwa belum menghubungi ulang. Biasanya Jiwa akan kembali menjelaskan kenapa terputus, walau dengan chat pesan. Sampai malam ku tunggu Jiwa belum juga muncul.
Tidur ditemani musik hatiku malah ingat Indonesia. Ada apakah ini. Bolak- balik membuang segala fikiran ga baik. Akhirnya aku hubungi Nanggala.
" Nang..!
Suara Nanggala berat mungkin mengantuk. Aku bertanya tentang Jiwa. Nanggala juga belum terima pesan dari dia. Ada apa dengan Jiwa. Aku hanya menyerahkan kembali semua persoalan pada semesta. Dia yang paling bisa menjaga segala-galanya. Tidur...putusan terakhirku setelah lama berbincang dengan Nanggala.
***
Pagi pukul 07.00 waktu Jepang.
Jiwa kembali menelpon. Suaranya ceria.
" Maaf Ning.." kemarin putus mendadak. Sinyal di Markaz ga kuat. Aku lanjut kerja. dan pulang ke rumah sinyal masih blank..!"
Hatiku lega. Jiwa sehat-sehat aja disana. Sebait doa ku aturkan pada semesta pagi ini. Semoga semua yang ku sayangi disana baik-baik saja.."
Next
*****
Santun salam selamat datang Reader se nusantara 🙏😘
Semoga suguhan sederhana ku bisa menghibur dan menginspirasi, itu harapan ku...😊😊
Jangan lupa tinggalkan jejak kenangan, agar aku semangat melanjutkan kisah ini..🙏😘😘
__ADS_1
like, coment dan vote nya ku tunggu 😊😊
Salam Cinta :. Asmirani