
Ghea menangis, dia ditinggalkan seorang diri di sana. Kedua orang tuanya lebih memilih menyusul Naya dibandingkan menenangkan dirinya. Ghea tidak mau perhatian kedua orang tuanya teralihkan, selama ini dia satu-satunya yang selalu mendapatkan perhatian kedua orang tuanya. Sekarang ada Naya dan otomatis perhatian itu akan terbagi.
Ghea mengambil ponselnya lalu menelpon Juna, saat ini dia masih merasa pacaran dengan cowok itu dan hanya Juna yang bisa dia ajak bicara.
"Jun, tolong jemput aku sekarang...aku butuh kamu Jun." rengek Ghea pada seseorang yang bicara dengannya di sambungan telepon itu.
"Oke, kamu dimana?" sahut Juna dari seberang sana, Juna masih harus membongkar kejahatan Ghea. Jadi dia masih harus berpura-pura pada gadis itu.
****
Yuna dan Arman menyusul Naya, mereka menahan gadis itu dan memintanya untuk tidak kembali ke rumah lamanya. Padahal Naya akan pulang ke rumah Juna dan mereka tidak tahu tentang pernikahan Juna dan Naya.
"Nak, Mama minta maaf sayang...mama minta maaf atas sikap Ghea kakak kamu. Dia masih syok karena baru mengetahuinya." Yuna memegang tangan Naya, air matanya masih mengalir. Jujur saja Naya tak tega melihat air mata wanita itu, mungkin ini yang namanya ikatan batin.
"Ibu tidak usah menjelaskan apapun pada saya karena saya tidak apa-apa." ucap Naya santai.
__ADS_1
"Nak...papa dan mama mohon, pulang sama mama papa ya? Papa mohon sayang." Arman menatap putri bungsunya dengan memelas. Dia rindu dan ingin memeluk putrinya itu, setelah sekian lama putrinya menghilang. Yuna apalagi, dia sangat ingin bersama Naya.
"Saya..."
Ya Allah,hati aku kerasa sakit saat melihat Bu Yuna sama pak Arman nangis kayak gini. Aku gak tega. Batin Naya sedih.
"Baiklah, saya akan tinggal sama bapak dan ibu untuk malam ini." kata Naya pada kedua orang tua kandungnya itu. Arman dan Yuna lega mendengar Naya mau pulang ke rumah, saking bersemangatnya. Arman dan Yuna lupa bahwa Ghea masih ada di dalam restoran itu.
****
"Jadi ini tempat kamu nongkrong sama teman-teman kamu? Pasti aku cewek pertama yang kamu ajak kesini kan?" tanya Ghea dengan tatapan menelisik ruangan itu. Juna hanya tersenyum tipis menanggapinya.
Sayangnya, Naya wanita pertama yang aku bawa kesini karena dia istri aku dan dia spesial. Batin Juna.
"Jun, boleh gak aku nginep disini?" pinta Ghea seraya memeluk Juna.
__ADS_1
"Kamu nggak boleh nginep Ghe, nanti Mama papa kamu nyariin dan cemas sama kamu. Lagian kamu cewek, nggak pantes cewek nginep nginep kayak gini. Kamu boleh disini tapi bentar." jelas Juna sambil melepaskan pelukan Ghea padanya, ia risih.
"Mereka mungkin lagi sama anak yang bilang itu, jadi mereka lupa sama aku." cetus Ghea sebal.
Bodohnya kamu Juna, kenapa dulu kamu bisa jatuh cinta sama cewek manja kayak gini? Sesal Juna dalam hatinya karena dia pernah mencintai Ghea.
"Itu nggak mungkin, buktinya mereka kirim pesan sama aku dan nanyain kamu." Juna tidak bohong, Yuna menghubunginya dan meminta Juna menjaga Ghea lalu mengantarnya pulang setelah aman.
"Tau ah! Aku nggak mau punya saudara kayak dia!" Ghea merebahkan tubuhnya diatas sofa empuk. Tak lama kemudian, gadis itu tertidur dan tiba-tiba saja terpikirkan sesuatu oleh Juna untuk memeriksa ponselnya. Siapa tau dia akan menemukan sesuatu disana.
Pelan-pelan Juna mengambil ponsel Ghea yang ada ditangannya, dia membuka ponsel Ghea dengan sidik jari gadis itu. Kemudian dengan cepat Juna membuka pesan dan panggilan telepon di ponsel Ghea.
"Astagfirullah..." ucap Juna saat melihat pesan Ghea dan seseorang yang bernama mang Entis. "Akhirnya dapat juga...Ghea, gue gak nyangka ternyata Lo..." Juna menatap Ghea tidak percaya, bahwa Ghea lebih buruk dari yang dia pikirkan.
Dengan cepat Juna mengscreen shoot pesan-pesan itu, lalu dia mengirimkan ke ponselnya. Tak lupa dia menghapus gambar-gambar itu sebelum Ghea tau semuanya. Juna tersenyum bahagia, sandiwara ini akan segera berakhir.
__ADS_1
...****...