
âïļ
Hari dan waktu saling berlomba mengejar finis. Malam berganti siang. Senja mengejar pagi begitu seterusnya. Jiwa raib bagai di telan bumi. Tak ada kabar pasti. Pasukan perdamaian PBB sebahagian telah berhasil pulang kembali ke tanah air masing-masing. namun diantaranya ada juga yang meninggal dalam Medan pertarungan, bahkan tak jarang ada yang di culik. raib serta hilang tanpa jejak.
Jiwa sebenarnya sudah kembali ke tanah air. sudah kembali ke pasukan dan kesatuannya. Namun hingga hari ini dia belum pernah muncul ke hadapan kakek, mamah dan bunda. Apalagi datang mencari ku.
" Marahkah Jiwa ? karena mungkin Meiling telah bercerita ? tentang mbak Galih ? lantas ! sepicik itukah pemikiran seorang letnan satu dan prajurit sejati ?.
Bintang muncul saat aku bergegas mau berangkat ke kampus.jadwal pagi aku masuk 4sks. mahasiswaku pasti sudah berjejer menanti.
"ada apa dengan pagi ? kenapa pagi-pagi sudah nongol ?".
Pertanyaan bertubi-tubi ku ajukan pada dia. Bintang hanya senyam-senyum lalu masuk ke ruang pendopo, menemani kakek yang sibuk merajut tali ayunan untuk Harumi.
" Aku berangkat !"
Bintang melambai, sambil berdiri pamitan pada kakek.
" Yuk, bareng-bareng, aku juga mau ke markas !".
" Kamu bawa motor ?"
Ku pandangi matanya yang bersinar lugu. Bintang mengangguk. Sambil menyimpan motor ke garasi dan ikut nebeng di mobilku. Kebiasaan dia akhir-akhir ini bila berkunjung ke rumah, pasti pulangnya nebeng, dan nanti merengek minta Nanggala menjemput ke markas. Bintang sudah menganggap rumah ini sebagai bagian dari dirinya.
" Kamu ga ke pengen menemui Jiwa ?"
Tiba-tiba Bintang memberondong ku dengan pertanyaan. Aku menggeleng. Sengaja memasang wajah angkuh. padahal dasar hati paling dalam berbagai pertanyaan berhamburan.
" Ada apa dengan Jiwa, buat apa aku mengejar manusia misterius yang super aneh begitu ! dia fikir hanya dia yang ada buat ku di dunia ini ?"
Bintang menatapku. Matanya memancarkan rasa yang ku artikan sangat misterius. Apakah laki-laki di takdir kan harus membawa tanda tanya di setiap benak wanita ?. Bintang contohnya. Setali tiga uang dengan Jiwa, sama-sama aneh, sama-sama menyimpan tanda tanya dan sama-sama misterius.
"Kamu pernah bertemu Jiwa ?"
Ku pandangi Bintang dengan tajam. Dia menatapku nanar, polos dan tanpa reaksi.
"Hanya satu kali, ketika dia turun di bandara, saat baru sampai di tanah air !".
" Lalu ?".
" Aku sibuk dengan tugasku, dia juga mungkin sibuk , aku ga pernah bertemu Jiwa sejak saat itu !".
Dari jawaban Bintang yang lugas dan apa adanya aku percaya. Bintang sangat jujur. Dia dan Jiwa sekarang sudah berbagi tugas. Sebagai orang lapangan Bintang lebih disibukkan dengan tugas dan tanggung jawabnya. Dan aku memakhlumi kondisi mereka.
" Mau sampai markas ?"
Bintang mengacungkan jempol sambil mengedip lucu. Wajah tampannya kelihatan segar bagai tomat, aku geleng-geleng menanggapi tingkah Bintang, aku tahu dia bermaksud menghiburku. Tepat di depan markas, Bintang turun. Sambil berlar-lari kecil memasuki pagar tinggi dia membalas lambaian ku.
"Hati-hati Ning "
Ku dengar suaranya mengingatkan. Aku hanya tersenyum dan berlalu dari sana, menuju kampus.
*****
ððððð
Siang begitu terik. Perih menggigit permukaan kulit. Sambil menenteng diktat dan peralatan mengajar, langkah ku seolah terbang melintasi pelataran Fakultas. Menghindari sengatan matahari yang perih. Melewati ruang Sekretariat, aku melihat kelebat bayangan Meiling memutari beranda depan, persis di depan kaca pembatas aula. Kaki ku hendak mengarah keluar ruangan, namun terasa kaku dan berat. Aku ingin berbincang dengan Meiling tentang Jiwa namun terasa kelu setiap persendian ku.Sudahlah.
Kembali memutar langkah. Lunglai ku masuki sebuah pintu. Diatas papan berita yang tergantung paling atas dari daun pintu tertera kalimat : "Ruang Istirahat dosen dan tenaga pengajar".
Sambil menulis catatan kecil.dari kertas yang sudah disusun rapi di setiap pintu, pesanan menu siangku. lalu menaruh kertas itu dalam box dan aku beranjak masuk. Sebentar lagi pesanan ku sampai. terasa lapar dan aus. Ku pilih tempat agak ke sisi belakang ruangan, sebuah meja kecil dengan kursi tidur cukup untuk teman istirahatku siang ini, menunggu jadwal masuk berikutnya.
"Kenyang !" makan siang dengan segelas teh hangat. Membuat tenagaku kembali pulih. segar dan nyaman. Waktu tunggu jadwal ku selanjutnya tinggal 30 menit lagi. Saatnya berkemas, buku dan diktat serta peralatan lain. Cukup istirahat siang ini disini. Perlahan kakiku meninggalkan ruangan. menuju kelas selanjutnya.
__ADS_1
ð·ð·ð·ðą
Tiba-tiba. Yah tiba-tiba langkahku terhenti. Seseorang mencegat ku. Rencana ku masuk menuju kelas yang tengah menunggu tertunda. Orang ini, sungguh membuatku kesal dan jengkel.
Ku tatap wajahnya dengan rasa bingung sekaligus kesal.
" Apa maksud kamu menghalangi jalanku!"
Dia menggeleng. gugup dan sedikit panik. Lalu melempar secarik kertas ke arahku, dan lari berbalik menuju parkiran kampus. Ku amati sobekan kertas yang tadi menimpa tubuhku.
"Sungguh aneh. Ada apa dengan dia !".
" Bening, seseorang menunggu kamu di kafe hijau, biasa kamu datangi dulu !"
Aku terpana. Coretan pena warna hitam. Jelas ini pesan buatku. Siapa dia. Setengah jengkel dan penasaran, ku lanjutkan kaki melangkah ke ruang kelas. Aku tak mau berfikir macam-macam saat ini. Tugas dan tanggung jawab menanti ku, disini, di ruangan ini. Tapi sisi lain dari hatiku begitu penasaran. Selesai jadwal nanti aku akan kesana.
Ruangan masih sedikit hiruk pikuk, ketika kakiku memasuki pintu. Lalu sejenak ku dengar salam santun mereka. Aku tersenyum, cukup bagiku sapaan ini menyegarkan kembali fokus yang tadi sempat buyar.
Empat jam pelajaran. Melelahkan ber antraksi dengan kata dan majas. Akhirnya tugasku hari ini kelar, dengan meninggalkan pesan dan tugas buat mereka, untuk pertemuan berikutnya. Ringan kakiku menuju parkir. jadwal dan jam mengajar ku selesai sudah untuk hari ini. kafe hijau menggoda hatiku, rasa penasaran dan penuh tanda tanya berloncatan dari benak dan hati.
" Siapa disana ! apakah ada hutang dan tuntutan yang belum aku lunasi ?
keningku terasa mengkerut dan mungkin berlipat-lipat, rasa ingin tahu membawa langkahku kesana, kafe hijau.
***
Mataku mencari di setiap meja dan sudut, barangkali ada wajah yang ku kenali. Ambiyar. semua nya asing dan semuanya terlihat enjoy dengan kegiatan mereka. Lalu, siapa pemilik pesan yang diantar oleh orang misterius tadi siang ? orang yang sempat membuatku jengkel.
Yakin tak ada yang ku kenali dan tak ada yang membuat hatiku curiga, aku berbalik, keluar pekarangan, menuju mobil yang ku parkir di luar halaman. Bersamaan langkahku menuju pintu dan hendak membukanya, seseorang melintasi jalanku.
" Jiwa !".
" Iya bening ! maafkan aku, mari kita duduk didalam sebentar, ada yang ingin aku bicarakan denganmu !".
" Kamu perlu apa ? disini saja sudah cukup !".
Jiwa memandang mataku dengan tatapan kosong. Kelihatan dari sana berpendaran rindu juga beban.Ada apa dengan laki-laki ini.
"Ayo duduk di dalam, disini kurang sopan !"
Kembali suaranya memintaku dengan setengah memohon. Aku menggeleng.
" Kurang sopan mana, jika ke rumah kakek atau kerumah Nanggala ? ku rasa tempat ini jauh amat baik ke timbang di dalam kafe itu, ayo bicaralah! waktuku singkat !".
Jiwa kulihat menarik nafas panjang. Dia mengalah. sambil mencari posisi duduk jiwa menarik tanganku agar sama-sama duduk di pinggir jalan kafe hijau.Sebuah bangku kayu, Jiwa mempersilakan aku duduk.
" Aku berdosa padamu, juga keluargamu".
" Dosa ? emang kamu pernah melakukan kesalahan apa ?".
" Maafkan aku bening ! Aku menutupi semuanya dari kalian !".
" menutupi ?"
Jiwa menunduk. dari kerut wajahnya yang muram kulihat kesedihan yang amat dalam.
".Ceritakan padaku, apa sebenarnya yang kamu sembunyikan !".
Jiwa mengulurkan sebuah foto padaku, seorang anak laki-laki kecil, lima tahunan.Aku terpana, menatap Jiwa dan foto itu bergantian, mirip serupa bagai kembar asli. Aku tergidik. Sesuatu berbisik dihatiku, lirih dan terasa perih.
" foto siapa ini ?
Aku masih mencoba bertanya, berharap apa yang muncul dihatiku barusan adalah salah.
__ADS_1
" Ning, aku membohongimu, membohongi semua orang, aku benar-benar minta maaf ".
" Kebohongan apa ? aku ga ngerti ada apa denganmu ! ceritakan padaku !".
Jiwa menatapku nanar. Pandangan yang sangat hampa. bukan pandangan Jiwa yang biasanya ku lihat. Mata itu kelihatan lelah. Ada apa dengan laki-laki ini.
" Itu putraku, semata wayang, bersama Galih!".
Kalimat Jiwa bagai halilintar, menghantam hatiku. Melecut air yang selama ini ku simpan rapi di pelupuk mata. Kini air itu mengalir pelan, jatuh satu-satu di kedua pupil mataku, mengalir perlahan tanpa bisa di cegah. Sekuat dan sebisanya aku menahan, tapi tetap saja jatuh dan jatuh. Aku berusaha tegar, berusaha tersenyum dalam tangis, namun sia-sia. Isak perih yang keluar dari balik hati yang bingung mencuat ke permukaan.
Jiwa. Aku tak menyangka. Seorang prajurit kebanggaan mampu melakukan ini pada seorang aku, setangkai bunga rumput sederhana yang tidak meminta apa-apa, selain kejujuran hati.
Dengan airmata yang masih menggenangi pipi, aku mendengar kejujuran Jiwa dengan hati tabah. Ku lihat matanya berkabut dan larut dalam penyesalan yang tak bisa di sembunyikan. Aku berdiri, usai mendengarkan pengakuan jujur lelaki yang selama ini ku kagumi. Laki-laki yang mampu membawaku keluar dari trauma cinta Nanggala. Ku hapus sisa terakhir airmata di pipiku. Ku senyumi dia yang menatapku dengan pandangan hampa dan berbagai rona disana.
" Aku pamit ! aku tidak menyalahkan kamu, hanya kita terjebak oleh waktu dan kondisi hati yang labil. Dan kita sama-sama masuk dalam perangkap cinta yang diantarkan mata. Maafkan aku, terima ini kembali, aku tak mampu menyimpan lama di leherku. Karena semua ini masih milik mbak Galih !".
Ku taruh kalung warna hati ke telapak tangannya yang mengambang. Lalu aku melangkah. memasuki mobil dan berlari pergi dari hadapan Jiwa.
Hatiku sangat hancur, tak berbentuk. Mengapa cinta ini selalu melukaiku. Mengapa semua cinta yang kucintai berniat menyakitiku telak. Apakah aku tak berhak memilikinya. Apakah cinta itu seperti ini. Dan aku tak layak dicintai ? disayangi ? memiliki ?
Deru mesin mobil menggilas aspal hampir tak ku dengar lagi. Yang aku tahu, aku telah berada di pinggir laut, diatas pasir yang pucat dalam temaram senja yang mulai datang.
Sebagian kakiku sudah basah dijilati lidah ombak. aroma asin air laut menampar pipi dan tubuhku. Aku masih terpaku disini. Berulang kali silih berganti, Harumi,Nanggala,Bintang dan mamah memanggil. Aku hanya memandang tawar dan tak berniat mengangkatnya.
Hati ini sakit. hati ini kecewa. hati ini terlanjur hancur tak berbentuk. Airmata ku bercampur asin air laut sudah tak ku pedulikan. Bagiku kehidupan sudah mengolok-olok ku begitu dahsyat. Apa salahku. Adakah seorang bening meminta untuk di cintai dengan paksa. Adakah aku merampas hati mereka dengan ego nya aku. ga sama sekali.
Jelang subuh, angin laut yang kencang menubruk ku hingga ambruk. diatas pasir aku masih duduk sendirian. Bulan dan bintang yang samar di langit tinggi menjadi teman malam satu-satunya. Masih disini, diatas pasir yang mulai dingin, berteman angin, ombak dan bulan pucat pias diatas sana. Hatiku beku.
" Mamah, akhirnya cinta memang bukan untukku, seperti yang pernah menimpa hatimu.
" Mamah, engkau wanita pemberani yang tegar hidup sendirian hingga usia senjamu, seperti aku yang juga akan memilih jalan yang sama.
"Jika engkau seorang wanita kampung, dengan hati sekuat baja, maka aku adalah gadis kota berhati rumput, sederhana dalam permintaan, tidak mengharap lebih dalam pemberian. Aku hanya butuh ketenangan sekarang.
Dan aku bukan perusak jalan kehidupan dan kebahagian mereka. Aku bukan pecundang yang mampu hadir di tengah-tengah kebahagiaan orang lain. tidak akan ada data dan skema itu pada dasar kehidupan setangkai rumput. Melata namun tidak menebar Angkara. melata namun tetap punya harga walau sederhana dalam pandangan mata dunia.
Mamah, maafkan aku !, ternyata bunga rumput tetaplah dibawah, tetap rata dengan tanah, tak mungkin dia menjalar tinggi. Bunga rumput selamanya simbol sederhana, tidak meminta apa-apa.
Pagi. Semburat matahari diatas ombak memantul pucat. Aku harus pulang. Kembali kerumah. disana tempat ku paling baik berkeluh kesah. Dalam pelukan mamah yang selama ini mengajari hatiku kuat dan tabah.
Selamat jalan cinta. Pergilah kemana kamu suka dan dimana bahagia bisa membawa aura mu. Aku akan tetap disini, melanjutkan sisa usiaku. Tanpa kamu, tanpa airmata dan tanpa apa-apa.
the end
ð
âïļâïļ
Sampai bertemu di :
Bunga Rumput Part II ( dua )
ðŠīððŠīâïļðŠī
***
Santun salam Cinta dan sayang buat semua Readers. sampai berjumpa di novelku selanjutnya.
bangunkan aku dengan semangatmu, bantu aku dengan spirit and suportmu kawan : like,coment dan vote ku tunggu ð
terimakasih ðð
Salam cinta : Asmirani ð·ð·
__ADS_1