Buru-buru Nikah

Buru-buru Nikah
Bab 12. Juna kenapa?


__ADS_3

Saat Gara memanggil gadis itu dengan sebutan Nanay, entah kenapa Naya sontak memanggil Gara dengan nama Gargar. Naya jadi teringat dengan seorang anak gemuk yang dulu sering dipanggil sebagai si item gembul oleh orang-orang. Tapi oleh Naya, dia punya panggilan tersendiri untuk Gara.


Choki, Damar, Andra, Bian dan Juna tercengang melihat Gara si dingin memeluk Naya tiba-tiba. Dada Juna sesak, rasanya seperti di hantam sesuatu yang berat. Ada rasa tidak rela dalam dirinya saat ia melihat Naya di peluk pria lain .


"Gargar...ini gak mungkin." Naya menatap Gara dengan mata memicing, nafasnya memburu.


"Ini aku Nanay," Gara melepas pelukannya, kemudian menatap gadis itu dengan senyuman di bibirnya. Gara tidak percaya bahwa ia bisa kembali bertemu dengan Naya, teman masa kecilnya. Gadis pemberani yang menolongnya dari pembullyan.


"Ka-kamu..."


Disisi lain, Choki, Bian dan Damar malah bergibah. Mereka pikir Gara punya hubungan yang mendalam dengan Naya, semacam cinta monyet atau bagaimana. Namun Damar, pria itu juga merasa kalau kedua temannya benar. Jangan-jangan Naya adalah gadis kecil yang selalu diceritakan Gara padanya.


"Ikut gue!" sentak Juna seraya memegang tangan Naya, ia menarik gadis itu menjauh dari Gara. Wajahnya terlihat marah dan Naya bingung kenapa pria itu marah.


"Lepasin dia!" seru Gara seraya memegang tangan Naya yang satunya lagi. Naya menatap Gara dan Naya secara bergantian dengan bingung.


'Mereka ini kenapa sih?' batin Naya heran dengan kedua pria itu.


Ada kilatan petir di dalam tatapan mereka, beradu seperti dalam permusuhan. Gara dan Juna, sama-sama tidak mau melepaskan tangan gadis itu. Mereka sama-sama tidak mau mengalah.


"Lo punya attitude gak sih? Gak lihat apa, gue lagi ngomong sama cewek ini?" sentak Juna dengan sinis dan satu alis terangkat ke atas menunjukkan betapa arogannya pria itu.


'Ini cowok siapa sih? Main peluk-peluk istri orang?' batin Juna jengkel.


"Sorry, tapi kayanya Nanay gak mau ngomong sama Lo." balas Gara tak kalah sinis, wajahnya tampak datar namun tatapan matanya sangat tajam pada Juna.

__ADS_1


"Ka-kalian..." Naya bingung mau bicara apa.


Daripada bicara dengan Gara, Juna lebih memilih untuk mengalihkan pandangannya kepada Naya. "Mata empat, ayo ikut gue! Gue belum selesai ngomong sama lo."


"Juna, aku--"


Tiba-tiba saja Damar menyela, berada di tengah-tengah kedua pria itu. Damar menghempaskan tangan Juna dan Gara dari tangan Naya. Kemudian ia menggamit tangan Naya. "Udah udah! Kita bicara di kantin aja sambil ngopi. Si mata em--maksud gue si Naya jalan sama gue aja." maksud Damar baik, ia ingin menengahi emosi dua pria yang entah karena apa mereka jadi emosi begini.


Mungkin jika orang lain melihat dari kejauhan, Juna dan Gara tengah memperebutkan Naya. Damar, Choki, Bian dan Andra membawa Naya pergi meninggalkan kedua pria itu disana. Mereka pergi ke kantin sebelum jam istirahat selesai.


"Hey, lo kenal si mata empat?" tanya Juna kesal.


"Jangan panggil dia kayak gitu, dia punya nama." bela Gara dengan wajah datar dan ketegasan dalam nada bicaranya.


"Suka-suka gue dong mau manggil dia apa." cetus Juna kesal.


"Apa?" Juna heran kenapa Gara sampai segitunya membela Naya, padahal mereka baru pertama kali bertemu. Gara mendekat, memberikan intimidasi pada Juna lewat tatapannya. Tatapan Juna juga tak kalah sengit pada pria itu.


"Kalau lo gangguin Naya lagi, gue gak akan segan-segan buat perhitungan sama LO!" ancam Gara, kemudian dia pun pergi mengikuti Naya, Damar, Choki, Andra dan Bian yang berjalan menuju ke kantin.


"SIALAN! Kenapa hati gue kacau gini? Siapa sih cowok nyebelin itu? Kenapa dia meluk si mata empat." gerutu Juna geram, bayangan Juna berpelukan dengan Naya membuat hatinya sesak tak karuan.


****


Sepulang sekolah, semua siswa kelas XI IPA 1 juga kelas yang lain mulai bubaran dari kelas. Namun ada juga yang masih menetap di sekolah untuk nongkrong nongkrong. Di perpustakaan ataupun kantin sekolah misalnya.

__ADS_1


"Nay, kapan kita mau kerja kelompok bahasa Indonesia?" tanya Andra sambil menggendong tasnya. Penampilan Naya dan Andra bisa dibilang sebelah dia belas, sama-sama memakai kacamata. Tapi Andra adalah pria paling sopan di kelas itu, sebab dia selalu baik pada Naya.


"Gimana kalau besok aja?" saran Naya pada Andra.


"Oke, oke." sahut Andra seraya tersenyum.


"Nanay, pulang bareng aku yuk? Ada yang mau aku omongin dan pasti banyak yang harus kita bicarakan." ajak Gara seraya tersenyum pada gadis itu.


"Hem...bo--"


"Gak bisa! Lo gak bisa pulang bareng dia, lo pulang bareng gue. Lo jangan lupa, gue punya tanggung jawab buat jagain lo." ucap Juna memotong perkataan Naya.


Naya melirik heran pada Juna, hari ini ia merasa pria itu bersikap aneh. Biasanya cuek, jadi suka ikut campur urusannya.


"Balik bareng gue!" sentak Juna kasar.


"Bisa gak sih, kalau ngomong gak usah bentak-bentak." tegur Gara tegas.


"Cih!" Juna acuh dan ia memegang tangan Naya, menarik gadis itu untuk pergi dari kelas. Namun saat sampai di depan kelas, Juna merasakan vibrasi ponsel di saku celananya.


Juna melihat siapa yang menelponnya, ia langsung mengangkatnya. "Iya sayang, kamu udah pulang? Mau aku jemput?"


Naya sudah bisa menebak, itu pasti Ghea. Gadis itu pun melepaskan tangan Juna, dengan rasa sesak di hatinya. 'Lagi-lagi ini cuma ilusiku aja, Juna gak pernah peduli sama aku'


Selagi Juna sedang berbicara dengan Ghea, Gara dan Andra mengajak Naya pergi dari sana. Dan saat Juna selesai menelpon, ia tidak melihat keberadaan Naya disana lagi.

__ADS_1


"Sial! Dia pasti pulang sama cowok itu,awas lo mata empat!" geram Juna kesal. Juna sendiri pergi untuk menjemput Ghea yang baru saja check up dari rumah sakit.


...****...


__ADS_2