Buru-buru Nikah

Buru-buru Nikah
Bab 33. Butuh waktu sendiri


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Gadis itu tumbang dan jatuh tepat di tubuh Gara. Juna dan Gara berada ditengah-tengah Naya kala itu. Dan tepat saat Naya jatuh pingsan, tubuhnya oleng ke sebelah kiri, tepat dimana Gara berada. Semua orang yang melihat Naya jatuh pingsan, sontak saja terkejut dengan keadaan Naya.


Gara langsung mengangkat tubuh gadis itu ala bridal. Juna mendelik sinis pada Gara yang menggendong Naya. "Biar gue aja, Gar." ucap Juna tegas.


"Bisa nggak, kali ini gak usah ribut. Lo gak lihat Naya pingsan?" sarkas Gara lalu dia membawa Naya pergi dari sana. Andra, Lusi, Damar, Choki dan Bian juga mengikuti dari belakang.


Walaupun sebal dengan Gara, Juna mengikuti teman-temannya kembali ke rumah Naya. Sesampainya disana, Naya dibaringkan di kamarnya. Lusi, satu-satunya teman perempuan Naya menemani Naya di kamar dan meminta cowok-cowok untuk pergi keluar kamar.


"Biarin aku aja yang nunggu Naya disini, kalian bukan muhrim...tunggu aja diluar." kata Lusi pada geng Thanos, Andra dan juga Gara.


"Ck, padahal gue ini muh--"


Ketika Juna akan bicara, Gara dan Damar langsung melirik tajam padanya. Mengisyaratkan pada pria itu untuk tidak bicara macam-macam, dia hampir keceplosan.


"Kalau dia udah bangun, kasih tau ya." pesan Juna pada Lusi.


"Hem..." sahut Lusi.


"Lus, lo mau makan atau minum apa?" tanya Damar yang mulai menunjukkan perhatiannya pada Lusi.

__ADS_1


"Nggak usah Mar." tolak Lusi halus.


"Lo belum makan siang,"


"Idih, si Lusi aja yang ditawarin...kita kita mah kagak." cibir Bian sebal.


"Oke oke kalian juga gue tawarin dah." sahut Damar sambil tersenyum.


6 pria itu pun keluar dari kamar Naya. Mereka memutuskan untuk makan terlebih dahulu sambil menunggu Naya bangun. Mereka ikut berduka karena Naya yang baru saja kehilangan ibunya.


Damar bahkan menyebarkan kabar di grup sekolah, bahwa ibu Naya telah meninggal dunia. Di dalam grup itu ada semua siswa kelas XI, termasuk Ghea. Gadis itu belum sempat membuka hpnya, karena tiba-tiba saja ia demam tinggi dan sedang tidur di kamarnya.


****


"Kalian pulang aja, aku nggak apa-apa." lirih Naya pelan.


"Gak bisa." jawab Gara dengan wajah datar seperti biasa, namun suaranya menyiratkan kecemasan yang luar biasa.


"Mana bisa gue ninggalin lo seorang diri disini dalam keadaan kayak gini. Kalau si Gara lato-lato sih boleh pergi, gue nggak boleh. Sebagai suami yang baik, gud nggak mungkin biarin Lo sendiri." seloroh Juna sembari melirik sinis Gara. Pria cool itu hanya cuek saja.


"Juna...Gara, please--aku butuh waktu sendiri buat saat ini. Aku bakal baik-baik aja kok, oke?" Naya berusaha tersenyum walaupun hatinya dibanjiri air mata saat ini. Air mata yang tak terlihat, sakit yang tak berdarah.

__ADS_1


"Gue gak bisa," Gara menolak keinginan Naya.


"Gue apalagi." sahut Juna yang juga menolak untuk pergi.


"Kenapa kalian keras kepala banget sih?" Naya kesal, ia tak punya pilihan lain selain mengusir mereka dengan cara kasar. Naya menutup pintu rumahnya dan menguncinya.


Brak!


Kedua pria itu masih berdiri didepan pintu dengan perasaan tidak tenang. Sedangkan di dalam sana Naya tengah bersandar di dekat pintu rumahnya.


"Mungkin dia emang butuh waktu sendiri, kita balik aja." kata Gara pada Juna.


"Gue gak bisa, almarhumah ibu Ningsih udah titip pesan sama gue...dia minta gue berada disisinya apapun yang terjadi." ucap Juna dengan mata berkaca-kaca. Ia teringat percakapannya di telpon tadi pagi dengan Ningsih.


..."Jun, tolong ya jagain Naya...ibu percaya kamu bisa jagain anak ibu. Apapun yang terjadi, kamu dan Naya harus langgeng...kamu harus berada disisi Naya nak." ...


Kata-kata itu adalah terakhir yang diucapkan Ningsih padanya, Juna masih terngiang dengan kata-kata itu. Bahkan dia tanamkan dalam hati juga pikirannya.


"Gue balik Jun. Jagain Naya." Gara hanya berucap itu lalu pergi dari sana. Dia percaya Juna bisa menjaga Naya dan memang Juna lebih berhak atas Naya karena mereka suami istri. Kali ini Gara membiarkan Naya dan Juna bersama, tapi bukan berarti dia akan melepaskan Naya begitu saja. Jodoh tak ada yang tau.


Sepeninggal Gara, Juna masih berada disana. Dia berusaha membujuk Naya untuk membuka pintu untuknya.

__ADS_1


...****...


__ADS_2