Buru-buru Nikah

Buru-buru Nikah
Bab 7. Dompet hilang di kelas


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Naya pun memutuskan untuk pergi setelah Damar memintanya turun dari motor dan pergi seorang diri. Lagi-lagi gadis itu diabaikan karena dirinya jelek. Demi gadis cantik dan perfect bernama Ghea, Naya diabaikan lagi. Terlebih oleh Juna suaminya sendiri, padahal Naya sudah ada rasa pada Juna meski ia sebal pada pria itu.


"Mar, kenapa lo ada disini? Dan lo--kok jalan sama dia sih?" tanya Juna seraya menatap Naya yang juga masih ada disana.


"Gue kesini karena udah janjian mau berangkat bareng sama Ghea. Tapi lo--" Damar tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal dia adalah dalang dibalik pernikahan paksa Juna dengan Naya. Dia memasang image teman baik saat ini.


"Damar, maaf ya...aku gak jadi berangkat sama kamu. Aku mau berangkat sama pacar aku." ucap Ghea tanpa ragu mengakui Juna sebagai pacarnya. Sontak saja Damar dan Naya tercengang mendengarnya, mereka menatap Juna dan Ghea.


Wajah Juna terlihat memerah, baru kali ini Naya melihat pria itu tersenyum bahagia bahkan malu-malu. Sedangkan padanya suka marah-marah.


'Padahal kita udah nikah, tapi kenapa kamu malah pacaran sama orang lain? Ah...Naya apa yang kamu pikirin sih? Pernikahan ini kan tidak berarti apa-apa buat Juna' Sedari tadi Naya terus menghela nafas.


"Pa--car?"


"Iya, kita baru aja jadian. Ucapin selamat dong bro!" seru Juna bahagia sambil menggenggam tangan Ghea. Begitupun dengan Ghea, gadis itu juga menunjukkan senyum bahagia. Tapi saat ia melihat Naya yang terdiam, terlihat seringai lain di wajahnya.


"Se-selamat Jun!" seru Damar. Lelaki itu tersenyum tapi dipaksakan dan Naya bisa melihat itu. Damar sekuat mungkin menahan amarah di dalam dirinya. Jangan ditanyakan lagi bagaimana hatinya, panas, sakit.


'Sialan! Apa yang gue lakuin kemarin malah buat Juna dan Ghea makin dekat? Sial! Gue salah!' umpat Damar dalam hatinya. Padahal kemarin Ghea curhat sampai menangis di pelukannya, tapi apa sekarang? Gadis itu malah jadian dengan Juna.


"Nay, aku udah jadian loh sama Juna. Kamu gak mau ucapin selamat?" tanya Ghea pada Naya yang diam saja.


Naya tercekat, ia merapikan bentuk kacamatanya. "I-iya selamat ya Ghea, Juna." Ghea tersenyum puas melihat raut wajah Naya yang pucat itu.


"PJ nya nanti di sekolah ya bro!" Juna menepuk bahu sahabatnya itu, tanpa tau bahwa Damar yang sudah menjebaknya. Mungkin ia lupa karena terlalu senang dengan hubungannya dan Ghea.


Juna memakaikan helm untuk Ghea dengan penuh perhatian. Kemudian mereka pun naik ke atas motor sport Juna. Ghea berpamitan pada supirnya bahwa ia akan pergi ke sekolah dengan Juna.


Damar dan Naya melihat mereka berdua berlalu dengan hati yang sakit. Damar berusaha menahan marahnya, ia kembali naik motor dan mengabaikan Naya seorang diri disana.


"Astagfirullah...nasib nasib Naya. Sabar...sabar. Enak banget ya jadi orang cantik kayak Ghea." gumam Naya sedih. "Stop Kanaya! Kamu gak boleh insecure, gak boleh." tegas Naya pada dirinya sendiri. Seperti apapun dirinya, dia tidak boleh insecure. Insecure bisa membunuh karakter dan mental seseorang.


****


Bel sekolah pun berbunyi, Naya datang ke kelas sedikit terlambat. Hari ini pelajaran olahraga di bagian kelas XI IPA 1. Naya segera berganti pakaian di ruang ganti dengan seragam olahraga baru yang di dapatkannya.

__ADS_1


"Naya," sapa Ghea, Ria dan Mona begitu Naya keluar dari ruang ganti.


"Eh...Ghea, Ria, Mona." Naya mengulas senyum seperti biasa.


"Kita ke lapangan bareng yuk!" ajak Ghea sambil menggamit tangan Naya dengan akrab. Disisi lain, Ria dan Mona masih terlihat tidak senang berada didekat Naya. Pamor geng cantik dan populer jadi tercemar karena Naya.


Ria dan Mona juga tidak paham kenapa Ghea ingin dekat-dekat dengan Naya. Mereka menurut saja karena mereka adalah teman baik Ghea dari dulu.


Mereka berempat pun pergi ke lapangan bersamaan, disana sudah ada para anak lelaki yang sedang bermain bola di lapangan.


"Ayang! Eh...Ghea." pria itu, Juna memanggil Ghea dengan semangat. Juna tersenyum lebar, melihat gadis cantik itu.


"Juna."


Ghea dan Juna pun berjalan mendekat. Mereka terlihat sangat akrab, wajar kan mereka adalah pasangan kekasih. Baru jadian pula.


Tanpa sadar Naya berdiri di tengah jalan dan seseorang tak sengaja menubruknya sampai jatuh. "Aduh..."


"Maaf gue gak sengaja." pria itu adalah Damar. Ia mengulurkan tangannya pada Naya.


"Iya gak apa-apa kok, Damar." Naya membalas uluran tangan Damar dan kembali berdiri.


"Apaan sih lo Jono!" Damar berdecak kesal.


Jono dan beberapa anak kelas IPS 2 pun berlalu dari sana. Sekedar info, untuk pelajar olahraga hari ini kelas XII IPS 2 dan XII IPA 1 disatukan.


"Lo gak apa-apa?" Damar menatap Naya dengan cemas. Entah kenapa ada rasa bersalah di dalam hatinya. "Kemarin di rumah Juna--"


"Nggak terjadi apa-apa kok." sontak Naya menggelengkan kepalanya, ada kegelisahan di wajahnya. Ia takut Damar juga tau tentang dirinya yang digerebek warga komplek.


"Hem...gue cuma mau tanya, apa kemarin di rumah Juna--kerja kelompoknya jadi?" tanya Damar pura-pura tidak tahu.


"Nggak jadi, soalnya Andra ada keperluan dan Ghea juga sama." ucap Naya gugup.


"Oh gitu," sahut Damar sambil tersenyum.


'Sia-sia dong apa yang gue lakuin kemarin. Tapi gue gak harus merasa bersalah kan? Toh mereka juga gak kenapa-napa walau di gerebek warga' pikir Damar dalam hatinya.

__ADS_1


"Woy Mar! Ngapain lo sama si mata empat? Hari ini kok gue sering lihat lo berduaan." goda Juna seraya terkekeh.


"Apaan sih lo Jun! Ngomong sembarangan aja deh!" Damar tersenyum tipis, tak suka dengan candaan Juna apalagi didepan Ghea.


"Kamu cocok loh Mar, sama Naya." celetuk Ghea dengan senyum culas dibibirnya, entah apa arti senyuman itu.


Naya tidak berkomentar, sungguh ia malas bicara dengan Juna ataupun Ghea. Kadang candaan mereka tak lucu dan terkesan mengejeknya. Okelah kalau dia culun, tapi apa dia sejelek itu? Apa dia manusia terjelek di muka bumi? Dosakah jadi orang culun?


"Maaf Ghea, Juna, Damar...aku pergi duluan. Tidak ada yang menanggapi kepergian Naya, semua jahat padanya dan cuek.


Ghea menatap kepergian gadis itu dengan sinis. 'Emang seharusnya lo tau diri, culun'


*****


1 jam kemudian, kelas olahraga pun selesai, semua murid kelas XI IPA 1 dan IPS 2 kembali ke kelas mereka masing-masing setelah berganti pakaian. Saat suasana di kelas XI IPA 1 masih riuh sambil menunggu guru masuk. Terlihat Ghea sedang membuka lokernya untuk mengambil sesuatu.


"Ya ampun, gimana ini?" teriak Ghea terkejut saat melihat isi lokernya.


"Ada apa sayang?" tanya Juna setengah berbisik pada Ghea. Dia cemas melihat kekasihnya panik.


"Jun--dompetku ilang Jun!"


"Dompet lo ilang Ghe? Kok bisa sih?" tanya siswa lain yang mulai tertarik dengan Ghea. Mereka pun bertanya pada Ghea yang hampir menangis itu.


"Gue gak tau, tadi gue simpen disini...salah gue sih tadi gak gue kunci lokernya." Ghea gelisah. "Disitu ada foto mendiang papaku, gimana dong...hiks." Gadis itu kini terisak, didekat Juna.


"Kita cari ya, mungkin kamu lupa nyimpen." ucap Juna berusaha menghibur. Naya juga terlihat kasihan pada Ghea yang kehilangan dompetnya.


"Hiks...Juna..."


"Hey tadi siapa yang ada di kelas pas jam olahraga?" teriak Ria tiba-tiba dan membuat semua siswa di kelas itu tampak bingung.


"Gue..." tiba-tiba saja seorang siswi mengacungkan tangannya. "Tadi gue lihat Kanaya masuk ke kelas pas jam olahraga." tunjuk siswi itu pada Naya.


Sontak atensi tajam semua orang menatap Naya yang tengah duduk di kursi belakang dengan tatapan menuduh.


...****...

__ADS_1


Woah..apa yang akan terjadi sama Naya selanjutnya? Apakah menurut kalian Ghea jahat? 🤔 jahat lupa komennya ya


__ADS_2