Buru-buru Nikah

Buru-buru Nikah
Bab 34. Lo masih punya gue


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Naya masih enggan membuka pintu, gadis itu masih berada di belakang pintu dengan tubuh yang bersandar disana. Matanya menatap sekeliling rumah sederhana ini, rumah yang penuh kenangan dengan ibunya. Naya tidak bisa membayangkan bagaimana hidup tanpa ibunya, satu-satunya keluarga yang ia miliki.


"Nay...please buka pintunya." pinta Juna dari pintu depan, tapi Naya mengabaikannya.


Naya malah berjalan pergi menuju ke kamar ibunya, dia duduk diatas ranjang itu. Lalu mengambil foto ibunya di atas nakas, ia memeluk foto sang ibu lalu menangis tergugu.


"Ibu...ibu...hiks...hiks... huhuhu...."


Juna yang cemas pun mencari cara untuk masuk ke dalam rumah Naya, dia akhirnya menemukan jendela kamar yang terbuka. Jendela kamar almarhum ibu mertuanya. Ia melihat Naya tengah menangis, Juna merasa sesak saat melihat istrinya itu menangis sampai seperti ini.

__ADS_1


"Ah! Gue tau apa yang bisa buat Naya berhenti nangis." cetus Juna pelan. Pria itu pergi dari sana, entah apa yang akan dia lakukan untuk membuat Naya tidak menangis lagi.


Sementara gadis itu masih berada disana, tangisannya mereda saat dia tak sengaja merasakan sesuatu dibawah ranjang milik ibunya. "Apa ini?"


Naya berjongkok, ia mengambil sesuatu yang mengganjal dibawah ranjang itu. Terlihatlah sebuah kotak persegi yang besar berwarna coklat. Naya mengambil kotak yang belum pernah ia lihat sebelumnya itu. "Ibu kok nggak pernah cerita ada kotak kayak gini?"


Naya membuka kotak itu, ia melihat ada selimut bayi, buku harian, surat kabar dan juga baju bayi. "Punya siapa ini?"


"Hari ini 20 Desember tahun xxx, seperti biasanya aku dan suamiku bekerja mengangkut sampah. Saat itu aku berada di sebuah pemukiman kumuh dan aku terkejut manakala aku mendengar suara tangisan bayi. Aku pikir aku hanya berhalusinasi, tapi ternyata itu nyata dan aku melihat ada bayi di dalam tempat sampah. Astagfirullahaladzim, siapa yang tetap membuang bayi di tempat sampah, pikirku. Aku mengambil bayi mungil yang hanya memakai selimut tipis berwarna merah muda itu. Dan di leher bayi yang berusia 2 bulanan itu, ada sebuah kalung mungil dengan bandul kalung bintang. Sepertinya ini adalah petunjuk untuk menemukan orang tua kandung bayi yang malang ini..."


Air mata Naya kembali mengalir mengetahui fakta menyakitkan ini, bahwa dia bukanlah anak kandung ibu dan ayahnya. Dia hanyalah anak yang ditemukan di tempat sampah. Sungguh, Naya tidak sanggup lagi membaca apa yang dituliskan ibunya di buku harian itu. Tapi mau tidak mau dia penasaran dan terus membacanya.

__ADS_1


"Aku dan suamiku di vonis sama-sama tidak bisa memiliki keturunan dan kami senang dengan kehadiran bayi ini seandainya bila keluarganya memang membuangnya. Kasihan sekali anak ini... akhirnya kami memutuskan untuk merawatnya dan kami beri nama Kanaya Wulandari."


"Hiks...hiks... ternyata aku bukan anak kandung ayah dan ibu...aku anak yang di buang." ucap Naya sedih.


Tak lama kemudian, Naya dikejutkan dengan dua eskrim cone di depannya yang dibawa oleh seseorang. Buru-buru Naya menutup buku harian itu. Tak sengaja eskrim itu mengenai hidung Naya.


"Yah, eskrimnya kena hidung lo." ucap Juna.


"Kamu...ngapain kamu disini Juna!"


"Makan eskrim bareng lo." jawab Juna sambil tersenyum. Dia berusaha menghibur Naya. "Hey, lo masih punya gue...gue akan selalu ada buat lo." lirih Juna pelan. Hati Naya sedikit tenang mendengarnya.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2