
➖✍️
Satu pesan datang padaku sore ini. Harumi akan tiba besok pagi dengan keluarganya. Pesta pernikahan Harumi dengan Nanggala sudah di sepakati. Di gelar akhir tahun ini. Artinya lebih kurang satu bulan lagi. Ini Desember.
Persiapan bunda dan mamah sudah hampir tuntas. Tinggal mengirim undangan pada saudara, sahabat dan yang dirasa perlu.
Mamah mendadak jarang pulang. Sibuk kesana kemari mencari segala keperluan pesta. Kakek yang semula hanya sibuk dari pendopo ke beranda juga ikut-ikutan hilang dari rumah.
Nanggala muncul dengan wajah setengah lelah. Aku memberinya segelas teh pucuk pembangkit semangat. Setelah diam beberapa lama dikamar, Nanggala menyusul ku ke taman samping.
" Ning !"
" Ya .."
"Temanin keluar yuk !".
" ngapain ?".
Nanggala duduk di sampingku. memperhatikan layar laptop yang tengah dipenuhi angka-angka.
" Kamu sibuk ya ?".
" Ah ga " cuma ngisi nilai ini doank !"
ku tutup laptop, memutar duduk menghadap kearah Nanggala.
" Mau kemana ? ayo..!".
" mau cari makanan yang enak ! aku lapar ".
Aku tersenyum. Ternyata bisa lapar juga dia. Masuk ke kamar nyimpan laptop dan keluar. Duduk rapi disamping Nanggala yang udah siap dengan mobilnya.
Sepuluh menit berlalu. Aku dan Nanggala sudah berada di jalan raya. Sore masih terasa panas.
" Nyari dimana ?".
Nanggala menggeleng. Aku akhirnya diam. Ku juga jarang keluar. jadi ga tahu dimana makanan paling enak dikota ini. Aku hanya mengikuti kemana Nanggala membawa mobilnya.
Tepat depan Taman kota Nanggala membelok ke arah cafe yang adem. Udara nya bener-bener segar, pepohonan dan tanaman buah yang ditata menarik, menambah khas dan unik suasana.
Nanggala memilih tempat di samping parkiran, agak dekat ke arah sungai kecil buatan dibangunan samping cafe. Sementara Nanggala sibuk pesan makanan, aku chat dengan Harumi. Betapa dia kangen suasana cafe. Ternyata tempat ini salah satu tempat favorit yang sering mereka datangi saat masih di Indonesia.
...Makanan datang. Nanggala kelihatan begitu lahap dan sangat menikmati menu pesanannya. Cumi dengan Lombok hijau. u...
...Usai makan. Nanggala kelihatan seger. Ku dengar lagi bercanda dengan Harumi. Aku kembali melanjutkan level game menunggu waktu pulang....
Terasa ada yang datang di samping mejaku. duduk membelakangi Nanggala menghadap persis kearah
ku. Gadis angkuh itu ada disini. Gadis yang dulu menyikutku dengan sikap dingin dan membawa Jiwa menghilang sore itu. Dia juga tengah menunggu pesanan makanan.
Aku mendekat kearah Nanggala. membisikkan tentang gadis yang duduk persis di belakang kursinya. Gadis yang membawa Jiwa di parkiran kampus waktu itu. Nanggala beringsut, menarik kursi disebelah ku. Ikut mengintip gadis yang sekarang tengah menikmati makanannya.
Nanggala mengedip kearah ku penuh arti. aku mengangguk mengiyakan.Kita sepakat menguntit gadis ini hingga tempat tinggalnya. Nanggala tersenyum, mengangguk angguk.
****🔴
__ADS_1
Sekarang aku dan Nanggala melaju diatas aspal kota. Matahari semakin mendekati batas langit. sebentar lagi senja jatuh.
Sebuah motor skuter matic keren merk Honda forza melaju di depan. Bergaya cuex dengan kacamata hitam bertenger diatas hidungnya. Gadis itu kelihatan santai memacu motornya, tanpa menyadari kalau dia sedang di buntuti aku dan Nanggala.
Tiba- tiba dia membelok ke halaman rumah sakit. Nanggala ikut-ikutan memarkir mobil di pinggir jalan. Sengaja di luar area parkir agar tak di curigai si gadis.
" Ayo Ning !".
Nanggala mempercepat langkah begitu si gadis menghilang dibalik pintu. Dengan susah payah setengah berlari aku mengikuti langkah Nanggala yang panjang-panjang.
didepan sebuah baviliun kelas VIP si gadis membuka pintu dan masuk kedalam. Nanggala menatap ke arahku. Aku mengerti. Nanggala kebingungan kehilangan buronan yang di untit dari tadi.
" Ning !"
Nanggala melongo menatap daun pintu yang kembali tertutup rapat. gadis itu bekerja disini bisik ku dalam hati.
Merasa gagal menguntit si gadis. Aku dan Nanggala berniat kembali pulang. namun tiba-tiba dari arah dalam seorang suster keluar sambil menenteng peralatan pasien. Tanpa sadar aku langsung berlari mengejar. mendekati suster muda itu dengan sopan, berusaha bersikap wajar, sedang hatiku berdebar kencang. Takut ketahuan.
" Sore sus ".
Aku menyapa . Suster muda itu menghentikan langkah, menghadap ke arahku.
" Sore, ada yang bisa dibantu ?".
Aku mengangguk. lalu menyampaikan niatku untuk diijinkan masuk ke ruangan VIP tempat si gadis itu masuk.
" Saya mau berkunjung ke baviliun itu sus ".
Tanganku menunjuk kearah baviliun tempat si gadis masuk. Suster tersenyum ramah ke arahku.
Suster menatap ragu ke arahku. Nanggala langsung mengiyakan. dan mengajak suster agak ke pinggir koridor.
" Maaf suster, Ini calon istri Jiwa. Kita belum tahu dengan pasien di dalam sana ".
Nanggala memperkenalkan diri.
" Oh.." Jadi mbak ini calon istri Jiwa ?".
Suster memandang ke arahku. Bola matanya seperti menyiarkan sesuatu. Nanggala buru- buru mengalihkan suasana.
" Suster ada waktu ? ga enak ngomong di jalanan kaya gini? bagaimana kalau kita duduk di kantin sana !".
" Kebetulan jam dinas saya sudah selesai, saya juga mau pulang !".
" Mari kita antar !" sus bawa kendaraan ?".
" Iya, ada motor saya di parkir ! tapi ga apa- apa di tinggal". Teman saya bisa membawanya pulang nanti !" bentar !' saya kasih kunci ke dia dulu ".
Suster baik itu menghilang masuk ruangan. Tidak berapa lama dia sudah nongol kembali dengan pakaian biasa. baju dinas yang di kenakan sebelumnya sudah di lepas.
Nanggala dan aku serta suster baik itu langsung masuk mobil. Tempat yang disepakati makan di kantin di ganti dengan cafe yang tadi kita makan bersama Nanggala.
***🔴
Sambil menikmati makannya sang suster yang bernama Karin bercerita tentang pasien koma bernama Galih.
__ADS_1
" Mbak Galih korban selamat dari musibah kecelakaan kereta api, dua tahun lalu. namun dia koma hingga hari ini !"
Galih adalah mahasiswi tingkat akhir di kota M. ketika hendak pulang kampung, kereta yang di tumpangi naas. Galih berhasil di selamatkan dari kobaran api akibat tabrak maut tersebut, namun Galih tak bisa bangun dari koma nya hingga hari ini.
Galih adalah adik kandung Jiwa. Mereka di tinggal orang tua nya sejak masih kecil. Lalu Jiwa dan Galih di asuh oleh paman. Adik dari ibunya. Nanggala tercenung. Jiwa merahasiakan semua ini dari mereka, mengapa ?
" Kita kembali kesana Nang " aku ingin bertemu dan melihat kondisinya!".
Suster Karina mengangguk menyetujui. Dan dia berniat mengantar kembali ke rumah sakit.
Hari mulai gelap, tepat pukul 08.00 malam aku, Nanggala dan suster Karina kembali berada di depan baviliun Galih. Perlahan suster Karina memutar handle pintu, aku dan Nanggala mengikuti dari belakang.
Seorang gadis duduk di pinggir tempat tidur, sambil meng utak Atik handphoneww. suster Karina mendekat dan membetulkan letak slang infus perlahan.
" suster Karin...gadis itu kelihatan terkejut.
Suster Karina tersenyum mengangguk. Lalu menoleh ke arahku dan Nanggala.
" Ada tamu , mau bezuk mbak Galih .." Karina memberitahu. Gadis itu menoleh ke arahku dan Nanggala. Perlahan tangannya terulur. Nanggala menjabat ramah, ketika beralih ke arahku gadis itu terpana bingung.
"Aku bening !.ku jabat tangannya. Dia menyambut dengan ragu-ragu.
" Meiling" Dia memberi tahu namanya. Tapi masih dengan wajah bingung.
" Kita pernah bertemu ? aku kok seperti udah mengenali, tapi dimana.?".
Aku mengangguk membenarkan.
" Di halaman kampus saat mbak latihan basket.
Dia mengernyitkan kening, lalu tiba-tiba menepuknya sambil tertawa kecil.
" Iya, aku ingat sekarang !"
Dengan ramah mempersilakan aku dan Nanggala duduk. Lalu dia bercerita tentang Galih. kakak nya yang sudah menjalani perawatan kecelakaan kereta api. dua tahun yang lalu. Dia sudah menganggap Galih dan Jiwa sebagai kakak kandung, karena mereka memang sudah bersama-sama sejak kecil.
Singkat cerita Meiling memberitahu tentang Jiwa dan Galih yang di asuh orang tuanya sejak kecil. Meiling juga mengatakan Jiwa belum memberitahu tentang dia dan Galih karena waktu dan kondisi belum tepat. Meiling yakin Jiwa tidak berniat jahat. Jiwa sangat sibuk, hampir tak punya waktu untuk mereka semua.
Malam yang penuh kejutan. Aku dan Nang kembali kerumah lewat paruh malam. benar-benar melelahkan. Tiba dirumah bunda dan mamah sudah pulas dalam mimpi masing-masing. Hanya kakek yang masih duduk di pendopo, menikmati kegemarannya. wayang kulit. Aku langsung pamitan tidur. Nang masih berbincang di pendopo ketika aku memasuki pintu kamar.
Selamat malam Jiwa. Semoga kamu baik-baik disana. Bisikan doa ku buat jiwa yang jauh dibawah langit tugas dan pengabdiannya.
****
Next
welcome Readers semua
maaf baru bisa kembali kesini, kesibukan dan perenungan menyita waktuku.
Sudi berikan padaku like, coment dan vote nya.
terimakasih setulus hati
salam cinta : Asmirani
__ADS_1