Bunga Rumput

Bunga Rumput
Episode 10 Ikatan dari Tuhan


__ADS_3

❣️❣️❣️


Sore mencekam. Menunggu kepulangan Bening. Bunda duduk membisu di pojok serambi. Airmata tiada henti bergulir dari pipi yang terlihat pucat karena kurang tidur. Bibi Mayang duduk di hadapan bunda juga dengan kondisi yang sama. Saling diam dengan wajah muram.


Aku dan kakek siap-siap berangkat ke bandara. Menjemput Bening. Kakek sudah wanti-wanti pada bunda dan bibi Mayang agar menghentikan pertikaian. Segala persoalan akan selesai pada akhirnya. Kakek sudah menganggap bunda seperti anak sendiri, itu yang di ucapkan kakek Bima di meja makan saat sarapan tadi pagi.


" Kasian bening, dia tak mengerti persoalan masalalu.Jadi mohon hentikan segala yang tak baik ini !".


Begitulah permohonan kakek dengan tubuh bergetar menahan kesedihan. Bunda mengangguk. Airmata dan kesedihan diwajah bunda sedikit mereda, mendengarkan penuturan kakek.


Aku kembali mengenali bundaku yang amat lembut dan bijaksana. Bunda yang selalu memompa semangat dan mewarnai jiwaku dengan kesabaran. Sikap perilaku yang menghiasi wajah cantiknya.


Perjalanan dua puluh menit menuju bandara. Aku dan kakek duduk di ruang tunggu. Sebentar lagi pesawat mendarat. Wajah kakek terlihat amat letih.


Bunyi deru pesawat mendarat. Jantungku makin heboh, namun sangat sakit. kemarin dan kemarin nya lagi kehebohan ini menentramkan ku. Kini berubah tiga puluh ribu derajat, menyakitkan hati dan fisikku.


Aku masih terpaku tak bergerak di kursi ruang tunggu. Langkah-langkah kecil dengan senyum santun mendekatiku pasti.


Nanggala !"


Suara yang tak asing sejak beberapa bulan ini. Memanggil namaku. Jelas lugas tanpa basa-basi.


Tangan mungil putih terulur ke arah ku. Jelas sekali kulihat dimatanya ada kerinduan yang amat pekat.


senyum itu masih yang dulu, ceria dan polos tanpa polesan apapun. Asa ku mengambang raib, ketika kakek ber dehem disisi telingaku. Sontak aku tersadar. Kusambut uluran tangan Bening sambil menanyakan kondisinya, meski aku sangat tahu dia amat gugup seperti juga diriku.


Di mobil Bening berkicau panjang lebar tentang negara Jepang. Tentang sakura yang indah dan kebingungan dia ketika pertamakali diajak bicara bahasa Jepang. Sambil terus tertawa kecil.Cerita Bening mengantar kami sampai dirumah.


Memasuki halaman kulihat bunda dan bibi Mayang berdiri di teras. Wajah keduanya sulit di gambarkan. Ada bahagia, cemas, sedih, tangis dan macam-macam. Aku hanya bisa berdoa dan berharap tidak terjadi prahara lagi, seperti kemarin.


" Mami !".


Bening menghambur ke dalam pelukan bibi Mayang. Mencium pipi wanita itu, yang dibalas dengan mencium kening bening lama sekali.


" Kamu sehat ?".


Bibi memeriksa seluruh tubuh Bening dengan pandangan penuh kasih.


" Sehat mi !".

__ADS_1


Perlahan Bening beralih ke arah bunda. Sebuah pemandangan yang amat mengharukan. Bunda merentangkan tangan dan Bening meluncur kedalam pelukan bunda. Pelukan seorang ibu yang menderita kehilangan bertahun-tahun. Bunda memeluk erat seakan tak mau dipisahkan lagi.


" Bunda ".


Bisikan itu memecah tangis. Aku tak mampu melihat pemandangan ini. Bunda menciumi pipi Bening dengan airmata mengucur deras.


Bibi Mayang menunduk menahan airmata dan kesedihan diwajahnya. Penyesalan teramat dalam jelas terpancar dari sana. Bagaimanapun bibi Mayang harus bertanggung jawab atas segala yang terjadi. Bibi Mayang harus berani mengakui kesalahan dan dosanya. Memisahkan ibu dan anak. Bening tak akan pernah tahu jika dia tak diberitahu.


Ruang pendopo kakek Bima. Malam telah lama jatuh. Kakek duduk termenung.Kepalanya menunduk dalam. Bening yang polos tak tahu apa- apa kelihatan bingung memandangi wajah yang ada dalam ruangan itu satu persatu.


" Nanggala !" apa sebenarnya yang terjadi !


Kakek dan Mami cerita lah !".


Suara bening menyeruak ditengah kesunyian ruangan. Bunda menatap iba ke arah Bening yang kebingungan.


" Bicaralah mami !".


Bening memandang wajah bibi Mayang penuh permohonan.


" Jika ini karena aku jatuh cinta, maka aku rela buang cinta itu. Karena mungkin cinta yang ku inginkan membuat semua menderita ! aku rela mi, bicaralah !' aku pasti akan turuti apa yang mami mau !".


Tak ada satupun yang bersuara. Semua menunduk dalam kebisuan dan Isak tertahan. Aku harus melakukan sesuatu. Hal ini tak mungkin dibiarkan terus seperti begini.


Bibi menculik mu ketika masih bayi. Karena cinta dan sakit hati. Cinta yang tidak pernah dapat balasan bapak !".


Aku menghela nafas lega. Selesai sudah apa yang harus aku lakukan. Terserah apa yang akan terjadi. Kebenaran memang pahit tapi harus dikatakan.


Kakek Bima mengangguk. Menatap mata bening meyakinkannya.


"Apa yang dikatakan Nanggala benar ! Mayang bukan ibu kandungmu ! kamu dan Nanggala saudara kembar, Mayang memisahkan kalian karena sakit hati ! inilah kebenaran ! kakek harap kamu bisa terima bahwa jalan takdirmu seperti ini !" dan hari ini kakek akan laporkan kejahatan Mayang pada pihak yang wajib memberi hukuman.


" Bersiaplah Mayang, sebentar lagi pihak kepolisian akan datang kemari !".


Aku terlonjak kaget. Tegas sekali suara kakek mengucapkan kalimat itu. Bibi Mayang hanya bisa menangis sesungukan. Hatiku perih, dimana salahnya. Semua karena cinta. Lalu pantaskah cinta dipersalahkan.


Ku pandangi bunda dengan harapan bunda bisa menengahi persolan antara kakek dan bibi Mayang sekarang. Bunda hanya memandangku kosong.


" Kejadiannya sudah lama berlalu. Dan kita pun sudah saling tahu persoalan ini. Dimana letak salahnya, saya juga melihat bibi Mayang sangat menyesali perbuatan nya, saya berharap kakek mencabut laporan itu !".

__ADS_1


" Tidak Nanggala !".


Kakek menatap ku tajam.


" Setiap perbuatan harus di pertanggung jawabkan !".


" Ga salah kek, itu benar ! tapi lakukan sedikit lagi kebaikan ! bukalah pintu maaf kita semua buat bibi, demi Bening !"


" Kita harus hargai Bening, ini berat untuk dia !


" Bertahun-tahun dia hanya mengenal bibi !".


" Bibi telah memberikan yang terbaik padanya ! kita hargai dan kita wajib terimakasih pada perjuangan beliau menjaga dan membesarkan Bening ! hingga Bening tumbuh seperti yang kita lihat hari ini !".


"Tiada gading yang tak retas, tiada manusia suci, semua kita memikul dosa, hanya saja kita di suruh berobah, menuju yang baik !".


" Turunkan lah sedikit amarah ! mari kita saling memaafkan dan bersama- sama ke depan menjaga Bening !".


Bunda memandangku nanar, haru dan bangga bermain-main dimatanya yang berkaca-kaca.


" Benar yang dikatakan Nanggala ! saya maafkan Mayang ! Dia khilaf mengikuti hawa nafsu, saya pahami posisi dia !".


Suara bunda pelan sejuk menjalari hati yang dilanda emosi. Bibi Mayang makin terisak. Memeluk bunda dengan penyesalan yang amat dalam.


" Maafkan saya Bu !". tangisannya bercampur Isak pilu.


Suara ketukan di pintu depan. Seorang perwira polisi dengan di dampingi dua ajudannya berdiri tegap di teras rumah. Kakek langsung berdiri lalu mempersilakan mereka masuk menuju pendopo. Dalam dialog dan perbincangan yang panjang, akhirnya bibi Mayang diberi ampunan. Masalah ini langsung di tutup polisi karena sudah dianggap sebagai masalah keluarga.


Kulihat senyum tulus dari bibir bunda. Senyuman seorang ibu yang selalu memberi dan membuka pintu maaf.


Bunda, beliau memang tak akan pernah tergantikan ! Hatiku begitu bangga memiliki ibu berhati seluas samudra. Tiada tandingannya. Ku peluk bunda dengan erat.


" Terimakasih bunda ".


Bisik ku pelan dalam pelukan bunda yang hangat. Bunda menjewer telingaku, seperti biasanya, jika aku tengah merayu meminta sesuatu. Aku tersenyum. Hadiah terindah dari bunda yang tidak akan bisa dilupakan oleh siapapun pada hari ini dan nanti.


Next


***

__ADS_1


Santun salam sayang untuk semua Readers yang sudah datang berkunjung di novelku ini. Jejak kenangan sahabat semua akan ku abadikan sebagai hadiah terindah untuk karyaku. Terimakasih untuk like, coment dan vote nya 🙏❤️


Salam Cinta : Asmirani 🌷


__ADS_2