Buru-buru Nikah

Buru-buru Nikah
Bab 45. Gue benci lo


__ADS_3

Segera setelah Ghea bangun, Juna mengantarkan Ghea ke rumahnya. Sikap Juna langsung berubah 180 derajat dan Ghea bisa merasakan itu. Seharusnya Juna tidak menunjukkan tanda-tanda perubahan sikapnya pada Ghea, tapi dia benar-benar tak tahan dan tidak menyangka bahwa Ghea akan melakukan hal keji kepada Bu Ningsih, ibu mertuanya. Juna masih ingat kata dokter, Bu Ningsih masih bisa diselamatkan bila dibawa ke rumah sakit tepat waktu. Namun Ningsih ditinggalkan begitu saja oleh si penabrak seorang diri disana.


Sesampainya di rumah, Ghea yang tadinya senang karena bersama Juna seharian. Wajahnya berubah masam dan matanya mendelik sinis saat melihat sosok gadis yang dia benci, yaitu Kanaya Wulandari. Gadis yang ternyata adalah saudara kembarnya.


"Sayang kamu sudah pulang nak? Ayo makan dulu." ajak Yuna seperti biasanya. Yuna mengajak Ghea makan malam bersama.


"Gak laper." Ghea melenggang pergi dari sana, tapi Naya berdiri dari tempat duduknya lalu menghampiri Ghea. Dia menahan tangan Ghea, menatapnya dengan dingin.


"Kamu nggak usah pergi, biar aku saja yang pergi." ucap Naya berbisik ke telinga Ghea. Lalu dia melangkah pergi dari sana menuju ke kamar yang sudah disediakan oleh Yuna dan Arman.


"Naya, kamu mau kemana nak? Kamu belum makan malam." Arman tidak rela bila Naya pergi.


"Nggak apa-apa pak, saya bisa makan nanti." ucap Naya sambil tersenyum, lalu dia masuk ke dalam kamar. Tapi sungguh, Naya tidak merasa sakit hati karena tidak diterima Ghea di rumah itu.


Arman dan Yuna memanggilnya, namun Naya sudah masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya. Pasangan suami-isteri itu terlihat sedih, kini mereka beralih menatap Ghea yang masih berdiri sana.


"Ghea, Papa Mama mohon sama kamu sayang. Tolong jangan bersikap egois seperti ini, Naya adalah saudara kembar kamu dan kamu harus belajar lapang dada. Naya berhak mendapatkan kasih sayang dari Mama dan papa juga. Lagipula kamu juga selalu bilang ingin punya saudara perempuan?" pria paruh baya itu mencoba berbicara dengan Ghea.


"Aku? Egois? Mama papa bilang aku egois?" sentak Ghea seraya menatap tajam kepada kedua orang tuanya.


"Sayang, bukannya begitu...papa kamu hanya--" Yuna berusaha bicara untuk meluluhkan hati Ghea.


"Udahlah, aku males ngomong sama mama Papa." ketus gadis itu lalu pergi ke kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Naya. Yuna dan Arman menatap Ghea dengan prihatin, kenapa gadis itu bersikap tidak baik pada Naya.


"Pa, mama rasa kita sudah salah mendidik Ghea. Dia jadi seperti ini karena kita terlalu memanjakannya kan?" tanya Yuna seraya menatap suaminya dengan sendu.


"Kita sepemikiran ma. Mulai sekarang sepertinya kita harus mendisiplinkan Ghea. Seperti Naya yang dewasa dan mandiri." pria paruh baya itu setuju dengan ucapan Yuna. Mereka memang terlalu memanjakan Ghea hingga Ghea jadi seperti ini.

__ADS_1


****


Malam itu di rumah Juna, Rima dan Yudha menanyakan keberadaan Naya. Seperti biasa, Rima butuh Naya untuk membantu memasak makan malam atau menyuruhnya ini itu. Dia menanyakan Naya karena butuh tenaganya, sedangkan Yudha menanyakannya karena cemas.


"Jadi kemana si Naya itu? Dia suka banget kelayapan malam. Harusnya dia udah pulang kerja jam segini." ketus Rima yang selalu suudzan kepada Naya.


"Iya Jun, Naya kemana? Dia ada hubungi kamu?" tanya Yudha mencemaskan Naya. Yudha mengambil sendok yang tersedia disana dan bersiap untuk makan.


"Naya nginep di rumah orang tua kandungnya." jawab Juna sambil memakan makanan yang tersedia diatas piringnya. Ucapan Juna sontak saja membuat Yudha dan Rima tercengang, mereka mematung dan menatap Juna dengan heran. Orang tua kandung? Apa maksudnya?


"Apa maksud kamu? Orang tua kandung si Naya kan udah mati." ketus Rima tanpa perasaan, dan Yudha langsung memelototinya.


"Ma! Yang sopan!"


"Ma, aku nggak suka mama bicara kayak gitu soal mertua aku." Juna juga ikut menegur mamanya.


"Mama kan cuma nanya...apa maksudnya orang tua kandung?" tanya Rima dengan suara sedikit mencicit. Hampir terdengar seperti gumaman.


"Selama ini orang tua yang mengurus Naya bukan orang tua kandungnya. Melainkan orang tua angkat dan kalian juga kenal siapa orang tua kandung Naya." jelas Juna pada kedua orang tuanya dan masih mengundang pertanyaan.


"Siapa Jun?"


"Om Arman sama Tante Yuna, Mereka orang tua kandung Naya." ucap Juna yang sontak membuat kedua orang tuanya tercengang. Mereka tidak menyangka bahwa orang tua kandung Naya adalah orang tua kandung Ghea, yang ayahnya seorang pengusaha diatas perusahaan milik ayah Juna. Bahkan Rima tidak bisa berkata-kata, dia terdiam dengan sedikit terpukul.Tidak menyangka bahwa Naya, gadis kampung anak tukang sampah yang selalu dia hina. Ternyata adalah anak orang kaya.


****


Keesokan harinya di sekolah, Naya dan Ghea berangkat sekolah bersama diantar oleh Arman dan Yuna. Mereka kompak ingin mengantar Naya ke sekolah, padahal biasanya mereka tidak seperti itu. Walaupun terlambat, Yuna dan Arman ingin mengantar Naya ke sekolah seperti mereka mengantar Ghea pertama kali sekolah dulu.

__ADS_1


Tak hentinya Yuna dan Arman bertanya dan memperhatikan Naya, hal itu membuat Ghea iri padanya. Ghea keluar dari mobil tanpa mengucap salam, dia berjalan mendahului Naya.


"Sayang, ucapan dan sikap Ghea jangan diambil hati ya." ucap Yuna membujuk Naya untuk tidak marah.


"Sebaiknya ibu dan bapak jangan terlalu perhatian pada saya. Nanti Ghea merasa dibedakan, saya tidak apa-apa meski kalian tidak memperhatikan saya." ucap Naya yang membuat Arman dan Yuna terperangah.


"Sayang, kenapa kamu bicara begitu? Kamu dan Ghea adalah anak kami...kenapa kamu bicara seolah-olah kamu bukan anak kami? Jangan begini nak..." kata Arman lirih.


"Maaf, tapi saya juga tidak nyaman seperti ini. Tolong lebih perhatikan Ghea daripada saya." jelas Naya tegas. Dia tidak mau membuat Ghea tergeser dari posisinya.


"Naya..."


"Saya sekolah dulu ya, pak, Bu." pamit Naya lalu menyalami tangan kedua orang tuanya secara bergantian. Tentang masalah pernikahannya dan Juna, dia akan mengatakannya nanti. Bagaimana pun juga Arman dan Yuna sebagai orang tua kandung Naya harus tau tentang ini.


Hari itu berjalan dengan lancar, sampai Ghea meminta berbicara dengan Naya diatas gedung sekolah saat jam istirahat. Tanpa sepengetahuan Juna dan siapapun juga, Naya menemui Ghea di gedung paling atas sekolah itu.


"Mau apa kamu ngakak aku ketemu disini?" tanya Naya tanpa basa-basi.


"Lo tau kan gue benci sama lo. Dan lo pasti tau hari ini Juna mutusin gue!" sentak Ghea seraya berjalan maju menyudutkan Naya ke ujung gedung. Ghea menatap tajam Naya, menganggap gadis itu ancaman.


"Terus apa hubungannya sama aku, kalau kamu putus sama Juna?" tanya Naya datar. Padahal sebelumnya ia sudah tau dari pesan yang dikirimkan Juna, bahwa Ghea dan Juna sudah putus sebab Juna sudah mendapatkan bukti tentang Ghea pelaku penabrakan itu.


"Pasti itu semua gara-gara lo. Naya, gue benci sama lo. GUE BENCI!" Ghea mendorong-dorong tubuh Naya.


"Ghea kamu gila ya!" Naya balik mendorong Ghea. Dia merasakan tatapan Ghea penuh kebencian padanya.


"Gua gak akan biarin lo ngerebut SEMUANYA dari gue." Ghea mendorong Naya dengan keras, hingga tubuh gadis itu terhuyung ke bawah gedung.

__ADS_1


"NAYA!" suara seorang pria menggelegar di belakang Ghea. Pria berseragam putih abu itu berlari menghampiri Naya, berharap dia sempat menolong Naya yang sudah jatuh ke bawah.


...****...


__ADS_2