
...🍀🍀🍀...
Siang itu, Naya, Juna, Bian, Choki, Lusi, Damar, Andra dan Gara berada di saung tepatnya di halaman belakang rumah Damar. Mama Damar sangat menyukai taman, maka dari itu halaman depan dan belakang di penuhi oleh tanaman dan bunga.
"Sorry ya guys, khususnya buat Lusi sama Andra yang baru pertama kali ke rumah gue. Rumah gue ya--segini adanya lah." kata Damar merendah.
"Jielaahh...lu mah kebiasaan deh, selalu merendah untuk meroket Mar." celetuk Choki sambil menepuk tangan Damar.
"Ngomong-ngomong soal meroket, gue jadi pengen kroket. Bentar ya guys, tunggu disini dulu. Gue mau ambil minum sama cemilan,". Kata Damar pada semua teman-temannya. Naya, Lusi dan Andra sudah duduk lebih dulu di kayu saung itu.
"Pantesan berasa ada yang kurang bro, kita tamu harus dijamu dong." kata Bian pada temannya itu.
"Oke, sorry." ucap Damar pada teman-temannya.
"But Nay, lo mau gue bawain apa? Lo suka coklat kan?" tanya Damar beralih pada Naya. Perhatian Damar ini disalahartikan lain oleh Juna. Namun Gara melihat dan yakin, bahwa Damar tidak memiliki rasa suka pada Naya, tapi rasa bersalah. Gara sendiri tak tau rasa bersalah apa yang membuat Damar begitu perhatian pada Naya.
"Woy si Naya doang yang lo tawarin, gue enggak?" tanya Choki sebal.
Damar cuek, ia masih menatap gadis itu menantikan jawabannya. Apa dia mau dibawakan kue coklat atau tidak?
"Nggak usah Mar, air pu--"
Tiba-tiba saja Naya merasakan tatapan geng Thanos lainnya padanya. Sepertinya mereka mengharapkan jawaban lain dari Naya.
"Nay, iyain aja...suruh bawa si Damar bawa cemilan yang banyak buat kita kita aja kalau lo nggak mau." bisik Bian pada Naya. Oh jadi inilah maksud dari tatapan mereka.
__ADS_1
"Boleh deh Mar, bawain roti coklat...buat yang lain juga." ujar Naya pada Damar.
"Kalau lo mau nggak?" tanya Damar lagi
"Iya mau Mar." jawab Naya sambil tersenyum lebar.
"Oke. Bian bantuin gue dong, gue mau sekalian belanja." ajak Damar pada Bian yang menganggur disana.
Gara tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya dan menawarkan diri untuk menemani Damar belanja. "Biar gue aja yang nemenin lo."
Damar mengerutkan keningnya dengan heran, kenapa Gara mau ikut dengannya padahal ada Naya disini. Biasanya pria itu selalu menempel pada Naya apapun yang terjadi. Tumben sekali.
Akhirnya Gara pun ikut dengan Damar untuk belanja ke supermarket yang ada di ujung komplek tersebut. Sementara yang lain berada di saung itu, Naya, Lusi dan Andra menyiapkan buku-buku disana. Sementara Juna, Bian dan Choki sedang gabut karena mereka tak suka belajar.
"Juna, sini!" Naya melambaikan tangannya pada Juna yang tengah duduk di dekat kolam ikan disana.
"Sini! Belajar." ujar Naya lugas. Naya sudah diberi tugas oleh pak Yudha untuk membuat Juna belajar dan naik kelas. Yudha tidak mau anaknya tinggal kelas untuk kesekian kalinya demi seorang wanita, Ghea. Kali ini Juna harus naik kelas dan lulus dari sekolah dengan nilai yang bagus. Pria itu sudah di persiapkan menjadi CEO dari perusahaan makanan yang di pimpin oleh papanya kelak.
"Hem...gue mau ikut nyusulin si Gara-gara sama di Damar. Ada yang mau gue beli." alibi Juna yang tak mau belajar.
"Ih! Alasan aja kamu."
"Chok, Bi, Dra, gue titip si Naya. Jangan diapa-apain ya." pesan Juna pada ketiga pria itu untuk menjaga Naya.
"Oke Jun," jawab Bian, sementara Andra dan Choki hanya menganggukkan kepalanya. Juna pun pergi menyusul Gara dan Damar yang mungkin saat ini berada dalam perjalanan ke supermarket.
__ADS_1
****
Di supermarket, Gara dan Damar sedang berbelanja cemilan untuk menemani belajar mereka. Walaupun beda kelas, tapi mereka berteman akrab. Damar banyak membeli jenis-jenis percoklatan untuk Naya, banyak sekali. Disinilah Gara mulai bicara pada Damar, ia ingin pria itu jujur dan mengatakan alasan kenapa Damar begitu baik pada Naya.
Tepat setelah selesai belanja, Gara mengajak Damar untuk bicara di depan pusat perbelanjaan itu. "Mar, jujur sama gue. Lo ngelakuin apa sama Naya sampai lo ngerasa bersalah kayak gini."
"Gar, lo udah nanyain hal ini berkali-kali dan jawaban gue tetap sama." kata Damar gugup.
"Gue tau ada apa-apa sama lo. Cerita sama gue Mar, kita saudara kan? Dan lo percaya sama gue kan? Gue gak akan bongkar apapun, mau itu aib lo yang kelas 5 SD masih boker di celana. Gue gak pernah kasih tau siapa-siapa kan?"
"Sialan lo! Kenapa malah ngomongin masa lalu sih?" Damar melotot ke arah saudaranya.
"Gue bisa dipercaya kan? Gue selalu jaga rahasia, jadi lo harus ngomong sama gue, biar gue nggak suudzan terus sama Lo, tentang lo suka sama Naya." jelas Gara yang masih berusaha membujuk Damar untuk bicara. Damar terdiam dengan raut wajah bingung, haruskah ia memberitahukan ini pada Damar? Sedangkan gengnya saja tidak tahu. Tapi Damar juga tidak mau Gara terus salah paham padanya, sikapnya pada Naya bukan karena dia suka pada gadis itu, sungguh bukan.
"Gar, sebenarnya gue--yang udah buat Naya sama Juna buru-buru nikah." saat Damar mengatakannya, ada seorang pria yang berdiri tak jauh dari sana juga mendengarnya.
"Maksud lo? Perjelas!" tegas Gara dengan tatapan mata intens pada Damar. Pria itu sudah terlanjur mengatakannya.
"Gue, gue yang jebak mereka supaya nikah. Gue orang jahat, gue masukin obat ke minuman Juna dan saat itu dia hilang kendali terus nyium si Naya. Terus--gue panggil pak RT dan warga biar gerebek mereka yang lagi ciuman."
BUGH!
Tak lama setelah mengakui pada Gara, sebuah bogem mentah yang cukup keras melayang di wajah Damar. Pria itu sampai terjengkang karena pukulannya. Bukan Gara yang memukulnya tapi orang lain.
"Jadi lo yang jebak gue sama Naya waktu itu! LO dalang dibalik semuanya, MAR!"
__ADS_1
...****...