
...🍁🍁🍁...
Entah apa yang merasuki Juna, dia tiba-tiba saja menempelkan bibirnya para bibir ranum milik istrinya. Naya juga, awalnya dia hanya diam dan menutup bibirnya. Namun saat Juna mulai berani mengigit bibir bawah Naya, gadis itu membuka mulutnya. Membiarkan Juna melesakkan lidahnya ke dalam sana dan secara otomatis mengajak Naya untuk berbagi saliva.
Ini memang bukan ciuman pertama mereka, tapi ini pertama kalinya Naya membalas ciuman Juna. Tangan Juna menekan tengkuk Naya, guna memperdalam ciumannya. Hingga suara kecapan dan desahhan pun tercipta dari kedua insan muda yang tengah menikmati kegiatan mereka itu.
Kedua tangan Naya memegang erat punggung Juna. Merasa mendapat balasan dari Naya, Juna melepas ciuman itu sejenak guna memberikan ruang mereka untuk bernafas. Terlihat benang saliva keduanya terlihat di bibir mereka masing-masing.
Nafas Naya terengah. "Juna--"
Kembali, cowok itu memagut bibir Naya kali ini lebih dalam dari sebelumnya. Dan naluri kelelakiannya, membuat Juna berani meremass salah satu buah sintal milik Naya yang masih berada didalam balutan blouse yang dipakai Naya.
"Eungh--ahh."
Naya tak sengaja melenguh, suara itu menyadarkan keduanya untuk segera menghentikan semua ini sebelum semuanya mengarah pada hal berbau 21+ dan nanti mereka tidak bisa berhenti.
Keduanya melepaskan ciuman dan pelukan itu, keduanya menjadi tampak canggung. Mereka hening selama beberapa saat.
'Sial! Apa yang mau lo lakuin barusan hah? Naya lagi berduka dan Lo malam mesum?' cowok itu merutuki dirinya sendiri dalam hati.
__ADS_1
"A-apa lo laper?" tawar Juna gugup, ia berusaha mencairkan suasana yang hening.
Naya masih gugup, dia menundukkan wajahnya dan tak berani menatap suaminya. Gadis itu menyembunyikan pipinya yang merah merona.
'Ya Allah...tadi aku sama Juna habis ngapain? Hampir aja aku sama Juna--ah enggak!' Naya kelimpungan dalam hatinya.
"Kanaya, apa lo laper?" tawar Juna lagi pada gadis itu dan kali ini Naya merespon dengan gelengan kepala.
Setelah kejadian itu Naya dan Juna jadi semakin dekat dari sebelumnya. Dan Naya tinggal menetap di rumah orang tua Juna. Hari-hari sekolah juga berlalu dengan cepat, mereka sudah memasuki tahun ketiga dan tak lama lagi mereka akan lulus SMA.
Dan setelah kelas 3, Juna jadi semakin rajin belajar. Dia telah memiliki cita-cita untuk meneruskan perusahaan papanya. Jelas saja karena dia adalah anak satu-satunya dari Yudha Mahardika. Tak terasa juga pernikahan Naya dan Juna yang disembunyikan dari publik itu sudah terjalin satu tahun lamanya. Mereka telah menjalin hubungan suami-istri yang sesungguhnya, dalam artian pacaran setelah menikah. Tentunya masih sembunyi-sembunyi dari pihak sekolah dan publik.
"Gar, serius kamu mau pergi ke Amrik udah ini? Nggak kuliah disini aja?" tanya Naya pada Gara yang saat ini duduk disampingnya. Mereka berdua berada di dekat lapangan basket.
"Hem, serius lah. Dan bukannya kamu juga udah ditawarin sama Bu Berlin buat kuliah ke L.A? Apa jangan-jangan kamu mau kuliah disini?" tanya Gara pada gadis itu.
"Nggak tau deh, biaya disana pasti mahal. Ya sih kuliahnya gratis ,tapi kan masalah ongkos, makan sehari-hari dan tempat tinggal itu bayar sendiri." gerutu Naya.
"Kamu kan smart Nay, kamu pasti smart juga dalam cari uang dong." Pria itu menyemangati Naya.
__ADS_1
"Iya, lo kan si mata duitan Nay!" celetuk Damar yang tiba-tiba saja datang dan duduk disamping Naya. Kini Naya di apit oleh dua laki-laki itu.
"Damar--apaan sih!" Naya menepuk lengan Damar sambil tersenyum.
Lusi juga duduk disamping Damar dan mereka sudah jadian 5 bulan yang lalu. Tempat jadian mereka di lapangan basket. Lusi menyodorkan air minum pada kekasihnya itu. "Thanks beb." Damar tersenyum.
"So sweet banget sih kalian, langgeng ya." doa Naya tulus pada Lusi dan Damar.
"Kamu juga sama Juna, langgeng ya." balas Lusi seraya tersenyum.
Ngomong-ngomong soal Juna, kenapa pria itu tidak terlihat disana. Naya pun pergi mencari Juna ke dekat ruang ganti, siapa tau dia ada disana. Naya hendak memberikan minuman untuk suaminya itu.
"Jun--hmphh--"
Naya mendengar suara wanita dari dalam ruang ganti pria. Seketika pikiran negatif mulai muncul didalam pikiran Naya. Dia melihat pintu ruangan itu terbuka, memperlihatkan adegan yang menyakitkan hatinya.
...****...
Hai Readers, aku minta maaf ya...up novel ini gak teratur...but tenang aja, aku nggak akan gantung novel ini...😬😬
__ADS_1