
...🍀🍀🍀...
Naya terlonjak kaget dengan ucapan salah satu siswi yang menunjuk padanya, ah mungkin bukan menunjuk tapi menuduh. Naya langsung beringsut dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri Ghea yang tengah berada di dekat Juna juga siswa lainnya.
Suasana kelas itu menjadi tegang karena ucapan salah satu siswi yang mengatakan bahwa Naya sempat ada di ruang kelas saat jam pelajaran olahraga. Tatapan mereka tajam seolah menuduh Naya, bahwa gadis itu mencuri dompet Ghea. Tapi yang lebih sakit adalah tatapan Juna padanya, seolah ia adalah sesuatu yang paling dibenci pria itu.
"Ya, memang benar aku ada di kelas pas jam olahraga. Aku ngambil kotak makanku yang ketinggalan di tas. Terus kenapa?" tanya Naya pada siswi itu, ia sangat tenang. Naya tidak bersalah, wajahnya sama sekali tidak menunjukkan ketakutan.
"Beneran...lo cuma ngambil kotak makan? Gak nyuri dompet Ghea?" tuduh Mona seraya mendelik sinis pada Naya. Semua orang disana juga sama saja, menuduh Naya.
"Karena lo satu-satunya orang yang masuk ke kelas saat jam olahraga, siapa lagi kalau bukan lo?" kata Ria ikut memanasi.
"Kalian nuduh aku? Aku benar-benar gak ngelakuin itu. Gimana bisa kalian nuduh aku tanpa bukti?" tanya Naya terheran-heran sebab orang di sekolah ini suka sekali merendahkannya. Ah ya, sesaat Naya lupa bahwa dirinya ini dianggap orang miskin di sekolah elit itu.
"Kita gak nuduh, tapi pasti LO orangnya." tunjuk Ria dengan jari telunjuk yang menyentuh kening Naya. Membuat kepala Naya terantuk beberapa kali. Mata Naya melebar, ia tak terima di perlakukan seperti ini dan menepis tangan Ria.
"Iya, gue lihat lo ada di kelas." sahut seorang siswi yang katanya tadi melihat Naya di dalam kelas.
"Tapi aku nggak nyuri dompet itu." sanggah Naya.
"Tapi lo miskin, siapa tau lo nyuruh dompet Ghea buat ongkos atau buat makan sehari-sehari lo." tuduh Mona sarkas.
"Udah guys, lagian gak mungkin Naya yang nyuri. Gue percaya sama Naya, Naya itu baik." bela Ghea seraya tersenyum pada Naya. "Lagian sekarang apapun kehidupan ekonomi Naya, dia gak mungkin ngelakuin ini sama gue. Dia kan teman deket gue." bela Ghea lagi. Semua orang semakin menganggap kalau Ghea adalah malaikat.
"Makasih udah percaya sama aku Ghe." Naya tersenyum senang, setidaknya masih ada yang percaya padanya.
"Ghe, kamu jangan terlalu baik. Siapa tau apa yang dibilang Ria, Mona sama yang lain itu benar. Gak ada salahnya kita cek dulu." ucap Juna yang membuat Naya terluka. Terluka dalam artian hati. Sakit tapi tak berdarah.
"Juna...kenapa kamu gak percaya sama aku? Aku gak kayak gitu! Tolong jangan nuduh aku kayak gini." sanggah Naya sakit hati.
"Gak ada salahnya untuk waspada dan ngecek kebenarannya." sahut Juna dingin. Ah, rupanya Juna sama dengan siswa-siswa lain.
Ria dan Mona pun bergegas mengambil tas gendong Naya dengan paksa. Mereka berdua mengeluarkan isi tas Naya dengan cara mengacak-acaknya ke lantai. Tidak ada barang-barang mewah di dalam sana. Hanya ada buku-buku, kotak pensil, tasbih. Tidak ada yang aneh.
"Tolong! Jangan di acak-acak gitu!" seru Naya dengan mata berkaca-kaca. Ia berusaha melindungi barang-barangnya yang di jatuhkan oleh Ria dan Mona dengan sengaja.
"Diem lo!" sentak Ria seraya mendorong Naya. Sakit hati gadis berkacamata itu, sebab disaat seperti ini tidak ada yang membelanya kecuali Ghea. Andra juga kemana? Dia tidak ada disini.
Orang yang ia harapkan untuk membelanya juga hanya diam saja. Ia bahkan jadi salah satu orang yang menuduhnya mencuri.
"Hai guys! Udah dong jangan gitu, kasihan Naya." kata Ghea angkat bicara dengan wajah memelas. Meminta ke dua temannya untuk menghentikan aksi mereka.
__ADS_1
Tak lama kemudian, benda asing keluar dari tas Naya. Benda mewah yang bukan miliknya, sebuah dompet berwarna merah muda dengan merk ternama. Semua orang pun terkejut saat melihatnya dan Naya di judge sebagai pencuri.
"Ini apaan? Masih mau ngelak LO?" Ria menunjukkan dompet itu didepan semua orang.
"Lihat Ghe! Orang yang selalu lo bela ternyata gini kelakuannya." ucap Mona yang ikut memanasi keadaan.
Semua siswa disana berbisik-bisik membicarakan Naya. Sungguh Naya benci tatapan semua orang padanya saat ini. "Sungguh! Aku gak mencuri, aku gak ngelakuin itu... please kalian percaya sama aku."
Tidak ada yang peduli pada Naya. Gadis itu juga bingung kenapa dompet Naya ada di dalam tasnya. Siapa yang sudah melakukan ini? Apa tujuannya? Naya bertanya-tanya dalam hati.
"Heh! Dasar orang miskin lo! Jadi lo deketin Ghea cuma buat uangnya aja, huh?" sentak Mona seraya mendorong dorong tubuh Naya.
"Aku gak kayak gitu, enggak!" sanggah Naya.
Tiba-tiba suasana menjadi hening saat kedatangan seorang guru wanita, bernama Bu Ambar. Guru bahasa Indonesia. "Ada apa ini?" Bu Ambar heran melihat siswa-siswinya berkerumun di dekat loket belakang kelas.
"Ini Bu, ada pencuri!" seru seorang siswi seraya menunjuk pada Naya.
"Ini Bu--Kanaya udah nyuri dompet Ghea." celetuk Ria dengan suara keras.
"Ish klepto!" ejek seorang siswi pada Naya.
'Ya Allah...sabar sabar...'
****
Di ruang BP.
Naya, Ghea, Ria, Mona dan seorang siswi yang menjadi saksi berada di ruangan itu bersama pak Ferdi.
Pak Ferdi mengintrogasi Naya, Ghea cs dan siswi bernama Ulfa itu tentang dompet Ghea. Semua tuduhan menyudutkan Naya. Gadis itu bersalah, ya begitulah kesimpulannya.
"Naya, kamu sudah terbukti bersalah...jadi harus minta maaf sama Ghea, supaya masalah ini selesai." ucap pak Ferdi sambil menghela nafas. Itu keputusannya.
"Saya gak mau minta maaf pak, saya tidak bersalah." Naya menggelengkan kepalanya, selama ia tidak salah. Ia tidak akan meminta maaf.
Ria, Mona dan Ulfa mendelik sinis pada Naya yang tidak mau mengaku ataupun meminta maaf pada Ghea.
"Udah pak, saya gak apa-apa kok. Saya percaya bukan Naya pelakunya." bela Ghea lagi.
"Ghea lo baik banget sih, masih mau belain si klepto." kata Ria memuji sahabatnya itu.
__ADS_1
"Maaf pak Ferdi, maaf Ghea...tapi aku tidak pernah mencuri dompet itu. Jadi aku gak akan minta maaf." tegas Naya.
Setelah kejadian itu dan Naya yang tidak mau meminta maaf. Gadis itu jadi di bully dan semakin di kucilkan siswa lainnya. Dia dituduh pencuri, di sindir, di hina, bahkan menerima tatapan tajam dari semua orang. Hanya Andra saja yang baik padanya. Tapi Naya menjauhi Andra, ia tak mau pria itu terlibat dengannya dan jadi ikut di bully.
Sekarang Naya punya julukan baru yaitu klepto, si pencuri tak tau diri. Naya sedih, kenapa dia harus mendapatkan perlakuan seperti ini? Apa ia harus mengakui kesalahan yang tidak pernah ia perbuat dan meminta maaf pada Ghea.
****
2 Minggu kemudian...
Siang itu lagi-lagi Naya pulang dalam keadaan basah kuyup dan baju yang kotor. Rima dan teman-teman arisannya yang kebetulan ada di rumah melihat itu semua.
"Jeng Rima, itu siapa?" tanya seorang wanita paruh baya pada Rima, saat melihat Naya yang baru saja masuk ke dalam rumah setelah mengucap salam.
"Oh...dia pembantu baru saya." jawab Rima
"Oh pembantu..." sahut 4 orang wanita teman arisan Rima.
Naya yang belum jauh dari sana tak sengaja mendengar itu, air matanya pun jatuh tak tertahankan lagi. Padahal ia tak mau menangis.
Gadis itu masuk ke dalam kamar yang bersebelahan dengan kamar Juna. "Hiks...ibu...ibu...Naya mau pulang bu."
Tok,tok,tok!
Pintu kamar Naya tiba-tiba ada yang mengetuk. Naya langsung membuka pintunya, menyeka air matanya. Takutnya, Bu Rima yang menyuruhnya ini itu.
Cekret!
Juna sudah ada didepan pintu sambil memegang sesuatu di dalam keresek yang ia bawa. "Hey mata empat! Ini gue bawain--"
"Ngapain kamu kesini? Belum puas kamu bully aku di sekolah? Belum puas kamu buat aku menderita? Kayaknya kalau aku mati, kamu bakalan seneng ya." amarah Naya meledak, gadis itu menangis terisak.
"Gue? Bully Lo?" Juna mengerutkan keningnya.
"Iya, siapa lagi? Kamu kan yang nyuruh anak-anak cowok buat dorong aku ke comberan...hiks.."
"Hah? Gue?" pria itu bingung dengan apa yang dikatakan oleh Naya. Sama sekali ia tidak melakukan itu.
"Kalau kamu pengen aku menghilang, oke aku bakal ngilang seperti yang kamu mau!" seru Naya kesal. Lalu ia menutup pintunya dengan keras.
"Hey! Lo kenapa sih?" Juna melihat gadis itu masuk ke dalam kamar. Perlahan ia merasa kasihan sudah mengabaikan Naya yang dibully di sekolah. Tapi ia juga tak bisa bersikap baik pada Naya, hal itu akan membuat Ghea cemburu.
__ADS_1
Di dalam sana Naya menangis sesenggukan, ia masih belum membersihkan dirinya. Gadis itu bercermin melihat penampilannya. "Aku harus berubah! Harus!"
...****...