
❤️✍️✍️✍️
Minggu ceri. Aku masih menggeluti tugas yang ber timbun di beranda samping. Ketika bunda datang mendekat dengan senyum sumringah.
"Nang !".
"Ya bun, ada apa !'.
" Bagaimana cerita kemaren, masih mau berjuang memenangkan cinta mu ?".
Ku senyumin bunda yang duduk santai di lantai teras. Ku pandangi wajah bunda yang masih terlihat sisa kecantikannya. Pantas saja Bapak begitu gigih bersaing dengan sesama kolega. Merebut cinta bunda. Aku tertawa pelan. bunda menatapku dengan mata sedikit curiga.
" Ada yang kamu sembunyikan ? atau kamu ledekin bunda ?".
Aku makin tertawa disamping bunda. Sungguh tak ku duga perjalanan hati bapak terhenti pada seorang gadis kampung yang begitu cantik.
" Bunda pemenang hati seorang prajurit yang tangguh ! sungguh luar biasa !".
" Bunda harap kamu mendapatkan hal yang sama, memenangkan hati bening !".
"Bagaimana ?".
" Nanti malam kamu mau kesana ? nganterin buku puisi bening ?".
Aku mengangguk. Tatapanku diwajah bunda seolah mengambang. Tiba-tiba rasa sungkan muncul begitu saja.
" Jika kamu mencintai gadis itu, kamu harus memperjuangkannya !".
Bunda menepuk pundak ku pelan lalu melangkah menuju warung. Dari tadi para peminat dan pelanggan warung bunda sudah antri menunggu.
Malam mulai jatuh.Tepat pukul 7.00 Wib tanganku mengetuk pintu rumah bening yang tertutup rapat.
Dari arah dalam ku dengar langkah mendekat. Lalu daun pintu terkuak. Sesunging senyum manis berlesung pipi menyambut ku ramah.
" Oh kamu Nang ! mari masuk !".
Bening membuka daun pintu lebar menyilakan aku duduk di kursi tamu ruangan mungil kontrakannya.
Sekilas mataku menangkap sebuah kalung tersembunyi di leher bening. Aku seakan pernah dan familiar sekali dengan bentuk kalung seperti itu.
Tapi karena kebiasaan cuek dan kadang jarang fokus dengan sesuatu diluar diriku, aku sedikit lupa dimana aku pernah melihat kalung seperti yang bening pakai dilehernya.
Lama bercerita dan kadang bercanda sedikit kocak dengan gadis ini. Namun dari tangkapan sinyal Indra ku ada sesuatu yang disimpan Bening.
Seperti pertama dulu aku bertemu dengannya. Naluri ku membisikkan kalau gadis ini bukan wanita sembarangan. Entah lah. Mengapa hatiku punya firasat beda dengan bening yang ada di hadapanku saat ini.
" Bagaimana kerjaan mu Nang !".
Bening memecah kebisuan yang sejenak hadir diantara kami.
" Baik !".
" Kamu ? gimana murid- muridnya ?".
__ADS_1
" Yah baik ! anak- anak disini beda dengan di kota sana, mereka baik sekali !".
" Pasti banyak donk yang menggoda kamu ?".
Bening tertawa sedikit lepas. Dua deret gigi yang kecil-kecil, mirip dengan punya bunda. Aku terpana.
" Benar sekali Nang!" mereka pada over dosis melihat ku ".
" Oh ya ?".
Bening kembali tertawa, kembali dua deret gigi itu muncul di celah bibirnya. Sama persis dengan gigi bunda. Bagai gigi kelinci. dan yang paling memukau dari gadis ini adalah dua lesung di pipi kiri dan kanan membuat ku jatuh hati.
Upz ! hayalanku mulai kemana- mana. Semua yang terpancar dari wajahnya adalah ke elokan yang sempurna dimataku. Apakah aku bener-benar telah jatuh cinta. mengapa secepat ini.
Perlahan ku ulurkan buku puisi bening ke arahnya.
" Buku apa Nang !".
matanya menyipit mengamati.
" Buka aja !".
Jawabku santai. Bening meraih buku mungil di depannya. Sesaat gadis itu terpana, lalu dengan spontan berteriak kaget.
" Kumpulan puisi ku Nang ?".
Aku mengangguk. Hatiku ikut gembira melihat senyum lebar diwajah bening.
"Selamat ya ! kamu sukses jadi pengisi tetap suara hati lewat puisi di penerbit itu".
Mata bening beriap-riap lucu. Aku mengangguk mengiyakan. Kembali dia tersenyum senang. Gadis ini semakin sempurna di mataku. ingat ucapan bunda aku harus memperjuangkan cintaku, harus berani melangkah dan mengambil resiko, apa pun itu.
Lama ku renungi wajah gadis ini dalam-dalam. Beranikah aku mengatakan sejujurnya pada dia.Ku rasa aku belum mampu. Aku perlu waktu dan perlu tahu tentang gadis ini lebih jauh.
Hari selanjutnya bening makin dekat dengan bunda, dan makin terbiasa datang kerumah. Terkadang bersama-sama bunda mereka sibuk di dapur. nyobain resep masakan baru. Tertawa ceria bagai ibu dan anak. Bunda senang sekali, itu yang aku tahu.
Hingga pada suatu hari aku memberanikan diri mengintip hati bening sebenarnya.
" Ning!".
Aku menyapa gadis itu lembut sengaja mail voice itu ku kirim agar aku tak terlalu sakit jika dia bilang tidak.
" Iya Nang, kamu dimana ?".
Bening balas mengirim voice nya.
" Masih di kampus !".
" Ning ! aku suka padamu !".
Lama tak kulihat balasan mail voice. Hatiku mulai cemas dan takut. Aku tahu caraku ini salah, namun aku memilih begini agar aku tak terlalu kecewa dan Bening tak terlalu kaget.
" Maaf Nang, aku mau berangkat, buru-buru, nanti sambung lagi."
__ADS_1
Begitu balasan yang aku terima tiga puluh menit kemudian.
" Mau kemana Ning !".
pesanku tak terkirim. Mungkin Bening sudah berangkat. Begitu sampai dirumah. Bunda memberiku secarik kertas tulisan bening. Mata bunda kelihatan bengkak dan bekas air. Aku tahu bunda pasti habis menangis.
teruntuk : Nanggala
Maaf Nang ! aku tak sopan mengabari mu lewat tulisan pada kertas ini. Namun cara ini ku anggab lebih sopan, di banding aku langsung telp kamu dari jauh. Harusnya kemaren aku beritahu kamu tentang ke pergian ku hari ini. Tapi aku tak mampu. Aku tak sanggup melihat mata mu menyimpan sedih nantinya. Caraku mungkin kurang bijak tapi inilah yang terbaik supaya hati kita tetap terjaga.
Sekali lagi maaf. Aku pamit dan pergi mendadak. Kamu dan bunda sangat baik padaku. Aku janji akan menyelesaikan semua urusan keluarga ini dengan baik. Itu janjiku padamu dan bunda.
Aku tahu apa yang kamu rasakan. Aku bisa melihat dari pandanganmu padaku. Dan perlu kamu ketahui, aku juga mulai merasa hal aneh ini.
Karena itu aku harus pergi Nang.
Maafkan aku Nang,".
Aku pergi.
Jaga bunda dan dirimu baik- baik ".
Salam dariku : Bening
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Aku terhenyak kaget, rasa gembira, bahagia, senang, sedih kecewa dan bingung bercampur aduk jadi satu. Mengapa harus pergi, mengapa terburu- buru, ada apa dengan bening, mataku jadi berkunang-kunang.
Berita ini benar-benar membuatku ambruk. Andai saja aku tahu kemana bening pergi. Aku akan menyusul kesana. Tapi dia sama sekali tak memberitahu kemana dan mengapa pergi.
Bunda berdiri di sisi kursi yang ku duduki. Bunda memandangku diam. Hanya mata tua nya yang bicara dalam genangan air yang merembes perlahan.
" Bening tak bilang mau kemana. Dia hanya bilang ada tugas yang harus diselesaikan dan dia pamit pergi".
suara bunda timbul tenggelam di telingaku. Aku hilang fokus, kosong dan ga tahu harus melakukan apa saat ini. Hanya itu yang ada.
" Apakah kamu menyakiti Bening ? Membuat dia ketakutan dan pergi ?_.
Mendadak bunda melontarkan kalimat itu, terasa berdengung dan menyentak ku.
Aku menggeleng. Meyakinkan bunda. Tidak terjadi apa-apa.
Suasana ruangan hening. Yang terdengar hanya bunyi jarum jam berdetak lirih satu-satu.
Next
***
Santun dalam sayang para Readers SE Nusantara
terimakasih Sudi datang dan berkunjung.
jangan lupa : like, coment, dan vote nya untuk ku
__ADS_1
Salam Cinta : Asmirani🌷