
...🍁🍁🍁...
Juna langsung tancap gas ke rumah sakit tempat Ghea check up kesehatan. Ya, itu adalah alasannya kenapa dia tidak ke sekolah hari ini. Ghea memiliki riwayat penyakit maag kronis dan kemarin sakit maag nya kambuh. Hal itu tentu saja membuat Juna cemas, sebagai seorang pacar yang baik. Juna siap siaga dan memberikan perhatian sepenuhnya pada Ghea. Bahkan tadi malam, Juna juga menghabiskan waktu di rumah Ghea bersama kedua orang tuanya. Ia merawat Ghea yang sakit, membelikan makanan, melempar kata-kata manis. Ghea sangat senang di perhatikan seperti itu oleh Juna. Ya, dari dulu ia sudah menyukai Juna dan saat Juna mengatakan cinta padanya, tentu Ghea langsung menerima. Walaupun dalam hati sebenarnya gadis itu agak kesal dengan insiden ciuman Juna dan Naya sebelumnya. Tapi dia sudah membalas semua itu, dengan menyuruh beberapa siswa membully Naya di sekolah lewat kedua teman baiknya Ria dan Mona dengan cara provokasi.
"Udah lama nunggunya, yang?" tanya Juna seraya memberikan helm pada Ghea yang sudah menunggunya didepan rumah sakit. Bisa saja Ghea naik mobil bersama supirnya atau naik apa kek. Tapi Ghea manja pada Juna.
"Pasangin dong helmnya!" seru Ghea dengan bibir yang mencebik manja.
"Iya sayang." sahut Juna, kemudian ia memakaikan helm berwarna pink itu ke kepala Ghea. Gadis itu tersenyum manis, Juna sangat sweet sejak 2 Minggu lebih mereka berpacaran.
"Tapi kamu gak apa-apa kan naik motor? Aku takut kamu kenapa napa yang." cetus Juna perhatian, kini Ghea sudah naik motor Juna dan melingkarkan tangan di tubuh pria itu dengan posesif.
"Gak apa-apa kok. Kamu tenang aja Jun." kata Ghea lembut.
"Ya udah, aku anter kamu pulang ya. Pegangan sayang." ucap Juna pada kekasihnya itu. Juna lalu melajukan motornya menuju ke rumah Ghea dengan hati-hati.
Di dalam perjalanan menuju ke rumah Ghea, Juna melihat seorang pedagang kue cucur. Ia sempat tertegun sejenak sebab Naya pernah mengatakan bahwa ia suka kue cucur. Tiba-tiba Juna memberhentikan motornya dan membuat Ghea heran. Juna sendiri tengah berfikir, nanti ia akan membelikan kue cucur untuk Naya. Apalagi gadis itu tadi pingsan di sekolah.
"Sayang, kenapa berhenti?" tanya Ghea pada Juna.
"Gak apa-apa." pria itu tersadar dari lamunannya, kemudian ia kembali mengemudikan motornya ke rumah Ghea. Ghea, gadis itu bingung kenapa Juna jadi banyak melamun. Bahkan diajak ngobrol saja kadang dia tidak menyahuti, Ghea mulai merasakan ada yang aneh dengan kekasihnya itu. Pikirannya mulai buruk pada Naya, tapi disisi lain dia merasa tidak mungkin Juna suka pada cewek macam Naya.
****
__ADS_1
"Kenapa sih Ghea manja banget sekarang? Beda sama si mata empat? Minta ditemenin mulu...dulu Ghea gak kayak gini? Apa karena gue udah pacaran sama dia makanya sifat aslinya kelihatan?" gerutu Juna setelah dia selesai mengantar Ghea pulang. Dan wanita itu memintanya tinggal lebih lama, kadang Juna lelah dengan sikap manja Ghea. Akhirnya ia pun pulang sore hari ke rumah, padahal tadi kelas Naya sudah mengingatkannya untuk pulang tepat waktu seperti pesan dari Yudha.
"Nah...tukang kue cucurnya jadi keburu gak ada kan? Padahal gue mau beliin buat si mata empat." gerutu Juna kesal sebab si tukang kue cucur tadi sudah tidak ada disana. "Ya udah deh, gue pergi ke supermarket aja buat beli cemilan yang manis. Dia kan suka yang manis-manis." ucap Juna pada akhirnya.
Pria itu pun pergi ke salah satu supermarket yang ada di ujung komplek perumahan. Ia melihat Naya dan Gara berada disana juga, mereka baru selesai belanja. Dari kejauhan, dua orang itu tertawa sembari melempar senyum.
"Ngapain mereka ada disini? Sial!" umpat Juna kesal, kemudian ia pun menghampiri Naya dan Gara.
"Woy mata empat!" seru Juna memanggil Naya.
Naya hanya melihat Juna dengan dingin begitu pula Gara. Dia memang datang seperti biasanya. "Balik bareng gue,"
"Aku mau pulang bareng Gargar." tolak Naya cepat dan membuat Juna berjengit tak percaya. Wanita itu menolaknya? Padahal dulu Naya selalu pulang bareng biar hemat ongkos. Kenapa sekarang ditolak dengan mudah?
"Ayo Gar!" seru Naya seraya tersenyum pada Gara.
"Gak bisa. Apa lo gak kasihan sama si Gara gara, dia mesti nganterin lo yang rumahnya berlawanan arah sama rumah dia. Lo balik bareng gue lagian kita kan SERUMAH." kata Juna penuh penekanan, terlihat senyuman tipis dibibirnya.
Gara sontak menatap Naya, tatapannya bertanya pada gadis itu. Apa yang dimaksud dengan serumah?
"Kamu jangan salah paham Gar, aku sama Juna serumah karena aku kerja di rumah Gara."
"Kerja?" satu alis Gara terangkat.
__ADS_1
"Nanti aku--"
"Buruan balik! Bokap sama nyokap gue lagi gak ada di rumah, gue laper...lo harus masak." Juna langsung menarik tangan Naya dan membuat percakapan Naya dan Gara terputus.
Gara tidak menyusul mereka, ia mematung dalam kebingungan. Dan sepertinya ia harus bicara dengan Damar, teman dekat Juna.
****
Tak berselang lama kemudian...
Naya dan Juna pun sampai di rumah kedua orang tua Juna. Sesampainya disana, Juna kembali dengan sikap aslinya yang cuek dan menyebalkan.
"Kamu mau makan apa? Aku masakin." tanya Naya langsung.
"Kanaya, lo harus inget posisi lo!" bukan menjawab, Juna malah berkata begitu. Bahkan memanggil namanya Kanaya.
"Maksud kamu?"
"Lo istri gue, gak seharusnya lo jalan bareng sama cowok lain. Kalau mama sama papa gue lihat, gimana?" alibi Juna seraya menatap gadis itu dengan tajam.
'Gue gak suka, lo jalan sama dia Nay. Gue gak suka'
"Istri?!" Naya mendelik sinis menatap Juna. Sejak kapan si Juna menganggapnya istri. Lagian kenapa dengan sikap Juna hari ini?
__ADS_1
...****...