Buru-buru Nikah

Buru-buru Nikah
Bab 10. Apa dia orangnya?


__ADS_3

Disini juga ada Cha Eun woo ya 😍☺️ soalnya author suka Cha Eun woo 🀣 Harap di maklumi.


...πŸ€πŸ€πŸ€...


Bukannya menjawab atau menunjukkan dimana ruang UKS. Juna malah menawarkan diri untuk menggendong Naya yang ada di kedua lengan kekar Gara.


"Gue tanya UKS, bukannya nyuruh lo gendong dia." kata Gara datar.


"Lo bukan muhrim dia!" sentak Juna, kalau ia menyerahkan semua buku yang dibawanya pada seseorang siswa bernama Ardi, yang juga membawa buku.


"Hah?" Gara mengernyitkan keningnya dengan bingung. Apa maksud ucapan Juna? Terasa ambigu bukan?


"Siniin!" ujar Juna pada Gara. Entah kenapa Juna tidak rela melihat Naya di pegang-pegang cowok lain.


Gara cuek, matanya beralih pada si Ardi. "Hey, dimana UKS? Buruan!" Gara juga tidak tahan bila terus menerus menggendong Naya, memang Naya ringan. Tapi kalau digendong lama-lama kan bisa jadi berat.


"Lo lurus aja terus belok kiri, disitu UKS." jelas Ardi yang langsung mendapatkan anggukan kepala dari Gara. Gara, pria itu membawa Naya kesana tanpa peduli pada Juna.


"Sialan! Gue dicuekin!" gerutu Juna kesal, dengan dada yang naik turun. "Siapa sih dia?"


"Udah Jun, daripada Lo bertanyaaak tanyaak...mending kita bawa buku ke perpus. Nanti dimarahin Bu Rose bisa berabe." Ardi dengan gaya lebaynya , menaruh kembali sebagian buku itu ke tangan Juna.


Juna berdecak kesal, kemudian dia membawa buku itu ke perpustakaan bersama Ardi. Walau hatinya kepikiran Naya, gadis itu jatuh pingsan. Apa ini gara-gara dia yang meninggalkannya? Atau dia memang sedang sakit?


****


Naya dibaringkan disalah satu ranjang ruang UKS yang terbilang cukup mewah itu. Ya, namanya juga sekolah elit bukan? Segala fasilitas ada termasuk kolam renang. Tapi sekolah mewah nyatanya tidak membuat seorang Naya bahagia. Bahkan ia hanya punya satu teman yang benar-benar teman yaitu Andra.

__ADS_1


"Dia pingsan Bu, tolong di periksa." kata Gara pada seorang dokter sekolah yang berjaga disana. Yaitu Bu Sinta, seorang wanita muda usia 30 tahunan.


Bu Sinta beranjak dari tempat duduknya, ia langsung menghampiri Naya dan Gara. Wanita itu sudah siap dengan stetoskopnya, untuk memeriksa Naya.


"Ya Allah... lagi-lagi Kanaya!" kata Bu Sinta seolah tak heran dengan kedatangan Naya ke UKS itu. Ya, sudah terhitung sejak Naya datang ke sekolah ini. Naya datang ke UKS 3 kali, pasti dalam keadaan demam bahkan terkadang luka. Tapi kali ini dia pingsan.


"Loh? Emangnya dia sering datang kesini Bu?" kata-kata Bu Sinta berhasil membuat Gara si dingin itu jadi kepo pada Naya.


"Ya, ini sudah ke 3 kalinya Kanaya ke UKS." Bu Sinta memeriksa kondisi Naya. "Tapi--kenapa kamu masih ada disini? Bukankah kamu masih di hukum sama guru piket?" tanya Bu Sinta.


Gara kecewa, padahal ia ingin bertanya lebih lanjut pada Bu Sinta tentang si mata empat yang selalu disebut oleh Damar ini. Tapi dia juga masih ada dalam masa hukuman.


"Iya Bu," kata Gara lalu pergi dari sana.


Gara kembali ke lapangan untuk menyelesaikan hukumannya bersama Damar. Sialnya, hukuman Gara ditambah oleh guru piket sebab dia pergi ke UKS tadi. Dia di hukum membersihkan lantai depan toilet pria, saat jam istirahat di hari pertamanya di sekolah.


"Tuh kan, udah gue duga kalau lo bakal jadi femes di sekolah ini. Cewek-cewek udah pada ngantri buat lo bro." kata Damar pada saudara sepupunya. Gara hanya datar, tidak menyahut ataupun berekspresi. Dia meletakkan alat pelnya ke tempat semula. Baru saja ia selesai dengan hukumannya.


"Oh ya guys, kenalin ini sepupu gue Gara dari desa Sunagakure. Hahaha." Damar tertawa saat memperkenalkan Gara. Teman-teman Damar juga tertawa, Bian dan Choki. Tapi Gara datar saja.


"Ya elah, ketawa dikit napa lo datar banget!" celetuk Damar sebal.


"Saudara lo ganteng banget Mar, beda sama kayak lo." ucap Bian meledek.


"Sialan lo! Gue juga ganteng tau, kayak Jason Statham!" Serka Damar tak mau kalah.


"Haha...ngimpi lo." Choki tertawa dengan candaan Damar.

__ADS_1


"Gue Gara." Gara, pria itu mengulurkan tangannya pada Choki terlebih dahulu. Biasa wajahnya tanpa senyuman.


"Gue Choki, salam kenal Gar." sahut Choki.


"Gue Biantara, dari kelas IPS 1. Sama kayak si Choki." Bian memperkenalkan dirinya, dia tersenyum ramah.


"Udah kita lanjut ngobrolnya di kantin aja, gue laper. Entar keburu bel." kata Damar mengajak Gara dan kedua temannya pergi ke kantin sekolah.


Saat mereka tengah berjalan menuju ke kantin sekolah, mereka melihat Naya baru saja keluar dari UKS. Tapi dia tidak sendiri, ada Juna dan Andra disana. Langkah mereka terhenti sejenak dan mendengarkan percakapan Juna dengan Naya.


"Gue mau jelasin sama lo," ucap Juna seraya meraih tangan Naya, tapi gadis itu menepisnya.


"Stop! Mending kamu anggap aku kasat mata aja Jun, jangan gangguin aku lagi. Aku ingin tenang sampai lulus sekolah." ucap Naya terisak. Ia lelah karena sikap Juna yang seperti rollercoaster. Kadang baik, kadang jahat, tapi diam-diam dia menyuruh orang membullynya.


"Bukan gue yang nyuruh mereka buat bully lo, sumpah! Gue bahkan gak tau kalau lo--"


"Udah!


"Nay, dengerin dulu penjelasan Juna." kata Andra ikut bicara.


"Gue nggak ngelakuin itu Kanaya Wulandari! Sumpah!" seru Juna yang terdengar oleh Damar, Choki, Bian dan Gara.


"Lo tunjukkin aja siapa orangnya, siapa yang bully Lo?" tanya Juna serius. Dia tidak tau apa-apa tentang apa yang terjadi pada Naya. Ia baru tau tentang Naya yang dibully dari Andra.


'Kanaya Wulandari? Apa dia orangnya? Dia...' Gara tenggelam dalam pikirannya begitu dia mendengar nama Kanaya Wulandari.


...****...

__ADS_1


__ADS_2