
...🍀🍀🍀...
Juna tidak menyangka bahwa Damar tega melakukan ini padanya dan Naya. Ia mendengar semuanya dengan jelas pengakuan Damar kepada Gara, bahwa pria itu yang sudah menjebak Juna dan Naya.Tapi kenapa? Apa salah mereka?
Pria itu memukuli Damar, hingga beberapa kali Damar terjengkang ke belakang. Beberapa pengunjung supermarket yang berlalu lalang itu, tanpa sengaja melihat Juna yang memukuli Damar.
"Gue kecewa sama lo Mar! Gue nggak nyangka lo tega ngelakuin ini sama gue dan Naya. Karena lo saat itu gue dan dia sampe di arak warga! Lo tau gimana perasaan kita dan keluarga kita saat itu?" Juna mulai menghakimi Damar yang sudah membuat Juna dan Naya malu saat dipaksa menikah saat itu.
"Jun..." Damar menatap Juna dengan penuh rasa bersalah dan dia membiarkan pria itu memukulinya. Damar rasa, ia pantas mendapatkan ini.
"STOP Arjuna!" Gara mencoba menghentikan Juna untuk tidak menjadi pusat perhatian dengan memukuli sepupunya disana. Lihatlah Damar, pria itu sudah lebam-lebam wajahnya karena ulah Juna.
"Eh...ada apa ini adek adek? Jangan pada berantem ya!" tegur salah seorang petugas keamanan pada Juna, Damar dan Gara dengan tegas.
__ADS_1
"Maaf pak, teman saya cuma lagi bercanda aja." ucap Gara pada satpam itu. "Mar, Juna, kita selesaikan masalah ini di tempat lain. Disini banyak orang." bisik Gara pada kedua pria itu.
Damar dan Juna pun menganggukkan kepala mereka pertanda setuju dengan saran Gara. Diantara mereka bertiga sepertinya Gara lah yang paling dewasa dan berkepala dingin. Sedangkan Juna berapi-api, dia mudah marah karena hal hal kecil.
Mereka bertiga pun pergi menjauh dari keramaian dan berada di taman komplek perumahan yang sepi itu.
"Gue salah apa sama lo Mar? Sampe Lo tega jebak gue dan Naya." kata Juna langsung pada intinya. Dia menatap tajam Damar, meminta penjelasan pada pria itu.
"Gue tau--gue nggak berhak bilang sorry sama lo dan sama Naya. Apalagi Naya, dia nggak ada sangkut pautnya sama hal ini dari awal. Gue dulu suka sama Ghea dan alasan gue jebak lo sama Naya, cuma buat Ghea ngejauh dari lo bukan maksud buat lo digerebek warga...gue cuma mau...gue cuma mau buat heboh doang. Maafin gue Jun, maaf..." Damar memohon maaf pada Juna. Terserah pria itu masih mau bersahabat dengannya atau tidak, jelas ia salah.
"Nggak lah, gue cuma merasa bersalah sama dia." jawab Damar jujur.
"Benaran Mar? Lo nggak ada rasa sama istri gue?" kembali Juna bertanya untuk ke sekian kalinya tentang perasaan Damar, tangan pria itu menyilang di dada.
__ADS_1
"Nggak ada Jun, gue masih waras kali! Nggak mungkin gue suka istri orang dan sebenernya gue ada rasa sama si Lusi." Damar mengungkapkan perasaannya, bahwa ia ada rasa pada Lusi.
Gara dan Juna melongo tak percaya mendengarnya.Namun melihat gelagat pria itu, sepertinya benar Damar menyukai Lusi. Bahkan tadi ia membonceng Lusi naik motornya. Juna dan Gara pun merasa aman.
'Berarti saingan gue cuma si Gara-gara lato-lato nih' batin Juna seraya melirik Gara dengan sinis.
"Syukur deh lo nggak suka sama istri gue, makasih banyak Mar!" Juna memeluk sahabatnya itu dengan gembira.
"Jun--lo nggak marah sama gue?"
"Tadinya gue marah, tapi nggak jadi deh. Gue harusnya terimakasih sama lo. Karena lo, gua bisa nikah sama cewek sebaik Naya. Thanks bro." ujar Juna seraya tersenyum pada Damar dan mengucap rasa syukur. Dia mendelik sinis ke arah Gara yang sedari tadi tidak berkomentar apapun.
"Doain aja gue sama Naya langgeng,sakinah, mawadah warahmah." ujar Juna dengan suara yang sinis, tatapannya mengarah pada Gara. "Apa Lo lihat lihat gue? Dasar Gara-gara lato-lato." ejek Juna mencibir.
__ADS_1
"Jodoh nggak ada yang tau sampai mana, kalian masih muda. Siapa tau jodoh Naya bukan lo." balas Gara dengan dinginnya dan membuat darah Juna mendidih.
...****...