
...🍀🍀🍀...
"Ghea sayang, gimana belajar mobilnya barusan nak? Lancar?" tanya mama Ghea seraya menghampiri putrinya yang kini tengah duduk diatas ranjang kamar.
Ghea terlihat gelagapan, dia tidak dapat menyembunyikan tubuhnya yang gemetar. Ia menatap mamanya dengan wajah pucat yang tidak disadarinya.
"Kamu kenapa sayang? Kamu sakit?" tanya mama Ghea sambil mengusap pelan kepala putrinya itu.
"Nggak kok ma, aku nggak apa-apa." sanggah Ghea
"Nggak apa-apa gimana? Tubuh kamu gemetar sayang," ucap mama Ghea cemas, ia takut kalau penyakit maag Ghea kambuh lagi. Sejak kecil tubuh Ghea memang lemah dan kerap kali membuat kedua orang tuanya cemas.
"Nggak ma, aku nggak apa-apa."
'Dia nggak mungkin mati, pasti ada yang nolong dia...pasti...jalanan itu memang sepi, tapi pasti ada yang lewat' batin Ghea panik. Ketika namanya mengajak mengobrol, tatapan Ghea kosong dan dia terlihat gelisah.
"Gimana belajar mobilnya sayang?"
"MAMA! Mama kenapa sih bahas terus tentang belajar mobil? Aku capek Ma, aku mau istirahat! Mending mama pergi dari sini!" ujar Ghea berteriak kepada mamanya. Hingga membuat mamanya terkejut, lantaran Ghea tidak biasanya marah-marah seperti ini. Mamanya jadi berpikir, Ghea mungkin masih marah karena di putuskan oleh Juna.
"Ya udah sayang, mama keluar dulu ya. Kamu istirahat. Kalau kamu butuh apa-apa, kamu panggil aja mamah ya." kata mama Ghea perhatian, meskipun baru saja dia dibentak oleh putrinya. Tapi kasih sayang seorang ibu tetaplah besar sepanjang masa.
Mama Ghea yang bernama Yuna itu pun keluar dari kamar putrinya dan meninggalkan Ghea seorang diri di sana.
"Aku nggak sengaja...aku benaran nggak sengaja nabrak ibu itu. Dia pasti baik-baik aja dan dia pasti udah dibawa ke rumah sakit!" seru Ghea dengan tubuh gemetar dan Isak tangis rasa bersalah. Dia takut masuk penjara, karena takut dia tidak menolong orang yang ia tabrak waktu itu.
#Flashback
2 jam sebelumnya...
Ghea dan supirnya yang bernama Entis, tengah belajar naik mobil. Entis mengajari Ghea untuk mengendarai mobil. Mereka belajar naik mobil di sebuah kompleks perumahan yang sepi. Ghea terus marah-marah karena Entis mengajarinya ini itu, Ghea ingin mengendarai mobil sendiri.
"Turun pak Entis! Aku nggak mau belajar sama bapak, bapak bawel....biar aku belajar sendiri." ketus Ghea mengusir Entis untuk turun dari mobil.
__ADS_1
"Tapi non bahaya...nanti kalau non kenapa-napa gimana?"
"Pak Entis itu tau kan kalau aku siswi tercerdas di sekolah. Aku bisa belajar dengan cepat. Udah, pak Entis turun aja! Aku bisa nyetir sendiri." kata Ghea keras kepala.
"Aduh non maaf, tapi mang Entis disini aja. Mang Entis takut non sampai kenapa-napa nanti. Kalau nabrak gimana non?" kata Entis yang enggan pergi meninggalkan mobil itu.
"Nggak ada siapa-siapa disini mang, emangnya siapa yang bisa ketabrak sih? Udah gak usah ngaco, turun mang! Nanti aku aduin papa mama kalau mang Entis nggak mau kerja lagi di rumah aku!" ancam Ghea pada pria yang jauh lebih tua darinya itu.
Dengan ragu-ragu Entis pun keluar dari mobil, dia membiarkan Ghea menyetir sendiri. Namun matanya tak lepas dari Ghea. Ya, awalnya semuanya baik-baik saja karena tidak ada siapapun disana, walau Ghea menyetir dengan sembrono.
Namun Ghea yang merasa hebat, tiba-tiba saja kehilangan kendali dengan memencet pedal gas. Dan saat itu muncullah sebuah roda sampah bersamaan dengan wanita paruh baya yang mendorongnya, dan wanita itu adalah Ningsih, ibu dari Naya. Ningsih baru saja selesai shalat dhuhur dan akan mengangkut sampah, kala itu.
Kejadian itu terjadi begitu cepat, Ghea menabrak Ningsih bersama dengan rodanya juga. Ningsih terpental cukup jauh dan tergeletak di aspal penuh darah. Suara jatuhnya cukup keras.
"Astagfirullah! Non!" teriak Entis terkejut melihat apa yang terjadi. Sementara Ghea masih didalam mobil yang sudah mati itu, tubuhnya gemetar hebat.
Ghea memberanikan diri untuk pergi keluar dari mobil. Kakinya lemas sekali melihat ibu-ibu yang dia tabrak. Tubuhnya terlentang dan berdarah-darah.
"Kita harus tolong dia non." kata Entis sambil memeriksa denyut nadi Ningsih yang masih ada.
"Nggak! Jangan! Kita harus pergi pak Entis, kita harus pergi dari sini!" ujar Ghea takut.
"Tapi non..."
"Pasti akan ada yang nolongin dia! Ayo pak Entis, kita pulang!" seru Ghea seraya memegang tangan Entis, dia sangat ketakutan.
Ghea terus menarik Entis, hingga akhirnya tanpa pikir panjang pria itu pun pergi dari sana meninggalkan Ningsih seorang diri. Namun sebelum mereka pergi, Ningsih sempat menarik sepatu pentople yang dipakai Ghea, hingga maniknya terlepas satu dari sepatu itu. Dengan teganya Ghea dan Entis meninggalkan Ningsih seorang diri disana, di jalanan ujung komplek yang sepi itu. Dan sayang sekali disana tidak dipasang kamera CCTV.
#End Flashback
Ghea meringkuk ketakutan mengingat itu, besok dia akan memeriksa tempat itu lagi dan memastikan bahwa wanita yang ia tabrak masih hidup juga dalam keadaan baik-baik saja.
*****
__ADS_1
Setelah pemakaman Ningsih dilakukan, doa pun telah dipanjatkan. Para pelayat satu persatu mulai pergi dari sana. Mereka kasihan dengan Naya yang kini hidup seorang diri tanpa keluarga.
Gadis itu masih berada disana dengan mata yang dipenuhi bulir air mata, dia melihat nisan bertuliskan nama ibunya. Sungguh kepergian Ningsih sangat mendadak. Hati Naya semakin perih saat ada pihak rumah sakit dan beberapa tetangganya yang mengatakan bahwa Ningsih bisa selamat jika saja si penabrak membawanya lebih cepat ke rumah sakit. Oh tuhan! Tolong, hati Naya sakit sekali.
"Nay, kita pulang yuk!" ajak Yudha pada menantunya itu.
"Saya masih mau disini om." didepan orang lain Naya memanggil Yudha dengan sebutan om, sebab pernikahannya dan Juna juga tersembunyi dan hanya diketahui oleh segelintir orang.
"Nay..."
"Udahlah pah, kalau dia gak mau gak usah dipaksa. Mama mau pulang." kata Rima ketus, dia bahkan tidak bersimpati pada Naya yang baru saja kehilangan ibunya.
"Om pulang duluan aja sama Tante, saya masih mau nemenin ibu disini." ucap Naya sambil memaksakan diri untuk tersenyum.
Yudha menghela nafas, lalu dia mengistirahatkan Juna untuk tetap berada disisi Naya. Yudha akan pulang duluan bersama Rima, dia juga kan mengusut tentang kasus kematian Ningsih dengan pihak kepolisian.
Teman-teman Naya juga masih berada disana, mereka berusaha menyemangati Naya. Walaupun hanya dengan sabar, Naya sangat senang dengan perhatian mereka.
"Makasih ya guys, kalian udah ada disini. Tapi--aku ingin sendiri dulu sama ibu."ucap Naya pada teman-temannya.
"Sorry Nay, tapi kita gak bisa ninggalin lo." kata Damar.
"Kita bakal disini sama kamu." kata Gara tegas.
"Iya." sahut teman-temannya yang lain.
Naya pun berdiri dari duduknya, tak lama kemudian gadis itu pun roboh.
BRUGH!
"NAYA!"
...*****...
__ADS_1