Buru-buru Nikah

Buru-buru Nikah
Bab 46. Terbongkar


__ADS_3

"Ghea kamu gila ya!" Naya balik mendorong Ghea. Dia merasakan tatapan Ghea penuh kebencian padanya.


"Gua gak akan biarin lo ngerebut SEMUANYA dari gue." Ghea mendorong Naya dengan keras, hingga tubuh gadis itu terhuyung dari atas gedung.


"NAYA!" suara seorang pria menggelegar di belakang Ghea. Pria berseragam putih abu itu berlari menghampiri Naya, berharap dia sempat menolong Naya yang sudah jatuh ke bawah.


Deg!


Jantung Juna berdegup sangat kencang saat melihat wanita yang ia cintai jatuh ke bawah. Sementara Ghea hanya tertawa-tawa seperti seorang psiko. Dia sama sekali tidak merasa takut ,panik ataupun merasa bersalah seseorang jatuh karenanya.


"Ghea! LO GILA! PSIKO LO!" teriak Juna pada Ghea yang sedang berdiri dan tertawa disana.


"Dia sudah mati Jun, kamu jadi duda deh...haha." celetuk Ghea yang membuat Juna semakin merasa Ghea tidak waras. Kini Juna berada di ujung gedung itu untuk melihat Naya, matanya sudah berembun dengan air hangat. Ia tidak bisa membayangkan bila Naya jatuh dari atas gedung, sudah pasti gadis itu akan mati.


"NAYA!" teriak Juna memanggil nama istrinya dengan suara menggelegar dan penuh kepanikan didalamnya.


"Juna..."


Darah Juna berdesir hebat saat mendengar suara Naya yang tertahan memanggil namanya. Apa dia bermimpi? Namun saat Juna melihat ke bawah, semuanya bukan mimpi. Naya ternyata belum terjatuh, dia bergelantungan di sebuah tiang spanduk sekolah.

__ADS_1


"Tolong...Jun!" seru Naya yang merasa ketakutan dan kedua tangannya berpegangan pada tiang itu. Tanpa banyak bicara, Juna berusaha meraih tangan Naya dan membawa gadis itu untuk naik ke atas.


"Pegang tangan aku Nay! Jangan lihat ke bawah, lihat aku aja." ucap Juna saat merasakan Naya yang ketakutan.


"Iya..." jawab Naya singkat, dia memegang tangan Juna yang terulur padanya. Juna berhasil mengangkat tubuh gadis itu ke tempat yang aman dari bibir gedung. Tubuh Naya ambruk ke dalam pelukan Juna dengan nafas yang tersengal-sengal, wajahnya sangat pucat saat ini. Ternyata Ghea benar-benar ingin membunuhnya. Lihat saja, gadis itu sekarang terlihat kecewa.


"Kamu nggak apa-apa Nay?" Juna menangkup kedua pipi gadis itu, Naya menganggukkan kepalanya. Meski sebenarnya jantungnya masih terasa berdebar seperti mau copot saja. Naya masih memegang dadanya.


"Ghea! Kamu gila ya!" murka Juna pada Ghea yang masih berdiri tak jauh dari tempatnya duduk bersama Naya saat ini. Naya masih belum bisa berdiri, kakinya lemas bukan main.


"Juna! Kenapa kamu nolongin dia hah?" sentak Ghea marah pada Juna yang menolong Naya, bahkan cowok itu memeluk Naya dan membuat Ghea cemburu berat.


"Dia istri gue, apa butuh alasan buat nolong istri sendiri? Lo gila ya Ghea!" seru Juna marah karena istrinya hampir saja mati oleh Ghea jika Naya tidak berpegangan pada tiang.


"Saudara? Gue gak punya saudara kayak Lo! Gue anak tunggal! Lo bukan siapa-siapa, lo cuma anak tukang sampah dan gak lebih dari itu Kanaya Wulandari." ujar Ghea dengan buliran air mata mengalir membasahi pipinya, dia terlihat marah. Ghea merasa semua orang yang dekat dengannya direbut oleh Naya.


"Lo jahat...lo udah rebut semuanya dari gue, gak cukup lo rebut Juna dari gue. Lo juga ngambil perhatian kedua orang tua gue." ucap Ghea sedih.


Naya dan Juna pun kembali berdiri, Naya berjalan mendekati Ghea. Ia berharap Ghea masih mau mendengarkan dirinya. "Ghe, aku tidak pernah merebut apapun dari kamu. Dan satu hal lain, kita ini saudara. Gak ada yang namanya orang tua kamu ataupun orang tua aku, yang ada orang tua kita. Ghea, sadarlah...jangan kayak gini. Aku nggak mau sampe musuhan sama kamu." Naya memegang bahu Ghea, kemudian tanpa disangka-sangka. Ghea mengeluarkan cutter dari saku seragamnya dan melukai tangan kiri Naya.

__ADS_1


"Akhhh!!" pekik Naya sambil melihat tangannya yang sudah berdarah karena ulah Ghea.


Rupanya Ghea tidak bisa diajak bicara baik-baik. Juna mendorong Ghea dengan kasar hingga gadis itu jatuh terduduk.


"CUKUP! Gue gak bisa baik lagi sama Lo, Ghea!" seru Juna geram.


Tak lama kemudian, datanglah 2 orang berseragam polisi, kepala sekolah dan juga orang tua Naya dan Ghea ke atas gedung. Ghea dan Naya terkejut, kenapa bisa ada polisi dan orang tua mereka ke sana. Ya, itu karena Juna yang melaporkannya.


"Saudari Ghea, anda harus ikut kami ke kantor polisi untuk dimintai keterangan terkait dengan kecelakaan Bu Ningsih!" ujar polisi itu seraya memegang tangan Ghea.


"Apa?" Ghea tersentak kaget, kenapa bisa mereka tau tentang semua ini. Kini semuanya sudah terbongkar, kejahatan Ghea. Kedua orang tuanya juga menyerahkan semuanya pada polisi.


Yuna dan Arman mendekati Naya yang terluka didalam dekapan Juna. Mereka mencemaskan putri bungsu mereka. Yuna dan Arman tidak menyangka bahwa Ghea akan melakukan semua ini.


"Nay, kamu nggak apa-apa sayang? Ya Allah, kamu..." Yuna memegang tangan putrinya.


Tak lama kemudian Naya kehilangan kesadarannya. "Nay! Naya!" teriak Juna panik.


"Juna, ayo bawa Naya ke rumah sakit!"

__ADS_1


"Ya om," sahut Juna, kemudian pria itu menggendong Naya ala bridal style dan membawa gadis itu turun dari atas gedung sekolah bersama kepala sekolah dan juga kedua orang tua Naya. Mereka menuju ke rumah sakit.


...****...


__ADS_2