
...🍀🍀🍀...
"Tante Yuna?" Juna mengenali wanita paruh baya yang berada di depannya ini, bisa dibilang Yuna adalah ini dari mantan pacarnya.
"Eh--Juna." panggil Yuna pada Juna.
Namun setelah itu Yuna langsung memaksa Naya untuk berbicara dengannya. Tentu saja tentang kalung berbentuk bintang yang dipakai oleh Naya saat itu.
"Maaf bu, tapi ada kepentingan apa ibu mau bicara dengan saya?" tanya Naya datar, sebab dia sedang bad mood karena Juna.
"Ini tentang kalung yang kamu pakai, kalung itu adalah kalung milik anak saya yang sudah menghilang belasan tahun yang lalu." ungkap Yuna dengan mata berkaca-kaca menatap Naya.
Naya dan Juna tercengang mendengarnya, setelah itu Naya mengajak Yuna pergi ke rumahnya saja. Sebelum itu Yuna meminta Juna untuk mengantar Ghea pulang. Yuna masih mengira Juna adalah pacar Ghea. Tebak bagaimana reaksi Naya saat itu, dia mendelik sinis pada suaminya dan berusaha acuh.
"Gue ikut lo Nay!"
"Gak usah, mending kamu antar Ghea aja." tukas Naya dengan suara dinginnya.
__ADS_1
"Tapi gue..."
Tak lama kemudian, Ghea pun berlari menghampiri Naya, Juna dan Yuna. Gadis itu langsung menggamit tangan Juna dengan manjanya. "Mama? Mama ngapain kesini? Mama mau jemput aku ya?" Ghea heran melihat mamanya berada disana.
"Iya tadinya mama mau jemput kamu, tapi Mama ada urusan sama teman kamu." jawab Yuna seraya melirik ke arah Naya.
"Sama dia?" Ghea mengerutkan keningnya setelah mendengar ucapan Yuna. Ghea bertanya-tanya ada urusan apa ibunya dengan Naya.
Jadi ibu ini adalah mamanya Ghea? batin Naya yang baru tau bahwa Yuna adalah ibu Ghea.
"Iya sayang, kamu pulang sama Juna ya. Juna,tolong antar Ghea pulang ya...Tante perlu bicara berdua sama Naya." kata Yuna memohon pada Juna.
"Ya udah, kita pulang Ghe." ajak Juna datar.
"Iya sayang!" sahut Ghea dengan tidak tahu malunya memanggil Juna dengan panggilan sayang. Juna acuh saja, dia melihat Naya yang sudah pergi naik mobil bersama Yuna.
****
__ADS_1
Setelah melalui perjalanan 15 menit lamanya, Naya dan Yuna pun tiba di rumah yang ditinggali oleh Naya dan almarhumah ibunya. Yuna melihat rumah yang berada di gang sempit itu, jika dugaannya benar bahwa Naya adalah salah satu anak kandungnya yang hilang selama ini, maka Yuna merasa malang untuknya karena Naya tinggal kesusahan.
"Silahkan duduk Bu, saya ambilkan minum dulu." ucap Naya sopan. Gadis itu menyuruh Yuna duduk di atas sofa yang sudah tidak empuk itu, kemudian Naya pergi ke dapur untuk mengambilkan air minum untuk Yuna.
Yuna menunggu sambil melihat-lihat foto yang terpasang didinding itu. Ia melihat foto Naya bersama alm. Ibu Ningsih. Perasaan Yuna menjadi aneh saat melihat foto Naya, ya dia merasa tidak asing dengan wajah Naya yang ternyata memiliki kemiripan dengan suaminya.
Tak berselang lama kemudian, Naya membawakan nampan dan segelas air minum lalu menyimpannya ke atas meja. Naya meminta maaf karena dia hanya bisa menyediakan air minum biasa saja.
Yuna langsung mengatakan kedatangannya bertemu dengan Naya. Yuna langsung meminta Naya melepaskan kalung miliknya. Naya patuh, lalu dia memberikan kalung itu pada Yuna.
"Apa mungkin ibu mengenal orang yang tau tentang kalung ini?" tanya Naya melihat raut wajah Yuna yang sedih.
"Nak...kalung ini--apakah kalung ini milik kamu?" bukannya menjawab, Yuna malah bertanya pada Naya dengan mata berkaca-kaca.
"Iya, kalung ini diberikan almh ibu saya." jawab Naya yang masih bingung dengan semua ini.
"Maaf--ibu mau bertanya lagi...apakah kamu anak kandung ibu kamu atau bukan?" tanya Yuna dengan mata berkaca-kaca. Naya terdiam untuk sesaat, berusaha mencerna apa yang ditanyakan oleh Yuna.
__ADS_1
...****...