Buru-buru Nikah

Buru-buru Nikah
Bab 21. Hubungan suami istri?


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Rasa tidak sabar membuat Juna dan Gara penasaran dengan apa yang terjadi pada Naya. Gadis itu bungkam dan Damar lah yang menjelaskan semuanya. Bahkan pak Ferdi Juna mendengarnya. Mereka juga mengecek cctv disana untuk membuktikan ucapan Damar, namun entah kebetulan ataukah naas. Cctv di dekat toilet dan warung yang ada didepannya itu tidak berfungsi.


"Damar, kita nggak punya bukti kalau Ria, Mona sama dua orang anak kelas IPS 2 yang sudah mengunci Naya dan membully Naya di toilet." jelas Ferdi.


"Saya bisa jadi bukti pak, saya saksinya." kata Damar pada pak Ferdi.


"Nay, benar si Ria sama si Mona pelakunya? Gue rasa mereka gak mungkin deh. Emang dia ada masalah sama lo?" tanya Juna tiba-tiba dengan menatap Naya tak percaya.


Ketika semua orang percaya padanya dan pada Damar, hanya satu orang yang meragukannya yaitu Juna. Sedangkan yang lain tampak percaya padanya, apalagi Gara.


"Terserah kamu mau percaya atau enggak." akhirnya Naya menjawab dengan ketus.


'Padahal diantara semua orang disini, aku inginnya kamu percaya sama aku Jun. Tapi kamu malah sebaliknya...ini pasti karena kamu percaya sama Ghea dan karena mereka berdua temen baik Ghea.' batin Naya sakit hati.


"Bukan maksud gue gak percaya sama lo, tapi--"


Ferdi memotong ucapan Juna, ia tak mau malah jadi keributan yang membuang-buang waktu. "Sudah jangan ribut-ribut, saya percaya sama kamu dan Damar. Lagian kesaksian Damar juga udah jadi bukti. Tapi--mereka ngapain kamu Nay? Sampai rambut kamu berantakan kayak gini."


"Mereka jambak saya pak, terus saya di dorong ke toilet dan dikunci disana." ucap Naya menjelaskan dengan tubuh gemetar. Gara dan Damar memegang tangannya untuk menenangkan gadis itu.


Ferdi menghela nafas saat mendengarnya, lalu ia pun menanyakan lagi kepada Naya. Apa yang dikatakan Ria, Mona dan juga dua siswi lainnya pada dirinya. Naya menolak menjawab. Ketika Ferdi ingin menghukum kejahilan Ria, Mona dan kedua temannya. Naya menolak.


Masalah pun selesai dengan permintaan maaf dari Ria, Mona dan dua siswi dari kelas IPS itu. Naya tak mau memperpanjang masalah, toh dia juga tidak apa-apa. Mereka pun kembali masuk ke dalam bus untuk melanjutkan kembali perjalanan ke Yogyakarta. Padahal SMA mereka bisa naik pesawat untuk pergi kesana, tapi para siswa memilih naik bus.


"Mereka bilang cuma bercanda, mana bisa kelakuan kayak gitu disebut bercanda? Terus kenapa juga kamu biarin masalah ini selesai gitu aja." Gara yang biasanya diam, kini jadi mengomel dan menyayangkan Naya yang membiarkan semua ini.


"Gar, aku juga gak apa-apa kok. Jadi aku nggak mau memperpanjang masalah lagi. Kalau mereka mengulanginya lagi, aku juga nggak akan tinggal diam."


"Kamu baik banget Nay, terlalu baik sampai ngebiarin orang-orang itu nindas kamu." kata Gara sambil mendesah pelan.


"Hehe..."


"Malah nyengir gitu lagi! Jadi makin imut, kan." Gara tersenyum melihat gadis itu hanya menanggapinya dengan terkekeh. Gara mencubit pipi Naya penuh perasaan, gemas sekali dengan gadis itu.

__ADS_1


"Gargar...sakit..."


"Masa sih? Sakit?" tanya Gara sengaja sambil mencubit kedua pipi Naya dengan kedua tangannya. "Masih sakit gak Nanay!" seru Gara.


"Ih..kamu tuh...hahaha.."


Di depan sana ada yang terbakar melihat kedekatan Gara dan Naya. Padahal dia sudah punya kekasih, paling cantik di sekolah itu. Tapi dia tetap melihat Naya dan Ghea semakin kesal saat Juna seperti ini.


"Woy berisik!" ujar Juna yang tak suka melihat Gara dan Naya tertawa bersama. Kedua orang itu pun terdiam dan mendelik sinis pada Juna.


"Jun, kamu kenapa sih? Dari tadi kamu perhatiin dia terus? Aku ada disini loh." tegur Ghea kesal.


"Ghe, kenapa sih kamu banyak omong? Aku kan udah jelasin kalau aku perhatiin dia karena dia babu aku. Kalau dia kenapa-napa, dia nggak bisa kerjain kerjaan rumah." jelas Juna kesal.


"Aku yakin itu hanya alasan kamu, Jun!" sergah Ghea tidak percaya.


"Terserah kamu aja Ghe, aku capek. Aku mau tidur." kata Juna malas, lalu ia menutupi wajahnya dengan topi. Ghea kesal sekali dengan kekasihnya, ia jadi semakin membenci Naya.


****


Ketika para gadis sedang asyik ber-selfie, Naya sibuk dengan buku catatannya dan melihat-lihat benda-benda bersejarah di sebuah museum dengan mata berbinar.


"Lo lihat benda kuno gini aja kayak lihat emas." celetuk seseorang yang tiba-tiba saja ada dibelakang Naya.


"Juna?"


'Huh, tumben banget dia gak sama Ghea'


Naya melirik sekilas pada Juna, kemudian dia kembali fokus pada buku catatannya. Saat ini semua siswa sedang berpencar mencari objek objek mereka. Ada yang Selfi, belajar, berkeliling jalan-jalan dan lain sebagainya.


"Nay...gue mau ngomong sama Lo."


'Untung gak ada si Gara-gara disini' kata Juna dalam hatinya.


Naya acuh dan terus berjalan melihat objek yang menurutnya menarik. Mencatat hal-hal penting di buku catatan kecil miliknya. Sesekali ia membetulkan letak kaca mata bulatnya.

__ADS_1


"Naya, gue lagi ngomong sama lo!" ujar Juna kesal karena diacuhkan oleh Naya. "Ck," pria itu berdecak, kemudian dia menarik tangan Naya dan membawanya pergi dari museum.


Mereka pergi keluar dari museum itu, dimana siswa lain masih berada di dalam museum. Sedangkan Naya dan Juna keluar lebih dulu.


"Kamu ngapain sih? Ganggu orang aja." ketus Naya.


"Sorry kalau gue ganggu waktu lo sama si Gara-gara, tapi gue emang gak suka lo dekat-dekat sama dia." ungkap Juna terang-terangan.


"Cih! Kamu nggak suka aku deket-deket sama Gara, tapi kamu juga Deket sama Ghea." cibir Naya tak mau kalah.


"Itu kan...karena..."


"Aku paham, kalian pacaran. Itu wajar, tapi aku? Aku kan sama Gara cuma temenan, gak lebih. Udah kan ngomongnya? Aku mau pergi dulu, bye." Naya berbicara cepat, ia malas bicara dengan Juna lama-lama. Kemarin saja ia tak percaya padanya.


Tangan Juna menahan tangan Naya, hingga gadis itu berhenti ditempatnya. "Maaf, kemarin gue ngomong gitu, bukannya gue gak percaya sama lo. Maaf kalau lo tersinggung, Nay."


Nada bicara Juna yang lembut dan berbeda dari biasanya membuat Naya terdiam dan menoleh ke arahnya. "Nggak usah minta maaf, wajar kalau kamu lebih percaya Ghea dan teman-temannya. Lagipula aku bukan siapa-siapa kamu, aku paham."


"Nggak, lo jangan bilang gitu. Lo istri gue,"


Sontak saja Naya menutup mulut Juna, pandangan matanya ke sana kemari dengan waspada, takutnya ada orang yang mendengar ucapan Juna barusan. "Hush! Juna jangan ngomong sembarangan, kamu udah punya Ghea!"


"Gue bakal putusin Ghea." tukas Juna serius.


"Huh?" Naya kaget saat mendengarnya.


"Gue sadar kalau kita udah nikah dan gue gak seharusnya jalin hubungan sama cewek lain, sedangkan gue udah punya istri. Sama aja gue selingkuh, kan?"


"Kamu...kenapa sih Jun?" Naya heran kenapa Juna begini.


Juna memegang tangan Naya dengan lembut. "Gue mau kita melakukan hubungan layaknya suami-istri, Nay!"


"APA?!! Hu-hubungan suami-istri?" Naya tercengang dan kedua matanya melebar. Apa maksudnya hubungan layaknya seorang suami-istri?


...****...

__ADS_1


__ADS_2