
✍️✍️✍️
Harumi mengusap air yang menggenang di pupil matanya. Memandang ke arahku dengan wajah penuh rasa salah. Kusenyumin Harumi agar bisa lebih tenang. Tapi apa nyatanya, Harumi justru menubruk ku, memeluk erat. Menangis lirih.Isaknya membuat hatiku ikut trenyuh. Tangisan ini seolah patah. Tangisan yang menimbulkan tanda tanya dihatiku.
Ku biarkan Harumi melepas kemelut hatinya. Aku sadar Harumi tak pernah salah. Rasa suka bisa tumbuh pada siapa saja. Tak terkecuali pada sahabat. Bukan tak mungkin sahabat bisa berubah menjadi cinta. Begitulah kehidupan. Cinta bisa datang dan pergi. Cinta bisa pudar dan juga akang ini tumbuh kembali. Cinta yang semula amat di cintai adakalanya bisa berubah jadi benci yang amat membenci.
Masih dalam isak sedih. Harumi melepas pelukannya. Menggenggam tanganku erat. Bahasa tubuhnya jelas sekali amat terluka. Tatapannya kosong dan sangat hambar. Aku tahu Harumi tengah terluka hebat. Tapi apa dayaku.
" Ning, kamu marah padaku ?".
Airmata itu kembali merebak jatuh. Aku menggeleng. Meraih kepala Harumi. Mendekapnya ke dadaku. Kurasakan isakan lirih merambati hatiku. Inilah pedih, ini luka sebenarnya luka, dan inilah hati yang tengah tenggelam dalam lautan airmata.
" Ceritakan pada ku mengapa kamu sesedih ini. Aku masih kuat menampung semua problem hatimu. bersandar lah disini. Di pundak ku. Selama kamu mau ! Aku masih kuat menopang segala duka mu. Aku ikut dalam kesedihan hatimu. Aku, adalah sahabatmu!".
" Nanggala Ning. Dia tidak mencintaiku. Dibawah langit Yuhigaura kemarin Nanggala dan aku mengikat janji. Janji sahabat. Nanggala belum bisa menyimpan rasa apapun. Nanggala tidak memiliki ruang cinta baru untuk saat ini. Dia mengatakan jujur padaku. Dia masih ingin sendiri dengan dunianya !".
" Nanggala terluka begitu dalam. Bukan atas penolakan cinta. Tapi terluka dengan keadaan.
Di atas bibir ombak, Nanggala menceritakan semuanya. Walau amat sakit, tapi aku hargai kejujuran Nanggala ".
" Sejak lama aku menyimpan rasa ini. Begitu rapat. Dari Nanggala dan siapapun. Tapi hari ini aku ga kuat lagi Ning ".
Harumi terisak di pundak ku. Perlahan airmata yang sedari tadi ku tahan, mengalir deras.
Mengapa kebetulan ini sama dan serupa. Kemarin di atas pasir Yuhigaura Bintang pun mengucapkan janji dan cerita ini ke hatiku. Janji sahabat. Bintang mencintai Harumi, tapi dia memilih mundur.Karena disana ada Nanggala. di hati Harumi.
" Lalu apa yang akan kamu lakukan setelah ini. Menjauh dari Nanggala ?".
Ku pandangi Harumi. Begitu patah. ku hapus air yang masih saja mengalir di pipinya.
"Dulu aku juga hancur dan patah melebih ini. Aku mencintai tapi tak boleh memiliki. Cinta itu harus ku hapus paksa dengan tiba-tiba. Karena rasa cinta yang tumbuh bukan hak ku !".
" Lalu siapakah yang patut disalahkan. Aku, Nanggala atau mamah ? atau cinta itu sendiri ?.
" Tidak Harumi. Cinta tak pernah salah. Hanya keadaan dan waktu terkadang keliru kita sikapi !".
__ADS_1
Saat aku berusaha membuang cinta Nanggala. Saat itu juga aku merasa hati sudah tak ada rasa apa-apa. Katanya Cinta itu bahagia, namun aku tidak pernah merasakan itu lagi !".
Ku tarik tangan Harumi lebih dekat dan menggenggamnya erat.
" Dengarkan sebuah cerita yang juga ku terima kemarin. Kamu harus tahu Harumi. Kamu harus mendengarkan ini. Sebuah kenyataan dari Bintang dia mencintaimu !".
Lepas tuntas beban yang ku simpan di hati. Hari ini ku luah kan juga semua rahasia. Harumi harus tahu, kenyataan ini.
Ia terpana. Wajahnya pucat tak berdarah. Tatapannya yang kosong tak mampu sembunyikan keterkejutan. Aku mengangguk. Meyakinkan Harumi
Semesta mengirim Takdir ini. Pasti ada maksudnya. Hanya saja sebagai makhluk kita tak pernah menyadari maksud baik dari semesta. Kita terlalu sibuk menyalahkan diri. Mengapa dan mengapa. Tak jarang kita juga menuding keadaan dan cinta itu sendiri sebagai penyebab. Cinta tak pernah salah. Jadi belajarlah untuk tak menyalahkannya.
Harumi memandang mataku. riap-riap yang biasanya bagai manik memantul dari pupil itu sekarang redup. Begini kah cinta memporak porandakan hati anak manusia. Apakah ada yang salah dalam perjalanan hati, jika cinta datang bertandang, siapa bisa menolaknya.
Cinta tak musti memiliki. Cinta hanya perlu dijaga hingga tak beralih menjadi benci. Cinta tak musti salah memilih hanya kita yang terkadang salah memberi arti.
Kusenyumi Harumi. Ku biarkan dia dengan keputusannya. Jalan dan pemikiran manusia berbeda. Harumi berhak penuh atas dirinya. Apa selanjutnya. Hitam dan putih tergantung pilihan hati. Akankah patah atau kembali bangkit. Itu hanya bisa lahir dari kekuatan hati seorang yang patah. Jika dia seorang yang tangguh meski tertatih dia pasti berusaha untuk bangkit kembali.
Dan bila dia seorang yang rapuh, labil dan tak punya ketabahan, maka selamanya dia akan hancur. Selamanya cinta akan mempermainkan hidupnya. Selamanya dia akan menjadi budak cinta. Hingga harga diri dan keyakinan lahir kembali. Ketika itu dia akan terlepas dari semua kesakitan.Inilah jalan kehidupan cinta.
Kakek pernah bilang hidup itu tidak mudah. Jadi belajarlah memahami kehidupan. Aku percaya pesan yang dititipkan kakek ke hatiku adalah kebijakan sejati. Aku tahu kakek tengah mencambuk hatiku agar kembali bangkit berdiri. Tegar menghadapi dunia. Kuat menapaki jalan kehidupan, dan tabah dalam setiap ujian.
Harumi masih tenggelam dalam diamnya. Biarlah. Perlahan semua masalah akan pergi dan berlalu. Harumi pasti bisa melewati semua ini. Aku yakin Harumi bukan gadis rapuh. Aku tahu Harumi terbiasa bergelut dengan masalah pahit melebihi hari ini.
"Ning !".
" Ya !".
" Kamu masih mau jadi sahabatku ?".
"Kemarin, hari ini dan nanti kamu sahabatku, lalu ada yang salah ?".
Ku pandangi wajahnya lekat. Seulas senyum merekah disana. Senyuman cantik Harumi.
" Masih ingin tahu lagi tentang kedalaman hatiku ?".
__ADS_1
Ku tatap matanya dengan pandangan penuh tantangan. Harumi makin tersenyum lebar. Matanya berkedip lucu. Meski disana masih mengalir air.
" Kamu tak marah Ning ?".
" Apa ? justru aku sangat marah padamu, jika terus-terusan menangisi semua ini !".
Harumi menghapus sisa air di pipinya. Mengejar ku dengan pelukan hangat. Aku balas memeluk dia dengan hangat.
" Kita boleh kalah, tapi ga boleh jatuh !".
" Janji ?"
Harumi mengangguk dalam pelukanku. Senyumnya mulai kelihatan cerah.
"Akan terus melangkah meski dihadapan banyak halangan ?".
Kembali dia mengangguk. Dua butir airmata berloncatan dari pupilnya. Dia bangkit berdiri. menarik tanganku keluar kamar.
" Hei, mau kemana ?".
" Aku lapar, kita jalan keluar !
Teriakan Harumi di seantero ruangan. Membuat mamahnya ikut berlari keluar. Selanjutnya geleng-geleng kepala melihat aku dan Harumi sudah di dalam mobil. Harumi melambai pamitan keluar. Aku tersenyum. Inikah perjalanan. inikah kehidupan.
Next
***
Terimakasih untuk teman- teman yang sudah singgah di novelku ini.
Semoga sajian sederhana ku ini bisa menghibur temen-temen semua.
Aku minta dukungannya, sebagai penyemangat ku.
jangan lupa tinggalkan jejak kenangan disini : like coment dan vote nya..
__ADS_1
salam cinta : Asmirani 🙏🙏