
...🍀🍀🍀...
Naya terbelalak saat ia mendengar ucapan Juna yang ingin melakukan hubungan suami-istri dengannya dan memutuskan Ghea. Ini sungguh gila, otak Naya mulai berpikir yang tidak-tidak.
Gadis itu melepaskan tangannya dari tangan Juna, kemudian menampar pipi Juna dengan keras tanpa aba-aba.
Plakk!
"Woy Nay! Kalau mau pukul bilang-bilang dulu dong!" Juna terkejut dan refleks tangannya langsung memegang pipinya yang memar, akibat pukulan dari gadis itu yang cukup keras.
"Dasar kamu cowok mesum! Omes, bisa-bisanya kamu berpikir tentang hubungan suami istri! Padahal kita masih SMA!"
"Hah? Kita kan udah nikah Nay, wajar dong kalau kita melakukan hubungan suami-istri." kata Juna dengan wajah polosnya, hubungan suami istri yang dimaksud oleh pria itu bukanlah hubungan dalam artian membara di atas ranjang. Namun hubungan yang dekat, saling memberi kasih sayang dan perhatian satu sama lain.
Tapi sepertinya Naya salah paham mengartikan ucapannya dengan sesuatu yang berbau vulgar. Jadilah dia marah.
"Kamu kurang ajar banget ya! Kalaupun mau ngelakuin itu, kamu harus putus tulus dulu sama Ghea dan kita harus udah lulus sekolah! Kamu benar-benar deh, ckckck...mending kamu belajar yang bener deh daripada mikirin yang nggak-nggak." gadis itu marah-marah, kemudian dia berjalan kembali masuk ke dalam museum tersebut dan tinggallah Juna seorang diri di sana.
Juna tertegun, sebenarnya apa kesalahannya sehingga Naya sampai marah seperti itu? Juna tidak tahu saja bahwa Naya salfok dengan kata-katanya.
"Apa sih salah gue? Kok si Naya marah-marah gitu sih... ckckck." Juna memegang pipinya yang terasa sakit.
__ADS_1
"Gue harus cepet-cepet bilang putus sama Ghea, lagian gue udah nikah. Gue seorang suami dan gue harus menghargai istri gue...gue juga capek sama Ghea yang ternyata gak sesuai dengan ekspektasi gue." gumam Juna yang baru menyadari bahwa dia telah salah memilih seorang wanita. Ghea memang terlihat baik, lembut dan dia juga cerdas. Tapi--sikap manja Ghea dan posesifnya terkadang membuat Juna jengah. Juna rasa, dia hanya sekadar suka saja pada gadis itu bukan cinta. Sedangkan pada Naya, di dekat gadis itu ia merasa aneh dengan perasaannya sendiri.
Tak terasa waktu pun berlalu, hari ini adalah hari terakhir study tour murid SMA Pancasila di Yogyakarta. Akan ada acara penutupan malam itu, OSIS mengadakan acara pesta khusus semua siswa dan tidak ada guru disana. Di pesta itu mereka akan memakai pakaian dengan kostum.
Semua siswa terlihat berdandan dan memakai kostum yang mereka inginkan. Ghea tampak cantik dengan memakai kostum ala Cinderella, warna biru yang eksentrik dengan kulitnya yang berwarna putih itu.
"Ghe, lo cantik banget sumpah!" Ria memuji penampilan Ghea yang tampak cantik itu. Ghea, hanya tersenyum saat di puji oleh kedua temannya.
"Lo pasti bakalan jadi pusat perhatian hari ini," kata Mona yang juga memuji Ghea.
"Udah pasti dong Mon, Ghea kan ratu SMA kita." Ria kembali membanggakan temannya itu. Lagi-lagi Ghea hanya tersenyum dengan satu sudut bibir terangkat ke atas. Ia juga percayai diri, bahwa ia memang yang paling cantik.
"Ya ampun, kok kalian gitu sih? Gue tau kalian care sama gue, tapi jangan sampe kayak gini dong." Ghea, gadis itu lagi-lagi berpura-pura baik didepan kedua temannya.
"Tenang aja Ghe, kita gak bakal macam-macam kayak tadi. Kita mainnya cantik kok, pokoknya dia nggak bakal ganggu lo sama pangeran Juna Lo." kata Ria pada Ghea.
Ghea terlihat bingung, padahal didalam hatinya dia senang karena kedua temannya mengerjai Naya demi dirinya.
****
Di ruang ganti hotel itu, Naya bingung karena gaun berwarna kuning yang akan dia pakai ternyata ada robek-robek dibagian lengan dan bawahnya. "Ya Allah....gimana ini, pasti deh ada yang sengaja ngerjain aku. Tadi gaun ini gak apa-apa kok. Ah...mungkin Allah memang tidak mengizinkan aku datang ke pesta itu, ya udah deh mending aku pergi ke kamar aja." ucap Naya sambil mendesah pelan.
__ADS_1
"Eh...kamu--kamu murid SMA Pancasila juga kan?" tanya seorang wanita paruh baya yang tiba-tiba masuk ke dalam sana dan menghampiri Naya.
"I-iya, ibu siapa ya?"
"Nama kamu Kanaya?" wanita itu malah bertanya balik dan tersenyum ramah pada Naya. Gadis itu menganggukkan kepalanya. Kemudian si wanita itu pun duduk disamping Naya, dia mendandani Naya dan membawakan gaun untuk gadis itu. Naya tidak tahu dia siapa, yang jelas wanita itu seperti ibu peri dalam kisah Cinderella dan datang disaat yang tepat.
"Nah udah selesai! Ayo cepat sana ke pesta, pasti sekarang udah mulai tuh." kata wanita paruh baya itu pada Naya.
"Ta-tapi saya nggak apa-apa pakai lensa mata ini? Sa-saya merasa aneh." Naya bingung dan merasa aneh karena ia yang biasanya terbiasa memakai kacamata, kali ini memakai lensa kontak.
"Kamu cantik kok, udah pergi sana," ujar wanita itu menyuruh Naya cepat pergi. 'Jadi gadis seperti ini yang disukai Gara? Ya ampun polos sekali' batin si wanita paruh baya itu.
Gadis itu pun berjalan menuju ke aula hotel, jujur ia merasa risih dengan pakaiannya saat ini. Dandanannya bak Elsa di film animasi Frozen. Gaunnya berkilauan warna biru, rambut panjangnya di hiasi jepitan kupu-kupu. Dia sangat cantik, benar-benar seperti Princess.
Dengan langkah hati-hati, Naya memasuki aula hotel. Semua orang terlihat sedang berpesta disana, Juna cs juga ada disana. Tapi Gara, pria itu tidak terlihat.
"Woy...itu siapa woy yang baru dateng." kata Choki seraya menyenggol lengan Juna.
"Gila, bening banget." kata Bian yang juga terpukau saat melihat sosok Naya yang tengah berjalan dengan kepala dengan sesekali menundukkan kepalanya. Semua orang terpukau saat melihat gadis yang mereka anggap asing di pesta itu.
...****...
__ADS_1