Bunga Rumput

Bunga Rumput
Episode 8 Sakura yang Terluka


__ADS_3

🌷🌷🌷


✍️


Subuh dinihari. Aku sampai kembali dirumah bunda. udara pegunungan yang dingin langsung menyergap tubuhku begitu turun dari bus yang membawaku pulang. Pintu samping tak terkunci. Pintu biasanya bunda keluar sholat subuh di masjid yang terletak tak berapa jauh dari rumah.


Memasuki rumah aku langsung menuju kamar melanjutkan tidurku yang tertunda semalaman. Suasana rumah yang sepi, bunda pasti masih di masjid. Entah berapa lama aku tertidur, ketika usapan lembut di pipiku terasa dingin.


" Nang !".


Suara bunda menyentuh telingaku. Semburat cahaya terang memantul dari jendela yang terbuka lebar.


'" Ayo bangun, udah siang !".


kembali suara bunda berusaha menyuruh aku bangun. Aku beringsut bangun, menuju kamar mandi. Tepat jam satu siang. Lama sekali aku tak sadarkan diri tertidur pulas.


" Apa kabar Bening , mengapa begitu cepat kembali, alamat itu benar ga ?".


Beruntun pertanyaan dari bunda yang terlihat penasaran dan tak sabar ingin tahu kisah sebenarnya. Aku mengangguk.


" Alamatnya benar Bun".


" Lalu ? bening ?".


Aku menggeleng. Rasa sakit dan kecewa meremas hatiku ngilu.


" Lupakan bening ! semua itu dijadikan mimpi, datang pasti hilang lalu lupa !".


Bunda memegang pundak ku menempelkan punggung tangan di kening ku.


" Kamu baik-baik aja Nang ?".


Kembali aku mengangguk sambil menghirup kopi hitam yang masih hangat. Sambil tertawa pelan aku bercerita apa yang ku dengar dari kakek Bening.


" Bening itu dibuang sedari orok Bun, orangtuanya tak menghendaki anak perempuan !".


" Bening kecil diberikan pada pembantu mereka, anak kakek Bima ! Bening memiliki saudara kembar, laki- laki !".


Tuntas cerita ku pada bunda. Jelas dan terang. Sama persis seperti yang di ceritakan kakek Bima.


Bunda terisak. Wajah bunda pucat tak berdarah. Sambil merangkul pundak ku bunda memohon diantar ke kota bening.


" Apa yang bunda inginkan ? Bening sudah pergi belajar ke Jepang , sudah ga ada disana !".


Bunda makin terisak.

__ADS_1


" Besok kita kesana, bunda ingin melihat lebih jelas persoalan ini !".


Aku tak mengerti apa yang ada dalam benak bunda. Kenapa begitu keras ingin ke kota bening. Tanpa ampun, tanpa memikirkan aku yang kelelahan ku. Bunda seolah tak peduli dengan capeknya tubuhku. Entah apa yang difikirkan bunda.


Pagi pagi sekali. Aku dan bunda memutuskan berangkat ke kota bening. Aku sengaja bawa mobilku. Bunda ga akan kuat naik kereta dan bis malam .


Ku pacu kendaraan agak kencang biar ga kemalaman melewati daerah- daerah sepi disana. Aku kasihan melihat bunda. Sepanjang perjalanan bunda murung dan terus menangis.


Ada apa sebenarnya. Apa mungkin orangtua Bening adalah orangtua ku ? karena cerita kakek sama persis dengan cerita yang ku dengar dari bunda. Jika hal itu terbukti berarti Bening saudara kembar ku.


Begitu kejamkah bunda dan bapak hingga tega membuang darah dagingnya. Aku benar- benar bingung, sedih dan kecewa sekali.


Ku lihat bunda tertidur pulas, memasuki pekarangan rumah Bening aku membangunkan bunda perlahan.


" Bun, kita sudah sampai ".


Bunda mengucek mata. Lalu serta merta membuka pintu mobil dan berjalan cepat menuju pintu rumah bening. Seolah bunda kehilangan kesadarannya. bunda benar- benar tak sabar lagi. Aku berusaha membujuk.


" Sabar bunda, tenanglah ". bisikku pelan.


Bunda seolah tak mendengar ucapanku. Tangannya terus mengetuk pintu sedikit kencang. Aku terpana. Tak biasanya bunda seperti ini. Kasar dan arogan. Bunda yang ku kenal amat lembut dan bijaksana.


Terdengar pintu dibuka tergesa. Dari dalam muncul kakek Bima dengan raut muka kesal di dampingi seorang perempuan muda. Waktu aku datang kemaren perempuan itu tak muncul.


"Siapa ?".


" Saya, Lisantri Bramantyo, masih ingat ?".


Bunda mendekati perempuan muda yang berdiri pucat disisi kakek Bima.


" Mayangsari !".


Bunda mendekat. memegang pergelangan tangan wanita itu erat.


" Mayang ?".


Bunda kembali menyapa, wanita muda dihadapan bunda mengangguk, mundur merapat ke punggung kakek Bima.


" Mana bayi saya ?".


Bunda bertanya tajam.


"Masihkah hidup atau telah kau jual ?".


Kembali bunda bertanya dengan nada tinggi.

__ADS_1


Sontak aku kaget, bagai disengat ribuan kilowatt aliran listrik kaki ku gemetar, hingga tanpa sadar jatuh terhenyak ke lantai.


Ku lihat wajah kakek Bima kebingungan, menghadapi kemarahan bunda. Jelas kakek terlihat bingung sekali. Sejuta aura berpendar dari mata tuanya, menatap bunda dan bibi Mayang bergantian.


" Jawab ! dimana bayi saya kamu buang !".


Sekonyong-konyong bunda mengangkat tangan menampar pipi wanita itu keras. Kakek Bima terkejut, sama seperti aku yang terhenyak kaget. Kemarahan bunda sudah tak terkendali. Aku berusaha mencegah bunda, tapi sia-sia. Bunda mendorong tubuhku hingga kembali tersungkur jatuh ke lantai.


" Anak kamu yang saya tolong, saya anggab bahagian dari kelurga, saya selamatkan hidupnya dari keburukan fitnah warga ketika itu, tega menculik bayi saya, sejak saat itu saya kehilangan jejak mereka !"


bunda benar- benar murka, tak ada lagi wajah lembut sejuk penuh welas asih. yang ada adalah wajah yang amat marah bagai harimau terluka.


" Tanyakan pada anakmu yang pintar membalik balik fakta. Tanyakan pada anakmu kelakuan buruk dia. Dan silakan tanya pada masyarakat setempat bagaimana seluruh warga mencari jejaknya, mencari anak saya yang dibawa lari, kamu mesti tahu pembohong dan tukang fitnah itu Adalah anakmu !".


bunda menunjuk kearah wanita muda yang sekarang menangis. kakek Bima duduk terpaku di kursi di sebelahku.


" Kamu berhasil dibohongi dia bertahun-tahun, tapi bukti ini akan memperjelas siapa anakmu !".


bunda melempar setumpuk kertas dan surat kabar yang mulai menguning pertanda sudah lama sekali di simpan. Kakek meraih kertas- kertas itu dengan tangan gemetar menahan marah. Disana berpuluh-puluh judul kabar penculikan dan wajah bibi Mayang terpampang jelas. Kakek berdiri. Sebuah tamparan keras mendarat di pipi anaknya. laki- laki tua itu begitu kecewa sekali. Tubuhnya terguncang menahan emosi dan kesedihan.Di pipinya mengalir deras airmata.


" Kamu sudah merubah fakta dan cerita sebenarnya Mayang ! kamu bohongi bapak mu kalau bayi itu kami buang ! biadab !, sekarang kau kembalikan anak saya ! atau nasib mu berakhir di penjara !".


Bunda menangis pilu, bahunya terguncang, memandang kakek Bima tajam.


" Kembalikan anakku sekarang ! jika tidak kau juga akan ku seret ke penjara !".


Bunda mengancam kedua orang itu keras. Tak ada kata main-main diwajah bunda. Wajah itu telah berubah bagai harimau terluka. Aku tergidik, selama ini bunda dan bapak menyimpan rahasia besar ini dari pengetahuanku. Selama ini bunda menutupi kelukaan hatinya dengan amat tenang, selama bertahun-tahun bunda berdoa memohon darah dagingnya ditemukan. Aku menangis memeluk bunda pedih.


"Sekarang juga saya akan telpon polisi, kalian berdua terlibat penculikan anak saya !".


Aku berusaha menenangkan bunda, membisikkan kata- kata sabar, mengajak bunda istighfar, usaha ku berhasil, bunda mulai tenang Isak lirih jelas bernada kepedihan yang dalam.


Aku memandang kakek Bima dan bibi Mayang bergantian. Lama suasana ruangan hanya terdengar Isak tangis dan kepedihan bunda. hingga akhirnya kakek Bima memutar tombol telepon. Sejenak di seberang sana suara Bening terdengar riang memberi salam.


" Ya kakek, apa kabar disana ?" suara yang halus merdu tidak menyimpan sedikitpun kesedihan.


Kakek memberi isyarat agar Bening segera pulang. di seberang sana Bening menjawab patuh tanpa membantah sedikitpun mengikuti anjuran kakek.


Airmata di wajahku sudah tak terhitung berapa banyak mengucur. Hanya bisa menarik nafas yang terasa menyesak dada.Cerita yang tak pernah ku bayangkan seperti ini. cerita masalalu bunda dan bapak. Masalalu yang di simpan bunda dari aku. selama bertahun- tahun.


Suasana dalam ruangan rumah kakek berubah kaku. Kakek berusaha menenangkan, memohon maaf pada bunda dengan wajah penuh kecewa dan sedih luar biasa. Semua terjadi di hadapanku. Aku makin tak berdaya, Apa yang harus aku lakukan. Selain diam dan diam. Menunggu kedatangan Bening. Sebagai pemutus jawaban dari masalah ini nantinya.


Next


***

__ADS_1


Santun salam sayang untuk semua Readers Bunga Rumput. Terimakasih atas kunjungannya. Mohon berikan aku : Like,coment dan vote sebagai penyemangat ku dalam menulis lagi.


Salam Cinta : Asmirani 🌷


__ADS_2