
🌲🌲🌲🌲
Harumi memanggilku hingga tujuh kali. Tidurku pulas banget. Kubaca pesan ringkas Harumi. Dia benar- benar sahabat yang baik. Dimana pun selalu ingin mengajak serta aku. Kemanapun selalu ingin membawaku. Sungguh aku beruntung bertemu gadis Jepang ini.
" Bening ! kamu dimana ?". Aku di museum kuno Kyoto !"
Begitulah pesan whatsap Harumi, Masuk satu jam yang lalu. Jam di dinding menuju angka dua seperempat waktu Jepang.
Motenashi Sumiya. Tiga puluh lima menit berikutnya aku sudah berada disamping Harumi.
" Hi Harumi ! kamu bawa pedang ga ?".
Harumi tertawa ketika kucandai.
" Yang penting kamu jangan mampir di rak pedang ! nanti kamu yang dipaksa tinggal karena ga bawa pedang !".
Harumi menarik tanganku, kearah pintu bangunan dapur asli.
" Kita wajib lepas sepatu disini !" Harumi melepas sepatunya dan menyeret tanganku memasuki pintu geser yang amat indah.
Mataku tak berkedip, berdecak kagum. dari lantai dapur dengan rentang tanah liat asli dan bermacam-macam peralatan masak yang dipajang sesuai urutan periode waktunya.
menuju ruang pameran dengan kotak- kotak kaca yang mewah, memajang berbagai keramik yang membuat mulutku ternganga kagum.
"Sungguh luar biasa!".
" Ada yang lebih indah lagi ! kamu wajib lihat !".
Harumi menyeret tanganku menuju engawa. Taman yang dilihat dari beranda yang sengaja dibuat sempit. Dalam istilah Jepang "engawa" yang artinya beranda sempit.
Sebuah taman membentang dengan aneka bunga yang sangat indah. Sakura yang menakjubkan. Aku hampir tak berkedip melihat pemandangan taman yang belum pernah kutemukan sebelum ini.Disini bunga tercantik di dunia yang pernah ku lihat.
" Harumi, ini syurga bukan ?".
Aku berdecak kagum. Hampir tak berkedip dan pesona yang sangat alami. Benar-benar syurga dunia yang sangat indah.
Harumi tertawa lepas. Suara tawanya yang nyaring nyaris membuat beberapa mata memandang ke arah aku dan Harumi. Dia tersipu malu begitu seorang kakek-kakek menatap serius wajah Harumi. Tempat yang ternyata tak boleh berisik, aku menggoda Harumi sambil tertawa pelan.
" Kamu merusak ketenangan, tawa mu jangan kencang- kencang. Mereka ga suka suara berisik mu ".
__ADS_1
Bisik ku kembali di telinga Harumi.
Harumi tersenyum geli. beberapa orang memperhatikan wajahku yang kelihatan asing disini. gantian Harumi berbisik menggoda ku.
" Hati-hati ada yang mu nyulik kamu !".
Harumi mengedipkan mata lalu kembali berbisik
" Biar Bintang aja yang nyulik hatimu ! gimana mau ?".
Ku cubit pinggang Harumi yang terus saja menggoda ku. Dia menyingkir jauh, sambil ketawa cekikikan, sebelum cubitan keduaku mendarat.
" Benar juga, beberapa hari ini Bintang tak ada berita. Kemana dia. Apakah sudah pulang ke Indonesia ? ah, fikiranku jadi melayang-layang ingat suasana bermain diatas salju. Bintang yang lucu, aku senyum- senyum sendiri.
" Eh Harumi, bener juga katamu, Bintang kok menghilang ?".
" Nah.. kamu kangen kan ?".
" Kangen banyolannya !".
Aku tertawa kecil. Harumi menyeret tanganku kembali ke area dapur, tempat masuk pertama tadi. Mengambil sepatu di penitipan dan keluar dari gedung museum.
Menikmati teh hangat di bangku taman Motenashi Sumiya sambil memandang matahari sore yang mulai redup, Harumi menelpon Bintang.
Bening ! kamu baik-baik aja disana ?".
Suara Nanggala dari kejauhan mengurai kangenku. Nanggala menceritakan kondisi rumah dan kakek juga bibi Mayang dan bunda yang semakin akur. Aku bahagia mendengarnya. Di sampingku Harumi ketawa heboh, bercanda lepas mungkin masih dengan Bintang. Biar saja.
Kembali kudengar suara Nanggala. Dia masih di kampus, musim ujian naik tingkat, itu kelakar Nanggala ditelinga ku.
Lama menemani obrolan Nanggala di kejauhan sana. Akhirnya pembicaraan usai. Setelah saling memberi salam dan wanti-wanti tentang segala hal, Nanggala menutup telponnya.
Harumi masih saja cekikikan. Entah apa yang sedang dibicarakan. Aku mengambil cangkir teh yang sedari tadi belum ku sentuh. Menikmati aroma wangi teh Jepang. Perlahan rasa segar mengaliri tubuh dan tenggorokan ku. Sungguh hari yang sangat indah.
Udara dingin mulai datang berkecambah. Aku makin merapatkan syal dan jaket ke leher. Tangkai-tangkai sakura di atasku meliuk lembut di hembus angin. Aku menyandar ke bangku, menikmati panorama alam. Negeri Sakura yang unik dan Indah.
Bila saja semua masalalu bukan milikku, pasti Nanggala bertemu aku sebagai sahabat, bukan saudara. Jika saja boleh memilih aku terlahir dari rahim orang lain, bukan kembaran Nanggala semua tentu tidak seperti ini.
Masih saja ada Nanggala disini, di hatiku. Entah bila bisa ku buang rasa ini. Melupakan kisah tentang seorang Nanggala. Sanggupkah aku. Harus menuduh waktu kah atau kondisi yang tidak berpihak padaku.
__ADS_1
Entah siapa yang harus di salahkan. Ku pandangi Harumi. Masih dengan obrolan. kali ini wajahnya tampak sangat serius sekali. Aku tak mau mengusik. biarlah saja dia. Mungkin ada hal yang harus di tuntaskan bersama orang yang sekarang dalam pembicaraan itu. Harumi sangat baik, pasti dia akan bertemu dengan orang-orang terbaik juga.
Disini taman sakura Motenashi Sumiya Kyoto. Cinta dan rasa harus ku kubur dalam-dalam. Aku harus bisa melupakan Nanggala, karena rasa yang sekarang merajai hatiku adalah rasa yang salah. Rasa yang tak seharusnya ada. Nanggala akan tetap ada buatku, namun posisinya sekarang adalah sebagai saudara kembar ku. Dan aku harus berusaha sekuat aku bisa untuk menghadirkan rasa itu. Bagaimanapun caranya.
Ada yang luruh ketika Harumi menyentuh pundak ku hangat.Harumi menatap mataku lurus. Wajah polosnya terlihat amat bersimpati. Memeluk pundak ku Harumi berusaha memberikan kehangatan. Menghibur dengan caranya. Aku tersenyum lembut.
" Kamu baik- baik saja Ning !".
Aku mengangguk. mempererat pelukanku di pundaknya.
" Aku akan terus baik-baik saja, Harumi. Aku hanya ingat keluargaku yang jauh disana !".
" Bintang titip salam. Apakah kamu tak ingin bertemu dia lagi ?".
" Untuk apa ? Aku masih ingin seperti ini Harumi. Aku belum siap menghadirkan siapapun, apalagi Bintang. Bagiku saat ini dia hanyalah sahabat baik ! Yang aku temukan ketika aku memerlukan teman !".
" Bagaimana dengan mu ? Jika Bintang tiba- tiba suka padamu ?".
Aku balik bertanya. Harumi tertawa lepas. Binar dimatanya terlihat indah. Lalu dengan sedikit jaim mengucapkan kalimat yang sama.
" Bintang hanya sahabat ! so dia sahabat terbaik kita disini !".
Harumi tertawa. Matanya masih memancar ceria. Aku ikut hanyut dalam derai tawanya. Sungguh hati tak bisa di paksa. Sungguh cinta bukan hal yang murah dan bisa dibagi- bagi ke lain hati, ke sembarang orang. Cinta memang tidak akan pernah bisa dipaksa dan memaksa.
" Yuk, kita pulang !".
Harumi menarik tanganku menuju mobil. Detik selanjutnya dia telah melaju, membawaku kembali ke rumahnya.Aku hanya bisa mengikuti apa yang terbaik menurut Harumi hari ini.
Next
****
Selamat datang para Readers se-nusantara. Sambut salam ta'zimku. terimakasih atas kunjungannya.
Jangan lupa berikan padaku semangat dan suport positif mu : like, coment dan vote nya 🙏
Terimakasih
__ADS_1
Salam Cinta : Asmirani 🌷
***