
...🍀🍀🍀...
3 keinginan? Sepertinya Juna tertarik dengan 3 keinginan itu. Tapi masuk 10 besar? Bagaimana caranya? Masuk peringkat 40 besar saja dia tidak bisa.
Tanpa sadar ada dua orang yang menatap mereka dengan tatapan tak suka. Gara dan Ghea, dua orang itu tidak fokus ujian karena Naya dan Juna jadi dekat akhir-akhir ini. Hubungan mereka memang belum sampai tahap sangat dekat atau sampai menyatakan cinta, namun hubungan mereka cukup baik. Terlebih lagi mereka satu rumah, pastilah ada keakraban yang berbeda walau tidak ada hubungan suami-istri.
"Lo serius?" bisik Juna pada Naya dan mendapatkan jawaban anggukan dari gadis itu. Sebagai catatan, sekarang Naya tidak mengenakan kacamata lagi. Dia memakai softlens minus.
"Promise?"
"Itu pun kalau kamu bisa."
"Lo harus janji." kata Juna memaksa.
"Ok, aku janji." jawab Naya pelan.
__ADS_1
Naya kembali memfokuskan dirinya untuk ujian, dia harus mendapatkan peringkat 3 besar lagi agar beasiswanya tetap bertahan. Sejauh ini dia sudah mengalahkan Ghea yang sekarang mendapatkan peringkat 2 dan Gara ada di peringkat 3. Juna sangat itu karena Gara ternyata anak yang pintar dan sangat percaya diri untuk mendekati Naya.
Setelah selesai ujian hari pertama, para siswa bubaran dari kelas masing-masing. Namun Naya belum keluar dari kelas, ia masih sibuk membereskan buku-buku yang akan dibawanya pulang.
"Lo lagi ngapain sih? Ayo balik!" seru Juna mengajak Naya pulang bersama. Mendengar Juna mengajak Naya pulang, Ghea dan kedua temannya yang masih berada di kelas. Langsung mendelik tajam pada mereka berdua sambil berbisik-bisik, tapi Naya tak peduli. Ia merasa tak menganggu Ghea maupun gengnya.
"Naya balik bareng gue, dia mau belajar di rumah Damar bareng gue sama si Damar juga." kata Gara yang langsung menyambar beberapa buku yang dibawa Naya.
"Gue juga ikut." kata Juna tiba-tiba.
'Mana bisa gue biarin lo sama Naya disana. Dasar cowok sialan!' Juna memakai pria itu dalam hatinya. Jelas ,ia menganggap pria itu sebagai rival cintanya.
"Ya udah Gar, nggak apa-apa kalau dia mau ikut belajar. Justru makin banyak yang ikut, makin bagus kan. Dan kamu--kamu harus naik kelas taun ini, Jun." kata Naya.
"Iya dong! Gue bakalan naik kelas dan dapat peringkat 10 besar!" cetus Juna percaya diri.
__ADS_1
"10 besar? Ha?! In your dream." ejek Gara, seraya tersenyum sinis pada Juna.
"Gar, nggak ada yang nggak mungkin. Siapa tau ada keajaiban buat Juna kalau dia mau giat belajar." jelas Naya.
"Bweeekk!" Juna menjulurkan lidahnya, mengejek balik Gara. Pria dingin yang dijuluki kulkas itu hanya tersenyum datar dengan sikap Juna yang dinilainya kekanakan.
"Ayo cepat! Nanti aku mau jualan, ndra, Lusi...ayo." Naya juga mengajak Andra dan Lusi untuk belajar bersama. Lusi adalah teman baru Naya, dia juga sama seperti Naya yang kutu buku.
Melihat Naya, pergi bersama Lusi, Gara, Andra dan Juna, membuat hati Ghea sedih juga panas. Ghea merasa yakin bahwa alasan putusnya ia dan Juna adalah karena Naya. Ghea juga yakin ada sesuatu antara Naya dan Juna yang disembunyikan.
"Ghe, lo yang sabar ya." ucap Mona seraya menghibur gadis itu.
"Gue nggak apa-apa kok. Cuma gue yakin kalau ada yang disembunyikan sama Juna dan si mata empat itu. Guys, bantu gue selidiki--hubungan mereka sebenarnya." ucap Ghea dengan niat jahat.
"Gue yakin, mereka juga bukan sekedar deket biasa." kata Ria yakin.
__ADS_1
'Apapun rahasia itu, gue bakal buat lo hancur! Mata empat!'
...****...